Home / Romansa / Suamiku Duda Bisu / Bab 9. Ruang Kerja

Share

Bab 9. Ruang Kerja

Author: Liani April
last update Huling Na-update: 2026-01-07 11:00:01

Semakin dipikirkan, semakin Liora merasa mantan istri Kairan terlalu cantik untuk sekadar disebut manusia biasa.

Wajah perempuan dalam foto itu terus menghantuinya sejak kemarin. Bahkan saat ini, ketika tangannya sibuk mengiris bawang dan mengaduk masakan di dapur, bayangan perempuan itu tetap melekat di kepalanya.

Mata terang yang teduh, hidung mancung sempurna, bibir tipis kemerahan yang tampak selalu tersenyum meski hanya dalam foto. Rambut panjang hitam berkilau, jatuh rapi di bahu. Kulit putih susu tanpa cela.

Sempurna.

Liora menelan ludah, dadanya terasa sedikit sesak.

Ia membandingkan wajah itu dengan bayangannya sendiri di pantulan microwave dapur. Matanya memang besar dan bulat, bibirnya ranum dan merekah alami, rambutnya tipis dengan semburat kemerahan. Cantik, kata sebagian orang. Tapi di hadapan perempuan dalam foto itu, Liora merasa seperti sketsa yang belum selesai.

Desis minyak panas dari wajan menyadarkannya.

“Eh?”

Liora tersentak, buru-buru mengecilkan api sebelum minyak memercik keluar. Jantungnya berdegup kencang. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri.

Dari arah ruang makan, Kairan mengangkat kepala dari tabletnya. Tatapannya lurus, tenang, tapi penuh perhatian. Lehernya sedikit memanjang, memperhatikan dapur.

“Enggak ada apa-apa,” ucap Liora cepat, menoleh sambil tersenyum. “Aman kok.”

Seolah ingin meyakinkan Kairan dan dirinya sendiri.

Kairan mengangguk kecil, lalu kembali menunduk pada pekerjaannya. Jari-jarinya bergerak cepat di layar tablet.

Hari ini memang hari penting baginya. Semalam ia sempat menjelaskan panjang lebar tentang pertemuan dengan orang pusat, tentang presentasi dan keputusan besar. Liora tidak terlalu mengerti detailnya, tapi ia tahu satu hal. Hari ini penting.

Maka sudah menjadi tugasnya memastikan Kairan tidak berangkat dengan perut kosong.

Liora memfokuskan diri pada masakan. Liora terbilang mahir urusan memasak. Sejak tinggal bersama Paman dan Tante, dialah yang bertanggung jawab urusan dapur. Meski dia belajar secara otodidak dari internet, tapi masakan buatannya tidak pernah gagal.

Ketika semuanya selesai, Liora menyajikan makanan ke piring dan menuangkan segelas air. Ia membawanya ke meja tempat Kairan duduk.

“Makan dulu, Kairan.”

Kairan segera menyingkirkan tabletnya. Matanya turun ke piring, lalu naik sebentar ke wajah Liora. Ada jeda singkat, nyaris tak terlihat, sebelum ia mulai makan.

Liora berdiri di sana, memperhatikannya menyuap makanan dengan tenang.

Ia suka momen ini. Kairan tidak pernah banyak bicara, tapi caranya menghabiskan masakan sampai tandas selalu terasa seperti pujian paling jujur.

Pikiran tentang mantan istri serta Kairan yang bersama-sama mulai terbersit di kepala lagi.

Waktu bersama mantan istrinya dulu, Kairan seperti apa ya? Apa mantan istrinya juga membuatkan masakan untuk Kairan seperti ini? Apa Kairan juga menyukai masakan buatannya? Apa mantan istrinya juga memerhatikan Kairan seperti ini ketika dia makan?

Sudah bukan sesuatu yang mencengangkan lagi. Kairan memang setampan itu. Tiap jengkal wajahnya. Semakin lama semakin Liora mengakui kalau suaminya ini pantas mendapatkan predikat lelaki tertampan di dunia.

Apakah mantan istri Kairan juga menyukai lelaki ini karena ketampanannya?

Kairan menyadari kalau Liora memerhatikannya yang sedang makan. Dia sudah terbiasa dengan itu. Bola mata Liora sering sekali tertangkap basah sedang memandang takzim dirinya dalam segala kondisi, tapi kali ini Liora melakukannya dengan lain.

Dia menatap Kairan sembari melamun dan tatapannya kosong.

Kairan berdeham, tapi hal itu tidak cukup menyadarkan Liora dari lamunannya.

“Liora!” Kairan memanggil nama wanita itu dengan suara iritnya.

Barulah Liora tersadarkan. Panggilan namanya seperti sebuah tombol ajaib untuk memanggilnya dari dunia lamunan.

“Hm?” Liora tersentak. “Iya?”

Kairan menelusup mata Liora yang bulat dan entah kenapa semakin cerah tiap harinya.

“Hari ini aku pulang malam.”

Liora tidak masalah dengan Kairan yang pulang malam. Selama ini Kairan memang tipikal orang yang selalu pulang tepat waktu. Sebelum matahari tergelincir di langit gelap, dia sudah di rumah. Dia bukan orang yang workaholic dan menggagungkan waktunya untuk pekerjaan.

“Oh.” Liora mengangguk. “Iya, enggak apa-apa.”

Justru Liora menganggap ini waktunya dia membersihkan lantai 2 dan 3, setelah kemarin dia malah ketiduran dan belum menyelesaikan semuanya.

“Kamu mau apa setelah ini?” tanya Kairan.

“Mungkin beberes lantai dua sama tiga,” jawab Liora. “Nanti aku beres-beres ruang kerjamu juga, ya!”

Liora merasa harus minta izin sebab selama ini dia nyaris belum pernah masuk ke ruang kerjanya. Kairan selalu menutup ruangan itu. Hanya sesekali ruangan itu terbuka, itu pun saat Kairan hendak mengambil berkas pekerjaan. Dan setelahnya dia tutup lagi pintu dengan rapat.

Sendok Kairan berhenti.

Hanya sedetik. Tapi Liora melihatnya.

Tatapan Kairan terangkat, mencari wajahnya. Ada sesuatu yang melintas cepat di mata itu. Waspada, atau mungkin ketidaksiapan.

“Kalau enggak boleh, enggak apa-apa,” tambah Liora cepat.

Kairan menggeleng pelan. “Enggak.”

Satu kata. Itu saja.

Setelah makan selesai, Kairan bersiap pergi. Seperti biasa, Liora mengantarnya sampai pintu. Ia berdiri di ambang, melambaikan tangan saat mobil Kairan keluar dari pagar.

Tiba saatnya Liora kembali ke dalam rumah dan melakukan pekerjaan seperti yang dia sebutkan pada Kairan tadi.

Sebelumnya, Liora menyalakan mesin pembersih otomatis. Kali ini dia bisa membebankan tugas menyapu lantai pada mesin tersebut. Dia akan membereskan bagian atas, seperti rak dan lemari.

Liora mulai membersihkan lantai atas. Kamar tidur, ruang ganti, semuanya biasa saja. Hingga ia berdiri di depan pintu ruang kerja Kairan.

Beda dengan ruangan lain, ruang kerja Kairan terbilang bersih. Jarang ada debu di rak juga lemari. Lantainya juga dipasangi karpet berbulu yang bersih dan wangi.

Liora berpikir untuk melewatkan ruangan itu saja, toh tempat itu sudah bersih.

Sejauh mata memandang, hanya di atas meja saja yang terbilang berantakan. Liora akhirnya tahu apa yang mesti dia bereskan di ruangan itu. Dia akan menata juga melap meja dari kaca tersebut.

Tidak terlalu banyak barang yang berantakan di atas meja. Ia membereskannya dengan cepat.

Liora tidak sengaja menendang bagian laci di bawah meja. Laci itu terbuka karena tendangan Liora barusan. Liora berjongkok untuk melihat laci dan menutupnya kembali.

Dia diam sesaat setelah menemukan dus coklat polos di dalam laci.

Harusnya Liora tidak penasaran dan langsung menutup laci. Tapi dia menarik dus itu dengan salah satu tangannya, lalu melihat isi dus yang tidak tertutup itu.

Tidak menyangka, ternyata di dalam dus tersebut berisi hal yang Liora temukan terselip di lemari gudang. Bukan hanya sedikit, tapi banyak.

Foto-foto mantan istri Kairan.

BERSAMBUNG

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 98. Pembunuh

    Liora sudah diperbolehkan pulang.Bersama Paman dan Tante, ia kembali ke rumah megah itu. Mereka berniat menginap sampai kondisi Liora benar-benar membaik. Keputusan itu tentu telah mendapat izin Kairan. Ia tak ingin Liora sendirian dalam keadaan seperti sekarang.Kembali berada di rumahnya sendiri, Liora lebih banyak beristirahat di kamar, menuruti saran dokter agar pemulihannya berjalan cepat.Keluarga Kairan datang bergantian menjenguk. Oma menjadi yang pertama, disusul para bibi. Seperti kebanyakan pelayat, mereka datang membawa rasa penasaran akan kronologi kejadian, sekaligus menitipkan ucapan belasungkawa atas duka yang menimpa Liora dan Kairan.Hingga hari keempat, kunjungan tak juga surut. Bukan hanya keluarga, rekan kerja Kairan pun berdatangan. Itu terjadi karena Kairan mengajukan cuti panjang. Ia ingin berada di sisi Liora, menemani masa-masa tersulit istrinya, memastikan Liora tak larut sendirian dalam kehilangan mereka.Selama itu, Li

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 97. Vitamin

    “Niro… bagaimana kalau Kairan membenciku karena aku menggugurkan anaknya?”Niro terdiam beberapa saat. Berbanding terbalik dengan Liora yang justru semakin terisak, seolah kalimat itu membuka pintu bagi semua ketakutannya.“Kenapa kamu berpikir begitu?” tanya Niro akhirnya.Wajar ia heran. Sejak awal, semua orang mengkhawatirkan kondisi fisik dan mental Liora, namun perempuan itu justru sibuk mencemaskan kemungkinan dibenci oleh Kairan. Bahkan itulah kalimat pertamanya setelah berpuasa bicara selama empat puluh delapan jam.“Liora, dengarkan aku,” ucap Niro serius. “Aku dan semua orang sama sekali nggak berpikir kalau ini salahmu. Apalagi Kairan.”Liora mengangkat wajahnya, matanya basah, seolah memprotes keyakinan itu.“Kairan sangat menunggu anak ini lahir,” suaranya bergetar. “Dia nggak sabar bertemu dengan anak kami. Tapi aku malah—”Kalimat itu terputus oleh tangisnya sendiri.Niro mengembuskan napas pelan. Ia mengenal Lio

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 96. Tidak Bicara

    Kabar duka itu menyebar begitu cepat. Seluruh pihak keluarga telah mengetahuinya, namun Kairan mengambil keputusan agar mereka tidak datang menjenguk lebih dulu. Ia ingin Liora tenang, tanpa harus menghadapi tatapan iba dan pertanyaan yang mungkin akan semakin melukai.Liora masih terpukul oleh kehilangan bayinya. Meski demikian, ia mampu menerima saran dokter Kinara untuk menjalani kuretasi ketika mentalnya telah siap.“Aku turut berduka atas kehilanganmu,” ucap dokter Kinara dengan suara lembut. “Tapi kamu harus kuat. Setidaknya, kamu harus memakamkan bayimu dengan layak.”Pendekatan itu bukan seperti dokter kepada pasien, melainkan sesama perempuan kepada perempuan lain yang sedang kehilangan.“Aku akan memastikan proses kuretasi tidak menyakitkan. Kamu akan ditemani suamimu. Kamu tidak akan sendirian.”Liora kembali menangis, namun ia mengangguk pelan. Ada kedamaian dalam cara dokter Kinara berbicara, dalam caranya menatap. Sampai-sampai Liora

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 95. Kehilangan

    “Bayi Anda telah meninggal dunia di dalam kandungan. Istri Anda mengalami keguguran.”Kairan seperti dipaku di tempat. Tubuhnya kaku, pikirannya kosong, seolah raganya dan jiwanya tercerabut dalam waktu yang bersamaan.“Istri Anda mengalami perdarahan akibat luka di telapak tangan dan syok berat karena trauma. Tekanan darahnya turun cukup drastis. Selain itu, rahimnya mengalami kontraksi yang tidak stabil.”Kairan menahan napas. “Lalu?Hening sesaat. Terlalu lama. Terlalu menyesakkan.“Maaf, Pak,” suara dokter Kinara melembut, “kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun detak jantung janin tidak dapat kami temukan saat tiba di rumah sakit.”Kata-kata itu seperti palu yang menghantam kepala Kairan.Tidak.Tidak mungkin.Dunia Kairan runtuh seketika.“Dok… tolong ulangi,” suaranya serak, nyaris tak berbentuk. “Mungkin alatnya salah… mungkin masih ada harapan…”Dokter Kinara menggeleng pelan. “Kami turut be

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 94. Petir di Siang Bolong

    “Liora! Liora! Apa yang terjadi? Hei!”Kairan bangkit begitu cepat sampai kursi di belakangnya terjungkal. Tangannya gemetar saat menggenggam ponsel.“Liora?” panggilnya lagi, memastikan sambungan itu masih ada.Tak ada jawaban. Hanya sunyi.Kairan tak menunggu satu detik pun. Ia menyambar kunci mobil dan berlari keluar dari ruangan, menerobos lorong kantor seperti orang kehilangan arah. Tidak ada yang ia pikirkan selain sampai ke rumah secepat mungkin.Nyatanya, Kairan harus berjibaku di jalanan beraspal. Dia mengemudi begitu cepatnya. Tidak peduli dia akan dikejar polisi karena menyalahi aturan kecepatan di jalanan. Dia ingin sampai ke tempat Liora. Hanya ingin cepat sampai.Begitu tiba di rumah, Kairan bahkan tak sempat mematikan mesin mobil dengan benar. Pintu terbuka begitu saja ketika ia melompat turun.“LIORA!”Tak ada sahutan. Namun entah mengapa, langkah kakinya langsung tertarik ke arah dapur. Seolah ada sesuatu yang

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 93. Penyesalan

    Usia kandungan Liora sudah menginjak sembilan bulan. Masa kelahiran kian dekat, membuat setiap hari terasa lebih berharga sekaligus menegangkan.Siang itu, Liora dan Kairan sedang menata kamar yang akan menjadi kamar bayi mereka, tepat di samping kamar utama. Kairan sibuk merakit kayu-kayu untuk tempat tidur bayi.Beberapa waktu lalu, ia telah menyelesaikan pemasangan lemari kecil untuk baju dan perlengkapan si kecil.Sementara itu, Liora menyusun dan menggantung pakaian-pakaian mungil dengan penuh kehati-hatian, seolah setiap helainya adalah doa.Menurut hasil USG terakhir, bayi mereka kemungkinan besar laki-laki. Kairan tampak begitu bergembira mendengar kabar itu.Namun bagi Liora, apa pun jenis kelaminnya, ia akan mencintai anak itu dengan sepenuh hati.Setelah hampir setengah jam berdiri, Liora menyudahi kegiatannya. Tubuhnya cepat lelah akhir-akhir ini. Ia melangkah menuju sofa dan duduk perlahan, menjulurkan kakinya yang mulai membeng

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status