LOGIN"Terima kasih, Pak Benny. Saya sangat menghargai efisiensi Anda," sahut Denzel sambil menyesap kopi pahit yang disuguhkan. "Ibu Wandha juga bilang, Anda adalah orang yang paling bisa diandalkan jika menyangkut pengamanan aset yang sifatnya sangat privat."Mendengar kata aset privat, gerakan tangan Benny yang sedang merapikan jam Rolex-nya mendadak kaku sejenak. Ia menatap Denzel lebih dalam, mencoba mencari tahu apakah ada makna terselubung di balik ucapan dokter muda itu."Privat? Ah, benar. Kerahasiaan adalah napas bisnis saya," jawab Benny cepat, kembali menguasai keadaan. "Tapi saya penasaran, Dokter... selain klinik, apakah ada properti lain yang ingin Anda konsultasikan legalitasnya? Mungkin sesuatu yang letaknya jauh dari keramaian kota?"Denzel tersenyum tipis. Ia tahu Benny sedang memancingnya untuk melihat seberapa jauh ia tahu tentang operasional Black Rose."Mungkin nanti, Pak Ben. Setelah klinik ini selesai," jawab Denzel retoris. Saat ia hendak berdiri, ia sengaja menyen
Pagi menyingsing dengan sinar matahari yang menembus celah gorden mansion, membangunkan Denzel yang masih terbuai dalam sisa kehangatan malam bersama Vionka. Meski tubuhnya terasa rileks, otaknya langsung bekerja secara taktis. Ia meraih ponsel, melihat laporan singkat dari Bayu di Unit X bahwa Cakrha telah kembali ke apartemennya dalam keadaan selamat meski sedikit mabuk.Setelah mengecup kening Vionka yang masih terlelap, Denzel beranjak ke ruang kerja pribadinya. Ia segera mendial nomor Wandha, penghubung utamanya dalam misi menyusup ke jaringan bisnis Jayanti Kusuma dan Benny Ferdinand."Selamat pagi, Bu Wandha. Maaf mengganggu sepagi ini," sapa Denzel dengan nada profesional namun tetap ramah."Oh, Denzel! Selamat pagi. Ada perkembangan apa?" jawab Wandha dari seberang telepon.Denzel menyandarkan punggungnya di kursi kerja, matanya menatap tajam ke arah papan peta strategi. "Saya hanya ingin tahu, apakah proses perizinan dan akta tanah klinik kita yang baru sudah diselesaikan,
Sementara itu, di The Velvet Night, setelah mengirim pesan pada Denzel, Cakrha menyimpan ponselnya dan menyesap minumannya. Matanya yang tajam menatap ke arah balkon lantai dua, di mana seorang wanita anggun dengan gaun merah, Jayanti Kusuma, sedang mengamati kerumunan dengan senyum misterius. Permainan baru saja dimulai.Cakrha menyesap minumannya hingga tandas, lalu memberikan kedipan nakal pada barista di depannya. Ia sengaja menarik tudung jaketnya sedikit lebih rendah, memastikan wajahnya tak tertangkap jelas oleh kamera pengawas maupun pandangan tajam Jayanti Kusuma yang sedari tadi mondar-mandir di area VIP lantai atas."Malam ini bukan buat kerja rodi, Jayanti. Malam ini buat aku senang-senang," gumam Cakrha pelan.Setelah ketegangan maut di Pulau 1000 Batu di mana peluru nyaris menembus kepalanya, Cakrha merasa otaknya butuh refresh. Ia melangkah ke tengah lantai dansa yang penuh sesak, di mana dentum bas musik EDM terasa menggetarkan tulang rusuknya. Tak butuh waktu lama bag
Denzel melangkah keluar dari kamar mandi dengan sisa uap air yang masih menempel di kulit sawo matangnya. Handuk putih melilit pinggangnya dengan rapi, namun otot perutnya yang kotak-kotak masih basah terkena tetesan air dari rambutnya.Vionka mendongak dari ponselnya, tampak sedikit terkejut melihat Denzel yang kini berdiri tepat di depannya. Ia sendiri masih dalam balutan handuk, rambutnya yang lembab tergerai di bahu."Kok belum ganti baju, Sayang?" tanya Denzel dengan suara bariton yang rendah. Ia mendekat, aroma sabun maskulinnya seketika memenuhi indra penciuman Vionka.Denzel mengulurkan tangan, menyentuh lembut jemari Vionka. "Aku ingin kamu yang membuka handukku dulu... Katanya tadi pengen cepat punya dedek bayi?" goda Denzel sambil menyunggingkan senyum nakal yang membuat jantung Vionka berdesir hebat.Ingatan Denzel melayang pada rencana liburan romantis mereka di Pulau 1000 Batu yang hancur berantakan karena serangan Black Rose. Harusnya di sana, di bawah rembulan purnama,
"Cakrha, kamu pegang Jayanti. Kita punya pintu masuk lewat Ibu Wandha dan bisnis kosmetiknya. Dekati dia secara halus, cari tahu siapa saja pejabat yang ada di dalam buku tamu The Velvet Night atau siapa yang dapet suplai obat khusus dari JK Glow," instruksi Denzel tegas.Cakrha menyeringai, meluruskan jaketnya dengan penuh percaya diri. "Beres, Dok. aku bakal jadi anak mami yang pengen belajar bisnis skincare di depan dia. Dia nggak bakal curiga sama anak muda kayak aku."Denzel kemudian menoleh ke arah Januar. "Dan aku sendiri yang akan turun tangan menghadapi Benny Ferdinand. Notaris sekelas dia pasti punya benteng hukum yang sangat tebal. Aku butuh cara untuk membedah dokumen-dokumen properti yang dia tangani tanpa memicu alarm Unit White Rose."Januar berdiri, menyalami Denzel dengan sangat hormat. "Dokter, Papa selalu bilang kalau nyawa nggak bisa dibayar pakai uang. Bantuan informasi ini nggak ada apa-apanya dibanding kesehatan Papa sekarang. Kalau Dokter butuh akses ke databas
"Bapak Benny itu terlalu high profile, Pak Jan. Pasti pengawalannya ketat dan dia tipe yang main di balik meja kaca," interupsi Cakrha sambil menyipitkan mata ke arah tablet. "Ada nggak satu nama lagi yang lebih accessible? Yang sering muncul di tempat umum tapi tetap pegang kunci informasi?"Januar terdiam, jarinya menari cepat di atas layar tabletnya. Sedetik kemudian, sebuah foto muncul. Seorang wanita cantik dengan gaun merah elegan, rambut disanggul modern, dan tatapan mata yang tajam namun menggoda."Kalau kalian mau yang lebih cair tapi tetap berada di lingkaran inti, dekati dia," ujar Januar sambil menyodorkan tablet. "Namanya Jayanti Kusuma. Usianya sudah masuk kepala empat, tapi seperti yang kalian lihat, dia tampak seperti awal tiga puluhan. Sangat seksi dan manipulatif."Denzel memperhatikan foto itu. Tidak ada aura hitam pekat yang terpancar dari gambar digital, namun ada aura abu-abu kelam yang menandakan ambisi tanpa batas."Dia pemilik The Velvet Night, kelab malam pal







