Share

Daftar Riwayat Hidup

Penulis: Nooraya
last update Terakhir Diperbarui: 2024-08-29 11:19:25

Aku tidak menyangka kalau akan bertemu Rama di perusahaan tempatku wawancara. Lebih terkejut lagi, ternyata Rama adalah manager pemasaran perusahaan tersebut, seseorang yang akan menjadi atasanku jika aku diterima bekerja di sana.

“Baik, Bu Rani, terima kasih sudah datang untuk wawancara! mengenai hasilnya, nanti akan kami kabarkan melalui surel Ibu.”

“Iya, terima kasih!”

Lega rasanya setelah keluar dari ruang wawancara. Aku tidak tahu apakah akan diterima atau ditolak.

Jika memang ditolak, aku tidak akan kecewa. Aku sudah cukup senang karena ternyata masih ada perusahaan yang mempertimbangkan daftar riwayat hidupku. Hal ini memicu kembali optimisku.

Pintu lift terbuka dan aku melangkah masuk. Namun, ketika pintu akan tertutup, tiba-tiba sebuah tangan menahannya.

Aku kaget—“Pak Rama?”

Rama tersenyum ramah padaku. Lalu, dia ikut masuk ke dalam lift.

“Kamu sudah mau pulang?” tanya Rama setelah kami sama-sama di dalam lift.

“Iya, Pak.”

“Saya antar.”

“Eh, gak usah, Pak!” Lagi-lagi aku dibuat kaget oleh orang ini.

“Saya ingin menjenguk Mas Arya,” ungkap Rama. “Sebelumnya kami belum saling bertemu langsung dan mengobrol, jadi saya mau menjenguk beliau lagi.”

“Oh,”—aku bingung.

Rasanya jadi serba salah. Tidak enak kalau menerima, tapi juga tidak enak kalau menolak.

“Jadi, bagaimana? Saya antar, ya! Kebetulan setelah ini saya juga mau ada urusan di luar.”

“Ehm ...,”—berat, tapi mau tidak mau aku mengangguk—“ya sudah.”

Ketika sudah di dalam mobil, Rama banyak mengajakku bicara. Mungkin, agar suasana di antara kami tidak terlalu canggung.

“Jadi, Mbak Rani ini S1 management dan sebelumnya pernah jadi asisten manajer?”

Aku sangat yakin Rama hanya basa-basi. Sebab, semua itu sudah tercantum dalam daftar riwayat hidup yang kupakai untuk melamar di perusahaannya, dan pasti saat wawancara tadi dia sudah membacanya. Meskipun demikian, aku tetap menjawab pertanyaan itu dengan sopan.

“Iya, tapi sudah dulu sekali sebelum saya punya anak.”

“Kenapa dulu berhenti dan gak kerja lagi? Padahal, ‘kan, bisa saja ambil cuti dari kantor. Gak boleh sama suami, ya?” tanya Rama setelahnya.

“Eh, maaf! bukan maksudku mengusik ranah pribadi. Hanya saja, sayang rasanya kalau latar pendidikan dan riwayat pekerjaan kamu yang bagus itu diabaikan karena faktor usia. Sebagai pelaku di dunia kerja negara ini,

“Kita tentunya sama-sama tahu kalau usia juga menentukan nasip seseorang. Mau sebagus apapun CV, kalau mereka dianggap tidak lincah dan tidak bisa dibohongi, ya mereka tetap kalah.”

Iya, aku setuju dengan Rama mengenai hal ini. Realita tersebut memang benar adanya. Bahkan, saat membuat CV kali ini aku juga lumayan pesimis melihat usiaku yang sudah tergolong tidak produktif. Namun, setelah kupikir lagi, rasanya aku terlalu meremehkan kuasa Tuhan jika berpikir demikian.

Aku mencoba menjelaskan kepada Rama mengenai apa yang kuyakini itu. “Tidak apa, Pak, saya sangat paham dengan apa yang Pak Rama pikirkan. Dulu, saat saya menulis CV untuk pertama kali, saya juga merasa pesimis karena tidak memiliki pengalaman kerja yang dicari banyak perusahaan.

“Namun, pada akhirnya saya berhasil mendapatkan pekerjaan, yang mana sekarang bisa saya masukkan ke dalam daftar riwayat hidup. Hal yang tidak diduga lagi, sekalipun dianggap kurang mumpuni dari segi usia, saya tetap dipanggil wawancara oleh perusahaan Bapak. Bukankah hal ini cukup menunjukkan kebenaran tentang rezeki yang tidak akan salah tempat?”

“Wow! Luar biasa ternyata pemikiran Mbak Rani ini. Bijak, optimistis, cerdas, sangat sempurna menjadi perempuan,” puji Rama.

Aku menyanggah, “Pak Rama berlebihan.”

“Tidak, saya serius,” ucap Rama. “Sayangnya, ada satu kekurangan.”

“Apa itu kalau boleh saya tahu?” tanyaku dengan sedikit cemas, takut mungkin aku telah mengatakan atau melakukan hal yang tidak seharusnya.

“Kekurangan Mbak Rani itu,”—aku menanti—“karena memanggil saya bapak.”

Aku menghela napas lega. “Astaga!” Kami berdua akhirnya sama-sama tertawa.

“Setelah melihat CV kamu tadi, ternyata kita seumuran. Jadi, jangan panggil saya bapak!" perintah Rama. "Bagaimana kalau agar lebih akrab, kita pakai bahasa yang lebih santai saja? tidak perlu pakai panggilan pak, mas, atau mbak. Cukup langsung panggil nama saja."

Aku ragu. "Apa tidak apa-apa? Kok, rasanya seperti tidak sopan."

Rama menjawab, "Sama sekali tidak masalah. Selama kita tidak sedang berada di kantor dan di depan karyawan lain.”

Aku merasa sedikit aneh dengan kalimat tersebut. Rama berkata demikian seolah kami akan benar-benar sekantor saja.

“Iya, baiklah, ... Rama.”

"Nice! Terdengar lebih nyaman masuk telinga."

Perbincangan kami berdua akhirnya mengalir lebih santai dari sebelumnya. Saking santainya, aku bahkan sampai bisa bercerita tentang keluarga kecilku.

“Menyenangkan sepertinya kalau bisa bertemu dengan Rico. Sayang sekali kemarin aku ketemunya dalam kondisi yang tidak pas.”

Aku melihat jam tangan. “Sepertinya kamu akan bisa bertemu Rico setelah ini, karena seharusnya sekarang dia sudah pulang sekolah.”

“Wah, jadi semakin tidak sabar ketemu sama jagoan kecilmu!”

Asyik mengobrol, tanpa sadar kami sudah dekat dengan gang rumahku. Aku segera memberi aba-aba kepada Rama.

“Rama, maaf, nanti berhenti di depan gang depan sana!”

Kening Rama mengkerut—“Kenapa di depan gang?”

“Oh iya, aku belum bilang sama kamu kalau gang rumahku gak bisa dilewati mobil,” terangku. “Kamu ... gak apa-apa, ‘kan, kalau jalan kaki sebentar masuk ke gang begitu? Gak jauh kok, jalannya.”

“Santai! aku bukan orang yang malas jalan kaki atau anti masuk gang perkampungan,” jawab Rama.

Aku tersenyum lega—“Syukurlah kalau begitu!”

Tidak lama kemudian, Rama menghentikan mobilnya di depan gang rumahku. Kami berdua turun dari mobil lalu lanjut berjalan kaki sampai tiba di rumahku.

Sesampainya di rumah, Mas Arya yang sedang memperbaiki perkakas dapur di teras lantas menyambut kedatangan kami. Kulihat raut wajah Mas Arya yang sepertinya bingung melihatku pulang bersama Rama.

Sangat pantas jika Mas Arya kaget dan bingung. Sebab, aku tadi lupa memberi kabar padanya kalau Rama akan mengantarku pulang.

Aku tidak mau Mas Arya salah paham. Jadi, sebelum Mas Arya bertanya, aku sudah lebih dulu menjelaskan kronologi yang membuatku bisa pulang dengan Rama.

Meskipun suamiku bukan tipe suami yang gampang cemburu dan menuduh macam-macam, tetap saja aku merasa tidak tenang. Aku tidak mau sampai Mas Arya salah paham.

“Mas,”—kucium tangan Mas Arya.

Kukenalkan Rama pada Mas Arya. Kujelaskan siapa Rama padanya dan bagaimana kami bertemu hari ini sampai akhirnya aku diantar pulang. Setelah saling kenal dan tahu cerita lengkapnya, Mas Arya dan Rama pun saling mengobrol santai.

“Mas Arya, bagaimana keadaannya?” tanya Rama.

Mas Arya menjawab, “Ya seperti yang Mas Rama lihat, masih harus pakai tongkat. Namun, syukurnya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.”

Rama juga sempat mengajak Rico mengobrol dan bercanda. Tidak kuduga, ternyata Rama sangat ramah dan bisa membaur dengan anak kecil seperti Rico.

“Oh iya, sampai lupa. Silakan masuk, Mas Rama!” ucap Mas Arya mengajak Rama duduk di dalam rumah.

“Ah, gak usah, Mas! Maaf, saya gak bisa lam—”

“Akhirnya kamu pulang juga, Rani!”—ibu tiba-tiba keluar dari dalam rumah sambil marah-marah—“beliin ibu HP baru! HP ibu rusak.”

“Ibu!”

Aku harap ibu paham dengan kodeku yang memintanya diam. Aku tidak enak dengan Rama. Namun, siapa sangka, yang dilakukan ibu setelahnya justru semakin membuatku melotot tidak percaya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Suamiku Anak Buangan Kaya Raya   Saat Kebenaran Mulai Mengancam

    (POV Rani)Setelah Rama pergi, rumah kembali sunyi. Sunyi yang tidak menenangkan, justru membuat pikiranku berisik.Aku duduk di ujung sofa, menatap lantai tanpa benar-benar melihat apa pun. Di kepalaku, potongan-potongan percakapan dengan Rama terus berulang. Tentang data, tentang kebohongan, tentang orang-orang yang tega menjatuhkan demi ambisi.Mas Arya datang dan duduk di sampingku. Tidak langsung bicara. Ia selalu tahu kapan aku butuh waktu.“Ada apa, Ran?” suaranya lembut, hati-hati.Aku menelan ludah.Kali ini aku tidak ingin menyaring apa pun. Aku menceritakan semuanya. Dari awal sampai akhir. Tentang Rama, tentang kecurangan di divisi penjualan tempatku bekerja, dan tentang bagaimana keluarganya sendiri memanipulasi agar divisi Rama terlihat gagal.“Semua itu disengaja,” kataku dengan suara pelan. “Mereka ingin Rama jatuh.”Mas Arya terdiam. Tatapannya lurus ke depan, seolah sedang mencerna semuanya. Aku takut ia salah paham. Takut ia melihatku sebagai istri yang terlalu jauh

  • Suamiku Anak Buangan Kaya Raya   Menang yang Singkat

    (POV Arya)Akhir pekan selalu punya cara sendiri untuk membuat hidup terasa lebih pelan.Sejak Rani kembali bekerja, ritme rumah kami berubah. Pagi yang dulu diisi tawa kecil dan obrolan santai kini sering tergantikan dengan kesibukan.Oleh karena itu, hari ini ketika akhir pekan dan Rani akhirnya libur bekerja, aku merasa seperti sedang merayakan sesuatu.Tidak ada hal besar, hanya memutuskan untuk jalan-jalan ke taman dekat perkampungan dan bermain bersama Rico.Hanya taman kecil dengan ayunan, perosotan, dan beberapa bangku kayu yang catnya mulai mengelupas. Aku mendorong kursi rodaku pelan, sementara Rani menggandeng tangan Rico yang tampak tidak sabar ingin segera bermain.“Yah, Rico mau ayunan!” Rico berlari meninggalkan kami.“Pelan-pelan!” teriak Rani sambil tertawa. “Ayah belum sampai.”Aku tersenyum. Tidak ada iri, tidak ada perasaan kurang. Setidaknya, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri seperti itu.Sampainya kami di sana, Aku duduk di kursi roda dan menghadap ke area

  • Suamiku Anak Buangan Kaya Raya   Pulang dengan Tenang

    Aku sudah bersiap dengan segala kemungkinan saat Mas Arya melihatku berdiri bersama Rama sore itu.Namun, yang terjadi justru di luar dugaanku.Mas Arya tidak menunjukkan raut marah. Tidak ada nada tinggi. Tidak ada tatapan menyelidik yang membuatku ingin menghindar. Ia hanya tersenyum tipis, lalu bertanya dengan nada yang sangat biasa—terlalu biasa, bahkan.“Proyek yang kamu bantu itu ... sudah sampai mana?” tanyanya.Aku terdiam beberapa detik.Pertanyaan itu bukan tuduhan. Bukan juga sindiran. Itu murni pertanyaan profesional tentang pekerjaan Rama, bukan tentang kedekatan kami.Aku menarik napas pelan. “Sudah lumayan berjalan. Tapi ... Mas, aku mau tanya sesuatu.”Mas Arya menatapku, penuh perhatian. “Tanya apa?”Aku menggenggam ujung bajuku. Perasaan bersalah yang sejak tadi kupendam akhirnya keluar juga.“Apa Mas benar-benar nggak keberatan aku sibuk dengan proyek Rama? Aku tahu akhir-akhir ini aku sering pulang agak malam, kadang nggak sempat cerita detail. Kalau Mas sebenarnya

  • Suamiku Anak Buangan Kaya Raya   Benih Gosip

    Wajah kami semakin dekat.Untuk sepersekian detik, aku bisa merasakan napas Rama yang hangat menyentuh kulitku. Ruangan itu seolah menyempit, hanya menyisakan jarak tipis di antara kami. Jantungku berdetak keras, bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang lebih berbahaya dari itu.Nyaman.Namun, tepat ketika jarak itu hampir lenyap, sebuah bayangan lain menyusup ke benakku.Mas Arya.Wajahnya yang selalu lembut ketika menyambutku pulang. Tangannya yang tanpa diminta memijat kakiku saat aku lelah. Suaranya yang tidak pernah meninggi, bahkan ketika Ibu meremehkannya.Bayangan itu menghantam kesadaranku.Aku tersentak, refleks menarik tanganku dari genggaman Rama dan berdiri terlalu cepat hingga lututku hampir menyentuh meja.“Maaf, Pak ... saya—” suaraku terdengar serak. “Saya harus ke toilet sebentar.”Tanpa menunggu jawaban, aku melangkah pergi.Di dalam toilet kantor yang sunyi, aku menatap pantulan wajahku di cermin. Pipiku memerah. Dadaku naik turun tidak teratur.Apa yang h

  • Suamiku Anak Buangan Kaya Raya   Ketegangan yang Tidak Terucap

    Hari-hari di Glow-H terasa berubah ritmenya.Sejak pembicaraan makan siang di kafe Ashle tentang cabang baru, Rama seperti menemukan sekutu. Dan sekutu itu adalah aku.“Ran, mulai minggu ini kamu ikut semua meeting strategis cabang,” ucapnya suatu pagi tanpa banyak basa-basi. “Aku butuh sudut pandang kamu.”Aku sempat terdiam. “Bukannya itu biasanya hanya level manajer ke atas?”“Benar,” jawabnya ringan. “Makanya aku mau kamu di sana.”Kalimat itu sederhana, tetapi entah kenapa membuat dadaku menghangat. Dibutuhkan, dipercaya, dan dianggap mampu, rasanya sangat istimewa.Sejak hari itu, aku tidak lagi hanya mengatur jadwal dan menyusun laporan. Aku duduk di ruang rapat besar bersama tim inti, mendengar proyeksi angka, membahas strategi pemasaran agresif untuk cabang baru, dan menganalisis celah distribusi yang selama ini jadi titik lemah.Tidak hanya itu, Rama bahkan sering memintaku untuk berbicara, mengungkapkan pendapat dari sudut pandangku.“Kalau kamu jadi konsumen kelas menengah

  • Suamiku Anak Buangan Kaya Raya   Kiriman Terus Datang

    Setelah mendapat pesan dari Mas Arya, kini pikiranku tidak bisa lagi fokus pada rapat. Ketika melihat foto perabotan-perabotan renovasi kamar Rico yang dikirim oleh Mas Arya, aku sadar akan sesuatu.Aku tidak bisa menjelaskan banyak hal ke Mas Arya. Hanya bisa menghindarinya untuk sementara waktu dan menjadikan rapat sebagai alasan. Setelah rapat selesai, aku menyanding Rama, mengikuti langkahnya dan berjalan disampingnya. Aku tunjukkan foto dari Mas Arya kepada Rama. “Pak, Bapak yang kirim ini ke rumah saya?”Rama melihat foto itu. “Oh, sudah datang?”Aku sontak menatap Rama. Aku tidak mengerti. “Pak ... untuk apa?”“Bukannya kamu bilang Rico menyukai itu?”“I-iya, tapi ... tapi kenapa Bapak membelikannya?” “Tentu saja sebagai hadiah dari saya untuk Rico.” Rama lantas menghentikan langkahnya dan berbalik menghhadapku. “Saya harap kamu ataupun Mas Arya gak menolaknya. Saya tulus mau kasih hadiah ke Rico. Saya mau Rico senang.”Kami saling menatap mata satu sama lain cukup lama dan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status