Se connecter#Flashback..
Hari itu hari kelulusan Universitas Darma, semua merayakan kelulusan mereka dengan suka cita begitu pun Nabila dan Bima. Pada pesta perpisahan malam itu, semua bahagia dan begitu terbawa suasana. Nabila dan Bima minum sedikit anggur, tetapi ternyata anggur yang diminum Nabila diberi obat oleh Raja, laki-laki dari fakultas seni yang menyukai Nabila namun Nabila tolak. Nabila mulai merasa tidak nyaman, Bima dari kejauhan melihat Nabila yang sedikit linglung. Dan terlihat juga Raja yang menunggu momen itu datang. Raja dengan sigap menangkap tubuh Nabila yang akan terjatuh, iya memapahnya dan masuk ke kamar hotel. Sebelum sempat masuk, Bima menahan mereka. "Apa Bim? Jangan ikut campur, kamu juga tidak suka dia kan? Dia musuhmu. Jadi pergi sana !" Ucap Raja dengan tegas. "Lepas!" Ucap Bima lalu memukul wajah Raja. Nabila terlepas dan menyandarkan diri ke dinding disampingnya, sungguh ia merasa benar-benar tidak nyaman, dia merasa panas dan begitu berhasrat. Bima memukul Raja tanpa ampun, terlihat wajah marah yang sulit dilukiskan seperti seorang kekasih yang sedang melindungi kekasihnya. Raja merasa kalah dan lari pergi dengan tergesa-gesa. Bima menggendong Nabila dan masuk ke kamarnya, dia menidurkan Nabila yang masih merasa tidak nyaman itu. "Bim!" Ucap Nabila dengan lembut sambil menarik kerah kemeja Bima. Mereka saling berpandangan, Bima menjadi sangat canggung. "Bim... Aku gak tau kenapa, rasanya aku gak nyaman, Bim.. tolong aku Bim.." ucap Nabila dengan nafas yang terengah-engah. "Ayo kita kerumah sakit.." ucap Bima sambil akan membangunkan Nabila. Nabila kembali menarik tubuh Bima hingga mereka begitu sangat dekat satu sama lain. "Bim, kamu benci aku yah?" Ucap Nabila sambil membelai wajah Bima dengan lembut. Bima tidak mengatakan apapun, Mereka berpandangan satu sama lain, pertengkaran yang biasa mereka lakukan seakan terlupakan seketika. Nabila perlahan mencium bibir manis Bima, Bima menatap Nabila. "Bil, kalau nanti kamu bangun dan sadar akan semua ini apa kamu akan menyesal?" Ucap Bima dengan menatap Nabila begitu dalam. "Jika aku tidak melakukannya, mungkin aku yang akan menyesal Bim." Ucap Nabila sambil membelai wajah Bima dengan begitu lembut. Bima merasa tidak tahan, mereka berciuman dengan penuh gairah. Seakan kedua musuh itu memang menyimpan rasa berbeda selama ini, mungkin saja kebencian itu adalah cinta yang tersembunyi. Bima menciumi tubuh Nabila dengan penuh gairah, Nabila mengeram keenakan dibuatnya. "Bim..." Ucap Nabila lembut. "Aku pertama kali melakukannya Bim.." lanjut Nabila sambil bertatapan dengan Bima. "Aku juga Bil." Ucap Bima dan melanjutkan aktivitasnya. Perlahan Nabila membuka kancing kemeja Bima, Bima perlahan menurunkan tali gaun Nabila yang tipis dan menjelajah ke dalam gunung kembar yang menyembul dan semakin menggodanya itu. "Bim.. aahh.." Teriak Nabila dengan lembut, yang membuat Bima semakin bersemangat menjelajah ke area bawahnya. Malam itu menjadi malam yang tidak terlupakan untuk mereka, hal pertama yang begitu penting untuk mereka diberikan kepada musuh satu sama lain. --Pagi hari tiba. Nabila yang masih tertidur dan menyandarkan tubuhnya dipundak Bima yang masih memeluknya. Perlahan cahaya matahari memasuki celah jendela yang luas itu. Bima perlahan membuka matanya, dia sadar dengan apa yang terjadi hanya saja dia merasa takut jika Nabila akan melupakan apa yang dia katakan semalam dan marah padanya. Dia perlahan membelai rambut Nabila, dia memandang wajah wanita yang selama ini menjadi musuhnya itu. Tapi sebenarnya selama ini, dia menyimpan perhatian khusus yang rahasia. Dia menyukai Nabila, bahkan sudah sangat lama ketika mereka masih remaja. Dia ingat saat itu Nabila membela Bima saat para preman mencoba memalaknya. Nabila yang penuh semangat dan berani berhasil mengusir preman dengan sirine polisi palsu. Semenjak itu, Bima yang merasa Nabila semakin cantik setiap harinya dan dia merasa harus tumbuh menjadi lebih kuat untuk bisa melindungi Nabila dimasa depan. Hanya saja mereka sudah sering bertengkar sejak kecil, jadi hal itu lah yang dapat membuat Bima mencari perhatian dengan pertengkaran diantara mereka. Bima yang sejak kecil kurang kasih sayang orang tua dan hanya diperhatikan neneknya merasa bantuan Nabila saat itu sangat berarti untuknya, dia merasa dilindungi. ---- Nabila perlahan membuka matanya, Bima segera menyadari itu dan kembali memejamkan mata pura-pura tertidur. Nabila tersadar dan tentu dia masih sangat ingat kejadian yang begitu panas semalam. Dia memandang wajah Bima, perlahan membelai wajah Bima dan tersenyum manis. Tiba-tiba Bima membuka matanya, dan itu membuat Nabila kaget seketika hingga dia terduduk malu. Nabila menutup wajahnya karena malu, Bima duduk disamping Nabila dan memandang Nabila dengan senyuman. Mereka yang masih tidak memakai pakaian dan hanya tertutup selimut, bahkan kulit mereka yang masih saling bersentuhan. Mereka saling berpandangan, ada rasa canggung tetapi juga mengingat semalam begitu sangat menggairahkan untuk mereka. Pengalaman pertama yang sangat nikmat untuk mereka, hingga rasanya rugi jika tidak melakukannya lagi. Bima hanya memandang Nabila, menunggu apa yang akan dikatakan Nabila padanya. "Bim.. sorry.. semalam aku.." ucap Nabila lalu dipotong Bima. "Jangan bilang kamu gak sadar dan menyesal, aku sudah memastikan pada kamu semalam kan?" Ucap Bima. "Bukan Bim... Bukan menyesal.." ucap Nabila kebingungan menjelaskan. "Kamu gak nyesel? Jadi?" Ucap Bima ingin mendengar ucapan Nabila. "Aa..aku mandi dulu.." Nabila hendak terburu-buru pergi. Tapi sebelum sempat bangun Bima menarik Nabila hingga Nabila tertidur dan wajah Bima diatas nya. Kulit mereka yang kembali bersentuhan, begitu hangat. Bima membelai rambut Nabila dengan lembut, Nabila memandang Bima dengan heran. "Kenapa mau buru-buru pergi?" Ucap Bima. "Bim.. kamu mabuk gak semalam?" Tanya Nabila penasaran. "Mabuk? Bukannya kamu yang mabuk." Ucap Bima sambil terduduk diikuti Nabila juga yang duduk disampingnya. "Iya Bim.. maaf.." ucap Nabila dengan wajah murung. "Kenapa minta maaf Bil?" Ucap Bima. "Gara-gara aku kamu jadi ngelakuin ini, harusnya kamu lakuin sama pacar kamu. Tapi aku bakal ganti rugi Bim!" Ucap Nabila. Seketika Bima menarik tubuh Nabila keatas pangkuannya. Nabila kaget, dan memandang Bima dengan heran. "Gimana cara kamu bertanggung jawab? Aku bahkan gak punya pacar." Ucap Bima dengan pandangan yang begitu dalam pada wanita dihadapannya itu. "Aku bakal nikahin kamu Bim!" Ucap Nabila dengan lantang. Bima kaget mendengar ucapan Nabila. "Kamu bakal nikahin aku Bil?" Tanya Bima sambil mengusap hidung mancung Nabila dengan lembut. Nabila mengangguk, Bima tersenyum begitu manis sambil memandang wanita yang pipinya masih memerah karena malu malu itu. "Baiklah, ayo kita nikah Bil." Ucap Bima dengan penuh keyakinan. Dia tidak menyangka wanita yang sejak kecil banyak bertengkar dengannya itu tiba-tiba ingin menikahinya, tetapi dalam hati kecil Bima dia sangat bahagia. Nabila juga tidak menyangka Bima setuju dengan lamarannya yang begitu tiba-tiba itu, tapi Nabila merasa begitu bahagia musuh kesayangannya itu akan menjadi teman hidupnya.Mereka saling berpandangan tajam.."Kamu boleh marah sama aku Bil, kamu boleh pukul aku, tapi jangan diemin aku kaya gini Bil." Ucap Bima."Kamu mandi dan istirahat dulu Bim. Aku juga ingin tidur." Ucap Nabila sambil melepaskan genggaman tangan Bima.Bima tidak lagi menahan istrinya itu, dia pergi membersihkan diri dan berganti pakaian tidur.Bima membaringkan tubuhnya disamping Nabila yang masih membelakanginya, dia tidak mau mengganggu Nabila yang terlihat sudah memejamkan mata. Tetapi sebenarnya Nabila belum tertidur.---Pagi hari.Tidak seperti biasanya, pagi ini Nabila berangkat terlebih dahulu. Bima baru saja bangun dan menyadari Nabila sudah tidak disampingnya lagi.Baru kali ini setelah menikah Nabila begitu marah padanya hingga mengabaikan nya begitu saja.Bima segera bersiap untuk berangkat ke kantor, di meja makan tersedia Sandwich dan teh hangat yang telah disiapkan Nabila.Bima memotret sarapannya dan mengirimkan nya pada Nabila dengan sebuah pesan manis."Terimakasih say
Senin pagi ini dimulai dengan rapat rutin karyawan Prasaja Sapphire Grup, mereka bergantian melaporkan perkembangan pekerjaan yang mereka pegang masing-masing. "Hari ini aku akan mengecek pembuatan perhiasan baru kita ke pabrik lalu ke galeri kita di Chandra mall , karena semua hal sudah beres tinggal memantau perkembangan penataan interior galeri nya." ucap Nabila. "Biar Steve yang berangkat. Steve kamu pergi ke lokasi untuk memantau perekembangan renovasi galeri kita di Chandra mall." ucap Bima dengan tegas. "Sayang kamu..." ucap Nabila keceplosan. semua orang meliriknya dan kaget dengan ucapan Nabila. " Maksud saya, SAYA yang mau pergi secara langsung ke lokasi. Jadi Pak Bima tolong pahami cara kerja saya seperti biasanya." ucap Nabila yang segera membenarkan ucapannya agar semua orang tidak salah paham. "Baiklah. Steve dan Raya kalian temani Bu Nabila ke Lokasi Chandra mall. Cukup sampai disini Rapat kita hari ini kalian boleh melanjutkan pekerjaan kalian masing-masing." uca
Mereka semua berganti pakaian, Bima dan Nabila sudah terlebih dahulu menunggu diruang VVIP restoran Chinese food. Mereka duduk bersebelahan sambil menunggu pak Doni dan Kevin datang.Bima dengan tangannya yang nakal membelai paha mulus Nabila dibalik rok hitamnya."Bim, hentikan Bim!" Ucap Nabila sedikit kesal dengan suaminya itu.Tangan nakal Bima malah semakin masuk kedalam hingga menyentuh strawberry Nabila."Aww... Bim! Please sayang jangan disini." Ucap Nabila memohon."Cium aku dulu." Ucap Bima menyodorkan bibirnya."Nanti ada yang datang Bim!" Ucap Nabila."Makannya cepat." Ucap Bima memaksa.Akhirnya Nabila mengecup bibir Bima dengan cepat, barulah Bima mau berdiam tidak bertingkah lagi.Pak Doni dan Kevin datang dan duduk dihadapan mereka, pesanan makanan datang dan mereka menikmati makan siang bersama sambil berbincang tenang perkembangan bisnis mereka."Saya berharap kerjasama Aisen
Nabila terkejut karena disana ada Bima dan Kevin yang menemani Pak Doni berbincang."Bu Nabila sudah datang, Kenapa begitu merepotkan Bu harus pak Bima sendiri yang turun untuk menemani saya bermain golf. Suatu kebanggaan bagi saya bisa bermain golf bersama pak Bima. Terimakasih banyak yah." Ucap pak Doni.Jadi yang dimaksud Steve dia sudah menemukan pengganti dia itu ternyata Bima, Nabila kesal tapi juga merasa nyaman dan aman.Entah bagaimana pikirnya bisa Bima yang datang padahal dia tidak mengatakan apapun pada Bima, karena dia tidak ingin mengganggu pekerjaan Bima.--Kemarin lusa.Steve sedang minum kopi di pantry bersama kawan-kawan nya yang lain dan bertanya adakah yang mau menggantikannya menemani Nabila bermain golf bersama bos Aisen grup, tetapi semua tidak bisa menggantikan karena sudah ada urusan dan kegiatan masing-masing.Saat obrolan itu Bima sedang lewat dan mendengar pembicaraan Steve bersama teman-temannya, lalu iya menyuruh Steve datang ke ruangannya."Permisi pak B
Nabila membuka matanya perlahan, ternyata disamping bathtub terlihat Bima yang duduk memandanginya.Dia masih menggunakan kemeja putih dengan kancing yang setengah terbuka."Bim? Kapan kamu datang?" Tanya Nabila."Belum lama, kamu terlalu asik dengan busa-busa ini sehingga tidak sadar aku datang." Ucap Bima.Nabila tersenyum manis."Iya Bim, rasanya tubuhku segar lagi berendam dengan air hangat. Kamu juga mau berendam air hangat? Nanti aku siapkan untuk kamu mandi yah." Ucap Nabila."Kenapa harus nanti?" Ucap Bima yang mulai perlahan membuka semua kancing kemeja nya.Nabila sedikit bingung, tapi akhirnya dia mengerti bahwa suaminya itu ingin berendam bersama.Semua yang membalut tubuh Bima sudah ia lepaskan, lalu dia duduk didalam bathtub yang cukup besar itu disamping Nabila. Merenggangkan tangannya kebelakang pundak Nabila, Nabila hanya tersenyum karena hal itu juga sudah biasa mereka lakukan.Nabila menggosok tubuh Bima dengan perlahan, begitupun Bima yang membantu Nabila menggosok
"Maaf pak Bim, tadi saya sudah menahan pak Kevin untuk masuk. Tapi .." ucap Ardi dipotong oleh Kevin."Tidak perlu menjelaskan lagi, aku disini cuma mau penjelasan dari kamu Bima. Kenapa kamu menyerahkan proyek yang jelas-jelas kerja keras Nabila kepada orang lain?" Tanya Kevin dengan tegas." Sepertinya ini bukan ranah kamu untuk bicara tentang siapa karyawan yang bisa saya utus untuk mengerjakan kelanjutan proyek ini." Ucap Bima dengan lebih tegas.Suasana semakin memanas, tatapan diantara dua pria itu seperti menyalurkan petir. Para karyawan diluar penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi hingga terjadilah bisik-bisik karyawan."Maaf sekali Kevin, nanti kita hubungi kamu lagi untuk kelanjutan proyek kita. Masalah internal perusahaan kami biar kami yang membereskan nya. Ardi, tolong antar pak Kevin kedepan yah." Ucap Nabila."Kalau ada apa-apa kamu hubungi aku saja ya Bil." Ucap Kevin lalu pergi meninggalkan kantor Bima.Ucapan Kevin membuat Bima semakin kesal, namun iya masih m







