LOGINAina nyaris tidak tidur sepanjang malam. Semua yang terjadi terasa tidak masuk akal.
Beberapa waktu lalu, ia masih berada di kamarnya sendiri sambil membaca novel favoritnya hingga larut malam. Namun sekarang, ia berada di dalam novel itu.
Dan bukannya menjadi tokoh utama, Aina justru menjadi karakter yang bahkan tidak pernah dijelaskan di novel.
Pantas saja ia tidak mengingat keberadaan karakter Yuniver yang merupakan istri dari Duke Elgard. Informasi yang tertera tentang Duke Elgard hanyalah ia seorang pengkhianat kekaisaran yang dijatuhi hukuman mati.
Aina menggeleng keras. Karena ia sudah di sini… ia harus menyelamatkan karakter kesayangannya!
Namun sebelum itu…
“Maaf, Nyonya,” suara dingin seorang pria tiba-tiba memecah keheningan di ruang makan itu. “Apakah Anda sudah selesai? Yang Mulia Duke memiliki jadwal penting pagi ini.”
Aina menoleh pelan, lalu melirik sekilas ke seberang meja makan. Pagi itu ia menikmati sarapan dengan tenang, duduk satu meja dengan Ditrian Elgard sang karakter favorit yang selama ini hanya bisa ia baca di dalam novel.
Sangat menyenangkan bukan? Namun pria jangkung yang berdiri siaga di belakang Ditrian menghancurkan momen itu.
Tatapan Kael Vale, pengawal pribadi Ditrian, tertuju padanya penuh kewaspadaan, seolah kehadiran Aina di ruangan itu adalah sesuatu yang mengganggu. Dan Aria bisa memahaminya. Memang Yuniver adalah sosok istri yang kejam pada suaminya sendiri.
Tetapi tetap saja, tatapan itu membuatnya sedikit tidak nyaman.
Aina baru saja hendak menjawab, ketika suara Ditrian terdengar lebih dulu.
“Kael.”
Hanya satu kata, tetapi cukup membuat seluruh ruangan terasa menegang. Kael langsung menundukkan kepala.
“Yang Mulia.”
Kael meletakkan cangkir tehnya perlahan di atas meja, gerakannya tenang namun berat.
“Apakah seperti itu caramu berbicara pada istriku?”
Nada suaranya datar, tidak meninggi sama sekali, tetapi justru karena itu tekanan yang muncul terasa kuat. Kael tampak menegang sesaat sebelum menjawab hati-hati,
“Saya hanya khawatir Anda terganggu, Yang Mulia.”
Ditrian terdiam beberapa detik, lalu berkata pelan, “Yuniver adalah istriku. Selama dia berada di kastil ini, dia tidak perlu diperlakukan seperti orang luar.”
Kael langsung menundukkan kepala lebih dalam.
"Maafkan saya.”
Ditrian tidak menambahkan apa pun setelah itu. Ia kembali melanjutkan tehnya seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi.
Tanpa sadar, Aina merasa puas dan sedikit bangga pada dirinya sendiri. Meski ia menjadi kaarakter jahat, setidaknya karakter kesayangannya masih membelanya.
Ia semakin yakin tidak salah pernah menyukai Ditrian. Pasti kejahatan yang dijelaskan di dalam novel itu hasil fitnah!
“Ada apa? Mengapa kau sejak tadi diam saja dan tidak makan?”
Aina kembali tertegun dari lamunannya saat Ditrian menegurnya.
Bukankah… Ditrian Elgard buta?
Bagaimana mungkin ia tahu sejak tadi Aria tidak menyentuh makanannya sama sekali?
Aina menunduk, pandangannya jatuh pada piring di depannya. Makanan itu masih tersusun rapi, nyaris tak tersentuh sejak tadi.
Tanpa banyak berpikir, Aina meletakkan sendoknya di atas piring.
Ting.
Suara kecil itu terdengar begitu jelas di ruangan yang luas dan hening itu. Bahkan beberapa pelayan yang berdiri di sisi ruangan tampak menegang, seolah takut akan terjadi sesuatu setelahnya.
Ditrian kembali berbicara, “Apa kau tidak menyukai makanannya?”
Aina mengangkat wajahnya perlahan. Ia diam sejenak sebelum akhirnya berkata pelan,
“Daripada makan, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman kaca sebelum Anda mulai bekerja?”
Ucapan itu membuat suasana berubah.
Hening.
Aina bisa merasakannya, meski ia tidak tahu pasti apa yang membuat udara terasa sesempit ini.
Ditrian tidak langsung menjawab.
Pria itu hanya duduk diam, ekspresinya tetap datar seperti biasa, namun ada sesuatu yang berbeda di sana sebuah kewaspadaan yang samar, seperti seseorang yang sedang menilai sesuatu dengan hati-hati.
“Taman kaca?” suara Ditrian akhirnya terdengar lagi, lebih pelan dari sebelumnya. “Bukankah itu tempat favoritmu untuk bertemu Vincent?”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya, “Kenapa kau tidak pergi dengannya saja?”
Aina langsung membeku. Nama itu terasa asing sekaligus mengganggu.
Dalam ingatannya, Vincent Elgard adalah adik tiri Ditrian, sosok yang di masa depan akan menggantikan posisi Duke setelah dijatuhi hukuman atas tuduhan pengkhianatan.
Bahkan Vincentlah yang turut berperan dalam mengungkap “kejahatan” Ditrian.
Namun… tempat favorit?
Sebelum pikirannya sempat menemukan jawaban, Aina mengangkat kepala dan berkata pelan namun tegas,
“Saya ingin pergi bersama Anda.”
Ditrian tidak menjawab. Wajah Ditrian tetap tenang, tetapi bagi Aina ada sesuatu yang berbeda dari sikap pria itu. Bukan sekadar dingin, melainkan seperti sedang memikirkan sesuatu dengan sangat dalam.
Belum sempat suasana kembali normal, pintu ruang makan tiba-tiba terbuka. Kepala pelayan Ed masuk dan membungkuk.
“Yang Mulia Duke,” ucapnya hati-hati, “Tuan Muda Vincent baru saja datang. Beliau mengatakan ada dokumen penting yang harus ditandatangani”
Kepala pelayan itu melirik singkat ke arah Aina, sebelum kembali melanjutkan, “Dan beliau juga ingin menyapa Nyonya.”
Ruangan langsung menjadi sunyi.
Aina menahan napasnya saat melihat Ditrian perlahan mengangkat wajahnya. Matanya tetap kosong, tetapi Aina merasa seolah pria itu sedang mengarah tepat kepadanya.
“Panjang umur.” Ia berhenti sebentar. “Pergilah temui kekasihmu.”
Hari pesta teh akhirnya tiba.Sejak pagi, kediaman Duke Elgard sudah dipenuhi kesibukan. Para pelayan memastikan taman kaca, meja, hidangan, dan semua kebutuhan tamu telah siap. Yuniver bahkan berkali-kali memeriksa semuanya hingga kepala pelayan hampir kehilangan hitungan.Ketika kereta para tamu mulai berdatangan, Yuniver baru menyadari bahwa pesta ini mungkin tidak akan semudah yang ia bayangkan.Satu per satu wanita bangsawan memasuki taman kaca dengan pakaian dan perhiasan indah. Mereka menyapa Yuniver dengan sopan, memberi hormat, lalu duduk di tempat masing-masing.Dari luar, semuanya terlihat sempurna.Namun Yuniver segera menyadari tatapan mereka. Bisikan kecil terdengar setiap kali ia berbalik, beberapa senyum tampak dipaksakan, dan sebagian wanita memandangnya seolah sedang menilai dirinya.Yuniver berusaha mengabaikannya. Ia tetap menyambut para tamu dengan tenang. Bagaimanapun, ini adalah pesta teh pertamanya sebagai Duchess yang mulai memasuki lingkungan sosial para bang
Ditrian terdiam. Namun, kali ini bukan karena tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya sedang mencerna perkataan Yuniver yang terdengar begitu polos, seolah bagi wanita itu, memiliki seorang suami yang seorang Duke adalah sesuatu yang patut disyukuri setiap hari.Sudut bibirnya perlahan terangkat.Ia memang sudah menyadari perubahan Yuniver sejak beberapa waktu terakhir. Wanita itu tidak lagi menjaga jarak darinya seperti dahulu. Sebaliknya, Yuniver semakin sering berada di sisinya, memanggilnya hanya untuk menanyakan hal-hal kecil, bahkan tidak ragu meminta bantuannya meskipun tahu Ditrian tidak dapat melihat apa yang sedang ia tunjukkan.Anehnya, semua itu tidak pernah membuatnya merasa terganggu.Justru sebaliknya.Ada sesuatu yang membuat Ditrian merasa senang setiap kali Yuniver datang mencarinya.Seperti sekarang.Yuniver masih berdiri di hadapannya dengan wajah cerah, seolah baru saja menemukan sesuatu yang sangat menguntungkan dalam hidupnya."Aku hanya merasa hidupku sekarang
Yuniver terdiam sesaat. Entah mengapa, jawaban sederhana dari Ditrian itu kembali membuat sudut bibirnya terangkat. Ia kemudian merangkul lengan pria itu lebih erat, seolah ingin menunjukkan betapa senangnya dirinya mendengar persetujuan tersebut.“Kalau begitu, aku akan melakukannya.”“Baik.” Ditrian mengangguk kecil. “Aku akan menunggu hasilnya.”Yuniver yang semula tersenyum tiba-tiba menyipitkan mata.“Kenapa terdengar seperti Anda sedang menunggu saya gagal?”Ditrian sedikit mengangkat alis.“Aku tidak mengatakan itu.”“Tapi nada suara Anda begitu.”Ditrian hanya diam. Lalu senyum tipis muncul di wajahnya.“Kalau begitu, buktikan aku salah.”Yuniver mendengus pelan, tetapi bukannya tersinggung, ia justru semakin mengeratkan rangkulannya pada lengan Ditrian.“Baik. Jangan menyesal nanti.”“Aku tidak akan menyesal.”“Kalau pestanya berhasil, Anda harus memujiku.”Ditrian terkekeh kecil.“Kalau begitu, aku akan menunggu sampai hari itu.”Yuniver tersenyum puas. Ia kemudian menarik l
Setelah pembicaraan mengenai penculikan itu selesai, suasana di ruang tamu perlahan kembali lebih ringan. Ketiga wanita bangsawan itu tidak lagi menanyakan kejadian tersebut dan mulai mengarahkan pembicaraan pada hal-hal yang lebih berkaitan dengan kehidupan Yuniver sebagai Duchess Elgard.Salah seorang dari mereka membuka buku kecil yang sejak tadi dibawanya, lalu menatap Yuniver dengan senyum sopan.“Duchess, sebelum kita mulai membicarakan pelajaran hari ini, kami ingin mengetahui sedikit tentang kehidupan sosial Anda selama ini.”Yuniver mengangguk.“Maksudnya?”“Seberapa sering Anda menghadiri acara yang diadakan para bangsawan? Jamuan makan, pesta, pertunjukan, atau pertemuan kecil di kediaman bangsawan lain?”Yuniver terdiam.Ia mencoba mengingat kehidupan Yuniver sebelum dirinya datang ke dunia ini. Sayangnya, sebagian besar ingatan yang tersisa justru berkaitan dengan Vincent. Hampir tidak ada kenangan tentang bagaimana Yuniver berhubungan dengan wanita-wanita bangsawan lainn
Ditrian langsung menoleh ke arah Yuniver. Meskipun kedua matanya tidak dapat melihat, perubahan kecil dalam suara istrinya membuatnya tahu bahwa pertanyaan itu bukan sekadar rasa ingin tahu biasa. Ada sesuatu yang sedang dipikirkan Yuniver, sesuatu yang belum ingin ia katakan.Yuniver sendiri sedikit menegang. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan membawa percakapan mereka sejauh ini. Seharusnya ia hanya ingin mengetahui bagaimana perasaan Ditrian terhadap Vincent, tetapi tanpa sadar ia justru sedang mencari jawaban atas sesuatu yang jauh lebih besar.“Aku akan menghadapinya ketika saatnya tiba.” Jawab Ditrian akhirnya.Nada suaranya tetap tenang, seolah kemungkinan harus berhadapan dengan adiknya sendiri bukan sesuatu yang membuatnya gentar.Yuniver mengerutkan kening.“Bahkan jika dia adikmu?”Ditrian terdiam sejenak.“Hubungan darah tidak membuat seseorang bebas melakukan apa saja.”Jawaban itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Yuniver terdiam.Ada ketegasan di balik suara Dit
Yuniver langsung terdiam. Ia tidak membutuhkan penjelasan lebih jauh. Dari cara ayahnya mengatakannya, ia sudah tahu jawabannya.Vincent mungkin bisa memaafkan banyak hal selama semuanya masih menguntungkan dirinya. Namun jika pria itu mengetahui bahwa Count Vernois diam-diam memiliki kesepakatan dengan Ditrian, kemungkinan besar semua itu akan berakhir dalam satu malam.Yuniver menatap ayahnya dengan perasaan yang semakin rumit, ia menyadari bahwa Count Vernois bukan hanya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.Pria itu juga sedang menyembunyikan sesuatu dari Vincent. Dan jika rahasia itu terbongkar, bukan hanya dirinya yang akan berada dalam bahaya. Seluruh keluarga Vernois bisa ikut terseret ke dalamnya.Begitu Yuniver kembali ke kediaman Duke Elgard, hari sudah mulai sore. Kereta yang membawanya berhenti di depan tangga utama, dan Erin segera turun lebih dahulu untuk membukakan pintu. Yuniver melangkah keluar dengan tenang, berusaha menyembunyikan semua yang baru saja ia dengar da
Aina melangkah perlahan di sisi Ditrian, membawanya menjauh dari kerumunan yang semakin ramai. Sejak insiden dengan Vincent tadi, rasanya seluruh perhatian di ballroom tertuju kemanapun mereka bergerak.Semua orang tentu penasaran, mereka tidak percaya dan terang-terangan bergosip tanpa perduli apak
Suara Ainaa terdengar begitu keras hingga membuat percakapan di sekitar mereka terhenti.Alunan musik yang sejak tadi memenuhi ballroom seakan menghilang sesaat ketika puluhan pasang mata beralih ke arah mereka. Para bangsawan yang sebelumnya sibuk berbincang kini menoleh dengan rasa penasaran yang
Kereta keluarga Elgard berhenti di depan kediaman Marquis Varell yang malam itu dipenuhi para bangsawan, cahaya mewah, dan alunan musik dari ballroom megah di dalam.Namun suasana di depan kediaman itu berubah sedikit aneh saat pintu kereta keluarga Elgard terbuka.Aina turun lebih dulu.Gaun hitam
“Apa?!” Suara Aina langsung meninggi tanpa bisa ia tahan.Tangannya refleks mencengkeram ujung meja kaca di depannya hingga rangkaian bunga yang tadi diberikan Vincent hampir jatuh ke lantai. Dadanya naik turun tidak beraturan, sementara matanya membelalak menatap pria di hadapannya.Membunuh Ditri







