登入Pintu ruangan itu kembali terbuka. Beberapa pria masuk hampir bersamaan. Wajah mereka sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan. Salah seorang di antara mereka membawa rantai panjang, sementara yang lain berjalan mendekati Yuniver tanpa sedikit pun keraguan.Yuniver yang sejak tadi duduk bersandar di dinding langsung menegakkan tubuhnya. Rantai yang mengikat kedua tangannya bergemerincing ketika ia bergerak."Apa yang kalian lakukan?"Tidak ada jawaban. Salah seorang pria meraih lengannya dan menariknya berdiri. Yuniver spontan menarik tubuhnya ke belakang, tetapi rantai di kakinya membuat gerakannya terbatas."Lepaskan aku!"Pria itu justru tertawa."Bawa saja. Sudah waktunya.""Untuk apa?""Kau akan tahu nanti."Jantung Yuniver berdegup semakin cepat. Ia menatap satu per satu wajah mereka, berusaha mencari sedikit celah untuk melarikan diri, tetapi jumlah mereka terlalu banyak.Kemudian salah seorang pria berkata dengan santai, "Orang seperti dia pasti bisa dijual dengan harga tin
Ketika Yuniver membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah sakit kepala yang menusuk. Ia mengerang pelan dan mencoba bangun, tetapi pandangannya masih buram. Cahaya redup di sekitarnya membuatnya sulit mengenali tempat itu.Lalu terdengar suara gemerincing.Yuniver langsung membeku. Ia menunduk dan melihat kedua tangannya. Pergelangan tangannya terikat rantai besi, begitu pula kedua kakinya. Saat ia mencoba menarik tangannya, suara rantai kembali terdengar.Dadanya seketika terasa sesak."Di mana aku...?"Suaranya serak dan nyaris tidak terdengar.Yuniver mencoba mengingat apa yang terjadi. Perlahan, ingatannya kembali dan mata Yuniver melebar. Ia segera melihat sekeliling.Ruangan itu gelap dan pengap. Dinding batunya lembap, sementara beberapa lampu kecil hanya menerangi sebagian ruangan. Di salah satu sudut, beberapa anak duduk berdesakan. Tubuh mereka kurus dan wajah mereka pucat. Tak satu pun berani menatapnya.Tidak ada yang berbicara. Yuniver menelan ludah. Rasa takut mula
Anak itu menatap uang tersebut dengan mata berkaca-kaca."Terima kasih." Ia membungkuk berkali-kali. "Terima kasih banyak, Kak."Yuniver tersenyum kecil."Pergilah."Anak itu pun berlari. Awalnya Yuniver hanya memperhatikannya dari tempatnya berdiri. Namun kemudian ia menyadari sesuatu. Anak itu berbelok ke sebuah gang sempit di antara dua bangunan.Yuniver mengerutkan kening. Ada sesuatu yang terasa tidak benar. Ia melirik ke belakang kearah bangunan tempat Ditrian masuk masih terlihat tidak jauh dari sana.Ia seharusnya menunggu. Ia sudah berjanji, namun rasa khawatir terhadap anak tadi membuatnya sulit mengabaikannya. Akhirnya Yuniver menarik napas."Aku hanya melihat sebentar."Ia mengikuti anak tersebut. Gang itu semakin sepi setelah beberapa meter. Suara pasar perlahan menghilang di belakang mereka. Jalan yang tadi ramai berubah menjadi sempit dan dipenuhi bangunan tua.Anak itu terus berjalan sampai akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan yang tampak seperti gudang lama. Ia
Ditrian membeku, pria itu tidak bergerak sama sekali. Yuniver masih tersenyum puas sambil memeluk boneka kain yang baru saja didapatkannya, sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya.Sementara Kael yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka langsung menutup wajah dengan satu tangan.Ia mengusap keningnya pelan."Astaga..."Ditrian perlahan menoleh ke arah suara Yuniver. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tetapi telinganya tampak sedikit memerah. Ia membuka mulut seolah hendak mengatakan sesuatu, lalu mengurungkan niatnya.Yuniver akhirnya menyadari keheningan itu."Ada apa?"Ditrian terdiam beberapa saat."Tidak ada."Ia kemudian menggenggam tangan Yuniver dan mengajaknya kembali berjalan. Kael hanya bisa menggelengkan kepala sambil mengikuti dari belakang. Ia tidak tahu mana yang lebih berbahaya, Yuniver yang semakin bebas bertingkah di depan umum atau Ditrian yang tampaknya sama sekali tidak mampu menolak apa pun yang dilakukan istrinya.Waktu berla
Jawaban itu membuat Yuniver tersenyum puas, sementara Kael hanya menggelengkan kepala.Mereka kembali berjalan menyusuri pasar. Kali ini Yuniver tidak berhenti di setiap kios, meski matanya masih melihat-lihat barang yang dijual. Sesekali ia bertanya tentang tempat yang mereka lewati. Ditrian menjawab singkat, sementara Kael akan menjelaskan jika Ditrian tidak tahu.Namun, lama-kelamaan Yuniver menyadari bahwa Ditrian datang ke pasar bukan hanya untuk berjalan-jalan. Beberapa kali ia berhenti dan mendengarkan. Ia memperhatikan keluhan para pedagang dan warga tentang pajak, harga gandum, serta keadaan pasar.Yuniver tersenyum kecil. Ternyata Ditrian benar-benar memperhatikan rakyatnya. Ia pun kembali merangkul lengan pria itu lebih erat.Ditrian menoleh sedikit ke arahnya."Apa?"Yuniver menggeleng."Tidak apa-apa."Yuniver merasa bahwa pria yang selama ini hanya ia kenal dari dalam novel ternyata jauh lebih nyata dari yang ia bayangkan. Dulu, ia hanya tahu Duke Elgard adalah penguasa
Kael sudah beberapa kali mencoba meyakinkan Ditrian bahwa membawa Yuniver ikut dalam pemeriksaan wilayah bukanlah ide yang baik. Namun, setelah mendengar keinginan istrinya yang begitu antusias, Ditrian sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan membatalkannya. Ia hanya terdiam beberapa saat, seolah mempertimbangkan sesuatu, sebelum akhirnya mengangguk."Baik."Kael langsung menatap tuannya dengan tidak percaya."Yang Mulia—""Dia boleh ikut." Jawaban Ditrian terdengar tenang, seolah keputusan itu sudah final.Kael menghela napas panjang. Ia sudah menduga akan seperti ini."Kalau begitu, Duchess harus mengikuti semua aturan yang saya berikan," katanya kepada Yuniver. "Tidak boleh menyebut nama keluarga. Tidak boleh memanggil Yang Mulia dengan gelarnya. Jangan menarik perhatian. Dan yang paling penting, jangan sampai ada seorang pun mengetahui siapa kalian sebenarnya."Yuniver mengangguk cepat."Tidak masalah."Melihat ekspresinya yang terlalu bersemangat, Kael justru merasa semaki
“Tahan sebentar. Ini akan terasa sakit.”Kelopak mata Aina terbuka perlahan, ia menggeliat saat merasakan hawa panas menyentuh pundaknya.Namun begitu menyadari pemandangan di atas tubuhnya, Aina langsung membelalak.Tepat di atas tubuhnya, seorang pria dengan tubuh kekar sedang mengukungnya. Kepal
Yuniver sempat ingin langsung menjawab, namun begitu ia membuka mulut, kata-kata yang sudah tersusun di kepalanya mendadak menghilang begitu saja. Ia berhenti, menutup mulutnya kembali, lalu menghela napas pelan seolah kesal pada dirinya sendiri.Di hadapannya, Ditrian tidak mendesaknya. Pria itu h
Kalimat itu membuat Erin membeku, iahanya berdiri diam sambil menatap Yuniver seolah tidak yakin dirinya mendengar dengan benar.“Apa?”“Aku bertanya,” ulang Yuniver pelan. “Apa kau bekerja untuk Vincent?”Wajah Erin langsung berubah, ia terlihat terluka seolah Yuniver baru saja mengatakan sesuatu
Aina melangkah perlahan di sisi Ditrian, membawanya menjauh dari kerumunan yang semakin ramai. Sejak insiden dengan Vincent tadi, rasanya seluruh perhatian di ballroom tertuju kemanapun mereka bergerak.Semua orang tentu penasaran, mereka tidak percaya dan terang-terangan bergosip tanpa perduli apak







