เข้าสู่ระบบDalam sehari, hampir bisa dihitung berapa kali Kairan mengeluarkan suara. Itu pun sebatas kata singkat. Ya, tidak, atau Hmm. Kadang hanya anggukan atau gelengan kepala. Selebihnya diam.
Sudah seminggu Liora menjalani peran sebagai istri di rumah itu. Dan selama seminggu pula, dialah yang paling sering membuka percakapan. Bukan karena ia cerewet, melainkan karena ia takut rumah itu terlalu tenggelam dalam sunyi.
Liora berusaha memaklumi. Ia tidak memaksa Kairan bicara jika memang tidak suka. Ia belajar menyesuaikan diri, meski kadang lelah menghadapi rumah yang terasa sunyi bukan karena luasnya, melainkan karena pemiliknya hampir tidak meninggalkan suara.
Seperti siang ini.
Kairan duduk di ruang tengah, tenggelam dalam buku. Liora dari dapur memanggil namanya, hendak bertanya ingin dimasakkan sesuatu yang manis atau asin.
Tidak ada jawaban.
Liora keluar dari dapur, mendekat sedikit. Memanggil lagi, kali ini lebih keras.
Tetap tidak ada respons.
Ia mengerucutkan bibir. Kairan dijuluki lelaki bisu, bukan tuli. Itu yang selalu ia yakini. Namun tetap saja, namanya tidak disahut, meski kini jarak mereka hanya beberapa langkah.
Akhirnya Liora mendekat, berdiri tepat di hadapan Kairan, lalu mengambil buku dari tangan suaminya. Barulah Kairan mendongak. Tatapan mereka bertemu.
“Kairan,” ucap Liora, menahan gemas, “aku memanggilmu dari tadi.”
Wajah Kairan tetap datar. Ia hanya mengedikkan kepala, sebuah isyarat singkat yang sudah mulai dipahami Liora.
“Ada apa?”
“Kamu mau masakan yang manis atau asin?” tanya Liora.
“Manis,” jawab Kairan cepat.
“Oh, oke.”
Liora hendak mengembalikan buku itu. Namun sebelum ia sempat melakukannya, Kairan berdiri.
Tatapannya berubah. Lebih tajam dari biasanya. Liora merasakannya seketika ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuat dadanya mengencang tanpa alasan jelas.
“Lain kali,” ucap Kairan pelan namun tegas, “jangan merebut bukuku saat aku sedang membaca.”
Kalimat itu singkat, namun terasa berat.
Kairan mengambil kembali bukunya dari tangan Liora, lalu melangkah pergi tanpa menoleh. Tidak ada penjelasan tambahan. Tidak ada ekspresi marah berlebihan. Hanya jarak yang tercipta tiba-tiba.
Liora berdiri kaku.
Tenggorokannya terasa kering. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Jujur, dia ketakutan dengan sikap Kairan yang satu ini.
Ia sungguh tidak tahu bahwa hal sesederhana itu bisa membuat Kairan tersinggung. Selama ini lelaki itu begitu tenang, begitu terkendali. Tidak pernah menunjukkan kemarahan, apalagi dengan tatapan seperti tadi.
Apakah ia berlebihan?
Atau justru selama ini ia terlalu ceroboh?
Untuk pertama kalinya, rumah itu terasa benar-benar dingin.
***
Sore itu, keheningan terasa lebih pekat.
Liora memasak tanpa bicara. Menyajikan makanan tanpa suara. Di meja makan, ia menunduk, menghindari tatapan Kairan, takut jika kegugupannya terbaca jelas.
Ia kembali ke dapur, bersandar di meja, memperhatikan Kairan menyantap makanan dengan lahap. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Liora menghela napas perlahan. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, Kairan mungkin tidak marah. Ia hanya tegas menjaga batas. Namun perasaan itu tetap ada, mengendap di dada, membuatnya tidak nyaman.
Baru seminggu. Dan ia sudah merasa komunikasi adalah hal paling rapuh dalam pernikahan ini.
Ia menyadari sesuatu yang terlambat, mereka tidak pernah benar-benar bicara. Tidak tentang hal yang disukai. Tidak tentang hal yang dibenci. Tidak tentang batas.
Liora mengusap matanya yang terasa panas. Ia tidak ingin menangis. Ia tidak ingin Ia terlalu larut dalam pikirannya hingga tidak menyadari kehadiran Kairan di hadapannya.
“Eh, makannya sudah selesai?” tanya Liora cepat, menyembunyikan getar di suaranya.
Kairan menatapnya. Tatapan yang kembali tenang, namun kali ini terasa lebih dalam.
“Apa aku menyakitimu?” suara Kairan pelan, hampir berbisik.
Liora terdiam sejenak, lalu menggeleng. Dia tidak perlu dihibur dengan kata-kata, hanya dengan diberi tatapan tenang Kairan saja sudah cukup membuatnya baik kembali.
“Enggak,” jawabnya jujur. “Aku cuma salah paham.”
Dan memang itu kenyataannya. Ia tidak kecewa pada Kairan. Ia hanya belum mengenalnya.
Liora tidak keberatan mengenalnya pelan-pelan. Dia akan menunggu sampai Kairan juga melakukan hal yang sama untuk dirinya.
Bukankah seperti itu baiknya sebuah pasangan?
Senyum kecil perlahan kembali menghiasi wajah Liora. Senyum yang lembut, hangat, seolah tidak menyimpan sisa kegundahan.
Kairan meraih tangan Liora di atas meja dapur. Menggenggamnya dengan hati-hati.
“Maaf,” katanya singkat.
Satu kata itu terasa lebih bermakna daripada kalimat panjang mana pun.
Liora membalas genggaman itu. Untuk pertama kalinya sejak siang tadi, dadanya terasa lega.
Ia tahu, pernikahan ini tidak akan mudah. Tapi ia juga tahu, ia ingin mencoba. Pelan-pelan, bersama lelaki yang kini menjadi suaminya.
Semoga ke depannya mereka bisa semakin akrab.
BERSAMBUNG
***
Belajar dari kejadian sebelumnya, Liora kini tidak lagi pergi tanpa berpamitan.Ia berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya sebentar sebelum mengetik pesan di ponsel.‘Aku mau ke toko buku sebentar ya.’Pesan itu terkirim, lalu ia menunggu. Bukan karena takut, melainkan karena ingin. Ada perasaan baru yang tumbuh dalam dirinya. Keinginan untuk saling memberi tahu, untuk tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.Tak lama kemudian balasan masuk.‘Iya. Hati-hati.’Sederhana. Namun cukup membuat hati Liora terasa ringan.Ia keluar rumah dengan langkah tenang, memanggil taksi seperti biasa. Dalam perjalanan, pikirannya dipenuhi rencana kecil yang terasa menyenangkan.Sejak kecil, menggambar adalah dunianya. Buku-buku sketsa lama dan alat pewarna favoritnya tertinggal di rumah Paman. Setelah menikah, barulah ia terpikir untuk menghidupkan kembali hobi itu. Mengisi waktu, mengisi diri.Di toko buku, Liora berke
Setelah teriakan itu pecah di dalam mobil, tak ada lagi suara yang tersisa.Liora membuang wajahnya ke arah jendela, menolak menatap Kairan. Dadanya naik turun, amarah bercampur sesak masih menekan kuat. Jika ia menoleh sekarang, ia takut akan kembali menangis. Atau justru mengatakan sesuatu yang lebih melukai.Perjalanan menuju rumah terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu jalan berbaris tanpa arti. Tidak ada musik, tidak ada percakapan. Hanya keheningan yang kali ini tidak netral, melainkan penuh sisa emosi.Ketika mobil berhenti di halaman rumah, Liora turun lebih dulu. Tangannya mendorong pintu dengan kasar hingga suara bantingan terdengar nyaring di malam yang sunyi.Ia tidak menunggu. Tidak menoleh. Langkahnya cepat, hampir berlari menuju kamarnya.Begitu pintu kamar tertutup, Liora menjatuhkan diri ke atas kasur. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Tubuhnya meringkuk, memeluk diri sendiri seperti janin yang mencari am
“Halo?”Suara Liora terdengar ragu saat menerima panggilan itu. Bahkan sebelum ia sempat menarik napas lebih dalam, dadanya sudah terasa sesak. Ia menelan ludah, bersiap mendengar suara di seberang sana.“Kamu dimana?”Nada suara Kairan terdengar tegang. Ada emosi yang ditimbulkan dari sepatah kata barusan.“A-aku ada di pantai,” Liora menjawab sembari ketakutan.Tangannya refleks memilin ujung baju. Seperti anak kecil yang ketahuan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Padahal ia hanya pergi sebentar. Padahal ia sudah meninggalkan pesan.“Pantai mana?”Nada itu masih sama. Datar, namun ditekan oleh emosi yang tertahan.Liora menyebutkan nama pantai, lalu menjelaskan rumah makan seafood tempatnya berada. Ia bicara terbata, takut ada satu kata saja yang salah dan akan membuat Kairan semakin marah.Belum sempat ia menambahkan apa pun, sambungan telepon terputus.TUT.Bunyi itu menggem
Belum pernah dalam hidup Liora merasa sangat jenuh. Kesunyian di dalam rumahnya membuat Liora seakan tertekan dan makin bersedih.Dia merasa tidak ada satu pun di rumahnya yang bisa menghibur hatinya saat ini.Maka Liora memutuskan untuk keluar sejenak dari rumah itu. Dia ingin bisa bernapas. Ingin membuang kegelisahan dan sesak yang dia sendiri tidak bisa menjabarkannya dengan baik.Liora hanya membawa tas kecil berisi dompet dan ponselnya. Dia hanya berencana untuk pergi sebentar, bukan selamanya.Dia hanya sedang marah dengan sikap dingin Kairan, bukan ingin meninggalkannya.Sebelum melangkah pergi, ia menulis sepucuk pesan singkat di selembar kertas. Tangannya bergetar halus saat menuliskan kalimat sederhana. Ia akan keluar sebentar dan akan kembali. Kertas itu ia letakkan di atas meja ruang tamu, tempat yang pasti akan dilewati Kairan saat pulang nanti.Liora tidak mampu mengirimkan pesan ke ponsel Kairan. Dia masih belum bi
Liora menangis.Di dalam bioskop yang gelap, di antara cahaya layar yang silih berganti menampilkan adegan romantis, air matanya jatuh tanpa suara. Ia menutup mata, bukan karena filmnya terlalu menyentuh, melainkan karena pikirannya telah berkelana terlalu jauh—ke tempat yang tidak seharusnya ia datangi.Di dalam bayangannya, Kairan menatapnya dengan mata yang hangat. Lelaki itu memanggil namanya dengan suara lembut, menyebut “Liora” seolah nama itu adalah sesuatu yang berharga. Dalam khayalnya, Kairan mencintainya. Menciumnya. Memeluknya tanpa ragu.Namun kesedihan datang menghantam dengan brutal ketika Liora sadar, semua itu tidak nyata.Ia terisak karena harus sampai membayangkan dirinya menjadi Anais hanya untuk merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh suaminya sendiri.Liora bersumpah, ia tidak mengenal Anais. Tidak tahu bagaimana sifat wanita itu, tidak tahu apakah ia lebih cantik, lebih lembut, atau lebih pantas dari dirinya.Namun s
Sejak menikah dengan Kairan, dunia Liora seolah berhenti di dalam rumah itu.Hari-harinya diisi dengan rutinitas yang sama. Memasak, membersihkan rumah, menunggu Kairan pulang, lalu kembali tenggelam dalam sunyi. Ia tidak keberatan dengan kehidupan yang tenang.Namun, tetap saja ada bagian kecil dalam dirinya yang rindu pada sesuatu yang berbeda. Keluar rumah. Menghirup udara kota. Merasa menjadi seorang istri yang diajak berjalan bersama.Karena itu, ketika Kairan mengajaknya menonton bioskop, jantung Liora langsung berdebar.Bukan karena filmnya.Melainkan karena ini adalah kali pertama mereka pergi bersama sejak menikah. Kencan pertama, meski tak pernah disebut sebagai kencan.Liora mempersiapkan dirinya dengan lebih sungguh-sungguh dari biasanya. Ia berdiri di depan cermin cukup lama, memastikan setiap detail tampak pantas. Gaun sederhana berwarna krem membingkai tubuhnya dengan lembut. Rambutnya dibiarkan tergerai, hanya dijepit di satu







