แชร์

Bab 12. Untuk Apa Menikah?

ผู้เขียน: Liani April
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-09 10:00:25

Liora menangis.

Di dalam bioskop yang gelap, di antara cahaya layar yang silih berganti menampilkan adegan romantis, air matanya jatuh tanpa suara. Ia menutup mata, bukan karena filmnya terlalu menyentuh, melainkan karena pikirannya telah berkelana terlalu jauh—ke tempat yang tidak seharusnya ia datangi.

Di dalam bayangannya, Kairan menatapnya dengan mata yang hangat. Lelaki itu memanggil namanya dengan suara lembut, menyebut “Liora” seolah nama itu adalah sesuatu yang berharga. Dalam khayalnya, Kairan mencintainya. Menciumnya. Memeluknya tanpa ragu.

Namun kesedihan datang menghantam dengan brutal ketika Liora sadar, semua itu tidak nyata.

Ia terisak karena harus sampai membayangkan dirinya menjadi Anais hanya untuk merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh suaminya sendiri.

Liora bersumpah, ia tidak mengenal Anais. Tidak tahu bagaimana sifat wanita itu, tidak tahu apakah ia lebih cantik, lebih lembut, atau lebih pantas dari dirinya.

Namun s

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 16. Lelaki di Balik Kaca

    Belajar dari kejadian sebelumnya, Liora kini tidak lagi pergi tanpa berpamitan.Ia berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya sebentar sebelum mengetik pesan di ponsel.‘Aku mau ke toko buku sebentar ya.’Pesan itu terkirim, lalu ia menunggu. Bukan karena takut, melainkan karena ingin. Ada perasaan baru yang tumbuh dalam dirinya. Keinginan untuk saling memberi tahu, untuk tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.Tak lama kemudian balasan masuk.‘Iya. Hati-hati.’Sederhana. Namun cukup membuat hati Liora terasa ringan.Ia keluar rumah dengan langkah tenang, memanggil taksi seperti biasa. Dalam perjalanan, pikirannya dipenuhi rencana kecil yang terasa menyenangkan.Sejak kecil, menggambar adalah dunianya. Buku-buku sketsa lama dan alat pewarna favoritnya tertinggal di rumah Paman. Setelah menikah, barulah ia terpikir untuk menghidupkan kembali hobi itu. Mengisi waktu, mengisi diri.Di toko buku, Liora berke

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 15. Suami Istri

    Setelah teriakan itu pecah di dalam mobil, tak ada lagi suara yang tersisa.Liora membuang wajahnya ke arah jendela, menolak menatap Kairan. Dadanya naik turun, amarah bercampur sesak masih menekan kuat. Jika ia menoleh sekarang, ia takut akan kembali menangis. Atau justru mengatakan sesuatu yang lebih melukai.Perjalanan menuju rumah terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu jalan berbaris tanpa arti. Tidak ada musik, tidak ada percakapan. Hanya keheningan yang kali ini tidak netral, melainkan penuh sisa emosi.Ketika mobil berhenti di halaman rumah, Liora turun lebih dulu. Tangannya mendorong pintu dengan kasar hingga suara bantingan terdengar nyaring di malam yang sunyi.Ia tidak menunggu. Tidak menoleh. Langkahnya cepat, hampir berlari menuju kamarnya.Begitu pintu kamar tertutup, Liora menjatuhkan diri ke atas kasur. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Tubuhnya meringkuk, memeluk diri sendiri seperti janin yang mencari am

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 14. Aku Istrimu

    “Halo?”Suara Liora terdengar ragu saat menerima panggilan itu. Bahkan sebelum ia sempat menarik napas lebih dalam, dadanya sudah terasa sesak. Ia menelan ludah, bersiap mendengar suara di seberang sana.“Kamu dimana?”Nada suara Kairan terdengar tegang. Ada emosi yang ditimbulkan dari sepatah kata barusan.“A-aku ada di pantai,” Liora menjawab sembari ketakutan.Tangannya refleks memilin ujung baju. Seperti anak kecil yang ketahuan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Padahal ia hanya pergi sebentar. Padahal ia sudah meninggalkan pesan.“Pantai mana?”Nada itu masih sama. Datar, namun ditekan oleh emosi yang tertahan.Liora menyebutkan nama pantai, lalu menjelaskan rumah makan seafood tempatnya berada. Ia bicara terbata, takut ada satu kata saja yang salah dan akan membuat Kairan semakin marah.Belum sempat ia menambahkan apa pun, sambungan telepon terputus.TUT.Bunyi itu menggem

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 13. Pelarian

    Belum pernah dalam hidup Liora merasa sangat jenuh. Kesunyian di dalam rumahnya membuat Liora seakan tertekan dan makin bersedih.Dia merasa tidak ada satu pun di rumahnya yang bisa menghibur hatinya saat ini.Maka Liora memutuskan untuk keluar sejenak dari rumah itu. Dia ingin bisa bernapas. Ingin membuang kegelisahan dan sesak yang dia sendiri tidak bisa menjabarkannya dengan baik.Liora hanya membawa tas kecil berisi dompet dan ponselnya. Dia hanya berencana untuk pergi sebentar, bukan selamanya.Dia hanya sedang marah dengan sikap dingin Kairan, bukan ingin meninggalkannya.Sebelum melangkah pergi, ia menulis sepucuk pesan singkat di selembar kertas. Tangannya bergetar halus saat menuliskan kalimat sederhana. Ia akan keluar sebentar dan akan kembali. Kertas itu ia letakkan di atas meja ruang tamu, tempat yang pasti akan dilewati Kairan saat pulang nanti.Liora tidak mampu mengirimkan pesan ke ponsel Kairan. Dia masih belum bi

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 12. Untuk Apa Menikah?

    Liora menangis.Di dalam bioskop yang gelap, di antara cahaya layar yang silih berganti menampilkan adegan romantis, air matanya jatuh tanpa suara. Ia menutup mata, bukan karena filmnya terlalu menyentuh, melainkan karena pikirannya telah berkelana terlalu jauh—ke tempat yang tidak seharusnya ia datangi.Di dalam bayangannya, Kairan menatapnya dengan mata yang hangat. Lelaki itu memanggil namanya dengan suara lembut, menyebut “Liora” seolah nama itu adalah sesuatu yang berharga. Dalam khayalnya, Kairan mencintainya. Menciumnya. Memeluknya tanpa ragu.Namun kesedihan datang menghantam dengan brutal ketika Liora sadar, semua itu tidak nyata.Ia terisak karena harus sampai membayangkan dirinya menjadi Anais hanya untuk merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh suaminya sendiri.Liora bersumpah, ia tidak mengenal Anais. Tidak tahu bagaimana sifat wanita itu, tidak tahu apakah ia lebih cantik, lebih lembut, atau lebih pantas dari dirinya.Namun s

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 11. Bioskop yang Gelap

    Sejak menikah dengan Kairan, dunia Liora seolah berhenti di dalam rumah itu.Hari-harinya diisi dengan rutinitas yang sama. Memasak, membersihkan rumah, menunggu Kairan pulang, lalu kembali tenggelam dalam sunyi. Ia tidak keberatan dengan kehidupan yang tenang.Namun, tetap saja ada bagian kecil dalam dirinya yang rindu pada sesuatu yang berbeda. Keluar rumah. Menghirup udara kota. Merasa menjadi seorang istri yang diajak berjalan bersama.Karena itu, ketika Kairan mengajaknya menonton bioskop, jantung Liora langsung berdebar.Bukan karena filmnya.Melainkan karena ini adalah kali pertama mereka pergi bersama sejak menikah. Kencan pertama, meski tak pernah disebut sebagai kencan.Liora mempersiapkan dirinya dengan lebih sungguh-sungguh dari biasanya. Ia berdiri di depan cermin cukup lama, memastikan setiap detail tampak pantas. Gaun sederhana berwarna krem membingkai tubuhnya dengan lembut. Rambutnya dibiarkan tergerai, hanya dijepit di satu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status