MasukEsok harinya, Isabella pergi ke suatu tempat bersama ajudannya.
Ya, ajudan Isabella berkata bahwa dia telah mencarikan sosok pria bayaran seperti yang Isabella minta sebagai calon suami keduanya. Dan sekarang, Isabela ingin menemuinya, ia tak sabar ingin membalaskan rasa sakit hatinya pada Caspian dan selingkuhannya itu. Isabella berjalan masuk ke dalam sebuah restoran mewah di Kota Salatine, ia berada di lantai dua restoran tersebut. Pandangan mata indahnya mengedar di seluas ruangan di lantai itu. Dahinya mengernyit saat melihat ada beberapa pria dengan pakaian jas hitam di sana. Akan tetapi, hanya ada satu pria tampan di sana. Duduk di pinggir jendela, menyilangkan kakinya dan menikmati keindahan Kota Salatine. “Dia pasti orangnya,” gumam Isabella. Dengan penuh percaya diri, Isabella berdiri di hadapan pria yang tengah mengguncang gelas berisi anggur tersebut. “Kau sudah lama menungguku?” Isabella menyapa pria tanpa basa-basi. Salah satu alis pria tampan itu terlihat meninggi. Dia tampak bingung. Isabella meletakkan tasnya di atas meja dan duduk di hadapan pria itu. Isabella menatap mata bak permata safir pria tersebut, sebelum ia mengulurkan tangannya yang berbalut sarung tangan berwarna putih. “Perkenalkan, aku Marchioness Isabella Roswell.” Pria itu sempat tercengang, sebelum dia menerima jabatan tangan Isabella dengan lembut. “Senang bertemu dengan Anda, Nyonya Marchioness Roswell," balasnya ragu. “Hm. Siapa namamu?” tanya Isabella dengan anggun. Pria itu berdehem pelan dan menatapnya intens tanpa melepaskan jabatan tangan. “Saya, Aldrich Constantine.” Rasanya seperti tidak asing? Tidak peduli siapapun dia, Isabella hanya ingin menggunakan pria ini seperti yang ia butuhkan. Isabella kembali menatap Aldrich dengan pandangan tenang dan serius. “Aku memintamu datang ke sini karena aku ingin kau bekerja sama denganku. Ajudanku pasti sudah menjelaskan padamu, bukan?” Kening Aldrich berkerut, tetapi raut wajah masih tetap santai. “Ajudan?” Isabella menduga, pasti Jestin tidak bekerja dengan benar! Tapi ajudannya cukup pintar, mencarikan pria bayaran yang sesuai dengan kriteria yang Isabella cari. Pria di hadapannya itu, sangat tampan, gagah, dan berwibawa. “Aku ingin membayarmu mahal untuk bekerja sama denganku,” ujar Isabella. Pria itu menyipitkan manik biru yang berkilat, rambut hitamnya yang ditata rapi, menunjukkan pahatan wajah yang sempurna dan pesonanya yang tak main-main. “Kerja sama apa yang ingin Anda tawarkan pada saya, Nyonya?” tanya Aldrich penasaran. Isabella masih dengan rasa kepercayaan diri yang penuh, ia menjawab, “Aku ingin kau berpura-pura menjadi selingkuhanku.” Salah satu alis Aldrich terangkat, tatapannya terlihat tertarik tetapi ekspresi wajahnya datar. Entah apa dia bersedia menerima tawaran ini? “Apa imbalan yang Anda berikan pada saya kalau saya menerima tawaran ini?” tanyanya sambil menatap Isabella dengan seringai tipis di bibirnya. “Apapun yang kau minta. Kalau kau setuju, aku akan menjelaskan semua tujuan dan rencanaku padamu. Dan kau akan tinggal bersamaku di kediaman Roswell.” Isabella tidak main-main. Tampang pria itu masih datar seakan-akan meragukan Isabella. Namun Isabella benci bila harus ditawar-tawar. Tanpa menunggu Aldrich menjawabnya, Isabella lebih dulu mengulurkan tangannya di hadapan pria itu. “Aku yakin kau pasti setuju,” ucapnya dengan percaya diri. Pria itu mengangkat tangannya dan menjabat tangan Isabella, sebelum Aldrich mengecup punggung tangan wanita itu. “Dengan senang hati saya menerimanya, Nyonya Marchioness.” Kursi kayu yang Isabela duduki berderit begitu wanita itu beranjak dari duduknya, menatap intens pada sosok Aldrich yang akan menjadi rekan kerja samanya. “Kalau begitu, ayo ikutlah bersamaku pulang ke rumahku,” ajak Isabella, ia segera membalikkan badannya dan meninggalkan meja itu. Begitu pula dengan Aldrich ikut beranjak dari duduknya. Sejak tadi ia diperhatikan dengan intens oleh seseorang yang duduk di seberangnya. Isabella dan Aldrich kini telah sampai di depan. Di sana, Jestin terkejut saat melihat Isabella bersama seorang pria asing, jelas bukan pria yang Jestin siapkan. “Nyonya—” Jestin mendekati Isabella, tetapi Aldrich menatapnya tajam seolah meminta pria itu untuk diam. Sebelum mereka berdua masuk ke dalam sebuah mobil klasik yang pertama kali diciptakan di benua barat, terutama di Salatine. Hal ini menjadi yang pertama bagi Isabella Marionette melakukan hal gila. Isabela tidak sabar melihat ekspresi suaminya begitu ia datang bersama seorang pria lain. Sesampainya di kediamannya Marquess Roswell, Isabella mengajak Aldrich untuk segera turun dan berjalan masuk ke dalam rumah megahnya. “Di mana Tuan Marquess?” tanya Isabella pada seorang pelayan. “Beliau ada di ruangan pribadinya, Nyonya.” Isabella berjalan menuju ke sebuah ruangan. Di belakangnya, Aldrich berjalan mengikutinya dengan tenang. Sampai Isabella tiba di depan sebuah ruangan dan ia membuka pintu ruangan itu. Pemandangan yang pertama kali menyambut kedatangannya adalah melihat suaminya berciuman mesra bersama dengan selirnya. “Oh, Nyonya Marchioness!” Natalie terkejut dengan kemunculan Isabella di sana. Caspian Roswell berdecak kesal menatapnya dan menjauh dari Natalie. “Di mana sopan santunmu, kenapa kau tidak mengetuk pintu?” bentak laki-laki itu pada Isabella. Lalu, pandangan Caspian tertuju pada pria tampan yang berdiri di belakang Isabella. “Siapa pria yang kau bawa, Isabella?” Isabella tersenyum. “Kenapa? Tampan, bukan?” Rahang Caspian mengeras dan matanya melotot lebar. “Jangan main-main, siapa pria ini?!” “Saya Aldrich Constantine ... Kekasih Nyonya Marquess Isabella,” jawab Aldrich dengan bangga. Pria itu mendekati Isabella dan merangkulnya dengan mesra. Isabella sempat terkejut, pria ini begitu cepat meresponnya dan bekerja dengan baik. Isabella dibuat kesenangan oleh aktingnya. “Bagaimana, Marquess Roswell? Kami, juga serasi, bukan?” Isabella dengan sengaja mengejek suaminya. Tawa sumbang menggema di dalam ruangan itu. Caspian menggelengkan kepalanya pelan, namun tidak bisa berbohong ekspresi kesal di wajahnya. Caspian berjalan mendekati Isabella dan mendekatkan wajahnya di hadapan istrinya tersebut. “Kau ... membawa pria ini karena kau sakit hati aku membawa Natalie ke rumah ini?” tanyanya dengan suara mencemooh. Isabella membalasnya dengan senyuman tipis. Wanita cantik itu mengangguk. “Tentu. Karena, bukan kau saja yang bisa melakukan hal gila. Kalau kau ingin memiliki dua istri, maka aku juga bisa, memiliki dua suami!”Sudah beberapa hari berlalu Isabella tidak kunjung pulang sekalipun di hari ulang tahun Caspian yang kini digelar dengan pesta makan malam di kediaman Marquess Roswell. Dihadiri oleh para rekan bisnis sekaligus para tamu para bangsawan Salatine. Para wanita tamu undangan saling berbisik terlihat mencari-cari di mana Marchioness. “Lady Natalie, mengapa saya tidak melihat Marchioness? Ke mana beliau?” Pertanyaan terucap dari bibir seorang wanita yang berdiri di samping Natalie. Satu wanita di sampingnya menyahuti, “Sekalipun Marchioness memiliki kekasih baru, tapi rasanya tidak sopan bila di ulang tahun suami sahnya dia tidak datang.” Natalie tersenyum kaku. “Sebenarnya, setelah malam pesta waktu itu, Marchioness Isabella pergi dengan kekasihnya entah ke mana. Tuan Marquess Roswell sangat kepikiran tentang keberadaan Marchioness. Tapi sepertinya, beliau memang mengejar kekasihnya.” “Aku baru tahu kalau Marchioness Isabella memiliki seorang kekasih. Padahal selama ini, dia tidak
Beberapa hari kemudian. “Berkas ini berisi akta pernikahan Anda dan Sir Aldrich, Nyonya Marchioness.” Wanita bergaun merah itu duduk menyilangkan kakinya di dalam sebuah rumah berlantai dua yang berada cukup jauh dari kota Salatine. Setelah beberapa hari Isabella dan Aldrich pergi dari kediaman Marquess Roswell, sejak saat itu Isabella mencari cara untuk melakukan pernikahan dengan Aldrich, meskipun bukan pernikahan resmi, tetapi pernikahan yang hanya bisa menjadi tameng dan perlindungan untuk Isabella sampai ia bisa terlepas dan bercerai dari Caspian. Hingga Aldrich membantunya dengan cara menyewa seorang pemalsu dokumen profesional, untuk membuatkan akta pernikahan palsu. “Berkas ini sangat mirip akta pernikahan yang asli,” ucap Isabella membukanya. “Anda sangat hebat, Tuan Dillard.” Pria berambut putih di hadapannya itu hanya tersenyum sambil mengangguk. “Ya, saya sudah menyesuaikan dengan baik,” jawabnya. “Dibandingkan Anda menyewa pejabat palsu sebagai registrar
“Apa yang kau katakan, Marchioness!” Teriakan keras Caspian menggema di dalam ruangan pesta. Situasi ini menjadi sangat menegangkan. Caspian berjalan tegas ke arah Isabella. Kilatan amarah di kedua matanya penuh yang siap meledak. Tindakan Isabella yang membuatnya sangat malu di depan para tamu. “Kau sudah gila dengan apa yang kau lontarkan barusan?” Tidak kira-kira, Caspian menegur istrinya di hadapan semua orang. Isabella menggeleng pelan. Wajahnya datar seperti tak tersentuh. “Aku ingin kita setara dalam hal apapun. Kau tidak pernah mencintaiku selama ini, tapi kau justru mengutamakan simpananmu!” Setajam pisau sorot Isabella tertuju pada Natalie yang gemetaran. “Jadi, aku pun juga menginginkan cinta dari pria lain. Sama sepertimu.” “Tidak, aku tidak memberikanmu hak untuk berhubungan dengan pria ini!” Caspian menatap tajam Aldrich yang merangkul pundak Isabella. “Sama seperti yang kau ucapkan padaku, Caspian. Kau juga tidak berhak melarangku. Bahkan bertahun-t
Isabella membawa Aldrich masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu itu dengan rapat. Ia memutar tubuhnya menatap Aldrich yang berdiri di belakangnya. “Kau benar-benar tidak dipukul oleh Caspian?” tanya Isabella lagi. “...tidak, Nyonya,” jawabnya tenang. Isabella mengelus dadanya lega. “Syukurlah.” “Nyonya mengkhawatirkan saya?” “Tentu saja!” pekik Isabella dengan nada sedikit meninggi. “Kau adalah pria yang aku sewa, bukan milikku. Bila terjadi sesuatu padamu, aku pasti akan bertanggung jawab penuh.” Aldrich mendekat, jaraknya yang semakin dekat dengan Isabella. Wanita cantik bergaun biru tua itu membeku seperti es memasang Aldrich dengan linglung. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, Isabella merasakan tubuhnya menggigil saat telapak tangan Aldrich menyentuh pipinya. “Saya merasa senang, karena telah memiliki seorang Nyonya yang baik seperti Anda,” ucapnya. Tangan hangat milik Aldrich seperti mengandung bubuk sihir yang membuat Isabella membeku di tempat.
Beberapa hari kemudian. Pesta musim panas selalu diselenggarakan di kediaman Marquess Roswell. Tapi pesta tahun ini berbeda dari biasanya. Sebelum pesta digelar esok hari, pagi ini Isabella melihat banyak hadiah-hadiah yang datang. Isabella memperhatikan Natalie yang kegirangan saat para pelayan membawakan beberapa hadiah ke dalam kamarnya. “Dari mana dia mendapatkan banyak hadiah itu, Mrs. Dyster?” tanya Isabella pada pelayan setianya. Wanita setengah umur itu tampak ragu, lalu dia berkata, “Semua hadiah itu datang dari Keluarga Marquess terdahulu, Nyonya. Mereka mengirimkan banyak hadiah musim panas untuk Lady Natalie. Terlebih lagi, orang tua Tuan Marquess Caspian tahu kalau Lady Natalie saat ini sedang hamil. Jadi, mereka sangat perhatian.” Isabella tetap diam membeku di tempat. Pemandangan ini mengingatkan ia saat masih pertama kalinya menjadi istri Caspian. Isabella menerima banyak hadiah dari keluarga suaminya, saat ia hamil anak pertamanya, namun keguguran, hingga
Setelah mengenalkan Aldrich pada suaminya, Isabella menarik Aldrich untuk kembali ikut bersamanya ke dalam ruangan pribadi Isabella. Wajah Isabella tampak pucat saat masuk ke dalam ruangan pribadinya. Aldrich tersenyum samar melihat raut itu. “Apakah Anda menyesal?” tanya Aldrich, memperhatikan wajah wanita itu. Isabella tersenyum kecut. “Tidak sama sekali." Wanita itu meraih kertas dan sebuah pena bulu di atas mejanya. Lalu, Isabella menarik tangan Aldrich yang memerintahnya untuk duduk di sebuah kursi. “Tanda tangani perjanjian ini, Aldrich,” perintahnya “...perjanjian?” “Iya. Aku ingin kau menjadi kekasihku, atau kau bersikap seakan-akan kau pria yang siap untuk menjadi suami keduaku. Jangan ragu kalau kau ingin berkontak fisik denganku, apalagi di hadapan Caspian!” Isabella menjabarkan isi perjanjiannya pada Aldrich. Pria berambut hitam itu meraih pena bulu di sampingnya. Namun, belum sempat ujung pena itu menyentuh kertas, Aldrich menatap Isabella dalam-dal