Share

99. Pilihan

Author: kamiya san
last update Last Updated: 2026-01-07 23:47:54

“Apa maumu, Julin?!”

Pak Zulias bertanya dengan nada tinggi. Mengulangi pertanyaan Oma Sari yang hanya ditanggapi pasif oleh Zoe dan Alingga. Tidak sabar menunggu lebih lama lagi jawaban mereka berdua.

“Maaf, Pa. Mauku adalah ... menikah satu kali saja, Pa. Istri pun satu saja, gak perlu dua.” Zoe menyahut jelas meski rasanya memang sedikit susah. Hanya berharap papanya terus sabar dan kuat hingga terpelihara kesehatannya. Bagaimanapun, kondisi Pak Zulias adalah prioritasnya juga.

“Kenapa kamu baru bilang sekarang soal Alin, Jul? Setelah semuanya terlanjur dan jadi mustahil!” Pak Zulias menggelengkan kepalanya. Menatap penuh trenyuh pada sang putra harapannya.

Namun, Oma Sari menatap Zoe dengan iba dan mata pun berkaca-kaca. Menganggap anak tirinya kemungkinan besar sudah terlanjur suka pada Alingga. Jika dipisahkan, kasihan sekali Julin….

“Pa, bagaimanapun, Julin putramu. Lagipula keinginannya baik, hanya ingin menikah satu kali dengan istri satu juga. Kebahagiaannya a
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Rahasiaku Ternyata Paman Tiriku   106. Model Endorse

    “Tutup pintunya Huki!” seru Zoe keras dengan gelisah. Tidak ingin keduluan Sandra masuk ke dalam ruangan. “Bilang pada Dewi agar menahan Sandra di luar!” serunya lagi dengan keras. Blak Demi suara yang menggema itu, Huki segera menutup pintu, menelepon dan berbicara cepat pada seseorang di seberang. Lalu buru-buru masuk lagi dan mendekati Zoe yang melambaikan tangan padanya. “Huki, kamu ini tidak tahu atau pura-pura tidak tahu siapa model ini?” tanya Zoe tajam sambil membanting map terbuka ke meja. Lembar data calon model endorse itu bergeser dan terlihat jelas siapa. Huki menunduk, membaca sekilas, lalu segera mengangkat kepala. “Saya sudah tahu, Pak Zoe,” jawabnya pelan, disertai senyum tipis yang sulit ditebak. Zoe menyipitkan mata, pertanda kesal hatinya memuncak. “Brengsek kau Huki. Ingin membuatku mati jantungan lebih cepat dari papaku, hah?!” maki Zoe sambil menyambar map kembali dan membukanya pun dengan kasar. Huki hanya garuk-garuk kepala yang tidak gatal be

  • Suami Rahasiaku Ternyata Paman Tiriku   105. Terlambat

    Kerudung yang sedari tadi dikenakan akhirnya ditanggalkan sepenuhnya. Alingga menyisir rambut lebat dan lembut miliknya dengan jemari, perlahan dan berulang. Di sela gerakan itu, pikirannya melayang pada Amira yang malang — wajah pucat dengan kepala tanpa sehelai rambut pun. Hatinya tercekat. Rasa syukur bercampur iba mengendap dalam nurani, meninggalkan getir yang sulit dijelaskan. Rambut yang kini ia sentuh terasa seperti pengingat, betapa nasib bisa berubah kapan saja, dan tanpa permisi. “Apa sebelumnya dia berkerudung? Apa karena sakit saja?” gumam Alingga. Lalu senyum masam yang sedih. Juga merasa malu sendiri. Jika Amira menutupi kepala sebab sakit, dirinya parah lagi. Menutupi aib sebab ulah lelaki. Meski lelaki itu suami sendiri, rasanya tetap memalukan. “Kasihan sekali Amira…,” ucapnya lagi. Kini sambil mengusap alisnya dengan lekuk indah dan alami. Turun lagi jarinya, memelintir dan menarik bulu matanya yang melengkung, banyak, dan lentik. “Nggak ada yang rontok, s

  • Suami Rahasiaku Ternyata Paman Tiriku   104. Perkara Berat

    Alingga begitu iba dan trenyuh hingga ikut menangis seperti Amira yang sedang terisak. Merasa luruh melihat sengsaranya raga Amira. Mungkin selama menjadi istri seorang Dokter Hanan, dia banyak mendapat tekanan dari keluarga suami. Atau merasa tekanan batin sendiri sebab tidak mendapat restu. Ya, restu orang tua memang penting. Konon, stres dan tekanan adalah pemicu bangkitnya sel kanker dalam tubuh menjadi sangat liar. “Ling, bagaimana? Mau ya, besok lusa kita ke Surabaya. Orang tuaku menunggu. Jangan khawatir, mereka tidak seburuk prasangkamu meskipun wataknya memang keras. Yah, kebanyakan orang Surabaya pada umumnya. Nanti aku sekalian mengunjungi keluargamu di Malang. Apa kamu tidak ingin menjenguk suami budemu?” Hanan membujuk dengan lembut. Dia tidak lupa akan kondisi suami bude Alingga yang lumpuh. Alingga terdiam. Jujur, tawaran Hanan terasa menggoda. Dirinya memang kangen dengan keluarga bude. Merasa bersalah, selama ini lalai tidak berusaha keras menghubungi mereka.

  • Suami Rahasiaku Ternyata Paman Tiriku   103. Terkejoet

    Alingga menahan napas saat matanya menancap tajam pada Perempuan penarik handle pintu. Senyuman manis yang ramah itu tidak mampu dibalas sebab rasa terkejut dan heran. “Salahkan masuk, Alingga.” Amira begitu ramah dengan senyumnya. Seperti sudah tahu jika gadis di depan pintu akan datang. Bahkan Hanan yang juga di depan pintu seperti tidak dipedulikan, membuat kecurigaan Alingga menebal. Mereka satu atap! “Ayo masuk, Ling. Jangan segan,” ucap Hanan. Tetapi semakin menghindar dari tatapan Alingga. Justru lelaki itu yang terlihat kikuk. Alingga bukan merasa segan. Tetapi seketika sudah enggan dan merasa malas. Kecewa berat dengan kelakuan Hanan yang seatap dengan Amira. Meski ini masih prasangkanya. Namun, sebab ingin segera pergi, Alingga bergegas masuk dan duduk perlahan di sofa yang baru saja ditunjuk oleh Amira. Dirinya dipersilakan untuk duduk. Berharap pembicaraan Hanan segera dimulai tanpa banyak basa-basi. Rasanya ingin cepat cepat pergi. “Mas, bisa langsung ngomong, g

  • Suami Rahasiaku Ternyata Paman Tiriku   102. Teman Serumah

    Hanan mengajaknya makan memang bertujuan untuk mengisi perut saja. Sedikit khayalan romantis mendapat cincin indah sebagai simbol lamaran, kemungkinan hanya mimpi belaka untuknya. “Makanlah yang banyak, Ling. Habis ini, aku ingin kita bicara hal penting. Dengan makan cukup, kuharap kamu akan tenang.” Hanan terlihat gelisah saat berbicara. Di akhir suaranya terdengar desah seperti menahan sesak jiwa. “Mas, kamu bikin aku penasaran. Kenapa nggak bicara sekarang saja, sambil makan. Lagian bicaranya sama aku aja, kan? Justru sambil makan, pasti bisa lebih tenang.” Alingga berbicara dengan pelan. Coba membujuk Hanan agar segera bicara. “Kita berbincang bukan di sini, Ling,” Hanan menegaskan, nadanya mantap seolah tak memberi ruang tawar. Alingga menatapnya sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Iya, Mas. Baiklah.” Ia paham, keputusan lelaki itu sudah bulat. Tak ada lagi celah untuk mengguncang tekad Hanan yang kini kembali lanjut fokus pada makanannya. Lagipula, rasanya tid

  • Suami Rahasiaku Ternyata Paman Tiriku   101. Diner Misteri

    Bu Riana ternyata hanya pergi ke warung sebelah, sementara Fahri masih disibukkan urusan kafenya. Kini semuanya sudah kembali ke rumah dan bersiap menikmati makan malam sederhana oleh asisten rumah. Alingga baru keluar dari kamar lalu ikut duduk di meja makan. Kemudian mengambil makanan dengan wajah tenang. Saat itu Fahri berdehem-membuka suara, nadanya terdengar biasa. Ia menatap Alingga sejenak sebelum bertanya, “Apa nomor Zoe kamu blokir? Dia tadi menghubungiku dan menanyakan keberadaanmu.” Pertanyaan itu membuat sendok Alingga terhenti sesaat dari menciduk nasi. Seolah tak ingin menjawab, gadis itu kembali menyuap makanannya dengan gerak pelan. Sendoknya bergerak ragu, nyaris tanpa selera. Bu Riana memperhatikan piring itu cukup lama, lalu mengernyit. “Kenapa ambil sangat sedikit nasi?” tanyanya lembut, namun sarat kekhawatiran. Alingga menghela napas pelan, lalu menjawab singkat, “Aku akan keluar sebentar, Buk. Mau makan malam dengan Hanan.” Ucapannya terdengar tenang,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status