Beranda / Rumah Tangga / Suami pengganti / Retak yang mulai luruh

Share

Retak yang mulai luruh

Penulis: AkaraLangitBiru
last update Tanggal publikasi: 2025-08-18 12:44:38

Aku tak tau sejak kapan aku terbiasa mendengar tangisan bayi di pagi buta. Sejak kapan aku terbiasa bangun ditengah malam menggantikannya popok. Aku tidak tau. Dulu, waktu hidup sendiri, suara alarm pun sering kuabaikan. Bahkan suara jeritan bi Susi yang memintaku terbiasa untuk shalat tahajud pun, aku tak memperdulikannya. Yang penting aku tidak telat untuk melaksanakan shalat subuh.

Tapi kini, bahkan suara rengekan kecil Arsenio pun bisa langsung membangunkanku. Ya, malam ini pun begitu. Seki
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Suami pengganti   Pulang

    Pukul 04.30 pagi.Aku sudah terjaga bahkan sebelum alarm ponsel berbunyi. Entah karena terlalu bersemangat atau memang semalam aku kesulitan tidur. Berkali-kali kulirik jam di nakas, memastikan waktu keberangkatanku tidak berubah.Hari ini aku pulang.Pulang kepada dua orang yang beberapa hari terakhir memenuhi hampir seluruh isi kepalaku. Aku bangkit dari tempat tidur, melipat selimut seadanya, kemudian berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai bersiap, aku memeriksa kembali isi koper. Pakaian, dokumen pekerjaan, oleh-oleh, dan satu kantong kecil berisi beberapa barang yang sengaja kubeli untuk Amara dan Arsenio.Sebenarnya aku tidak pandai memilih hadiah. Tapi sejak menikah dengannya, entah kenapa aku mulai senang membeli sesuatu yang mungkin disukainya.Untuk Arsenio, aku membeli beberapa pakaian bayi dan mainan kecil yang sesuai usianya.Sementara untuk Amara...Aku mengambil sebuah kotak kecil dari dalam tas.Sebuah gelang sederhana be

  • Suami pengganti   Ada 2 orang yang menungguku pulang

    Pagi ini rasanya begitu berbeda.Entah karena sudah terlalu lama berada di Bandung, atau karena sejak membuka mata tadi, pikiranku hanya tertuju pada dua orang yang sedang menungguku di rumah. Entahlah ...Aku melirik jam di pergelangan tangan. Pukul 06.15. Masih ada waktu sebelum jadwal keberangkatanku. Dengan malas, kusibakkan selimut dan meraih ponsel di atas nakas. Seperti kebiasaan beberapa hari terakhir, ruang percakapan dengan Amara menjadi hal pertama yang kubuka.Belum ada pesan darinya.Aku mengernyit. Biasanya perempuan itu sudah mengirimkan pesan berisi daftar panjang larangan untuk suaminya. Mulai dari jangan lupa sarapan, jangan terlalu banyak minum kopi, sampai jangan pulang terlalu malam.Apa jangan-jangan hari ini dia sedang sibuk?Aku membuka kamera depan, memastikan wajahku tidak terlalu berantakan, kemudian menekan tombol panggilan video.Satu kali.Dua kali.Tiga kali.Tak diangkat.Aku menghela napas. Baru juga beberapa detik, sudah mulai merasa kehilangan.Hingga

  • Suami pengganti   Pelan-Pelan, Kita Menjadi Rumah

    Aku terbangun ketika cahaya matahari mulai menyelinap melalui celah tirai kamar hotel. Untuk beberapa detik, aku hanya diam menatap langit-langit kamar. Mengumpulkan kesadaran sebelum akhirnya meraih ponsel di atas nakas.Hal pertama yang kulakukan bukan memeriksa email pekerjaan, bukan pula melihat jadwal rapat hari ini.Melainkan membuka ruang percakapan dengan Amara.Ada satu pesan baru yang masuk pukul 05.42.Amara: Jangan lupa sarapan, Kak. Jangan cuma minum kopi. Nanti maag-nya kambuh lagi.Aku tersenyum. Bahkan dari jarak ratusan kilometer, perempuan itu masih punya cara untuk mengatur hidupku.Aku: Pagi-pagi sudah cerewet saja, Bu.Amara: Kalau gak diingetin, siapa lagi?Aku: Memangnya harus ibu Arsenio?Amara: Ya memang siapa lagi?Aku tertawa kecil. Kemudian mengetik sesuatu yang sejak semalam berkali-kali ingin kusampaikan.Aku: Pagi, istri saya.Pesan terkirim.Namun, setelahnya aku justru meletakkan ponsel dengan jantung yang sedikit berdebar. Entah sejak kapan menyebutny

  • Suami pengganti   Kota yang hampir tak oernah jujur

    "kamu yakin Ra, gak mau ikut sama kakak ke Bandung?" tanyaku kembali memastikan dengan memelas.Amara menggeleng, tangannya sibuk memasukan pakaianku ke koper. Setelah perdebatan malam itu, aku pikir Amara akan mendiamiku seperti kebanyakan. Mulai menjauh seperti saat awal pernikahan kami. Dingin. Tapi rupanya tidak, ia masih bersikap ramah padaku.Amara mendongak, ia menggeleng pelan. "Ngapain sih, yang ada ganggu kerjaan kakak kalau aku sama baby Nio ikut,"Aku menghela napas. Duduk di sisi ranjang, membiarkan koper terbuka di hadapanku dan pakaian yang belum sepenuhnya rapi tergeletak begitu saja.Kemudian aku mendesah pelan. "Ganggu apanya, Ra? Justru kakak bakal lebih tenang kerja kalau kalian ikut. Kakak jadi punya alasan pulang cepat. Punya alasan buat senyum walau seharian dikejar deadline.""Kak, bandung itu dingin. Arsenio belum terbiasa," ujarnya tepat ketika ia menutup koperku dan menarik resletingnya."Lagi pula cuma seminggu, kok jadi lebay gini?" tanyanya dengan duduk d

  • Suami pengganti   tapi saya bukan dia, Ra.

    Waktu di jam dinding sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam, namun aku masih bergelut dimeja ruang tamu dengan setumpuk pekerjaan lembar-lembar berkas yang harus ditandatangani, laporan yang perlu direvisi, dan notulen rapat yang harus kukaji ulang sebelum kubawa ke pertemuan esok pagi. Bahkan hingga kini, aku belum sempat menyapa Amara dan bayinya.Samar-samar aku mendengar langkah pelan dari arah dapur. Suara air mengalir dari kran, diikuti dengan denting gelas yang bersentuhan. Tak lama kemudian, langkah itu makin dekat, lalu berhenti tepat di belakangku. Namun, aku masih tetap memfokuskan diri pada pekerjaan. Sungguh aku ingin pekerjaan ini cepat selesai. "Kak," suara itu terdengar pelan, kemudian aku rasakan Amara tengah duduk disebelahku. "Hmmm," kujawab dengan gumaman, bukannya apa-apa. Fokusku kali ini pada satu dokumen yang hampir selesai, setelahnya aku akan terbebas. "Kak," panggilnya lagi, lebih lembut. Ada jeda di antara suaranya, seolah sedang memilih untuk lan

  • Suami pengganti   kencan pertama

    "Ra, baby nya udah tidur?" tanyaku ketika aku baru saja memasuki kamar sehabis dari menunaikan shalat magrib di mesjid kompleks. Amara menoleh dengan meletakan jari telunjuk di mulutnya. "Pelan-pelan ngomongnya, kak. Dia baru tidur," ujarnya. Aku mengangguk. Melepaskan peci, lalu menaruhnya diatas nakas. "Mas mau makan sekarang, ayo Ara temanin" ajaknya dengan berjalan lebih dulu keluar dari kamar kami. "Kita makan diluar aja ya? Malam ini kata Bi Susi ada pasar malam di dekat kantor kelurahan," aku mengajaknya ragu. Pasalnya ini baru pertama kali aku mengajaknya jalan. Satu alis Amara terangkat. "Pasar malam?" tanyanya. Aku mengangguk pelan. "Iya. Katanya ramai. Banyak jajanan juga. Selama kamu pindah kerumah ini kakak belum pernah lihat kamu keluar rumah bahkan belum ngerasa kamu minta kakak untuk temanin kamu jalan-jalan. Kamu gak jenuh apa, tiap hari dirumah. Ngerjain pekerjaan rumah sama bi Susi, momong baby Arsenio juga. Kakak rasa kamu butuh refreshing deh,"Amara terseny

  • Suami pengganti   Es yang mulai mencair

    "jagoan papa ini udah wangi banget nak, ganteng pula" aku terkekeh gemas saat mendandani Arsenio pagi ini seusai ku mandikan bersama bi susi. Bayi kecil itu hanya bisa tertawa-tawa sambil memainkan bibirku dengan tangannya yang mungil dan basah.Sementara Amara, perempuan itu semalam demam gara-gar

  • Suami pengganti   pelan-pelan saja

    Aku tidak tahu bagaimana caranya mencintai seseorang yang hatinya sedang berduka. Tapi aku tahu, mencintai bukan berarti menuntut balasan. Mencintai, kadang sesederhana memastikan dia makan hari ini, memastikan tidurnya cukup, memastikan anaknya tumbuh sehat dan bahagia. Sudah dua minggu pernikaha

  • Suami pengganti   Sah (akad yang tak tepat)

    Waktu berlalu begitu cepat sejak Arsen datang menemuiku beberapa bulan yang lalu dan kini aku kembali menemuinya dengan raut penyesalan yang begitu besar. Rasa bersalah dihatiku mencuat kepermukaan ketika aku tengah duduk disamping ranjang pesakitan. Adikku itu tampak jauh berbeda dari terakhir ka

  • Suami pengganti   permintaan terakhir

    "Mas, aku mohon. Hanya Mas Rafi lah yang bisa bantu aku. Tolong, umurku udah nggak panjang lagi kali ini. Sebagai permintaan terakhirku, Mas mau menikahi Amara ya?"Aku tertegun. Napasku tertahan. Sial, Apa barusan aku salah dengar? Apa gendang telingaku kali ini sudah rusak?Arsen, adikku itu kini

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status