Masuk
“Tahan sebentar. Ini akan terasa sakit.”
Kelopak mata Aina terbuka perlahan, ia menggeliat saat merasakan hawa panas menyentuh pundaknya.
Namun begitu menyadari pemandangan di atas tubuhnya, Aina langsung membelalak.
Tepat di atas tubuhnya, seorang pria dengan tubuh kekar sedang mengukungnya. Kepala pria itu nyaris menyentuh pundak polosnya. Dan detik itu juga, Aina tersadar bahwa pundaknya tersibak, menampilkan kulitnya yang mulus.
Tanpa berpikir dua kali, ia langsung mendorong kuat tubuh pria itu hingga jatuh dari kasur.
“Apa yang kau lakukan?!”
Ia beringsut mundur, menghimpit kepala ranjang, tangannya bergerak menarik bagian gaun yang terbuka.
Tidak ada jawaban dari pria yang tadi berada di atasnya. Pria itu nampak sibuk meraba-raba sekelilingnya. Kening Aina sontak berkerut dalam.
Apa yang dia lakukan…?
Namun saat ingin bertanya lebih lanjut, ia baru menyadari keadaan sekitarnya.
Ini bukan kamarnya!
"Istriku..." suara berat dan dalam dari pria yang ada di depannya membuat Aina menaikkan alisnya.
"Bukankah kita sudah setuju untuk bermain peran menjadi sepasang suami-istri yang bahagia?" tanya pria itu datar sambil menatapnya dengan… kosong?
Aina tersentak mendengar pria itu memanggilnya. Apa maksudnya suami istri? Dia sudah melajang hampir seumur hidupnya dan menghabiskan sebagian harinya dengan membaca novel di kamarnya. Bagaimana bisa ada pria yang mengaku sebagai suaminya?
Ini pasti mimpi!
Namun melihat penampilan pria di hadapannya… dengan wajah bak dewa yunani, alis tebal, ia luar biasa tampan. Dan Aina baru menyadari bahwa kedua mata pria itu terlihat sedikit aneh.
Aina menelan ludahnya, menatap lurus mata pria itu. Bahkan tidak ada fokus di sana, dan tidak ada gerakan pupil seperti orang pada umumnya. Warna putih keabu-abuan nyaris memenuhi sebagian besar pupil matanya, membuat dada Aria berdebar aneh.
Pria itu tidak sedang menatapnya.
Suara pria di depannya kembali menarik kesadaran Aina.
"Kenapa kau diam saja? Apa kau jadi ragu karena jijik dengan suamimu yang buta ini?"
Aina membelalak. Mulutnya terbuka, namun tidak ada suara yang keluar darinya. Ternyata pria itu buta… pantas saja tatapannya terlihat kosong seperti itu. Aina langsung merasa iba pada pria tampan di mimpinya itu.
Namun saat Aina hendak bersuara, pria itu tiba-tiba mendekat dan mencengkeram tangannya. Sentuhannya terasa sangat nyata, membuatnya panik dan yakin bahwa semua ini bukan mimpi seperti yang ia kira.
Aina membeku di tempat saat perlahan pria itu bergerak mendekat, ia menelusuri lengan Aina dengan ujung jarinya, seolah sedang memastikan posisi wanita itu di hadapannya.
“Padahal kau juga yang memaksa ingin tidur denganku,” ucap pria itu rendah. “Tapi sepertinya kau menyesalinya.”
Jarak di antara keduanya semakin menipis, tubuh Aina menegang dengan bulir keringat dingin yang memenuhi keningnya. Tanpa sadar, Aina mencengkram sprei sutra yang melapisi tempat tidur.
Pria di depannya ini semakin mendekat, tangan besar pria itu menarik kancing gaunnya perlahan.
Aina ingin menyangkal bahwa semuanya pasti hanya mimpi… namun segalanya terasa sangat nyata. Terlebih saat bibir pria itu mulai mendarat di pundaknya, sebelum berhenti tepat di dekat telinganya.
“Bertahanlah dan jadi istri yang baik kali ini.”
Aina refleks mendorong pria itu lagi. Kali ini ia menggunakan kesempatan itu untuk bangkit dari tempat tidur, lalu bergegas ke arah pintu untuk melarikan diri.
Meski pria itu tampan, tapi Aina tak ingin melakukan itu dengannya. Mereka belum menikah, bahkan ia tak mengerti kenapa bisa ada di situasi seperti ini.
Aina berlari sekuat tenaga, tak menoleh lagi karena takut pria buta itu mungkin saja bisa mengejarnya. Namun tiba-tiba, rasa sakit yang tajam menghantam dadanya.
Namun di saat yang bersamaan, sesuatu menabrak tubuhnya hingga ia jatuh tersungkur. Napasnya memburu saat rasa sakit di kepala dan sekujur tubuh menyerangnya tanpa ampun.
"Nyonya! Apakah Anda baik-baik saja?!" suara seorang wanita membuatnya terkejut. Aina menoleh perlahan, mendapati wanita dengan pakaian bak pelayan berlutut di sampingnya.
"Kenapa Anda berlarian di lorong malam-malam seperti ini? Bukankah Anda seharusnya sedang bersama Yang Mulia Duke Elgard?" lanjut wanita itu.
Aina membeku seketika
Duke... Elgard?
Nama itu tak terasa asing di telinganya.
Aina langsung menatap sekelilingnya. Tempat yang asing, gaun yang aneh, suami buta dan Duke Elgard…
Jangan bilang ia berada di dalam novel favoritnya?!
Hari pesta teh akhirnya tiba.Sejak pagi, kediaman Duke Elgard sudah dipenuhi kesibukan. Para pelayan memastikan taman kaca, meja, hidangan, dan semua kebutuhan tamu telah siap. Yuniver bahkan berkali-kali memeriksa semuanya hingga kepala pelayan hampir kehilangan hitungan.Ketika kereta para tamu mulai berdatangan, Yuniver baru menyadari bahwa pesta ini mungkin tidak akan semudah yang ia bayangkan.Satu per satu wanita bangsawan memasuki taman kaca dengan pakaian dan perhiasan indah. Mereka menyapa Yuniver dengan sopan, memberi hormat, lalu duduk di tempat masing-masing.Dari luar, semuanya terlihat sempurna.Namun Yuniver segera menyadari tatapan mereka. Bisikan kecil terdengar setiap kali ia berbalik, beberapa senyum tampak dipaksakan, dan sebagian wanita memandangnya seolah sedang menilai dirinya.Yuniver berusaha mengabaikannya. Ia tetap menyambut para tamu dengan tenang. Bagaimanapun, ini adalah pesta teh pertamanya sebagai Duchess yang mulai memasuki lingkungan sosial para bang
Ditrian terdiam. Namun, kali ini bukan karena tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya sedang mencerna perkataan Yuniver yang terdengar begitu polos, seolah bagi wanita itu, memiliki seorang suami yang seorang Duke adalah sesuatu yang patut disyukuri setiap hari.Sudut bibirnya perlahan terangkat.Ia memang sudah menyadari perubahan Yuniver sejak beberapa waktu terakhir. Wanita itu tidak lagi menjaga jarak darinya seperti dahulu. Sebaliknya, Yuniver semakin sering berada di sisinya, memanggilnya hanya untuk menanyakan hal-hal kecil, bahkan tidak ragu meminta bantuannya meskipun tahu Ditrian tidak dapat melihat apa yang sedang ia tunjukkan.Anehnya, semua itu tidak pernah membuatnya merasa terganggu.Justru sebaliknya.Ada sesuatu yang membuat Ditrian merasa senang setiap kali Yuniver datang mencarinya.Seperti sekarang.Yuniver masih berdiri di hadapannya dengan wajah cerah, seolah baru saja menemukan sesuatu yang sangat menguntungkan dalam hidupnya."Aku hanya merasa hidupku sekarang
Yuniver terdiam sesaat. Entah mengapa, jawaban sederhana dari Ditrian itu kembali membuat sudut bibirnya terangkat. Ia kemudian merangkul lengan pria itu lebih erat, seolah ingin menunjukkan betapa senangnya dirinya mendengar persetujuan tersebut.“Kalau begitu, aku akan melakukannya.”“Baik.” Ditrian mengangguk kecil. “Aku akan menunggu hasilnya.”Yuniver yang semula tersenyum tiba-tiba menyipitkan mata.“Kenapa terdengar seperti Anda sedang menunggu saya gagal?”Ditrian sedikit mengangkat alis.“Aku tidak mengatakan itu.”“Tapi nada suara Anda begitu.”Ditrian hanya diam. Lalu senyum tipis muncul di wajahnya.“Kalau begitu, buktikan aku salah.”Yuniver mendengus pelan, tetapi bukannya tersinggung, ia justru semakin mengeratkan rangkulannya pada lengan Ditrian.“Baik. Jangan menyesal nanti.”“Aku tidak akan menyesal.”“Kalau pestanya berhasil, Anda harus memujiku.”Ditrian terkekeh kecil.“Kalau begitu, aku akan menunggu sampai hari itu.”Yuniver tersenyum puas. Ia kemudian menarik l
Setelah pembicaraan mengenai penculikan itu selesai, suasana di ruang tamu perlahan kembali lebih ringan. Ketiga wanita bangsawan itu tidak lagi menanyakan kejadian tersebut dan mulai mengarahkan pembicaraan pada hal-hal yang lebih berkaitan dengan kehidupan Yuniver sebagai Duchess Elgard.Salah seorang dari mereka membuka buku kecil yang sejak tadi dibawanya, lalu menatap Yuniver dengan senyum sopan.“Duchess, sebelum kita mulai membicarakan pelajaran hari ini, kami ingin mengetahui sedikit tentang kehidupan sosial Anda selama ini.”Yuniver mengangguk.“Maksudnya?”“Seberapa sering Anda menghadiri acara yang diadakan para bangsawan? Jamuan makan, pesta, pertunjukan, atau pertemuan kecil di kediaman bangsawan lain?”Yuniver terdiam.Ia mencoba mengingat kehidupan Yuniver sebelum dirinya datang ke dunia ini. Sayangnya, sebagian besar ingatan yang tersisa justru berkaitan dengan Vincent. Hampir tidak ada kenangan tentang bagaimana Yuniver berhubungan dengan wanita-wanita bangsawan lainn
Ditrian langsung menoleh ke arah Yuniver. Meskipun kedua matanya tidak dapat melihat, perubahan kecil dalam suara istrinya membuatnya tahu bahwa pertanyaan itu bukan sekadar rasa ingin tahu biasa. Ada sesuatu yang sedang dipikirkan Yuniver, sesuatu yang belum ingin ia katakan.Yuniver sendiri sedikit menegang. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan membawa percakapan mereka sejauh ini. Seharusnya ia hanya ingin mengetahui bagaimana perasaan Ditrian terhadap Vincent, tetapi tanpa sadar ia justru sedang mencari jawaban atas sesuatu yang jauh lebih besar.“Aku akan menghadapinya ketika saatnya tiba.” Jawab Ditrian akhirnya.Nada suaranya tetap tenang, seolah kemungkinan harus berhadapan dengan adiknya sendiri bukan sesuatu yang membuatnya gentar.Yuniver mengerutkan kening.“Bahkan jika dia adikmu?”Ditrian terdiam sejenak.“Hubungan darah tidak membuat seseorang bebas melakukan apa saja.”Jawaban itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Yuniver terdiam.Ada ketegasan di balik suara Dit
Yuniver langsung terdiam. Ia tidak membutuhkan penjelasan lebih jauh. Dari cara ayahnya mengatakannya, ia sudah tahu jawabannya.Vincent mungkin bisa memaafkan banyak hal selama semuanya masih menguntungkan dirinya. Namun jika pria itu mengetahui bahwa Count Vernois diam-diam memiliki kesepakatan dengan Ditrian, kemungkinan besar semua itu akan berakhir dalam satu malam.Yuniver menatap ayahnya dengan perasaan yang semakin rumit, ia menyadari bahwa Count Vernois bukan hanya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.Pria itu juga sedang menyembunyikan sesuatu dari Vincent. Dan jika rahasia itu terbongkar, bukan hanya dirinya yang akan berada dalam bahaya. Seluruh keluarga Vernois bisa ikut terseret ke dalamnya.Begitu Yuniver kembali ke kediaman Duke Elgard, hari sudah mulai sore. Kereta yang membawanya berhenti di depan tangga utama, dan Erin segera turun lebih dahulu untuk membukakan pintu. Yuniver melangkah keluar dengan tenang, berusaha menyembunyikan semua yang baru saja ia dengar da
Suara Ainaa terdengar begitu keras hingga membuat percakapan di sekitar mereka terhenti.Alunan musik yang sejak tadi memenuhi ballroom seakan menghilang sesaat ketika puluhan pasang mata beralih ke arah mereka. Para bangsawan yang sebelumnya sibuk berbincang kini menoleh dengan rasa penasaran yang
Aina melangkah perlahan di sisi Ditrian, membawanya menjauh dari kerumunan yang semakin ramai. Sejak insiden dengan Vincent tadi, rasanya seluruh perhatian di ballroom tertuju kemanapun mereka bergerak.Semua orang tentu penasaran, mereka tidak percaya dan terang-terangan bergosip tanpa perduli apak
Kereta keluarga Elgard berhenti di depan kediaman Marquis Varell yang malam itu dipenuhi para bangsawan, cahaya mewah, dan alunan musik dari ballroom megah di dalam.Namun suasana di depan kediaman itu berubah sedikit aneh saat pintu kereta keluarga Elgard terbuka.Aina turun lebih dulu.Gaun hitam
“Apa?!” Suara Aina langsung meninggi tanpa bisa ia tahan.Tangannya refleks mencengkeram ujung meja kaca di depannya hingga rangkaian bunga yang tadi diberikan Vincent hampir jatuh ke lantai. Dadanya naik turun tidak beraturan, sementara matanya membelalak menatap pria di hadapannya.Membunuh Ditri







