LOGINDarius menatap Serena dengan semangat. Kedua mata zambrudnya menyala penuh harapan. Api itu hampir terkobar sebelum pernyataan tegas Serena selanjutnya sedikit memadamkannya.
“Tolong jangan salah paham.”Darius menahan napas saat Serena menyentuh dadanya, gadis itu menempelkan kain yang sebelumnya Serena pilih ke badan suaminya. Saat ini mereka sedang melakukan pengukuran baju dan pemilihan bahan.Serena berdiri di depan suaminya dengan jarak yang cukup dekat. GadDi hari pertama Darius membantu Wezuan di klinik, pria itu telah berhasil menarik perhatian banyak orang. Kehadirannya bak magnet. Para pria memandang kagum dan iri pada fisik Darius yang gagah berotot penuh vitalitas. Itu jelas tubuh impian semua pria. Bahkan beberapa pria tua tak henti-henti memujinya. Sedang para wanita selain mengagumi tubuhnya yang gagah, mereka terus memuji ketampanan wajah Darius dalam hati mereka. Mereka sedikitnya berharap suami mereka bisa memiliki ketampanan Darius setidaknya seperempatnya. Bahkan para gadis lajang dan janda muda berkali-kali meliriknya malu-malu dengan binar minat yang jelas.Darius menyadari banyaknya pasang mata yang terus memperhatikannya. Ia sendiri tak menyangka dalam sekejap akan menjadi pusat perhatian. Sebenarnya itu bukanlah masalah besar, karena sebagai pahlawan perang Darius telah terbiasa menjadi pusat perhatian. Jadi perhatian yang dia dapatkan saat ini sama sekali tak mempengaruhinya. Hingga insiden lamar
"Nak, tubuhmu begitu tegap! Maukah kau menjadi menantuku dan menikahi putriku?"Suara wanita tua itu seketika membuat suasana klinik yang riuh menjadi hening sejenak. Semua pasien yang sedang menunggu giliran tampak memperhatikan Darius dan wanita tua tersebut, seolah menonton pertunjukan yang bagus. Darius sendiri membeku di tempatnya. Senyum tipis yang sebelumnya sempat menghiasi bibirnya perlahan lenyap, berganti dengan ekspresi kaku khas seorang yang terpojok. Otaknya yang biasa cepat menyusun strategi perang mendadak tumpul hanya karena satu pertanyaan dari seorang wanita tua. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Darius mendapat tawaran perjodohan. Dulu, hal seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari baginya. Bedanya, para bangsawan biasa menyampaikannya lewat perantara atau diplomasi yang halus dan penuh kesopanan. Belum pernah ada satu pun yang berani menodongnya secara terang-terangan di depan umum seperti yang dilakukan wanita tua itu sepert
Kebohongan selalu membutuhkan keberanian, tetapi bagi Darius, menyembunyikan kebenaran di hadapan istrinya membutuhkan usaha yang jauh lebih menyiksa. “A-aku tak sengaja terjatuh. Itu baik-baik saja.” Darius kembali berkelit dengan tergesa-gesa. Pria itu enggan mengakui kebenaran konyol di balik benjolan di dahinya. Terlalu memalukan. Lagipula, ada kekhawatiran yang membakar dadanya. Ia takut gambaran dirinya sebagai pria tangguh akan runtuh di mata sang istri, digantikan oleh citra suami konyol yang mudah goyah.“Tapi, ini pasti menyakitkan.” Serena menggusap benjolan kecil itu lembut. Meski nada bicara serta ekspresi wajah Serena itu terkesan datar tanpa riak emosi berlebih, Darius masih bisa merasakan kehangatan, perhatian, dan secercah kasih sayang yang tulus dari sentuhan jemari halus sang istri.“Tidak. Sama sekali tidak sakit.” Entah bagaimana, dalam sekejap mata, seluruh ketegangan Darius menguap. Suasana hatinya mendadak me
“Siapa yang mengganti pakaianku?” Pertanyaan sederhana itu sukses membuat jantung Darius hampir melompat keluar. Ini adalah topik yang paling ingin dihindarinya. Menyinggung tentang pakaian, ingatan Darius langsung melayang pada bayangan kulit putih halus yang sempat tertangkap matanya. Darahnya berdesir hebat. Ujung telinga pria itu memerah. Lebih buruk, celananya mulai terasa sesak. “Dia memasangnya terbalik. Ini sangat tidak nyaman.” Keluh Serena dengan nada datar, sama sekali tidak bermaksud menyalahkan. Awalnya dia belum menyadarinya. Ketika dia bergerak baru dia sadar. Apa yang melekat di tubuhnya bukanlah pakaian miliknya. Itu sudah berganti dengan pakaian yang lebih bersih. Hanya saja jelas ia memakainya terbalik. Bagian belakang pakaian ini berada di depan, sedang bagian depan justru berada di belakang. Memakainya terasa tidak nyaman, terlebih bagian kerahnya. Darius yang mendengar keluhannya terdiam. Sulit untuk mengaku bahwa itu di
"Ah, syukurlah Nyonya sudah bangun!” Serena mengerutkan keningnya ketika melihat seorang pemuda yang membawa nampan berjalan menghampirinya. “Si-siapa?” Serena merasa sakit di tenggorokannya ketika dia bicara. Ekspresi keskitannya langsung ditangkap jelas oleh Wezuan. “Tenggorokan Anda mungkin sakit karena terlalu banyak muntah. Obat yang saya berikan telah mendetoksifikasi racun di tubuh Nyonya. Sekarang racunnya telah hilang, namun tubuh Anda sekarang kekurangan banyak cairan.” Racun? Kerutan di kening Serena semakin dalam. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Dia bangun di tempat asing, tubuhnya terlampau lemah untuk digerakkan, tiba-tiba muncul orang asing yang mengatakan dirinya keracunan, dan yang paling membuatnya panik, dia tak menemukan suaminya di sisinya. “Suamiku … dimana?” Mengabaikan penjelasan Wezuan, ia akan memikirkannya nanti. Serena hanya ingin melihat Darius sekarang. Meski sa
Tangan Darius gemetaran saat melangkah mendekati ranjang. Di sana, Serena terbaring lemah. Di atas ranjang, sosok istrinya yang rapuh tetap memancarkan kecantikan yang luar biasa. Tatapan Darius terkunci pada paras itu. Jakunnya bergerak ketika dorongan primitif muncul dalam kepalanya. Bohong jika tidak ada pikiran kotor yang terlintas dalam pikiran pria itu. Terlebih saat ini, dia harus mengganti pakaian istrinya. Melepaskan pakaiannya …. 'Plak!'Darius menampar pipinya sendiri dengan keras. Tak cukup sekali, ia melakukannya berulang kali hingga kedua pipinya memerah dan terasa panas. Ia benar-benar ingin marah pada dirinya sendiri. Pada hati kecilnya yang bisa-bisanya menyimpan niat jahat pada istrinya yang sakit. Istrinya sakit dan dia hanya merawatnya. Ya, merawat … tak ada pikiran lainnya. Setelah menenangkan diri dan mengukuhkan niat lurusnya, tangan Darius terulur menyentuh kancing pakaian Serena. Jari-jarinya sempat bergetar. Kancing di pakaian







