แชร์

Suami yang Jahat, Ayah yang Buruk
Suami yang Jahat, Ayah yang Buruk
ผู้แต่ง: Ayusitha

Bab 1

ผู้เขียน: Ayusitha
Setelah dijadikan bank darah oleh cinta pertama suamiku, aku sakit hingga meninggal di rumah kontrakan yang disedekahkan oleh suamiku yang merupakan konglomerat.

Hari ini adalah hari ketiga setelah kematianku. Putraku yang berusia enam tahun akhirnya menyadari ada yang tidak beres.

Dia bermain mainan dan jarinya terluka, aku tidak menenangkannya. Dia membuka biskuit dan menyuapkan makanan ke mulutku, aku tidak menghentikannya. Dia berbaring dalam pelukanku, mencengkeram bajuku dan memanggil pelan "Mama," aku juga tidak memberi respons.

Dengan panik, dia menemukan ponselku dan menelepon suamiku yang konglomerat itu. "Papa, kenapa Mama masih tidur?"

Pria itu malah mengirimkan sebuah foto dirinya sedang menyantap makan malam tahun baru bersama cinta pertamanya, lalu berkata dengan dingin, "Cuma tidur, bukan mati. Hari ini malam tahun baru, aku sangat sibuk."

"Katakan pada ibu kamu yang nggak tahu diri itu, kalau dia sudah mau mengakui kesalahannya, baru datang mencariku."

Telepon ditutup. Anak itu tertegun lama.

Dia memungut biskuit terakhir di rumah dari tempat sampah, mematahkannya menjadi dua, lalu menyuapkannya ke mulutku. "Mama, kita juga makan."

Orang di atas ranjang tetap tidak bereaksi, tetapi anak itu sudah terbiasa. Dia meletakkan biskuit itu dengan hati-hati di samping bantal, lalu melahap setengah bagian yang menjadi miliknya.

Kemudian, dia meraba perutnya. Masih sangat lapar. Tanpa sadar, dia melirik biskuit yang tak tersentuh itu, lalu berjalan ke dapur seperti biasa, menuangkan semangkuk besar air dingin ke dalam gelas dan meneguknya.

Rohku melayang di udara. Melihat pemandangan ini, hatiku terasa nyeri. Apakah ini masih Kenny-ku yang dulu? Yang hanya terlambat makan sebentar saja sudah akan mengeluh kelaparan? Bagaimana mungkin baru tiga hari aku pergi, dia sudah menjadi seperti ini?

Ponsel tiba-tiba menyala, memperlihatkan wallpaper foto keluarga di layar utama. Di dalam ruangan yang hangat, Refal merangkulku yang masih mengantuk dan anak kami, tertawa lebar ke arah kamera. Wajah yang mirip 80% itu menampilkan keceriaan yang selalu ada.

Hari itu aku masih tidur. Refal membawa anak kami masuk dengan berjinjit, berbicara pelan, "Kenny, Mama tidur kebablasan lagi. Kita bangunkan dia sama-sama ya?"

Anak itu mengangguk, tersenyum seperti anak kucing nakal. "Oke, Pa."

Refal mengangkat alisnya, lalu mengeluarkan sebuah pena bulu yang indah dari belakang punggungnya, meletakkannya dengan pelan di ujung hidungku.

Satu kali, dua kali, sampai akhirnya aku tak tahan dan bersin, lalu duduk dengan kesal sambil mengambil bantal dan pura-pura hendak memukul. "Refal!"

Refal menarik anak kami ke depan tubuhnya, berkata dengan ekspresi memelas, "Kenny, cepat bantu Papa tahan Mama."

Kekacauan pun terjadi. Kenangan hangat itu membangkitkan ingatan anakku. Dia menatap bulu pena di dalam video dengan wajah berseri-seri. "Dulu Papa memang membangunkan Mama yang suka tidur kebablasan dengan cara ini ya?"

Dia meletakkan ponsel, lalu berlari kecil ke sisi ranjang. "Mama, Kenny tahu cara membangunkan Mama. Kenny mau kembali ke rumah lama untuk ambil pena bulu itu."

Melihat anakku berjalan pergi dengan penuh keyakinan, aku tertegun sejenak dan refleks ingin mengambil sepatu di lantai untuk memakaikannya padanya.

Namun, tangan yang kuulurkan malah menembus udara tanpa hambatan. Benar, aku lupa. Aku sudah mati. Aku tidak bisa lagi menjaga Kenny-ku.

Setelah keluar dari rumah, aku mengikuti anakku menuju rumah lama Keluarga Parham. Hari ini malam tahun baru. Di jalanan, di mana-mana terlihat kembang api dan petasan.

Bercampur dengan tawa riang keluarga yang berkumpul, keramaiannya membuat dada terasa sesak.

Di depan rumah lama Keluarga Parham yang megah, seorang pria tinggi dan tampan menemani seorang gadis berusia enam tahun bermain lempar bola salju di halaman.

Sesekali terdengar suara lembut pria itu. "Pelan-pelan, jangan sampai jatuh."

Saskia berdiri di samping. Matanya penuh senyuman puas.

Sungguh pemandangan keluarga bahagia yang rukun dan harmonis.

Anakku melihat pemandangan itu melalui pagar besi sambil berkedip. Dadanya terasa tidak nyaman. Dulu, Refal juga sering menemaninya bermain lempar bola salju setiap malam tahun baru.

Anakku mengangkat tangan untuk mengusap air mata, lalu berjinjit menekan bel pintu.

Tak lama kemudian, pintu dibuka. Yang membukanya bukan Refal, melainkan Saskia. Benar, itu Saskia.

"Kamu kenapa datang ke sini?" Begitu melihat anakku, senyuman di wajah wanita itu langsung membeku, digantikan oleh kewaspadaan yang pekat.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Suami yang Jahat, Ayah yang Buruk   Bab 10

    "Bu Saskia, Anda terlibat dalam kasus kekerasan terhadap anak dan pembunuhan. Silakan ikut kami ke kantor polisi untuk menjalani penyelidikan."Saskia tertegun. Matanya seketika memerah. "Apa yang kalian bicarakan? Aku hanya latihan drama dengan putriku di kamar. Tadi itu semua cuma dialog. Apa kalian salah dengar?"Dengan panik, dia menoleh ke arah Refal. Sambil menangis, dia berkata, "Refal, cepat bantu aku jelaskan. Kamu tahu sendiri, aku bahkan nggak berani membunuh ayam. Mana mungkin berani membunuh orang? Pasti ada kesalahpahaman."Melihat sikapnya yang tampak lemah dan menyedihkan itu, Refal justru merasa mual. Dia tidak pernah menyangka bahwa kemampuan akting perempuan ini bisa sehebat ini.Dia sama sekali tidak seperti Maudy. Tidak, bahkan jari kakinya pun tidak pantas dibandingkan dengan Maudy.Saat memikirkanku, kebencian di mata Refal semakin dalam. "Saskia, beraninya kamu menipuku!"Dia mengulurkan tangan dan mencekik leher Saskia dengan keras. Suaranya dingin hingga menus

  • Suami yang Jahat, Ayah yang Buruk   Bab 9

    "Aku jelas sudah bilang ke dokter hanya ambil 400 cc, mana mungkin jadi 2.000 cc?" Mata Refal memerah. Dengan tidak percaya, dia berkata, "Kamu bohong padaku, pasti bohong!"Kemudian, dia tersenyum sinis dan bergumam pada dirinya sendiri, "Aku tahu sekarang, kamu bukan polisi sungguhan. Kamu pasti orang yang Maudy suruh untuk berpura-pura.""Dia bayar kamu berapa untuk sandiwara ini? Katakan, dia bayar kamu berapa? Berapa?"Richard menggeleng dan berkata, "Percaya atau nggak, inilah kenyataannya. Pak Refal, silakan ikut kami ke kantor polisi."Selesai berbicara, dia mengeluarkan borgol dari dadanya, bersiap menangkap Refal.Refal masih tidak percaya dan melawan dengan keras.Namun, kepala pelayan seolah-olah teringat sesuatu. Wajahnya langsung pucat pasi. "Mungkinkah itu ...."Refal terdiam. Matanya merah seakan-akan bisa meneteskan darah. "Apa Paman tahu sesuatu?"Richard juga segera menoleh ke arah kepala pelayan dan bertanya, "Apa yang kamu tahu?"Kepala pelayan mengatupkan bibir, l

  • Suami yang Jahat, Ayah yang Buruk   Bab 8

    Anakku ketakutan dan bersembunyi ke dalam pelukanku, lalu bertanya dengan tidak percaya, "Mama, dia benar-benar ibu kandung Kak Nicole?"Melihat tatapan bingung anakku, aku sempat terdiam. Namun, aku kembali dikejutkan oleh tindakan Saskia.Melihat Nicole tidak berani berbicara, amarah Saskia langsung memuncak. Dia langsung menjulurkan tangan dan mencubit keras bagian dalam paha Nicole.Sambil mencubit, dia memaki, "Perempuan jalang, selalu gagal dan cuma merusak urusan! Aku sudah mengusir Maudy dan anak haram itu selama berhari-hari, tapi kamu belum juga berhasil mengait hati Refal si bodoh itu!""Bukankah kamu paling suka menggoda pria? Kenapa justru gagal di saat seperti ini? Kalau saja kamu benar-benar bisa membuat Refal melupakan anak haram itu, aku nggak akan setakut ini. Semua ini salahmu!"Setiap kali Saskia mengucapkan satu kalimat, dia akan mencubit Nicole dengan keras, seolah-olah ingin meluapkan semua ketidakpuasannya ke tubuh Nicole.Sementara itu, Nicole tampak sudah terb

  • Suami yang Jahat, Ayah yang Buruk   Bab 7

    "Selain itu, mengenai jenazah Nyonya, ada beberapa hal yang ingin polisi tanyakan kepada Tuan."Refal menunduk, menatap anak dalam pelukannya yang tampak seolah-olah hanya tertidur. Dadanya terasa seperti dilubangi, angin dingin terus menerpa tanpa henti.Namun, akal sehatnya mengatakan bahwa menyembunyikan penyebab kematian anaknya adalah pilihan yang benar.Saskia juga buru-buru membujuk, "Refal, yang dikatakan kepala pelayan itu benar. Walaupun kamu nggak sengaja, keadaannya sudah seperti ini. Lebih baik cepat sembunyikan Kenny."Refal menatap Saskia dengan tatapan kosong. Suaranya serak. "Saskia, aku telah membunuh Kenny dan bahkan menyembunyikannya. Dia nggak akan memaafkanku."Di mata Saskia terlintas seberkas ketidaksabaran, tetapi dia segera kembali berpura-pura lembut. "Mana mungkin? Kenny itu anak yang paling penurut. Dia pasti bisa memahami kesulitanmu dan nggak akan marah padamu. Refal, tenang saja."Kenny mencibir. Tatapannya penuh rasa muak. "Aku nggak akan memaafkannya!"

  • Suami yang Jahat, Ayah yang Buruk   Bab 6

    Hari itu setelah mendengar kata-kata itu, aku berdiri di balkon, membiarkan angin menerpaku sepanjang malam. Aku mengerti, dia sudah tidak mencintaiku lagi.Kenangan berhenti sampai di situ. Refal masih belum sepenuhnya pulih dari kesedihan ketika Saskia tak kuasa menahan diri untuk bertanya lagi."Refal, ada apa denganmu? Kamu lagi mikirin siapa? Kak Maudy ya?"Saskia tersenyum tipis. Kilatan dingin melintas di matanya. "Kalau dipikir-pikir, aneh juga. Kenny sudah seperti ini, kenapa Kak Maudy masih belum muncul? Kalaupun mau memakai anak untuk berebut perhatian, ini sudah keterlaluan ...."Refal tertegun sejenak, lalu tiba-tiba teringat ucapan kepala pelayan itu bahwa Kenny sudah pingsan. Jiwanya terguncang hebat. Dia berdiri, mendorong Saskia, lalu berlari ke luar.Saskia terkejut oleh gerakannya. Dia hendak berbicara, tetapi pria itu sudah berlari menuruni tangga. Dia pun mengerutkan kening dan segera menyusul.Namun, saat sampai di bawah, dia terkejut oleh pemandangan di depan mat

  • Suami yang Jahat, Ayah yang Buruk   Bab 5

    Refal seketika berdiri, gerakannya yang begitu cepat sontak membuat kursi yang didudukinya terdorong ke belakang hingga terbalik dan terjatuh ke lantai dengan keras, menimbulkan suara menggelegar.Dalam keadaan panik, Refal hampir menempelkan ponsel ke mulutnya dan bertanya dengan suara keras, "Rumah kontrakan apa? Kamu siapa? Lelucon ini sudah keterlaluan!"Pihak di seberang tampaknya sudah sangat terbiasa dengan situasi seperti ini. Mendengar pertanyaan pria itu, emosinya sama sekali tidak terpancing.Dengan nada tetap tenang dan sopan, dia berkata, "Pak Refal, mohon tenang. Kami dari kepolisian kota. Satu jam yang lalu, kami menerima laporan bahwa dari sebuah rumah kontrakan tercium bau aneh. Setelah petugas datang ke lokasi, ditemukan mayat perempuan muda yang telah meninggal selama tiga hari.""Berdasarkan data identitas, kami memastikan bahwa jenazah tersebut adalah mantan istri Anda, Bu Maudy. Menurut keterangan tetangga, di sisi Bu Maudy ada seorang anak laki-laki berusia enam

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status