LOGINSetelah perjanjian tersebut, Julian tetap merawat Olivia seperti biasanya. Tak ada hal yang berubah dari dirinya. Olivia yang melihat sikap tenang Julian sebenarnya merasa ragu. Apakah ucapannya semalam tidak berpengaruh apapun pada pria tersebut. "Makanlah dulu," Julian melepas celemek dari tubuh lalu duduk berhadapan dengan istrinya. Keduanya menyantap makanan dalam diam. Tak ada pembicaraan ataupun kedekatan, semua menjadi lebih asing dari sebelumnya. Keduanya menjalani rutinitas seperti biasa. * * * "Tuan, kau baik-baik saja?" tanya Ratna khawatir, wajah Julian terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Julian mengangguk singkat, tak lupa memasang senyum tipis. " Ya, Aku baik-baik saja." Sebuah kebohongan yang keluar dari mulut Julian, setelah kejadian malam itu, Julian tidak lagi merasa tenang. Malam itu, Julian kembali terbangun, ia menoleh ke arah istrinya, ucapan Olivia masih tergiang di kepalanya. Ingatan saat ibunya meninggalkan dirinya berputar jelas, seolah baru te
Di rumah, Julian sudah menunggu Olivia pulang. Begitu mendengar suara deru mobil memasuki perkarangan rumah. Julian segera keluar untuk menjemput istrinya. "Lihat, suamimu datang, kami pamit dulu ya," ujar Mia pergi, tak lupa melambaikan tangan ke arah Julian. Setelah mereka pergi Julian langsung mendekat membantu membawakan barang belanjaan istrinya, sementara Olivia mengarahkan kursi rodanya masuk ke dalam rumah. Sampai di depan pintu, Julian membantu Olivia mengganti sepatu dengan sendal rumah. "Bagaimana perjalananmu hari ini?" tanya Julian memecah keheningan. "Baik,"jawab Olivia singkat, dari pada meladeni pertanyaan Julian ia lebih memilih menyapa Mochi."Mochi," panggil Olivia kegirangan. Hewan lucu tersebut langsung berlari ke pangkuannya. "Kau menungguku ya."Julian tersenyum getir, padahal ia juga menunggu istrinya pulang. Namun, tetap saja Olivia tidak pernah tersenyum ke arahnya, seperti yang Olivia lakukan ke Mochi."Kau sudah makan malam?" tanya Julian lagi.Olivia
Esok harinya, Mia lebih dulu terbangun bahkan sebelum matahari menampakkan sinarnya. Ia sedikit bingung mendapati dirinya sudah berada di kamar dengan lightstick yang masih tergenggam ditangannya. Mia menoleh ke samping, ia tersenyum tipis melihat Liam yang masih tertidur. Mia menduga, pasti suaminya yang menggendongnya semalam. Mia memperhatikan wajah Liam lama. Awalnya ia juga sempat takut dengan pria di depannya. Mia pikir Liam akan memperlakukannya dengan buruk dan merendahkan dirinya. Namun, semuanya terbantahkan, rumor buruk yang melekat pada suaminya hanya omongan tak berdasar. Harus Mia akui, Liam memang tampan. Alisnya yang tebal terlihat semakin tegas ketika pria itu tertidur. Entah kenapa, pagi itu Mia justru memperhatikan wajah tersebut lebih lama dari biasanya. Tanganya terulur menyentuh alis suaminya. Beberapa detik kemudian Mia langsung menarik kembali tangannya. "Aneh sekali, kenapa aku malah tiba-tiba ingin menyentuhnya." Mia kemudian bangkit dari kasur
Sepulangnya dari sidang, Julian dan Olivia mampir ke sebuah restoran untuk makan. Seperti biasa, Julian lebih dulu memperhatikan makanan istrinya, ia kini sibuk memisahkan daging ikan dari tulang sebelum diberikan ke Olivia. Semua kaum hawa yang ada di restoran menatap iri ke Olivia. Namun, Olivia tak perduli sama sekali. Keduanya menyantap makanan dalam diam, tak ada yang memulai pembicaraan Tak berapa lama hujan mulai turun, membuat Olivia merasa terjebak. "Kau tunggu di sini sebentar, aku akan mengambil payung di dalam mobil," beritahu Julian sebelum bangkit dari duduknya. "Tidak perlu, kita tunggu sampai hujannya berhenti," cegah Olivia. Melihat kondisinya sekarang, ia yakin Julian pasti menggendongnya dari pintu restoran hingga kerparkiran nanti dan hal tersebut pasti menarik perhatian banyak orang, ia tidak mau kembali menjadi tontonan. Julian menggangguk singkat, ia melihat ke luar jendela dengan tatapan kosong. Setiap kali hujan turun, ia tetap merasa tidak tenang.
Disaat semua orang melihat ke arah video dengan tatapan marah karena emosi atas perbuatan Sinta. Berbeda dengan Julian, video tersebut malah membuat tubuhnya menegang, suara makian dan pukulan terdengar familiar di telingannya. Julian mengambil satu langkah mundur. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk tetap melihat ke layar. Bayangan masa lalu saat ayahnya memukuli dirinya kini berputar dengan jelas di kepalanya. Julian yang sadar dengan tubuhnya yang mulai menunjukan reaksi ketakutan, langsung menyembunyikan kedua tangannya kebelakang, agar tidak ada yang sadar dengan hal yang sedang terjadi pada tubuhnya, ia harus tetap tenang dan terlihat profesional di ruang sidang. Sementara dari jauh, Olivia melihat segalanya, ia menyadari ekspresi tegang pria itu, Olivia bahkan sempat memperhatikan tangan Julian yang tampak gemeteran, sebelum pria itu berhasil menyembunyikannya, ada tanda tanya besar di dalam hati Olivia. Reaksi yang Julian berikan tampak aneh menurutnya. Setelah vide
"Mia, ada yang ingin ku katakan padamu," ucap Liam setelah keduanya selesai makan. "Katakan saja," jawab Mia fokus mendengarkan perkataan suaminya. "Sebenarnya, beberapa waktu lalu aku menyelidiki kehidupan masa lalumu dan tentang pembullyan yang di lakukan Sinta padamu," beritahu Liam jujur, meskipun nanti Mia mungkin marah karena dirinya terlalu ikut campur, ia tidak perduli. Prioritas pertamanya adalah membantu istrinya mendapatkan keadilan. Mia terdiam sesaat, ia tetap berusaha memasang senyum terbaiknya. "Tidak masalah, itu hanya kejadian masa lalu tidak perlu dipikirkan." "Tapi aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja," sela Liam. Hal tersebut tentu saja penting menurutnya. Mia tak langsung menjawab, pikiran buruk mulai memenuhi kepalanya, ia mulai bertanya-tanya. Apakah pria di depannya akan menertawakan masa lalunya? Atau merasa malu karena menikahi wanita menyedihkan sepertinya?. "Maaf, karena masa laluku sudah membawa dampak buruk ke dalam hidupmu," sahut Mia p







