MasukPemuda bertopeng sibuk membersihkan sisa darah di bilah pedangnya dengan menggunakan kain yang dikenakan oleh para korbannya.
Pemuda itu dengan geram menendang kepala pria botak bercodet hingga kepala pelontos itu terpental sangat jauh. "Sampah!" "Hanya sekelompok bandit hutan rendahan saja sudah berlagak sok jago di depanku," gerutu pemuda bertopeng sambil berjongkok di sisi mayat tanpa kepala untuk mencari sesuatu. Setelah memeriksa semua mayat para bandit, pemuda bertopeng hanya menemukan kantung-kantung yang dipenuhi uang perak. "Sepertinya mereka adalah para pembunuh bayaran. Hanya saja tidak ada petunjuk mengenai orang yang menyuruh mereka," gumamnya sambil menyimpan semua uang dalam kantung itu untuk dirinya sendiri. "Keluarlah! Mereka semua sudah mati!" seru pemuda bertopeng kepada gadis bercadar yang sekarang semakin ketakutan. Gadis itu melihat dengan mata kepalanya sendiri akan keganasan dan kesadisan pria yang telah menolongnya. Pemuda bertopeng merasa heran. "Nona, mereka sudah tidak ada lagi. Jadi tidak akan ada yang mengganggumu. Keluarlah!" Masih tak ada jawaban. "Nona, apakah kau tertidur di sana?" Pemuda bertopeng mengeraskan suaranya untuk bertanya, "Sekarang, Nona bisa pulang dengan aman. Apakah perlu kuantarkan?" Namun, tetap tak ada jawaban sama sekali dari rerimbunan semak tempat persembunyian gadis bercadar. Pemuda bertopeng mulai khawatir. Bagaimana kalau ternyata gadis itu pingsan? Akhirnya, pemuda bertopeng pun memilih untuk mendekati semak dan menyibak semak belukar tersebut. Dia mendapati sang gadis bercadar tengah duduk memeluk lutut dengan tubuh menggigil ketakutan dan wajah pucat pasi. Baru sekali ini dalam hidup sang gadis, menyaksikan secara langsung sebuah pertarungan yang sangat mengerikan. Dia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana kejam dan betapa sadis, pria bertopeng ini dalam menghabisi para bandit bayaran. "Nona, Anda tidak apa-apa?" bertanya si pemuda bertopeng. "Apakah Anda sakit atau terluka?" Yang ditanya tak sanggup berkata apa pun akibat dari ketakutannya. Hanya sebuah gelengan kepala kecil yang terasa sangat kaku. Gadis itu juga merasa sangat sulit untuk menggerakkan tubuh, sedangkan si pemuda bertopeng justru terlihat tenang. Dia tampak mengerti dengan keadaaan mental gadis ini. Pemuda bertopeng mengulurkan tangannya. "Nona, berdirilah! Mari aku antarkan kau kembali ke rumahmu." Gadis bercadar mencoba untuk menggerakan tubuhnya untuk berdiri dan menatap ragu disertai ketakutan dari gadis kepada si pria bertopeng yang masih bersikap santai seolah tak pernah terjadi apa-apa. Baru saja si gadis bercadar bisa menguasai keadaan, tiba-tiba tubuhnya telah disambar kembali oleh si pemuda bertopeng dan terjebak dalam pelukan pria itu sekali lagi. SYUUUUUUT! KRAS! Suara benturan senjata yang mengenai benda keras pun, seketika terdengar cukup dekat di telinga sang gadis hingga pendengarannya sedikit berdenging. "Sial! Ada orang yang menyerang secara diam-diam rupanya!" Si pemuda bertopeng terlihat sangat marah. Dengan cepat pula, dia melemparkan salah satu pedangnya sambil berseru, "Da Jian, habisi dia!" Secara mengagumkan, pedang yang disebut Da Jian segera melesat mengejar si penyerang yang bersembunyi di balik sebuah pohon besar. "Ah!" Sebuah pekik kematian pun menjadi jawaban, kalau pedang milik pria bertopeng telah berhasil menyelesaikan tugasnya. Dengan cepat pula, pedang itu secara tiba-tiba melesat kembali ke tangan sang pemilik dengan berlumuran darah segar. Pemuda bertopeng segera menangkap kembali pedangnya sambil menggeram marah. "Humph! Ingin bermain-main dengan Ketua Kelompok Topeng Iblis dari Hutan Seribu Malam? Heh! Maka nyawalah taruhannya!" 'Ketua Kelompok Topeng Iblis dari Hutan Seribu Malam?' Putri Chu Rong Xi terketuk sekali lagi. 'Bukankah kelompok ini yang sering dibicarakan oleh kedua kakakku?' Setelah membersihkan darah di bilah senjatanya dan kembali menyimpannya ke dalam sarung pedang, pemuda itu berkata, "Nona, sebaiknya segera kita tinggalkan tempat ini karena sepertinya keadaan sedang tidak aman." Gadis itu hanya mengangguk, tak bisa berucap sepatah kata pun. Terlebih lagi saat tubuhnya semakin dalam dibenamkan pada tubuh pria bertopeng yang segera melesat bagaikan terbang membelah lebatnya hutan. Akan dibawa ke mana, gadis bercadar itu hanya bisa diam dan pasrah. Entah mengapa juga hatinya merasa sedikit nyaman dalam pelukan pria misterius ini, dan sekarang ia justru melingkarkan kedua tangannya pada leher pemuda bertopeng untuk berpegangan. Pemuda bertopeng membiarkan saja gadis bercadar memeluk lehernya. Ia hanya fokus mengontrol tenaga dalamnya selama pelarian ini. Sekarang, Putri Chu Rong Xi kian merasa nyaman dalam hati meskipun ia tahu betapa kejam sepak terjang Kelompok Topeng Iblis. Terlebih lagi, tubuh pemuda ini rasanya begitu hangat hingga dia seperti enggan melepaskan pelukannya. Secara diam-diam, Putri Chu Rong Xi mendongak ke atas, menatap dari samping pria bertopeng itu dengan rasa penasaran. Kira-kira, seperti apa bentuk asli wajah pria ini? 'Xi'er, apa yang sedang kamu pikirkan?' Putri Chu Rong Xi langsung menunduk dan memejamkan kedua matanya. 'Ingatlah kalau orang ini belum tentu benar-benar baik hati padamu. Bisa saja dia akan memperlakukanmu dengan kejam pula.' Apa salahnya curiga terhadap orang yang tidak dia kenal?Setelah itu, Tetua Yang Chao bergegas menemui Qing Yuan yang sudah dibaringkan di atas pembaringan oleh Yang Lin. Wajah pemuda itu tampak pucat dengan bibir yang membiru. Tetua Yang Chao mengambil bantal kecil, menempatkan pergelangan tangan Qing Yuan di atas benda empuk tersebut. Jari-jari tuanya menekan beberapa titik nadi. Ia melakukannya dengan hati-hati dan teliti. Setelah beberapa saat memeriksa dengan ekspresi serius, Tetua Yang Chao berkata, "Sepertinya racun darahnya memang kumat lagi. Dan kali ini sedikit lebih parah dari sebelumnya." "Lalu bagaimana cara mengatasinya?" tanya Yang Lin, cemas. "Kita lakukan pengobatan seperti biasa. Hanya saja kali ini dia harus direndam dalam ramuan khusus guna menekan penjalaran racun aneh yang sepertinya terbilang masih baru," jawab Tetua Yang Chao, ekspresinya tampak serius. "Racun baru?" Yang Lin terkejut. Tetua Yang Chao menjawab, "Kita akan segera mengetahuinya nanti." 'Racun baru?' Qing Yuan sedikit kaget. 'Jangan-jangan
Yang Lin baru saja tiba di depan gerbang Balai Qi Sheng sambil menggendong tubuh Qing Yuan yang dalam keadaan setengah tak sadar. Kepanikan di hatinya membuat langkah pemuda itu menjadi begitu cepat. Keringat membasahi pelipisnya, napasnya tersengal-sengal menahan beban tubuh Qing Yuan yang semakin lemas."Buka pintunya!" Demi mendengar teriakan tersebut, para penjaga jadi waspada, takut kalau itu adalah suara musuh yang datang ingin mengacaukan tempat itu. Mereka saling bertatapan dengan ekspresi was-was, tangan masing-masing sudah memegang senjata.Sambil setengah berlari, pemuda itu kembali berteriak dengan suara yang lebih keras, "Cepat buka pintunya! Ini aku, Yang Lin!""Itu Tuan Muda Yang Lin!" seru salah seorang penjaga yang ada di menara pengintai. Matanya menyipit memastikan sosok yang datang. "Cepat buka pintunya!" Para penjaga yang merupakan murid-murid Balai Qi Sheng langsung membuka pintu gerbang dengan ekspresi heran. Mereka tidak pernah melihat Yang Lin dalam kondisi
Malam harinya, Qing Yuan benar-benar dibuat gelisah akibat terus memikirkan bagaimana cara melarikan diri dari keikutsertaannya dalam sayembara tersebut. Hampir sepanjang malam ia menghabiskan waktu hanya untuk mencari jalan terbaik yang tidak menyakiti siapa pun, terutama Yang Hua dan Shen Ji. 'Kalau aku ikut Sayembara itu, maka kesempatanku untuk dapat menikahi Hua'er mungkin akan sangat sulit. Dia pernah berkata, kalau dia tidak mau jika suaminya kelak memiliki istri lain,' pikir Qing Yuan. 'Tapi kalau aku tidak ikut, laoshi pasti akan marah dan bisa-bisa menghukumku lagi.' "Ah Yuan, asalkan kamu bersedia mengikuti sayembara itu, aku bisa saja tidak membunuh Hua'er. Tapi kalau kamu menolak perintahku, maka kamu akan kehilangan muridmu itu," ucap Yang Hua, siang tadi seusai pertemuan. Ingatlah siapa itu Ji Mei Hua. "Bagaimanapun juga dia adalah anak dari Shen Ming, pembunuh kedua orang tua Ah Shui. Yang Ji adalah kakakku satu-satunya yang dibunuh oleh ayah dari muridmu, dan deng
Para tetua memang tidak meragukan akan keahlian Tetua Yang Xueying dan muridnya. Namun masalahnya, sekarang orang yang dimaksud sedang tidak berada di tempat tersebut karena sedang bersama istri sang ketua sekte. Jika menariknya secara tiba-tiba, apakah nyonya akan mengijinkannya?"Tapi, Tetua Xueying, bukankah saat ini Yang Se sedang bersama dengan Bibi Fuyu?" tanya Yang Shui. "Jika kita memanggilnya, lalu bagaimana dengan bibi?"Yang Hua tentu saja mengetahui akan kekhawatiran keponakannya. "Untuk masalah ini kamu tidak perlu khawatir, Ah Shui. Bibimu baru saja mengirim pesan kalau kita akan bertemu di perjalanan nanti.""Oh, baguslah. Kalau begitu sepertinya sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi," ujar Yang Shui, hatinya merasa lega."Kalau begitu masalah penyamaran sepenuhnya akan menjadi tugas Tetua Yang Xueying," lanjut Yang Hua, ia menghadap ke arah orang yang dimaksud dan mengepalkan kedua tangannya. "Maka saya mohon bantuan Anda, Tetua Yang Xueying." Demi mendapat tu
Semua orang yang hadir seketika terdiam, hanya Tetua Yang Wuzhou saja yang tampak bersikap biasa saja dan masih sibuk dalam menikmati makanannya. Yang Hua menatap satu per satu wajah-wajah para tetua dengan tatapan tajam. "Kalian semua adalah para tetua yang aku hormati dan sengaja aku undang ke mari dengan segala rasa hormatku. Tetapi para Tetua sepertinya tidak lagi memandangku sebagai pemimpin kalian!" "Pemimpin Tertinggi, mohon jangan salah paham!" seru Tetua Yang Lei dengan perasaan sedikit takut. "Apa maksud Tetua Yang Lei dengan kata salah paham?" Yang Hua beralih menatap Tetua Yang Lei, seakan sedang berusaha menguliti pria itu untuk mengetahui isi hatinya. "Kalian meragukan apa yang dikatakan oleh Qing Yuan, bahkan beberapa dari kalian seperti sedang sengaja menyudutkannya. Bukankah itu sama saja dengan tidak menghormatiku?" Semua orang terdiam dengan berbagai macam perasaan mereka masing-masing. Ada yang tidak senang atas pembelaan Yang Hua terhadap anak tirinya.
Semua orang tercengang. Wajah-wajah tua terlihat menegang. Namun, tentu saja Qing Yuan yang merasa lebih terkejut lagi.Mendengar kata 'hukuman mati', wajah Qing Yuan atau yang sengaja menggunakan nama Yang Yuan saat sedang beraksi bersama dengan kelompoknya, seketika memerah. Kesalahan yang tak ia lakukan, mengapa hukuman mati itu tertuju padanya? Bukankah ini sudah sangat keterlaluan?"Satu juta tahil emas? Bukankah ini hampir setara dengan setahun gaji seorang perdana menteri?" Yang Shui bertanya, seolah kepada dirinya sendiri. "Itu benar, Ah Shui. Bagi orang biasa, mungkin ini adalah sesuatu yang sangat menggiurkan!" Tetua Yang Lei berkata dengan sedikit antusias, seakan ini adalah suatu peluang besar untuk mengumpulkan kekayaan. 'Dengan imbalan yang luar biasa besar itu, siapa yang tidak merasa tertarik?' pikir Yang Shui disertai perasaan khawatir. Tentu saja, ia tak ingin Qing Yuan mengalami hal buruk yang seharusnya bukan menjadi tanggungannya. 'Ini harus segera diselidiki.







