LOGINBeberapa hari kemudian.
“Berkas ini berisi akta pernikahan Anda dan Sir Aldrich, Nyonya Marchioness.” Wanita bergaun merah itu duduk menyilangkan kakinya di dalam sebuah rumah berlantai dua yang berada cukup jauh dari kota Salatine. Setelah beberapa hari Isabella dan Aldrich pergi dari kediaman Marquess Roswell, sejak saat itu Isabella mencari cara untuk melakukan pernikahan dengan Aldrich, meskipun bukan pernikahan resmi, tetapi pernikahan yang hanya bisa menjadi tameng dan perlindungan untuk Isabella sampai ia bisa terlepas dan bercerai dari Caspian. Hingga Aldrich membantunya dengan cara menyewa seorang pemalsu dokumen profesional, untuk membuatkan akta pernikahan palsu. “Berkas ini sangat mirip akta pernikahan yang asli,” ucap Isabella membukanya. “Anda sangat hebat, Tuan Dillard.” Pria berambut putih di hadapannya itu hanya tersenyum sambil mengangguk. “Ya, saya sudah menyesuaikan dengan baik,” jawabnya. “Dibandingkan Anda menyewa pejabat palsu sebagai registrar pernikahan, alangkah lebih baiknya bila Anda sejak awal memalsukan dokumen saja. Ini jauh lebih sedikit beresiko, apalagi Anda adalah orang yang terkenal.” Dari arah lantai dua Aldrich muncul dan berjalan ke arah ruangan tempat Isabella dan Tuan Dillard—sang pemalsu dokumen profesional. Pria tua itu menatap lekat sosok Aldrich saat pria tampan berambut hitam itu duduk di samping Isabella dan meminta berkas yang Isabella pegang. “Sepertinya, saya tidak asing dengan Sir Aldrich,” ucap Tuan Dillard menyipitkan kedua matanya. “Di mana Anda melihat saya?” Aldrich menjawabnya dengan suara dominan. “Entahlah, hanya saja terasa seperti pernah melihat,” jawabnya. Isabella terkekeh mendengar ucapan Tuan Dillard barusan. “Suami palsuku ini, memang memiliki wajah pasaran, Tuan Dillard.” Kekehan renyah keluar dari bibir pria tua itu, yang terus berbincang dengan Isabella. Sementara Aldrich menatapi akta pernikahannya dengan Isabella. Meskipun akta itu palsu, tetapi kedepannya mereka juga harus menjalani kehidupan selayaknya suami istri yang sah. Beberapa menit berlalu, Tuan Dillard berpamitan pergi. Isabella dan Aldrich masih berada di dalam ruang tamu di dalam rumah yang mereka sewa. Isabella tersenyum senang menatap berkas yang ia pegang. Menyadari, ia punya kekuatan baru untuk menentang Caspian kedepannya tanpa mengusik mereka. “Marchioness,” panggil Aldrich sambil menatapnya. “...ya?” Isabella menoleh. “Setahu saya, di Salatine tidak diperbolehkan seorang suami memiliki dua istri,” ujar Aldrich. “Begitupun sebaliknya.” “Kau benar. Tapi, di sini memperbolehkan seorang suami menikah lagi bila istri pertamanya tidak bisa memberikan keturunan,” jelas Isabella. “Sekarang aku sadar, betapa Caspian ingin menikahi Natalie sejak dulu, hingga dia sengaja membuatku keguguran saat itu.” “Lalu bagaimana dengan Anda, dan pernikahan kedua ini?” tanya Aldrich, ia penasaran dengan penjelasan Isabella. “Bagaimana kalau masyarakat menilai pernikahan kita bertentangan?” Isabella terkekeh. “Aldrich, di Salatine, siapa yang paling berkuasa dan memiliki kedudukan sosialita yang tinggi, maka dia bebas untuk melakukan apapun. Karena aku juga wanita dari kelas sosial tinggi, sekaligus salah satu pewaris dari dua penguasa perusahaan otomotif yang membuat Kota Salatine berkembang maju secara pesat. Jadi, kau jangan khawatir.” Aldrich bergeming memandangnya. Tidak sepatah katapun keluar dari bibir pria itu. Wanita itu menepuk pipi Aldrich dengan pelan. “Toh, ini hanya akta palsu.” “Saya pikir, Anda benar-benar akan menikahi saya,” ujar Aldrich sambil tersenyum tipis. “Aku bisa mati berdiri kalau kau ternyata tidak jauh berbeda dengan Caspian,” jawabnya gurau. Mendengar ucapan itu membuat keduanya pun tertawa kecil dengan gelengan kepala beberapa kali. Ia merangkul pundak Isabella dan meletakkan dagunya di pundak kecil wanita cantik itu. “Meskipun pernikahan ini palsu, Anda tetap istri saya.” Aldrich berbisik dengan remang. Isabella meliriknya dengan wajah gembira. “Tentu saja, kau adalah suamiku, dan aku adalah istrimu. Jadi, saat kita kembali ke kediaman Roswell nanti, jangan sungkan-sungkan untuk bermesraan denganku.” Aldrich mengangguk. Iris birunya yang kelam seperti menenggelamkan Isabella dalam pesonanya. “Saya senang mendengarnya, Nyonya,” ucap Aldrich. Isabella tersenyum gemas menyandarkan kepalanya pada dada lebar milik Aldrich. Ia merasa beruntung mendapatkan suami kedua yang tampan, gagah, dan mudah diajak bekerja sama. Saat ulang tahun Caspian tiba, beberapa hari lagi, Isabella akan kembali pulang membawa Aldrich sebagai suaminya, dan memamerkannya pada semua orang atas status barunya bersuami dua. Isabella juga masih memiliki kuasa atas kepemilikan kediaman megah milik Marquess Roswell. Hingga ia tidak ingin meninggalkan rumah itu begitu saja. **** Kediaman Marquess Roswell. “Sayang, sudah beberapa hari ini kau terlihat sering marah. Mengapa?” Suara halus Natalie terdengar, gadis itu berdiri dan merangkul suaminya yang duduk di depan meja kerja. Membiarkan pekerjaan menimbun dan tak satupun disentuh oleh Caspian. “Aku baik-baik saja, Natalie.” Caspian menjawabnya datar. Ia mengacak rambutnya seolah menunjukkan dia sedang pusing. Natalie cemberut melihat Caspian tidak memanjakannya seperti biasa. Gadis itu menatapnya dengan ekspresi tidak senang. “Kau pasti memikirkan Marchioness Isabella kan?” tanyanya. “Tidak,” jawabnya. “Untuk apa aku memikirkan wanita gila itu!” Senyuman manis terbit di bibir Natalie begitu mendengar jawaban Caspian. “Syukurlah kalau kau tidak memikirkannya. Aku yakin bila Marchioness saat ini tidak akan memikirkanmu. Jadi, ayo kita bersenang-senang saja. Ayo, Sayang.” Natalie menarik lengan Caspian dan diajaknya pergi jalan-jalan di sekitar taman rumah. Caspian bangun dari duduknya mengikuti Natalie berjalan keluar mendahuluinya. Saat mereka berjalan melewati ruangan kerja milik Isabella, di dalam ruangan itu Caspian menatapnya lekat. Biasanya, Isabella duduk di sana sibuk dengan berkas-berkasnya. Tetapi sekarang ruangan itu kosong dan senyap. Caspian menyugar rambutnya dan mendesah kasar, “Sial! Ke mana bajingan itu membawa Isabella?! Apa yang Isabella lakukan di belakangku dengan pria itu?” dengkusnya. “Aku tidak bisa membiarkan Isabella dan pria bajingan itu untuk terus bersama!”Sudah beberapa hari berlalu Isabella tidak kunjung pulang sekalipun di hari ulang tahun Caspian yang kini digelar dengan pesta makan malam di kediaman Marquess Roswell. Dihadiri oleh para rekan bisnis sekaligus para tamu para bangsawan Salatine. Para wanita tamu undangan saling berbisik terlihat mencari-cari di mana Marchioness. “Lady Natalie, mengapa saya tidak melihat Marchioness? Ke mana beliau?” Pertanyaan terucap dari bibir seorang wanita yang berdiri di samping Natalie. Satu wanita di sampingnya menyahuti, “Sekalipun Marchioness memiliki kekasih baru, tapi rasanya tidak sopan bila di ulang tahun suami sahnya dia tidak datang.” Natalie tersenyum kaku. “Sebenarnya, setelah malam pesta waktu itu, Marchioness Isabella pergi dengan kekasihnya entah ke mana. Tuan Marquess Roswell sangat kepikiran tentang keberadaan Marchioness. Tapi sepertinya, beliau memang mengejar kekasihnya.” “Aku baru tahu kalau Marchioness Isabella memiliki seorang kekasih. Padahal selama ini, dia tidak
Beberapa hari kemudian. “Berkas ini berisi akta pernikahan Anda dan Sir Aldrich, Nyonya Marchioness.” Wanita bergaun merah itu duduk menyilangkan kakinya di dalam sebuah rumah berlantai dua yang berada cukup jauh dari kota Salatine. Setelah beberapa hari Isabella dan Aldrich pergi dari kediaman Marquess Roswell, sejak saat itu Isabella mencari cara untuk melakukan pernikahan dengan Aldrich, meskipun bukan pernikahan resmi, tetapi pernikahan yang hanya bisa menjadi tameng dan perlindungan untuk Isabella sampai ia bisa terlepas dan bercerai dari Caspian. Hingga Aldrich membantunya dengan cara menyewa seorang pemalsu dokumen profesional, untuk membuatkan akta pernikahan palsu. “Berkas ini sangat mirip akta pernikahan yang asli,” ucap Isabella membukanya. “Anda sangat hebat, Tuan Dillard.” Pria berambut putih di hadapannya itu hanya tersenyum sambil mengangguk. “Ya, saya sudah menyesuaikan dengan baik,” jawabnya. “Dibandingkan Anda menyewa pejabat palsu sebagai registrar
“Apa yang kau katakan, Marchioness!” Teriakan keras Caspian menggema di dalam ruangan pesta. Situasi ini menjadi sangat menegangkan. Caspian berjalan tegas ke arah Isabella. Kilatan amarah di kedua matanya penuh yang siap meledak. Tindakan Isabella yang membuatnya sangat malu di depan para tamu. “Kau sudah gila dengan apa yang kau lontarkan barusan?” Tidak kira-kira, Caspian menegur istrinya di hadapan semua orang. Isabella menggeleng pelan. Wajahnya datar seperti tak tersentuh. “Aku ingin kita setara dalam hal apapun. Kau tidak pernah mencintaiku selama ini, tapi kau justru mengutamakan simpananmu!” Setajam pisau sorot Isabella tertuju pada Natalie yang gemetaran. “Jadi, aku pun juga menginginkan cinta dari pria lain. Sama sepertimu.” “Tidak, aku tidak memberikanmu hak untuk berhubungan dengan pria ini!” Caspian menatap tajam Aldrich yang merangkul pundak Isabella. “Sama seperti yang kau ucapkan padaku, Caspian. Kau juga tidak berhak melarangku. Bahkan bertahun-t
Isabella membawa Aldrich masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu itu dengan rapat. Ia memutar tubuhnya menatap Aldrich yang berdiri di belakangnya. “Kau benar-benar tidak dipukul oleh Caspian?” tanya Isabella lagi. “...tidak, Nyonya,” jawabnya tenang. Isabella mengelus dadanya lega. “Syukurlah.” “Nyonya mengkhawatirkan saya?” “Tentu saja!” pekik Isabella dengan nada sedikit meninggi. “Kau adalah pria yang aku sewa, bukan milikku. Bila terjadi sesuatu padamu, aku pasti akan bertanggung jawab penuh.” Aldrich mendekat, jaraknya yang semakin dekat dengan Isabella. Wanita cantik bergaun biru tua itu membeku seperti es memasang Aldrich dengan linglung. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, Isabella merasakan tubuhnya menggigil saat telapak tangan Aldrich menyentuh pipinya. “Saya merasa senang, karena telah memiliki seorang Nyonya yang baik seperti Anda,” ucapnya. Tangan hangat milik Aldrich seperti mengandung bubuk sihir yang membuat Isabella membeku di tempat.
Beberapa hari kemudian. Pesta musim panas selalu diselenggarakan di kediaman Marquess Roswell. Tapi pesta tahun ini berbeda dari biasanya. Sebelum pesta digelar esok hari, pagi ini Isabella melihat banyak hadiah-hadiah yang datang. Isabella memperhatikan Natalie yang kegirangan saat para pelayan membawakan beberapa hadiah ke dalam kamarnya. “Dari mana dia mendapatkan banyak hadiah itu, Mrs. Dyster?” tanya Isabella pada pelayan setianya. Wanita setengah umur itu tampak ragu, lalu dia berkata, “Semua hadiah itu datang dari Keluarga Marquess terdahulu, Nyonya. Mereka mengirimkan banyak hadiah musim panas untuk Lady Natalie. Terlebih lagi, orang tua Tuan Marquess Caspian tahu kalau Lady Natalie saat ini sedang hamil. Jadi, mereka sangat perhatian.” Isabella tetap diam membeku di tempat. Pemandangan ini mengingatkan ia saat masih pertama kalinya menjadi istri Caspian. Isabella menerima banyak hadiah dari keluarga suaminya, saat ia hamil anak pertamanya, namun keguguran, hingga
Setelah mengenalkan Aldrich pada suaminya, Isabella menarik Aldrich untuk kembali ikut bersamanya ke dalam ruangan pribadi Isabella. Wajah Isabella tampak pucat saat masuk ke dalam ruangan pribadinya. Aldrich tersenyum samar melihat raut itu. “Apakah Anda menyesal?” tanya Aldrich, memperhatikan wajah wanita itu. Isabella tersenyum kecut. “Tidak sama sekali." Wanita itu meraih kertas dan sebuah pena bulu di atas mejanya. Lalu, Isabella menarik tangan Aldrich yang memerintahnya untuk duduk di sebuah kursi. “Tanda tangani perjanjian ini, Aldrich,” perintahnya “...perjanjian?” “Iya. Aku ingin kau menjadi kekasihku, atau kau bersikap seakan-akan kau pria yang siap untuk menjadi suami keduaku. Jangan ragu kalau kau ingin berkontak fisik denganku, apalagi di hadapan Caspian!” Isabella menjabarkan isi perjanjiannya pada Aldrich. Pria berambut hitam itu meraih pena bulu di sampingnya. Namun, belum sempat ujung pena itu menyentuh kertas, Aldrich menatap Isabella dalam-dal