Share

Bab 67

Author: Anisnca
last update publish date: 2026-08-06 23:45:32

Tatapan Vincent perlahan bergeser dari Ditrian menuju Yuniver yang berdiri di samping sang Duke. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya, seolah ia menikmati setiap perubahan kecil yang muncul dari ekspresi mereka.

"Dan semua orang juga tahu siapa yang selalu berada di sisinya."

Kalimat itu sengaja dibiarkan menggantung. Tidak ada nama yang disebutkan, tetapi tidak seorang pun di taman itu membutuhkan penjelasan. Mereka semua mengetahui siapa yang dimaksud Vincent.

Keheningan langsung menyelimuti
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Bundanya Khaliza
akhir nya setelah beberapa minggu..
goodnovel comment avatar
Eka Sari
makassiiihh kk author, setelah hibernasi berminggu2....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 78

    Tangan Yuniver yang sedang memegang cangkir langsung berhenti dan matanya membelalak."Vincent?""Benar, Nyonya."Suasana di ruangan seketika berubah. Yuniver menatap kepala pelayan itu dengan ekspresi tidak percaya.Ditrian tidak ada di sini dan Kael juga pergi bersamanya. Lalu sekarang, tepat ketika dirinya sendirian di dalam kediaman...Vincent datang, firasat Yuniver langsung terasa tidak enak. Ia meletakkan cangkirnya perlahan."Dia datang sendiri?""Setahu saya, Tuan Vincent datang bersama seorang pelayan."Yuniver terdiam. Ingatan tentang pertemuan mereka sebelumnya kembali muncul begitu saja. Provokasi Vincent kepada Ditrian, kebohongan yang sengaja ia lontarkan tentang hubungan mereka, lalu bagaimana Ditrian memperingatkannya dengan dingin.Sejak saat itu, Yuniver tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di dalam pikiran Vincent. Dan sekarang pria itu datang ketika Ditrian tidak berada di sini."Katakan padanya..." Yuniver berhenti sejenak.Tatapannya mengarah ke pintu. Ia

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 77

    Sejak Yuniver sadar, Ditrian hampir tidak pernah meninggalkannya. Awalnya Yuniver mengira pria itu hanya ingin memastikan kondisinya setelah kejadian kemarin. Namun semakin lama hari berjalan, semakin jelas bahwa Ditrian memang sengaja menghabiskan waktunya di dalam kamar bersamanya.Bahkan ketika Yuniver mengatakan bahwa dirinya sudah merasa jauh lebih baik, Ditrian tetap tidak beranjak dari tempatnya.Ia duduk di kursi dekat ranjang sambil membaca beberapa laporan yang dibawa Kael. Sesekali ia menanyakan keadaan Yuniver, memastikan apakah kepalanya masih sakit, apakah ia merasa pusing, atau apakah ada bagian tubuhnya yang terasa nyeri. Pertanyaannya selalu singkat, tetapi terus berulang sepanjang hari."Kepalamu masih sakit?""Sudah tidak terlalu.""Pusing?""Sedikit.""Berbaringlah."Yuniver menurut dan beberapa saat kemudian, ketika ia bangun untuk mengambil air sendiri, suara Ditrian langsung terdengar dari belakang."Jangan."Yuniver berhenti dan menoleh."Aku hanya ingin mengam

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 76

    Yuniver perlahan membuka matanya.Hal pertama yang ia rasakan adalah berat di seluruh tubuhnya. Kepalanya masih berdenyut, sementara tenggorokannya terasa kering. Ia hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, mencoba mengingat bagaimana dirinya bisa sampai berada di sana.Lalu ia mendengar suara isakan.Yuniver menggerakkan matanya ke samping. Erin duduk di sisi ranjang. Kedua tangannya menggenggam jemari Yuniver, sementara wajahnya basah oleh air mata. Begitu menyadari Yuniver telah membuka mata, Erin langsung terisak lega."Nyonya..." Suaranya hampir pecah.Yuniver mencoba bergerak, tetapi tubuhnya terasa terlalu lemah. "Erin...""Syukurlah..." Erin buru-buru mengusap air matanya. "Syukurlah Nyonya sudah sadar."Yuniver mengernyit. Ingatannya perlahan kembali. Tubuhnya menegang sejenak."Ditrian..."Erin mengangguk cepat."Yang Mulia ada di sini. Beliau yang membawa Nyonya pulang."Yuniver menghembuskan napas panjang. Baru setelah itu ia menyadari bahwa dirinya benar

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 75

    Suara Ditrian tidak keras, tetapi justru karena itulah seluruh halaman mendadak terasa jauh lebih menakutkan. Tidak ada lagi tawa yang terdengar. Para pria yang beberapa saat lalu masih mengejek Yuniver kini berdiri kaku, seolah baru menyadari bahwa orang yang datang ke tempat mereka bukanlah bangsawan biasa yang bisa mereka tipu dengan alasan apa pun.Ditrian tetap berdiri di depan gerbang dengan wajah tenang. Ia hanya berdiri di sana, mendengarkan suara napas orang-orang di sekelilingnya, sebelum perlahan mengarahkan wajahnya kepada Yuniver.“Kael.”“Ya, Yang Mulia.”“Jangan biarkan seorang pun pergi.”Perintah itu singkat. Kael langsung memahami maksudnya.“Baik.”Dalam hitungan detik, para pengawal bergerak. Mereka memasuki halaman dan mengepung seluruh tempat itu. Beberapa penculik yang panik mencoba melarikan diri melalui sisi belakang bangunan, tetapi mereka bahkan tidak sempat mencapai gerbang sebelum dijatuhkan. Sebagian lainnya mencoba melawan, namun jumlah dan kemampuan mer

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 74

    Pintu ruangan itu kembali terbuka. Beberapa pria masuk hampir bersamaan. Wajah mereka sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan. Salah seorang di antara mereka membawa rantai panjang, sementara yang lain berjalan mendekati Yuniver tanpa sedikit pun keraguan.Yuniver yang sejak tadi duduk bersandar di dinding langsung menegakkan tubuhnya. Rantai yang mengikat kedua tangannya bergemerincing ketika ia bergerak."Apa yang kalian lakukan?"Tidak ada jawaban. Salah seorang pria meraih lengannya dan menariknya berdiri. Yuniver spontan menarik tubuhnya ke belakang, tetapi rantai di kakinya membuat gerakannya terbatas."Lepaskan aku!"Pria itu justru tertawa."Bawa saja. Sudah waktunya.""Untuk apa?""Kau akan tahu nanti."Jantung Yuniver berdegup semakin cepat. Ia menatap satu per satu wajah mereka, berusaha mencari sedikit celah untuk melarikan diri, tetapi jumlah mereka terlalu banyak.Kemudian salah seorang pria berkata dengan santai, "Orang seperti dia pasti bisa dijual dengan harga tin

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 73

    Ketika Yuniver membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah sakit kepala yang menusuk. Ia mengerang pelan dan mencoba bangun, tetapi pandangannya masih buram. Cahaya redup di sekitarnya membuatnya sulit mengenali tempat itu.Lalu terdengar suara gemerincing.Yuniver langsung membeku. Ia menunduk dan melihat kedua tangannya. Pergelangan tangannya terikat rantai besi, begitu pula kedua kakinya. Saat ia mencoba menarik tangannya, suara rantai kembali terdengar.Dadanya seketika terasa sesak."Di mana aku...?"Suaranya serak dan nyaris tidak terdengar.Yuniver mencoba mengingat apa yang terjadi. Perlahan, ingatannya kembali dan mata Yuniver melebar. Ia segera melihat sekeliling.Ruangan itu gelap dan pengap. Dinding batunya lembap, sementara beberapa lampu kecil hanya menerangi sebagian ruangan. Di salah satu sudut, beberapa anak duduk berdesakan. Tubuh mereka kurus dan wajah mereka pucat. Tak satu pun berani menatapnya.Tidak ada yang berbicara. Yuniver menelan ludah. Rasa takut mula

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 29

    Yuniver sempat ingin langsung menjawab, namun begitu ia membuka mulut, kata-kata yang sudah tersusun di kepalanya mendadak menghilang begitu saja. Ia berhenti, menutup mulutnya kembali, lalu menghela napas pelan seolah kesal pada dirinya sendiri.Di hadapannya, Ditrian tidak mendesaknya. Pria itu h

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 26

    Kalimat itu membuat Erin membeku, iahanya berdiri diam sambil menatap Yuniver seolah tidak yakin dirinya mendengar dengan benar.“Apa?”“Aku bertanya,” ulang Yuniver pelan. “Apa kau bekerja untuk Vincent?”Wajah Erin langsung berubah, ia terlihat terluka seolah Yuniver baru saja mengatakan sesuatu

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 2

    Aina nyaris tidak tidur sepanjang malam. Semua yang terjadi terasa tidak masuk akal.Beberapa waktu lalu, ia masih berada di kamarnya sendiri sambil membaca novel favoritnya hingga larut malam. Namun sekarang, ia berada di dalam novel itu.Dan bukannya menjadi tokoh utama, Aina justru menjadi karak

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 1

    “Tahan sebentar. Ini akan terasa sakit.”Kelopak mata Aina terbuka perlahan, ia menggeliat saat merasakan hawa panas menyentuh pundaknya.Namun begitu menyadari pemandangan di atas tubuhnya, Aina langsung membelalak.Tepat di atas tubuhnya, seorang pria dengan tubuh kekar sedang mengukungnya. Kepal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status