LOGINPagi di kantor Mariana tidak pernah benar-benar pelan.Telepon berdering. Email masuk tanpa jeda. Orang keluar-masuk ruangannya dengan wajah tegang seolah semua hal di dunia harus selesai hari itu juga.“Mariana, meeting jam dua dimajuin jadi setengah satu ya.”“Mariana—”“Iya, iya, kirim aja ke aku,” potongnya cepat, matanya bahkan tidak benar-benar terangkat dari layar laptop.Rina masuk, duduk tanpa diundang, seperti biasa.Tangannya mengambil salah satu kertas di meja, tapi matanya justru menatap Mariana dengan ekspresi yang terlalu santai untuk sesuatu yang akan ia katakan.“Gue tuh kepikiran sesuatu dari kemarin pas habis nenggok Lucy.”Mariana masih mengetik.“Biasanya kalau lu kepikiran, itu bukan hal penting.”“Enggak, ini penting.”Nada Rina tetap ringan.“Apa lu nggak… cemburu?”Jemari Mariana berhenti.Hanya satu detik.Lalu lanjut lagi, seolah tidak terjadi apa-apa.“Cemburu sama siapa?”“Ya itu,” Rina mengangkat bahu. “Suami lu di rumah terus sama babysitter.”Mariana me
Pagi harinya, rumah baru mereka di kawasan elit terlihat seperti Katalog properti Tangisan Lucy yang menggema dari kamar. “MARIIIII!” “YA?!” “DIA NANGIS LAGI!” Mariana muncul dari ruang kerja dengan ekspresi lelah. “Ya angkat dong, Edgar!” “Aku takut salah!” “Dia bukan bom, dia bayi!” --- Edgar akhirnya menggendong Lucy dengan kaku. Seperti sedang memegang barang pecah belah harga miliaran. Lucy berhenti menangis. Edgar membeku. “Dia… diam… sayang” Mariana melirik. “Ya bagus.” Beberapa detik hening. Lalu Edgar berbisik pelan, “…kayaknya dia suka aku.” Mariana tersenyum tipis. “Dia cuma lagi mikir ini orang siapa kok aneh.” --- Siang itu, Mariana kembali duduk di ruang kerjanya. Laptop terbuka. Meeting berjalan. Nada suaranya kembali berubah. Tegas. Dingin. Profesional. Seolah tadi pagi bukan dia yang dilempari tangisan bayi. --- Di ruang tamu, Edgar duduk di sofa. Lucy tertidur di dadanya.Sejak semalam— Rumah itu bena
Ruang bersalin itu tidak pernah benar-benar tenang. Suara alat medis berdetak pelan. Langkah kaki perawat berlalu-lalang. Dan di tengah semua itu— Suara Mariana. “SAKIT BANGET,ADUH!” Gema suaranya hampir mengalahkan semua yang lain. Keringat membasahi pelipisnya, rambutnya menempel berantakan di wajah. Tangan kanannya mencengkeram seprai, sementara tangan kirinya— menjambak rambut Edgar tanpa ampun. “AA— SAYANG, RAMBUT AKU—” “DIEM LO!” bentak Mariana, napasnya tersengal. “INI GARA-GARA LO!” Edgar meringis, setengah jongkok karena kepalanya tertarik ke bawah. “Iya… iya… salah aku… semua salah aku…” “TAU LO!” --- “Tarik napas, Bu… ya… pelan…” suara dokter tetap tenang di tengah kekacauan itu. Tapi Mariana sudah tidak peduli. “PELAAAN GIMANA?! INI KAYAK MAU MATI!” Edgar mencoba lepas dari cengkeraman. Gagal. Rambutnya masih jadi korban. --- Di sudut ruangan, berdiri seorang gadis muda—Aura, adik Mariana. Tangannya bersedekap, wajahnya antara kasihan dan… geli. Ia
Memasuki trimester kedua, perubahan Mariana terasa… drastis. Kalau dulu ia bisa tiba-tiba bengong memikirkan Alan, sekarang? Tidak sama sekali. Bahkan ketika nama Alan disebut, reaksinya datar. Sangat datar. Seolah fase itu… sudah lewat begitu saja.Bagi Mariana.,Alan sama sekali tidak menarik. --- Di sisi lain, Alan tetap datang ke rumah Mariana. Awalnya untuk “ngecek kondisi Mariana”. Lalu jadi “sekadar mampir”. Lalu entah sejak kapan… jadi rutinitas. Dan yang paling aneh— Edgar tidak pernah melarang ataupun marah. --- Sore itu, suara riuh terdengar dari ruang keluarga. “WOI! KENA HEADSHOT!” teriak Alan sambil berdiri dari sofa. “Tenang aja, itu lu cuma hoki,” jawab Edgar santai, matanya tetap fokus ke layar TV. Dua laki-laki itu duduk berdampingan, masing-masing memegang stik PlayStation . dengan ekspresi yang sama seriusnya. Mariana berdiri di ambang pintu, memandangi mereka dengan wajah tanpa ekspresi. Ia menyilangkan tangan. “Ini… rumah aku
Sore itu, Alan duduk sendirian di kantin kampus.Segelas minuman dingin di depannya sudah mulai berembun, tapi belum juga ia sentuh. Sedotannya hanya ia putar-putar tanpa tujuan, seolah itu satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk mengisi kekosongan.Di depannya, Raka memperhatikan dengan alis berkerut.“Lu kenapa murung gitu?”Alan mendesah panjang, bahunya sedikit turun.“Kak Mariana udah tiga hari nggak chat gue.”Raka langsung menepuk meja, cukup keras sampai beberapa orang menoleh.“Nah! Bagus dong!”Alan menatapnya tidak percaya.“Bagus dari mana?”“Dari semua sisi!” jawab Raka cepat. “Bro, dia itu istri orang. Istri orang yang lagi hamil pula.”Alan menghela napas lagi, lebih pelan kali ini.“Iya juga sih…”“Terus?”Alan mengalihkan pandangannya ke taman kampus. Angin sore menggerakkan daun-daun, mahasiswa lalu-lalang seperti biasa.Biasanya… di jam seperti ini, ponselnya sudah berbunyi.Biasanya, Mariana sudah menyuruhnya membeli sesuatu.Sekarang… kosong.“Dia nggak nyuruh
Langit sudah gelap ketika Mariana akhirnya keluar dari gedung kampus. Angin malam berhembus pelan, membawa suasana yang lebih tenang setelah seharian penuh pikiran. Ia baru saja melangkah ke halaman parkir saat sebuah mobil berhenti pelan di depannya. Kaca jendela turun. “Naik, Kak Mariana.” Mariana menghela napas. “Kamu lagi…” Alan tersenyum santai dari balik kemudi. “Aku lewat. Kebetulan ketemu kakak lagi disini.” Mariana menyipitkan mata. “Kampus ke rumahku itu nggak searah sama tempat tinggal kamu.” Alan langsung menjawab cepat, “Hari ini searah.” Mariana menatapnya beberapa detik… lalu tanpa banyak protes, membuka pintu dan masuk. “Makasih,” gumamnya singkat. Mobil melaju pelan meninggalkan kampus. --- Di dalam mobil, suasana tidak benar-benar sunyi. Ada sesuatu yang menggantung—aneh, canggung, tapi juga hangat. Alan sesekali melirik Mariana. “Kakak capek?” tanyanya. Mariana bersandar di kursi. “Lumayan.” Beberapa detik hening. Lalu tiba-tiba M
Perjalanan mereka tentu tak mulus. Ada saat-saat sulit: pelanggan sepi karena hujan deras, bahan baku habis karena pemasok telat, bahkan listrik kedai sempat padam saat jam ramai. Helen sempat panik, merasa semua akan hancur. Tapi Rangga selalu menenangkannya. “Hel, jangan takut gagal. Semua pen
--- Beberapa hari setelah pertengkaran demi pertengkaran itu, suasana apartemen benar-benar panas. Hampir tiap pagi dan malam, Sukma dan Sasa saling lempar sindiran—kadang halus, kadang tajam menusuk. Steve yang awalnya berusaha cuek, lama-lama kewalahan juga. Suatu sore, setelah rapat melelahka
---Aroma lembut melati memenuhi ruangan itu, seolah menutup rapat udara malam dari luar. Tirai jendela digerakkan dengan sengaja hingga menutup rapat, membiarkan hanya lampu kecil di sudut kamar yang menyala, menciptakan cahaya temaram berwarna kuning keemasan. Semua telah diatur dengan cermat, se
Namun siapa sangka, justru dari keterpurukan itu,beberapa tahun kemudian Helen akhirnya bertemu sosok yang sama sekali tak ia duga: Rangga—adik kandung Sukma . Jika Dimitri penuh aura kuasa dan manipulasi, Rangga justru hangat, ramah, dan memiliki tatapan yang jujur. Helen menunduk, menahan air ma







