Home / Romansa / Suamiku Duda Bisu / Bab 11. Bioskop yang Gelap

Share

Bab 11. Bioskop yang Gelap

Author: Liani April
last update Huling Na-update: 2026-01-08 11:00:16

Sejak menikah dengan Kairan, dunia Liora seolah berhenti di dalam rumah itu.

Hari-harinya diisi dengan rutinitas yang sama. Memasak, membersihkan rumah, menunggu Kairan pulang, lalu kembali tenggelam dalam sunyi. Ia tidak keberatan dengan kehidupan yang tenang.

Namun, tetap saja ada bagian kecil dalam dirinya yang rindu pada sesuatu yang berbeda. Keluar rumah. Menghirup udara kota. Merasa menjadi seorang istri yang diajak berjalan bersama.

Karena itu, ketika Kairan mengajaknya menonton bioskop, jantung Liora langsung berdebar.

Bukan karena filmnya.

Melainkan karena ini adalah kali pertama mereka pergi bersama sejak menikah. Kencan pertama, meski tak pernah disebut sebagai kencan.

Liora mempersiapkan dirinya dengan lebih sungguh-sungguh dari biasanya. Ia berdiri di depan cermin cukup lama, memastikan setiap detail tampak pantas. Gaun sederhana berwarna krem membingkai tubuhnya dengan lembut. Rambutnya dibiarkan tergerai, hanya dijepit di satu

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 12. Untuk Apa Menikah?

    Liora menangis.Di dalam bioskop yang gelap, di antara cahaya layar yang silih berganti menampilkan adegan romantis, air matanya jatuh tanpa suara. Ia menutup mata, bukan karena filmnya terlalu menyentuh, melainkan karena pikirannya telah berkelana terlalu jauh—ke tempat yang tidak seharusnya ia datangi.Di dalam bayangannya, Kairan menatapnya dengan mata yang hangat. Lelaki itu memanggil namanya dengan suara lembut, menyebut “Liora” seolah nama itu adalah sesuatu yang berharga. Dalam khayalnya, Kairan mencintainya. Menciumnya. Memeluknya tanpa ragu.Namun kesedihan datang menghantam dengan brutal ketika Liora sadar, semua itu tidak nyata.Ia terisak karena harus sampai membayangkan dirinya menjadi Anais hanya untuk merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh suaminya sendiri.Liora bersumpah, ia tidak mengenal Anais. Tidak tahu bagaimana sifat wanita itu, tidak tahu apakah ia lebih cantik, lebih lembut, atau lebih pantas dari dirinya.Namun s

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 11. Bioskop yang Gelap

    Sejak menikah dengan Kairan, dunia Liora seolah berhenti di dalam rumah itu.Hari-harinya diisi dengan rutinitas yang sama. Memasak, membersihkan rumah, menunggu Kairan pulang, lalu kembali tenggelam dalam sunyi. Ia tidak keberatan dengan kehidupan yang tenang.Namun, tetap saja ada bagian kecil dalam dirinya yang rindu pada sesuatu yang berbeda. Keluar rumah. Menghirup udara kota. Merasa menjadi seorang istri yang diajak berjalan bersama.Karena itu, ketika Kairan mengajaknya menonton bioskop, jantung Liora langsung berdebar.Bukan karena filmnya.Melainkan karena ini adalah kali pertama mereka pergi bersama sejak menikah. Kencan pertama, meski tak pernah disebut sebagai kencan.Liora mempersiapkan dirinya dengan lebih sungguh-sungguh dari biasanya. Ia berdiri di depan cermin cukup lama, memastikan setiap detail tampak pantas. Gaun sederhana berwarna krem membingkai tubuhnya dengan lembut. Rambutnya dibiarkan tergerai, hanya dijepit di satu

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 10. Mau Menonton Denganku?

    Bukan hanya satu album yang ada di dalam dus itu.Liora duduk di lantai ruang kerja, punggungnya bersandar pada sisi meja. Tangannya gemetar saat mengeluarkan satu per satu isi dus cokelat polos itu. Album foto berjejer rapi, beberapa dibungkus plastik bening, sebagian lain sudah menguning di tepinya tanda usia dan sering dibuka.Satu album paling tebal menarik perhatiannya.Album foto pernikahan.Jari Liora berhenti di sampulnya. Di sana tertulis nama dengan tinta emas yang sedikit memudar. Kairan & Anais.Oh, namanya Anais?Liora membuka halaman pertama. Napasnya tertahan.Gaun pengantin putih, dekorasi sederhana tapi elegan. Anais berdiri anggun di samping Kairan. Perempuan itu cantik. Bukan cantik yang mencolok, tapi tenang, dewasa, dan terasa matang. Senyumnya lembut, matanya berbinar hangat.Dan Kairan…Kairan tersenyum.Senyum lebar. Nyata. Hidup.Bukan senyum tipis yang kadang ia berikan pada Li

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 9. Ruang Kerja

    Semakin dipikirkan, semakin Liora merasa mantan istri Kairan terlalu cantik untuk sekadar disebut manusia biasa.Wajah perempuan dalam foto itu terus menghantuinya sejak kemarin. Bahkan saat ini, ketika tangannya sibuk mengiris bawang dan mengaduk masakan di dapur, bayangan perempuan itu tetap melekat di kepalanya.Mata terang yang teduh, hidung mancung sempurna, bibir tipis kemerahan yang tampak selalu tersenyum meski hanya dalam foto. Rambut panjang hitam berkilau, jatuh rapi di bahu. Kulit putih susu tanpa cela.Sempurna.Liora menelan ludah, dadanya terasa sedikit sesak.Ia membandingkan wajah itu dengan bayangannya sendiri di pantulan microwave dapur. Matanya memang besar dan bulat, bibirnya ranum dan merekah alami, rambutnya tipis dengan semburat kemerahan. Cantik, kata sebagian orang. Tapi di hadapan perempuan dalam foto itu, Liora merasa seperti sketsa yang belum selesai.Desis minyak panas dari wajan menyadarkannya.“Eh

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 8. Nama yang Tak Diketahui

    Rumah itu tetap sunyi.Tidak ada perubahan berarti sejak Liora resmi menjadi istri Kairan. Dialog masih jarang terjadi, bahkan bisa dibilang nyaris tidak ada.Bedanya, kini Liora lebih bisa menerima kenyataan. Bahwa suaminya memang seperti itu. Pendiam, tertutup, dan hidup dengan dunianya sendiri.Pernah suatu kali Liora mencoba berbicara lebih banyak. Menceritakan hal-hal kecil, mulai dari menu masakan, acara televisi, hingga cerita tetangga. Ia berharap suara-suara itu bisa memancing Kairan untuk ikut masuk ke dalam percakapan. Namun hasilnya nihil. Kairan tetap diam, tidak terganggu. Hanya anggukan kepala tanda ia telah mendengar.Saat itu Liora merasa konyol. Suaranya sendiri terdengar asing di rumah yang terlalu besar dan terlalu hening.Sejak hari itu, ia berhenti memaksa. Bukan karena menyerah, melainkan karena memilih menyesuaikan diri. Jika rumah ini sunyi, maka ia akan belajar hidup di dalam kesunyian itu.Namun ada satu hal sederhana yang tetap Liora harapkan dari Kairan.I

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 7. Masalah Komunikasi

    Dalam sehari, hampir bisa dihitung berapa kali Kairan mengeluarkan suara. Itu pun sebatas kata singkat. Ya, tidak, atau Hmm. Kadang hanya anggukan atau gelengan kepala. Selebihnya diam.Sudah seminggu Liora menjalani peran sebagai istri di rumah itu. Dan selama seminggu pula, dialah yang paling sering membuka percakapan. Bukan karena ia cerewet, melainkan karena ia takut rumah itu terlalu tenggelam dalam sunyi.Liora berusaha memaklumi. Ia tidak memaksa Kairan bicara jika memang tidak suka. Ia belajar menyesuaikan diri, meski kadang lelah menghadapi rumah yang terasa sunyi bukan karena luasnya, melainkan karena pemiliknya hampir tidak meninggalkan suara.Seperti siang ini.Kairan duduk di ruang tengah, tenggelam dalam buku. Liora dari dapur memanggil namanya, hendak bertanya ingin dimasakkan sesuatu yang manis atau asin.Tidak ada jawaban.Liora keluar dari dapur, mendekat sedikit. Memanggil lagi, kali ini lebih keras.Tetap tidak ada respons.Ia mengerucutkan bibir. Kairan dijuluki l

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status