FAZER LOGINMulut Olivia mengangga sedikit, ia tidak menduga Mia menangapinya dengan santai. "Kau, bagaimana bisa sesantai ini. Dia bukan pria yang layak untuk menjadi seorang suami. Tak ada hal baik yang melekat padanya."Mia tertawa pelan. "Kau lupa ya, ini hanya pernikahan kontrak, setelah tiga tahun kami akan bercerai.""Tapi tetap saja kau harus waspada. Bagaimana kalau dia menyakitimu?" "Tenanglah, itu tidak akan terjadi, kami sudah menandatangani perjanjian pra nikah dan sepakat untuk tidak ikut campur urusan masing-masing." Mia berusaha menenangkan Olivia. Meski begitu, ia meresa senang dengan respon sahabatnya, setidaknya di dunia ini. Ia punya seseorang yang mengkhawatirkannya. "Setelah ku pikir, dia juga memiliki dua hal yang baik.""Hal baik apa?" tanya Olivia lagi."Tampan dan kaya raya," ceplos Mia seadanya.Disaat Olivia merasa takut dan tak tenang, Mia malah tersenyum cengegesan tanpa beban. "Otakmu itu memang harus di perbaiki."Mia memeluk Olivia manja. "Ayolah, aku tidak selem
"Olivia ada yang ingin ku katakan padamu," ucap Mia pelan. Olivia yang tadinya sibuk dengan kertas sketsa kini menoleh sebentar ke arah sahabatnya itu. "Ada apa?" "Sebenarnya aku mau menikah," ungkap Mia tanpa rasa ragu. Seketika coretan Olivia keluar dari jalurnya, ia meletakkan pensil gambarnya dan menatap Mia. "Berhenti bercanda." Peringatnya. "Apa aku terlihat sedang bercanda?" Pertanyaan tersebut membuat Olivia terdiam seribu bahasa. Ia memperharikan wajah sahabatnya dengan seksama, tak ada keraguan di sana. Mia bener-benar serius dengan ucapanya. Hanya saja, setau Olivia, Mia tak pernah benar-benar dekat dengan pria manapun dan tak punya niat menikah sebelumnya. Tentu saja hal tersebut membuatnya merasa sangat heran. "Kau serius?" tanya Olivia memastikan. Mia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Aku akan menikah minggu depan." Otak Olivia yang belum sempat memproses keterkejutannya setelah pemberitahuan sebelumnya. Kini lebih terkejut lagi, ketika Mia memberit
Hampir empat puluh menit Olivia menunggu sendirian di restoran sendirian, barulah Julian dengan menenteng kantung plastik di tangannya. "Ambilah," Julian menyerahkan kantong plastik tersebut pada Olivia. Olivia menerima plastik yang di berikan Julian, matanya membulat sempurna, tak percaya Julian membeli pembalut dengan jumlah banyak, ada sekitar dua puluh pembalut yang terdiri dari berbagai merek dan ukuran. "Kenapa membeli sebanyak ini?" tanya Olivia heran. "Aku tidak tahu mana produk yang nyaman kau pakai. Jadi ku beli semuanya," jawab Julian jujur. Olivia kemudian langsung pergi ke toilet, untuk memakai pembalut. Setelah selesai, Olivia sedikit terkejut mendapati Julian berdiri tak jauh dari toilet wanita. "Kita pulang sekarang," ajak Julian. Keduanya berjalan menuju parkiran. Di dalam mobil, Julian memberikan satu kantung plastik lagi, di dalamnya berisi beberapa coklat, permen dan cemilan manis untuk istrinya. Tak lupa, di perjalanan pulang, Julian sempat berhe
"Nenek," panggil Olivia senang, ia langsung berlari memeluk Anna_neneknya. "Gimana kabarnya sayang?" tanya Anna membalas pelukan Olivia sembari mengelus lembut puncak kepala cucunya. "Baik dong, nenek gimana, sehat kan? gak ada masalahkan?" Olivia melepas pelukannya. Lalu mengecek keadaan neneknya. "Sehat," jawab Anna singkat, keduanya masuk ke dalam rumah. Julian yang melihat Anna datang langsung menyambutnya. Ketiganya kini duduk di ruang tamu. Tak lupa Soraya yang tanpa di perintah langsung membawa tiga gelas jus dan juga cemilan. "Sayang kemana kau tidak memakai cincin pernikhanmu? tanya Anna yang tak sengaja melihat ka jari cucunya. Olivia yang tersadar akan hal tersebut, langsung membuat alasan. "Tadi pas mandi cincinya Olivia lepas Nek." Sebenarnya Olivia sengaja berbohong, ia memang tidak berniat memakai cincin pernikahan tersebut sama sekali. "kau ini, cincin nikah tidak boleh di lepas." peringat Anna. Olivia mengangguk paham. "Baik Nek." "Jadi kalian puny
"Akhirnya, tugas kita selesai juga," ucap Mia penuh semangat, semua tekanan dan rasa lelah hilang. Ketika klien menyukai hasil karya mereka tanpa perlu revisi. Fitting baju berjalan lancar tanpa hambatan. Mia memperhatikan jam yang melingkar di tangannya. "Kita masih punya banyak waktu, jalan-jalan yuk," ajak Mia antusias. Sudah lama mereka tidak pergi berlibur ataupun menghabiskan waktu di luar jam kerja. Olivia tampak berpikir sejenak, ia pun mengiyakan ajakan sahabatnya. keduanya pergi ke mall. "Akhirnya, aku bisa menghamburkan uang-uangku," ucap Mia dramatis. Matanya berbinar menatap rak yang dipenuhi merchandise kpop kesukaanya. Olivia hanya bisa menggeleng tak percaya melihat tingkah sahabatnya itu. "Bukankah minggu lalu kau baru memesan lightstick secara online." Mia tersenyum memerkan giginya yang tersusun rapi. "Ayolah, itu berbeda, hari ini aku ingin membeli versi terbaru." Hampir dua jam, Olivia menemani Mia berkeliling membeli barang yang diinginkan sahabatny
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, langit yang tadinya cerah, kini mengelap sepenuhnya. Sejak turun dari mobil, langkah Olivia semakin memberat. Namun, ia harus tetap masuk. begitu pintu terbuka, Julian langsung datang menghampirinya, seolah pria itu memang menantikan kedatangannya."Kau sudah pulang." Julian tersenyum tipis ke arahnya. pria itu berjalan mendekat, berniat membantu Olivia mengganti sepatu dengan slippers.Olivia menatap pria di depannya bingung, bukankah, Mia bilang, pria di depanya itu irit senyum, Namun semua keterangan Mia sepertinya terbalik, sejak pertemuan pertama, Julianlah yang pertama kali bersikap ramah dan tersenyum ke arahnya."Tidak perlu," ucap Olivia melangkah mundur, saat Julian hendak menyentuh ujung sepatunya. "Aku bisa melakukannya sendiri."Olivia bisa melihat tangan Julian sempat bergantung beberapa detik di udara, sebelum akhirnya meletakkan slippers di depan kakinya."Gantilah pakaianmu, kita makan malam," beritahu Julian setelahnya.Olivia







