홈 / Rumah Tangga / Suami pengganti / Retak yang mulai luruh

공유

Retak yang mulai luruh

last update 게시일: 2025-08-18 12:44:38

Aku tak tau sejak kapan aku terbiasa mendengar tangisan bayi di pagi buta. Sejak kapan aku terbiasa bangun ditengah malam menggantikannya popok. Aku tidak tau. Dulu, waktu hidup sendiri, suara alarm pun sering kuabaikan. Bahkan suara jeritan bi Susi yang memintaku terbiasa untuk shalat tahajud pun, aku tak memperdulikannya. Yang penting aku tidak telat untuk melaksanakan shalat subuh.

Tapi kini, bahkan suara rengekan kecil Arsenio pun bisa langsung membangunkanku. Ya, malam ini pun begitu. Seki
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Suami pengganti   Pelan-Pelan, Kita Menjadi Rumah

    Aku terbangun ketika cahaya matahari mulai menyelinap melalui celah tirai kamar hotel. Untuk beberapa detik, aku hanya diam menatap langit-langit kamar. Mengumpulkan kesadaran sebelum akhirnya meraih ponsel di atas nakas.Hal pertama yang kulakukan bukan memeriksa email pekerjaan, bukan pula melihat jadwal rapat hari ini.Melainkan membuka ruang percakapan dengan Amara.Ada satu pesan baru yang masuk pukul 05.42.Amara: Jangan lupa sarapan, Kak. Jangan cuma minum kopi. Nanti maag-nya kambuh lagi.Aku tersenyum. Bahkan dari jarak ratusan kilometer, perempuan itu masih punya cara untuk mengatur hidupku.Aku: Pagi-pagi sudah cerewet saja, Bu.Amara: Kalau gak diingetin, siapa lagi?Aku: Memangnya harus ibu Arsenio?Amara: Ya memang siapa lagi?Aku tertawa kecil. Kemudian mengetik sesuatu yang sejak semalam berkali-kali ingin kusampaikan.Aku: Pagi, istri saya.Pesan terkirim.Namun, setelahnya aku justru meletakkan ponsel dengan jantung yang sedikit berdebar. Entah sejak kapan menyebutny

  • Suami pengganti   Kota yang hampir tak oernah jujur

    "kamu yakin Ra, gak mau ikut sama kakak ke Bandung?" tanyaku kembali memastikan dengan memelas.Amara menggeleng, tangannya sibuk memasukan pakaianku ke koper. Setelah perdebatan malam itu, aku pikir Amara akan mendiamiku seperti kebanyakan. Mulai menjauh seperti saat awal pernikahan kami. Dingin. Tapi rupanya tidak, ia masih bersikap ramah padaku.Amara mendongak, ia menggeleng pelan. "Ngapain sih, yang ada ganggu kerjaan kakak kalau aku sama baby Nio ikut,"Aku menghela napas. Duduk di sisi ranjang, membiarkan koper terbuka di hadapanku dan pakaian yang belum sepenuhnya rapi tergeletak begitu saja.Kemudian aku mendesah pelan. "Ganggu apanya, Ra? Justru kakak bakal lebih tenang kerja kalau kalian ikut. Kakak jadi punya alasan pulang cepat. Punya alasan buat senyum walau seharian dikejar deadline.""Kak, bandung itu dingin. Arsenio belum terbiasa," ujarnya tepat ketika ia menutup koperku dan menarik resletingnya."Lagi pula cuma seminggu, kok jadi lebay gini?" tanyanya dengan duduk d

  • Suami pengganti   tapi saya bukan dia, Ra.

    Waktu di jam dinding sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam, namun aku masih bergelut dimeja ruang tamu dengan setumpuk pekerjaan lembar-lembar berkas yang harus ditandatangani, laporan yang perlu direvisi, dan notulen rapat yang harus kukaji ulang sebelum kubawa ke pertemuan esok pagi. Bahkan hingga kini, aku belum sempat menyapa Amara dan bayinya.Samar-samar aku mendengar langkah pelan dari arah dapur. Suara air mengalir dari kran, diikuti dengan denting gelas yang bersentuhan. Tak lama kemudian, langkah itu makin dekat, lalu berhenti tepat di belakangku. Namun, aku masih tetap memfokuskan diri pada pekerjaan. Sungguh aku ingin pekerjaan ini cepat selesai. "Kak," suara itu terdengar pelan, kemudian aku rasakan Amara tengah duduk disebelahku. "Hmmm," kujawab dengan gumaman, bukannya apa-apa. Fokusku kali ini pada satu dokumen yang hampir selesai, setelahnya aku akan terbebas. "Kak," panggilnya lagi, lebih lembut. Ada jeda di antara suaranya, seolah sedang memilih untuk lan

  • Suami pengganti   kencan pertama

    "Ra, baby nya udah tidur?" tanyaku ketika aku baru saja memasuki kamar sehabis dari menunaikan shalat magrib di mesjid kompleks. Amara menoleh dengan meletakan jari telunjuk di mulutnya. "Pelan-pelan ngomongnya, kak. Dia baru tidur," ujarnya. Aku mengangguk. Melepaskan peci, lalu menaruhnya diatas nakas. "Mas mau makan sekarang, ayo Ara temanin" ajaknya dengan berjalan lebih dulu keluar dari kamar kami. "Kita makan diluar aja ya? Malam ini kata Bi Susi ada pasar malam di dekat kantor kelurahan," aku mengajaknya ragu. Pasalnya ini baru pertama kali aku mengajaknya jalan. Satu alis Amara terangkat. "Pasar malam?" tanyanya. Aku mengangguk pelan. "Iya. Katanya ramai. Banyak jajanan juga. Selama kamu pindah kerumah ini kakak belum pernah lihat kamu keluar rumah bahkan belum ngerasa kamu minta kakak untuk temanin kamu jalan-jalan. Kamu gak jenuh apa, tiap hari dirumah. Ngerjain pekerjaan rumah sama bi Susi, momong baby Arsenio juga. Kakak rasa kamu butuh refreshing deh,"Amara terseny

  • Suami pengganti   ternyata nikah itu enak?

    Hari-hariku ternyata kini penuh dengan warna-warni, bak seperti pelangi setelah badai. Setiap harinya bahkan senyuman tak pernah pudar diwajahku, kebahagiaan seolah tak pernah surut dihidupku. Bahkan kini, jam pulang pada waktu kerja adalah hal yang paling aku nantikan. Rasanya aku ingin segera pulang, menemui bintang yang kini kembali menampakan sinarnya. Serta matahari kecil yang selalu menghangatkan rumahku. Begitu jam kantor menunjukkan pukul lima sore, aku langsung semangat membereskan laptop dan buru-buru keluar.“Pulang buru-buru terus, Fi? Bulan madunya panjang amat ya” celetuk Ayah dengan kekehan saat kami berpapasan di lift. Aku cuma nyengir. “Rumah udah jadi tempat paling nyaman sekarang yah,"Ayah mengangguk, ia menepuk pundakku. "Gimana rasanya nikah, Fi?" Aku terdiam sebentar. Pertanyaan Ayah itu sebetulnya sederhana, tapi entah kenapa jawabannya tak pernah sesingkat itu.Aku menghela napas kecil, lalu menatapnya dengan senyum yang tulus. "Rasanya seperti punya rumah

  • Suami pengganti   patner hidup?

    Setelah pagi itu, semuanya terasa berjalan lebih ringan. Hari-hari berikutnya Amara tak lagi selalu menyendiri di kamar. Ia mulai ikut menjemur pakaian, menyiapkan sarapan, bercengkrama dengan bi susi tanpa ku suruh bahkan beberapa kali tertangkap basah sedang tersenyum kecil saat aku bermain dengan bayinya. Dan malamnya, kami mulai membiasakan diri untuk tidur seranjang, dengan berdiskusi panjang lebar tentang kehidupan kedepannya sebelum kami tidur. Meski masih ada jarak. Tidak apa-apa. Jarak bisa dijembatani, asal bukan keengganan yang dipelihara. Kami bahkan saling berbagi peran satu sama lain, saling bekerja sama untuk merawat baby Arsenio."Kak pasti capek, jangan dulu gendong baby Nio. Mandi dulu ya, air hangatnya sudah siap. Ara juga udah siapkan makan malam untuk kakak"Aku tersenyum, ketika perhatian kecil itu terlontar dari mulutnya. Ah, bahagia sekali. "Kamu udah makan, Ra?" tanyaku duduk disamping Amara yang tengah bermain bersama Arsenio. Bayi kecil itu belum tertidur

  • Suami pengganti   tolong bangkit

    Hari ini, minggu pertama pernikahan kami, rasanya seperti berjalan diatas serpihan kaca Setiap langkah menggores diam-diam, tanpa suara, tapi berdarah juga pada akhirnya.Kami memang tinggal satu atap, satu kamar, tapi tidak benar-benar bersama. Ada batas tak kasat mata yang terus memisahkan aku da

  • Suami pengganti   Tangis malam pertama

    Kepergian Arsen begitu meninggalkan duka yang mendalam bagi keluargaku, terutama Amara. Perempuan itu bersimpuh lama di depan nisan basah yang baru saja ditancapkan, tubuhnya membungkuk dalam diam, dan sesekali terdengar isakan tertahan yang memecah keheningan sore ini.Hujan rintik turun pelan, se

  • Suami pengganti   Sah (akad yang tak tepat)

    Waktu berlalu begitu cepat sejak Arsen datang menemuiku beberapa bulan yang lalu dan kini aku kembali menemuinya dengan raut penyesalan yang begitu besar. Rasa bersalah dihatiku mencuat kepermukaan ketika aku tengah duduk disamping ranjang pesakitan. Adikku itu tampak jauh berbeda dari terakhir ka

  • Suami pengganti   permintaan terakhir

    "Mas, aku mohon. Hanya Mas Rafi lah yang bisa bantu aku. Tolong, umurku udah nggak panjang lagi kali ini. Sebagai permintaan terakhirku, Mas mau menikahi Amara ya?"Aku tertegun. Napasku tertahan. Sial, Apa barusan aku salah dengar? Apa gendang telingaku kali ini sudah rusak?Arsen, adikku itu kini

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status