Home / Romansa / Suamiku Duda Bisu / Bab 8. Nama yang Tak Diketahui

Share

Bab 8. Nama yang Tak Diketahui

Author: Liani April
last update Last Updated: 2026-01-07 10:04:54

Rumah itu tetap sunyi.

Tidak ada perubahan berarti sejak Liora resmi menjadi istri Kairan. Dialog masih jarang terjadi, bahkan bisa dibilang nyaris tidak ada.

Bedanya, kini Liora lebih bisa menerima kenyataan. Bahwa suaminya memang seperti itu. Pendiam, tertutup, dan hidup dengan dunianya sendiri.

Pernah suatu kali Liora mencoba berbicara lebih banyak. Menceritakan hal-hal kecil, mulai dari menu masakan, acara televisi, hingga cerita tetangga. Ia berharap suara-suara itu bisa memancing Kairan untuk ikut masuk ke dalam percakapan. Namun hasilnya nihil. Kairan tetap diam, tidak terganggu. Hanya anggukan kepala tanda ia telah mendengar.

Saat itu Liora merasa konyol. Suaranya sendiri terdengar asing di rumah yang terlalu besar dan terlalu hening.

Sejak hari itu, ia berhenti memaksa. Bukan karena menyerah, melainkan karena memilih menyesuaikan diri. Jika rumah ini sunyi, maka ia akan belajar hidup di dalam kesunyian itu.

Namun ada satu hal sederhana yang tetap Liora harapkan dari Kairan.

Ia ingin dipanggil dengan namanya.

Sejak menikah, selain saat ijab kabul, Kairan tidak pernah sekali pun menyebut nama “Liora”. Tidak saat memanggil. Tidak saat menegur. Tidak juga saat berbicara, jika pun ia bicara.

Padahal Liora tidak meminta hal rumit. Ia tidak menuntut kata-kata manis, tidak berharap pengakuan cinta. Ia hanya ingin mendengar namanya keluar dari mulut lelaki yang kini menjadi suaminya.

Liora.

Ingin ia dengarkan nama itu diucapkan. Dengan nada apa pun.

Pagi itu, Liora berdiri di dekat pintu, memperhatikan Kairan mengenakan sepatu kerjanya. Ia berdiri di belakang, menunggu dengan sabar. Menunggu kemungkinan kecil Kairan akan menoleh, berpamitan, dan mungkin saja menyebut namanya.

Kairan selesai mengikat tali sepatu. Ia menoleh sebentar, mengedikkan kepala sebagai salam pamit.

Hanya itu.

Kairan melangkah keluar rumah, menaiki mobilnya, dan pergi tanpa satu kata pun.

“Hati-hati di jalan,” ucap Liora lirih, pada punggung yang sudah menjauh.

Mobil itu keluar dari halaman rumah yang luas, meninggalkan Liora dengan napas panjang yang ia embuskan perlahan.

Tidak apa-apa, pikirnya. Masih ada hari esok.

Hari itu Liora memutuskan untuk membersihkan rumah.

Sejak awal mereka sepakat tidak mempekerjakan asisten rumah tangga, Liora mengambil alih semua urusan domestik. Dan anehnya, ia tidak merasa terbebani. Justru di sanalah ia menemukan peran yang membuatnya merasa dibutuhkan.

Membersihkan rumah memberinya rasa tenang. Menyapu, mengepel, mencuci piring. Semua itu membuatnya merasa hidup.

Ia menyetel musik cukup kencang, membiarkan rumah besar itu dipenuhi lagu-lagu ceria. Untuk pertama kalinya sejak menikah, rumah itu terasa ramai. Bukan oleh suara manusia lain, melainkan oleh suara yang ia ciptakan sendiri.

Ia membersihkan setiap sudut rumah, hingga akhirnya sampai di gudang kecil di lantai bawah. Setelah hampir satu jam, tubuhnya mulai terasa lelah.

Matanya tertuju pada sebuah dus besar di lemari bagian atas. Tertulis di sana nama mesin pembersih lantai otomatis. Alat canggih yang sering ia lihat di televisi.

“Kairan punya ini?” gumamnya kagum.

Dengan bantuan kursi, Liora meraih dus itu. Saat menurunkannya, sebuah benda kecil terjatuh dan tersangkut di bawahnya.

Sebuah foto.

Liora menurunkan dus itu, lalu kembali naik untuk mengambil benda yang jatuh tadi.

Foto seorang perempuan.

Rambut panjang dikepang ke samping. Senyum yang tenang. Tatapan mata yang lembut namun sendu.

Liora tidak perlu berpikir lama untuk tahu siapa perempuan itu.

Mantan istri Kairan.

Ini pertama kalinya Liora melihat penampakan mantan istri Kairan yang telah meninggal setahun lalu. Hanya sekali Liora mendengar kisahnya dari Paman. Setelah itu dia tidak pernah mendengar apa pun lagi, bahkan dari mulut Kairan sekalipun.

Liora memandang foto itu lama.

Cantik.

Itu satu-satunya kata yang muncul di kepalanya.

Ada ketenangan dalam senyum perempuan itu. Ketenangan yang terasa serasi dengan sosok Kairan. Mereka pasti pasangan yang indah, pikir Liora tanpa rasa iri yang meledak. Hanya perasaan kecil yang menyusup pelan ke dada.

Ia membayangkan bagaimana Kairan menyebut nama perempuan itu dulu. Bagaimana suaranya terdengar saat memanggilnya. Apakah selembut ini? Ataukah lebih hangat?

Dan tiba-tiba, sebuah pemahaman yang menyakitkan muncul.

Mungkin bukan karena Kairan tidak bisa memanggil nama Liora.

Mungkin karena di kepalanya masih ada nama lain.

Nama yang tidak Liora ketahui.

Tanpa sadar, Liora tertidur di sofa. Musik yang tadinya ceria berubah menjadi lagu melankolis. Mesin pembersih lantai terus bergerak, sesekali menyentuh kakinya.

Hari sudah sore ketika sebuah suara memanggilnya.

“Liora!”

Eh?

Liora terbangun seketika.

Ia mendapati Kairan berdiri di hadapannya, menepuk pundaknya perlahan.

Jantung Liora berdegup keras.

Ia tidak salah dengar, bukan?

Kairan mematikan musik, lalu menghentikan mesin pembersih lantai. Setelah itu, ia menoleh ke arah Liora yang masih terpaku menatapnya.

Kairan mengendikkan kepala. Kurang lebih artinya bertanya kenapa Liora memandanginya seperti itu.

Liora menggeleng. Terlepas dia salah dengar atau tidak, tapi dia senang karena mendengar kalau namanya pernah disebutkan Kairan, meski dalam sayup-sayup.

“Enggak apa-apa,” katanya ceria. “Aku masakkan sesuatu untukmu, ya.”

Liora bahagia. Hanya seperti itu saja, Liora sudah senang.

Ia memasukkan foto itu kembali ke sakunya. Dia tidak mau momen bahagianya terganggu sosok di masa lalu.

Biarkan kali ini saja, Liora senang karena mendengar namanya disebut Kairan.

BERSAMBUNG

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 12. Untuk Apa Menikah?

    Liora menangis.Di dalam bioskop yang gelap, di antara cahaya layar yang silih berganti menampilkan adegan romantis, air matanya jatuh tanpa suara. Ia menutup mata, bukan karena filmnya terlalu menyentuh, melainkan karena pikirannya telah berkelana terlalu jauh—ke tempat yang tidak seharusnya ia datangi.Di dalam bayangannya, Kairan menatapnya dengan mata yang hangat. Lelaki itu memanggil namanya dengan suara lembut, menyebut “Liora” seolah nama itu adalah sesuatu yang berharga. Dalam khayalnya, Kairan mencintainya. Menciumnya. Memeluknya tanpa ragu.Namun kesedihan datang menghantam dengan brutal ketika Liora sadar, semua itu tidak nyata.Ia terisak karena harus sampai membayangkan dirinya menjadi Anais hanya untuk merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh suaminya sendiri.Liora bersumpah, ia tidak mengenal Anais. Tidak tahu bagaimana sifat wanita itu, tidak tahu apakah ia lebih cantik, lebih lembut, atau lebih pantas dari dirinya.Namun s

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 11. Bioskop yang Gelap

    Sejak menikah dengan Kairan, dunia Liora seolah berhenti di dalam rumah itu.Hari-harinya diisi dengan rutinitas yang sama. Memasak, membersihkan rumah, menunggu Kairan pulang, lalu kembali tenggelam dalam sunyi. Ia tidak keberatan dengan kehidupan yang tenang.Namun, tetap saja ada bagian kecil dalam dirinya yang rindu pada sesuatu yang berbeda. Keluar rumah. Menghirup udara kota. Merasa menjadi seorang istri yang diajak berjalan bersama.Karena itu, ketika Kairan mengajaknya menonton bioskop, jantung Liora langsung berdebar.Bukan karena filmnya.Melainkan karena ini adalah kali pertama mereka pergi bersama sejak menikah. Kencan pertama, meski tak pernah disebut sebagai kencan.Liora mempersiapkan dirinya dengan lebih sungguh-sungguh dari biasanya. Ia berdiri di depan cermin cukup lama, memastikan setiap detail tampak pantas. Gaun sederhana berwarna krem membingkai tubuhnya dengan lembut. Rambutnya dibiarkan tergerai, hanya dijepit di satu

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 10. Mau Menonton Denganku?

    Bukan hanya satu album yang ada di dalam dus itu.Liora duduk di lantai ruang kerja, punggungnya bersandar pada sisi meja. Tangannya gemetar saat mengeluarkan satu per satu isi dus cokelat polos itu. Album foto berjejer rapi, beberapa dibungkus plastik bening, sebagian lain sudah menguning di tepinya tanda usia dan sering dibuka.Satu album paling tebal menarik perhatiannya.Album foto pernikahan.Jari Liora berhenti di sampulnya. Di sana tertulis nama dengan tinta emas yang sedikit memudar. Kairan & Anais.Oh, namanya Anais?Liora membuka halaman pertama. Napasnya tertahan.Gaun pengantin putih, dekorasi sederhana tapi elegan. Anais berdiri anggun di samping Kairan. Perempuan itu cantik. Bukan cantik yang mencolok, tapi tenang, dewasa, dan terasa matang. Senyumnya lembut, matanya berbinar hangat.Dan Kairan…Kairan tersenyum.Senyum lebar. Nyata. Hidup.Bukan senyum tipis yang kadang ia berikan pada Li

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 9. Ruang Kerja

    Semakin dipikirkan, semakin Liora merasa mantan istri Kairan terlalu cantik untuk sekadar disebut manusia biasa.Wajah perempuan dalam foto itu terus menghantuinya sejak kemarin. Bahkan saat ini, ketika tangannya sibuk mengiris bawang dan mengaduk masakan di dapur, bayangan perempuan itu tetap melekat di kepalanya.Mata terang yang teduh, hidung mancung sempurna, bibir tipis kemerahan yang tampak selalu tersenyum meski hanya dalam foto. Rambut panjang hitam berkilau, jatuh rapi di bahu. Kulit putih susu tanpa cela.Sempurna.Liora menelan ludah, dadanya terasa sedikit sesak.Ia membandingkan wajah itu dengan bayangannya sendiri di pantulan microwave dapur. Matanya memang besar dan bulat, bibirnya ranum dan merekah alami, rambutnya tipis dengan semburat kemerahan. Cantik, kata sebagian orang. Tapi di hadapan perempuan dalam foto itu, Liora merasa seperti sketsa yang belum selesai.Desis minyak panas dari wajan menyadarkannya.“Eh

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 8. Nama yang Tak Diketahui

    Rumah itu tetap sunyi.Tidak ada perubahan berarti sejak Liora resmi menjadi istri Kairan. Dialog masih jarang terjadi, bahkan bisa dibilang nyaris tidak ada.Bedanya, kini Liora lebih bisa menerima kenyataan. Bahwa suaminya memang seperti itu. Pendiam, tertutup, dan hidup dengan dunianya sendiri.Pernah suatu kali Liora mencoba berbicara lebih banyak. Menceritakan hal-hal kecil, mulai dari menu masakan, acara televisi, hingga cerita tetangga. Ia berharap suara-suara itu bisa memancing Kairan untuk ikut masuk ke dalam percakapan. Namun hasilnya nihil. Kairan tetap diam, tidak terganggu. Hanya anggukan kepala tanda ia telah mendengar.Saat itu Liora merasa konyol. Suaranya sendiri terdengar asing di rumah yang terlalu besar dan terlalu hening.Sejak hari itu, ia berhenti memaksa. Bukan karena menyerah, melainkan karena memilih menyesuaikan diri. Jika rumah ini sunyi, maka ia akan belajar hidup di dalam kesunyian itu.Namun ada satu hal sederhana yang tetap Liora harapkan dari Kairan.I

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 7. Masalah Komunikasi

    Dalam sehari, hampir bisa dihitung berapa kali Kairan mengeluarkan suara. Itu pun sebatas kata singkat. Ya, tidak, atau Hmm. Kadang hanya anggukan atau gelengan kepala. Selebihnya diam.Sudah seminggu Liora menjalani peran sebagai istri di rumah itu. Dan selama seminggu pula, dialah yang paling sering membuka percakapan. Bukan karena ia cerewet, melainkan karena ia takut rumah itu terlalu tenggelam dalam sunyi.Liora berusaha memaklumi. Ia tidak memaksa Kairan bicara jika memang tidak suka. Ia belajar menyesuaikan diri, meski kadang lelah menghadapi rumah yang terasa sunyi bukan karena luasnya, melainkan karena pemiliknya hampir tidak meninggalkan suara.Seperti siang ini.Kairan duduk di ruang tengah, tenggelam dalam buku. Liora dari dapur memanggil namanya, hendak bertanya ingin dimasakkan sesuatu yang manis atau asin.Tidak ada jawaban.Liora keluar dari dapur, mendekat sedikit. Memanggil lagi, kali ini lebih keras.Tetap tidak ada respons.Ia mengerucutkan bibir. Kairan dijuluki l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status