Beranda / Romansa / Suamiku Duda Bisu / Bab 96. Tidak Bicara

Share

Bab 96. Tidak Bicara

Penulis: Liani April
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-23 11:00:47

Kabar duka itu menyebar begitu cepat. Seluruh pihak keluarga telah mengetahuinya, namun Kairan mengambil keputusan agar mereka tidak datang menjenguk lebih dulu. Ia ingin Liora tenang, tanpa harus menghadapi tatapan iba dan pertanyaan yang mungkin akan semakin melukai.

Liora masih terpukul oleh kehilangan bayinya. Meski demikian, ia mampu menerima saran dokter Kinara untuk menjalani kuretasi ketika mentalnya telah siap.

“Aku turut berduka atas kehilanganmu,” ucap dokter Kinara d

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 96. Tidak Bicara

    Kabar duka itu menyebar begitu cepat. Seluruh pihak keluarga telah mengetahuinya, namun Kairan mengambil keputusan agar mereka tidak datang menjenguk lebih dulu. Ia ingin Liora tenang, tanpa harus menghadapi tatapan iba dan pertanyaan yang mungkin akan semakin melukai.Liora masih terpukul oleh kehilangan bayinya. Meski demikian, ia mampu menerima saran dokter Kinara untuk menjalani kuretasi ketika mentalnya telah siap.“Aku turut berduka atas kehilanganmu,” ucap dokter Kinara dengan suara lembut. “Tapi kamu harus kuat. Setidaknya, kamu harus memakamkan bayimu dengan layak.”Pendekatan itu bukan seperti dokter kepada pasien, melainkan sesama perempuan kepada perempuan lain yang sedang kehilangan.“Aku akan memastikan proses kuretasi tidak menyakitkan. Kamu akan ditemani suamimu. Kamu tidak akan sendirian.”Liora kembali menangis, namun ia mengangguk pelan. Ada kedamaian dalam cara dokter Kinara berbicara, dalam caranya menatap. Sampai-sampai Liora

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 95. Kehilangan

    “Bayi Anda telah meninggal dunia di dalam kandungan. Istri Anda mengalami keguguran.”Kairan seperti dipaku di tempat. Tubuhnya kaku, pikirannya kosong, seolah raganya dan jiwanya tercerabut dalam waktu yang bersamaan.“Istri Anda mengalami perdarahan akibat luka di telapak tangan dan syok berat karena trauma. Tekanan darahnya turun cukup drastis. Selain itu, rahimnya mengalami kontraksi yang tidak stabil.”Kairan menahan napas. “Lalu?Hening sesaat. Terlalu lama. Terlalu menyesakkan.“Maaf, Pak,” suara dokter Kinara melembut, “kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun detak jantung janin tidak dapat kami temukan saat tiba di rumah sakit.”Kata-kata itu seperti palu yang menghantam kepala Kairan.Tidak.Tidak mungkin.Dunia Kairan runtuh seketika.“Dok… tolong ulangi,” suaranya serak, nyaris tak berbentuk. “Mungkin alatnya salah… mungkin masih ada harapan…”Dokter Kinara menggeleng pelan. “Kami turut be

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 94. Petir di Siang Bolong

    “Liora! Liora! Apa yang terjadi? Hei!”Kairan bangkit begitu cepat sampai kursi di belakangnya terjungkal. Tangannya gemetar saat menggenggam ponsel.“Liora?” panggilnya lagi, memastikan sambungan itu masih ada.Tak ada jawaban. Hanya sunyi.Kairan tak menunggu satu detik pun. Ia menyambar kunci mobil dan berlari keluar dari ruangan, menerobos lorong kantor seperti orang kehilangan arah. Tidak ada yang ia pikirkan selain sampai ke rumah secepat mungkin.Nyatanya, Kairan harus berjibaku di jalanan beraspal. Dia mengemudi begitu cepatnya. Tidak peduli dia akan dikejar polisi karena menyalahi aturan kecepatan di jalanan. Dia ingin sampai ke tempat Liora. Hanya ingin cepat sampai.Begitu tiba di rumah, Kairan bahkan tak sempat mematikan mesin mobil dengan benar. Pintu terbuka begitu saja ketika ia melompat turun.“LIORA!”Tak ada sahutan. Namun entah mengapa, langkah kakinya langsung tertarik ke arah dapur. Seolah ada sesuatu yang

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 93. Penyesalan

    Usia kandungan Liora sudah menginjak sembilan bulan. Masa kelahiran kian dekat, membuat setiap hari terasa lebih berharga sekaligus menegangkan.Siang itu, Liora dan Kairan sedang menata kamar yang akan menjadi kamar bayi mereka, tepat di samping kamar utama. Kairan sibuk merakit kayu-kayu untuk tempat tidur bayi.Beberapa waktu lalu, ia telah menyelesaikan pemasangan lemari kecil untuk baju dan perlengkapan si kecil.Sementara itu, Liora menyusun dan menggantung pakaian-pakaian mungil dengan penuh kehati-hatian, seolah setiap helainya adalah doa.Menurut hasil USG terakhir, bayi mereka kemungkinan besar laki-laki. Kairan tampak begitu bergembira mendengar kabar itu.Namun bagi Liora, apa pun jenis kelaminnya, ia akan mencintai anak itu dengan sepenuh hati.Setelah hampir setengah jam berdiri, Liora menyudahi kegiatannya. Tubuhnya cepat lelah akhir-akhir ini. Ia melangkah menuju sofa dan duduk perlahan, menjulurkan kakinya yang mulai membeng

  • Suamiku Duda Bisu   Extra Part : Kairan

    Kairan sedang menghadiri pertemuan di luar kantornya bersama pemilik perusahaan Tacenda. Ke depannya, mereka akan menjalankan proyek besar di bidang teknologi global.Sejauh ini, kesepakatan antara Kairan dan CEO Tacenda, Yann Dhananjaya, berjalan sangat menjanjikan. Hanya tinggal detail kecil untuk meresmikan kerja sama tersebut.Di tengah pembahasan, ponsel Kairan bergetar.Nama istrinya tertera di layar.Pertemuan ini memang penting. Bertemu dengan Pak Yann bukan perkara mudah. Namun, sebesar apa pun nilai sebuah kerja sama, tetap tidak bisa mengalahkan Liora. Terlebih, istrinya sedang hamil besar.Seingat Kairan, pagi tadi Liora meminta izin untuk berbelanja. Mungkinkah ia menelepon untuk meminta dijemput? Ia tidak akan tahu sebelum mendengarnya langsung.“Maaf, Pak. Istri saya menelepon. Saya izin mengangkatnya sebentar,” ucap Kairan sopan sambil berdiri dan sedikit membungkuk.Pak Yann mengangguk ramah, mempersilakannya keluar d

  • Suamiku Duda Bisu   Extra Part : Niro

    Kafe sedang berada di jam paling sibuk. Niro kewalahan melayani tamu di setiap meja. Belum lagi pesanan minuman terutama kopi membludak tanpa henti malam itu.Namun alih-alih merasa lelah, Niro justru menikmati suasana tersebut. Setiap kali kafe ramai, ia selalu menyukai tiap detiknya, seolah mendapat energi tambahan dari hiruk-pikuk manusia yang datang dan pergi. Begitulah dirinya, tipikal ekstrovert yang hidup dari interaksi.Saat itu Niro sedang berkutat dengan mesin grinder. Biji kopi digiling dengan takaran yang tepat, menghasilkan aroma yang kuat dan menggoda. Sedetik kemudian ia bergeser ke mesin espresso, mengoperasikannya dengan cekatan sesuai pesanan yang tertera di lembar order.Sambil menunggu proses ekstraksi, matanya menyapu sekeliling kafe yang dipenuhi tamu. Pintu depan terbuka, membawa dua pengunjung baru.Niro bisa dibilang hafal hampir semua pelanggan. Mudah baginya membedakan mana wajah lama, mana wajah baru.Wanita pertama yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status