ログインAnak itu menatap uang tersebut dengan mata berkaca-kaca."Terima kasih." Ia membungkuk berkali-kali. "Terima kasih banyak, Kak."Yuniver tersenyum kecil."Pergilah."Anak itu pun berlari. Awalnya Yuniver hanya memperhatikannya dari tempatnya berdiri. Namun kemudian ia menyadari sesuatu. Anak itu berbelok ke sebuah gang sempit di antara dua bangunan.Yuniver mengerutkan kening. Ada sesuatu yang terasa tidak benar. Ia melirik ke belakang kearah bangunan tempat Ditrian masuk masih terlihat tidak jauh dari sana.Ia seharusnya menunggu. Ia sudah berjanji, namun rasa khawatir terhadap anak tadi membuatnya sulit mengabaikannya. Akhirnya Yuniver menarik napas."Aku hanya melihat sebentar."Ia mengikuti anak tersebut. Gang itu semakin sepi setelah beberapa meter. Suara pasar perlahan menghilang di belakang mereka. Jalan yang tadi ramai berubah menjadi sempit dan dipenuhi bangunan tua.Anak itu terus berjalan sampai akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan yang tampak seperti gudang lama. Ia
Ditrian membeku, pria itu tidak bergerak sama sekali. Yuniver masih tersenyum puas sambil memeluk boneka kain yang baru saja didapatkannya, sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya.Sementara Kael yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka langsung menutup wajah dengan satu tangan.Ia mengusap keningnya pelan."Astaga..."Ditrian perlahan menoleh ke arah suara Yuniver. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tetapi telinganya tampak sedikit memerah. Ia membuka mulut seolah hendak mengatakan sesuatu, lalu mengurungkan niatnya.Yuniver akhirnya menyadari keheningan itu."Ada apa?"Ditrian terdiam beberapa saat."Tidak ada."Ia kemudian menggenggam tangan Yuniver dan mengajaknya kembali berjalan. Kael hanya bisa menggelengkan kepala sambil mengikuti dari belakang. Ia tidak tahu mana yang lebih berbahaya, Yuniver yang semakin bebas bertingkah di depan umum atau Ditrian yang tampaknya sama sekali tidak mampu menolak apa pun yang dilakukan istrinya.Waktu berla
Jawaban itu membuat Yuniver tersenyum puas, sementara Kael hanya menggelengkan kepala.Mereka kembali berjalan menyusuri pasar. Kali ini Yuniver tidak berhenti di setiap kios, meski matanya masih melihat-lihat barang yang dijual. Sesekali ia bertanya tentang tempat yang mereka lewati. Ditrian menjawab singkat, sementara Kael akan menjelaskan jika Ditrian tidak tahu.Namun, lama-kelamaan Yuniver menyadari bahwa Ditrian datang ke pasar bukan hanya untuk berjalan-jalan. Beberapa kali ia berhenti dan mendengarkan. Ia memperhatikan keluhan para pedagang dan warga tentang pajak, harga gandum, serta keadaan pasar.Yuniver tersenyum kecil. Ternyata Ditrian benar-benar memperhatikan rakyatnya. Ia pun kembali merangkul lengan pria itu lebih erat.Ditrian menoleh sedikit ke arahnya."Apa?"Yuniver menggeleng."Tidak apa-apa."Yuniver merasa bahwa pria yang selama ini hanya ia kenal dari dalam novel ternyata jauh lebih nyata dari yang ia bayangkan. Dulu, ia hanya tahu Duke Elgard adalah penguasa
Kael sudah beberapa kali mencoba meyakinkan Ditrian bahwa membawa Yuniver ikut dalam pemeriksaan wilayah bukanlah ide yang baik. Namun, setelah mendengar keinginan istrinya yang begitu antusias, Ditrian sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan membatalkannya. Ia hanya terdiam beberapa saat, seolah mempertimbangkan sesuatu, sebelum akhirnya mengangguk."Baik."Kael langsung menatap tuannya dengan tidak percaya."Yang Mulia—""Dia boleh ikut." Jawaban Ditrian terdengar tenang, seolah keputusan itu sudah final.Kael menghela napas panjang. Ia sudah menduga akan seperti ini."Kalau begitu, Duchess harus mengikuti semua aturan yang saya berikan," katanya kepada Yuniver. "Tidak boleh menyebut nama keluarga. Tidak boleh memanggil Yang Mulia dengan gelarnya. Jangan menarik perhatian. Dan yang paling penting, jangan sampai ada seorang pun mengetahui siapa kalian sebenarnya."Yuniver mengangguk cepat."Tidak masalah."Melihat ekspresinya yang terlalu bersemangat, Kael justru merasa semaki
Yuniver memandang Ditrian cukup lama sebelum akhirnya menggeleng pelan. Sulit baginya mempercayai ucapan pria itu. Ancaman yang baru saja keluar dari bibir Ditrian terdengar terlalu tenang, seolah membicarakan sesuatu yang biasa. "Anda tidak mungkin membunuh adik Anda sendiri hanya karena dia mengganggu istri Anda."Nada suaranya pelan, dipenuhi ketidakpercayaan. Bagaimanapun juga, Vincent adalah adik kandung Ditrian. Hubungan mereka mungkin tidak sedekat yang dibayangkan orang lain, tetapi Yuniver tetap tidak bisa menerima bahwa seseorang akan mengorbankan darah dagingnya sendiri hanya karena persoalan seperti itu.Ditrian menghentikan langkahnya.Suasana koridor kembali dipenuhi keheningan. Para pelayan dan pengawal yang mengikuti dari kejauhan spontan memperlambat langkah mereka, memberi ruang bagi pasangan Duke dan Duchess itu.Perlahan Ditrian memiringkan wajahnya ke arah Yuniver.Meskipun kedua matanya tidak lagi mampu melihat, Yuniver tetap merasa seolah pria itu sedang menata
Tatapan Vincent perlahan bergeser dari Ditrian menuju Yuniver yang berdiri di samping sang Duke. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya, seolah ia menikmati setiap perubahan kecil yang muncul dari ekspresi mereka."Dan semua orang juga tahu siapa yang selalu berada di sisinya."Kalimat itu sengaja dibiarkan menggantung. Tidak ada nama yang disebutkan, tetapi tidak seorang pun di taman itu membutuhkan penjelasan. Mereka semua mengetahui siapa yang dimaksud Vincent.Keheningan langsung menyelimuti taman. Tidak ada suara selain desir angin dan napas tiga orang yang saling berhadapan.Ditrian tetap berdiri tegak di tempatnya. Jemarinya menggenggam tongkat hitam dengan tenang, sementara wajahnya tidak menunjukkan perubahan sedikit pun. Ia tidak marah. Tidak pula tampak tersinggung. Namun justru ketenangan itulah yang membuat suasana berubah semakin menyesakkan.Beberapa saat kemudian, bibirnya bergerak."Rumor tetaplah rumor."Vincent mengangkat sudut bibirnya."Tentu saja." Ia terkekeh pel
Kereta keluarga Elgard berhenti di depan kediaman Marquis Varell yang malam itu dipenuhi para bangsawan, cahaya mewah, dan alunan musik dari ballroom megah di dalam.Namun suasana di depan kediaman itu berubah sedikit aneh saat pintu kereta keluarga Elgard terbuka.Aina turun lebih dulu.Gaun hitam
“Apa?!” Suara Aina langsung meninggi tanpa bisa ia tahan.Tangannya refleks mencengkeram ujung meja kaca di depannya hingga rangkaian bunga yang tadi diberikan Vincent hampir jatuh ke lantai. Dadanya naik turun tidak beraturan, sementara matanya membelalak menatap pria di hadapannya.Membunuh Ditri
Taman kaca milik keluarga Elgard dipenuhi cahaya matahari pagi yang menembus dinding-dinding bening di sekeliling ruangan.Pantulan sinarnya jatuh di antara hamparan bunga yang tumbuh rapi, membuat seluruh tempat itu terlihat hangat dan indah, jauh berbeda dari suasana kastil utama yang dingin dan
Aina nyaris tidak tidur sepanjang malam. Semua yang terjadi terasa tidak masuk akal.Beberapa waktu lalu, ia masih berada di kamarnya sendiri sambil membaca novel favoritnya hingga larut malam. Namun sekarang, ia berada di dalam novel itu.Dan bukannya menjadi tokoh utama, Aina justru menjadi karak







