LOGINBu Riana ternyata hanya pergi ke warung sebelah, sementara Fahri masih disibukkan urusan kafenya. Kini semuanya sudah kembali ke rumah dan bersiap menikmati makan malam sederhana oleh asisten rumah. Alingga baru keluar dari kamar lalu ikut duduk di meja makan. Kemudian mengambil makanan dengan wajah tenang. Saat itu Fahri berdehem-membuka suara, nadanya terdengar biasa. Ia menatap Alingga sejenak sebelum bertanya, “Apa nomor Zoe kamu blokir? Dia tadi menghubungiku dan menanyakan keberadaanmu.” Pertanyaan itu membuat sendok Alingga terhenti sesaat dari menciduk nasi. Seolah tak ingin menjawab, gadis itu kembali menyuap makanannya dengan gerak pelan. Sendoknya bergerak ragu, nyaris tanpa selera. Bu Riana memperhatikan piring itu cukup lama, lalu mengernyit. “Kenapa ambil sangat sedikit nasi?” tanyanya lembut, namun sarat kekhawatiran. Alingga menghela napas pelan, lalu menjawab singkat, “Aku akan keluar sebentar, Buk. Mau makan malam dengan Hanan.” Ucapannya terdengar tenang,
Ucapan Pak Zulias memang benar. Hanan sungguh-sungguh datang dan menunggu di teras yang katanya sudah cukup lama. Tentu saja, lelaki itu langsung meluncur begitu matahari terlihat terbitnya. Namun, yang dijemput tidak segera meluncur keluar menemuinya. “Apa aku telah datang sangat cepat, Ling?” tanya lelaki yang wajahnya terlihat muka bantal pagi ini. “Tidak, tetapi aku yang lamban. Maaf ya, Mas.” Alingga mencoba tersenyum. Memantapkan diri bahwa keputusannya memilih Hanan tidak pernah salah. Calon suaminya adalah lelaki baik dan sabar dengan ibadah yang bisa diandalkan baginya. “Gak papa, Ling. Mana mereka?” Hanan mencari orang-orang ahli rumah. Tetapi tidak juga muncul menyambut datangnya Alingga. Mana mereka ini? “Pak Zulias agak tidak enak badan, Mas. Mereka pada sibuk. Yuk!” Alingga buru-buru jalan dulu. Di depan pagar terlihat parkir taksi biru. Pasti kendaraan yang dibawa Hanan adalah taksi itu. Blak Meski merasa janggal, Alingga pergi tanpa seorang pun terliha
“Apa maumu, Julin?!” Pak Zulias bertanya dengan nada tinggi. Mengulangi pertanyaan Oma Sari yang hanya ditanggapi pasif oleh Zoe dan Alingga. Tidak sabar menunggu lebih lama lagi jawaban mereka berdua. “Maaf, Pa. Mauku adalah ... menikah satu kali saja, Pa. Istri pun satu saja, gak perlu dua.” Zoe menyahut jelas meski rasanya memang sedikit susah. Hanya berharap papanya terus sabar dan kuat hingga terpelihara kesehatannya. Bagaimanapun, kondisi Pak Zulias adalah prioritasnya juga. “Kenapa kamu baru bilang sekarang soal Alin, Jul? Setelah semuanya terlanjur dan jadi mustahil!” Pak Zulias menggelengkan kepalanya. Menatap penuh trenyuh pada sang putra harapannya. Namun, Oma Sari menatap Zoe dengan iba dan mata pun berkaca-kaca. Menganggap anak tirinya kemungkinan besar sudah terlanjur suka pada Alingga. Jika dipisahkan, kasihan sekali Julin…. “Pa, bagaimanapun, Julin putramu. Lagipula keinginannya baik, hanya ingin menikah satu kali dengan istri satu juga. Kebahagiaannya a
Kumandang subuh berlalu sangat cepat. Sama hal dengan waktu bersama yang dirasa oleh Zoe dan Alingga, habis demikian singkat. “Kenapa dibawa, memang yakin tidak akan menginap lagi? Tinggal saja, bisa buat ganti jika kamu menginap tidak teeduga. Seperti sekarang...,” ucap Zoe dengan suara menggemanya. Sedang berdiri menjulang di sisi ranjang dengan Alingga tengah berkemas. Setelah melipat dress seksi dan diselip ke dalam tas kecilnya, kini merapikan cover pembaringan yang demikian berantakan. "Andai aku menginap di masa mendatang, mungkin Mbak Sandra sudah jadi istrimu. Giliranku di kamar tamu." Alingga mencibir. “Bantuin, Pak Zoe. Tarik yang ujung situ.” Kemudian memberikan perintahnya. Tetapi Zoe tak bergerak dari posisi berdirinya. “Jangan repot-repot, kan nanti ada yang tugas merapikan.” Zoe menjawab dengan tersenyum simpul. Alingga tampak kerepotan dengan ranjang luasnya ini. “Malu aku laah. Memang kamarmu akan seberantakan begini setiap hari?” Alingga bertanya de
Zoe telah menutup almari, membawa sebuah kantong dengan logo nama toko laundry. Mengeluarkan selembar baju yang masih tersegel aman dalam plastik. “Ini bajumu sendiri. Bukan milik orang lain,” ucapnya sambil mengulum senyum. Mengulurkan pada Alingga yang tampak penasaran. Terlihat tidak sabar menahan rasa ingin tahu tak terbendung, Alingga buru-buru membuka plastiknya. Dibentangkan baju itu lebar-lebar. Matanya seketika membesar. “Oh, ini….” Setelah tertegun sesaat, Alingga tersenyum lebar. “Bukankah ini baju yang kutinggal di kamar hotel malam itu…?” tanyanya seolah tak percaya. Menatap Zoe dengan mata beningnya yang berbinar. “Benar, Alingga. Ini memang bajumu malam itu,” jawab Zoe sambil memahan senyum. Merasa senang melihat Alingga tersenyum kebingungan. “Pak Zoe… bagaimana baju ini bisa di tanganmu?” tanya Alingga dengan rasa heran. Tidak menyangka dia sangat teliti. Lelaki kaya yang sudi melakukan hal sekonyol ini. Menyimpan baju bekas milik wanita. “Apa salahn
Bukan sekadar hanya bergeser, kini jantung seperti akan putus nadi-nadinya. Entah, kali ini bukan merasa sangat takut, perasaan cemas itu samar saja dirasanya. Hanya dada yang berdebar keras sebab gejolak resah dan samar rasa senang. Kali ini tidak lagi ragu, diburunya pintu itu. Seolah takut jika orang di luar jadi tidak sabar dan memutuskan pergi saja. Alingga tidak ingin menyesal dengan kelambanannya. Meski memalukan, tidak ingin menyiksa diri dengn menolaknya datang malam ini. Ceklerk Merasa lega dengan dada berdebar. Orang yang berada di depan kamar adalah yang disangkanya. Bahkan… lebih tepat lagi diharapnya! Mereka saling menatap dengan diam. Keduanya sama-sama merasa susah berbicara. Saat si lelaki melangkah maju dan berniat menerobos masuk, tetapi gadis itu menahan kuat daun pintu meski hatinya ragu-ragu. Hanya ingin tahu sejauh mana usahanya. Mereka kembali saling pandang sejenak. Wajah pun sama-sama masih basahbasah oleh air. Keduanya memang pergi dan selesai d







