MasukBeberapa hari kemudian.
Pesta musim panas selalu diselenggarakan di kediaman Marquess Roswell. Tapi pesta tahun ini berbeda dari biasanya. Sebelum pesta digelar esok hari, pagi ini Isabella melihat banyak hadiah-hadiah yang datang. Isabella memperhatikan Natalie yang kegirangan saat para pelayan membawakan beberapa hadiah ke dalam kamarnya. “Dari mana dia mendapatkan banyak hadiah itu, Mrs. Dyster?” tanya Isabella pada pelayan setianya. Wanita setengah umur itu tampak ragu, lalu dia berkata, “Semua hadiah itu datang dari Keluarga Marquess terdahulu, Nyonya. Mereka mengirimkan banyak hadiah musim panas untuk Lady Natalie. Terlebih lagi, orang tua Tuan Marquess Caspian tahu kalau Lady Natalie saat ini sedang hamil. Jadi, mereka sangat perhatian.” Isabella tetap diam membeku di tempat. Pemandangan ini mengingatkan ia saat masih pertama kalinya menjadi istri Caspian. Isabella menerima banyak hadiah dari keluarga suaminya, saat ia hamil anak pertamanya, namun keguguran, hingga berulang sampai ketiga kalinya. Sehingga Isabella merasa enggan untuk mengingat masa-masa itu lagi. “Oh ya, Mrs. Dysen, jangan lupakan untuk menghidangkan macaron dan scone dalam hidangan pesta malam nanti. Karena itu dia makanan manis yang disukai oleh Natalie,” kata Isabella mengingatkan pelayan setianya lagi. Embusan napas kasar terdengar dari wanita setengah umur di samping Isabella itu. “Mengapa Nyonya sangat perhatian padanya?” Kata-kata Mrs. Dyster seperti protesan kecil. “Aku hanya melakukan tugasku, sebagai seorang Nyonya di rumah ini, Mrs. Dysen. Jadi, kalau kau menganggap aku perhatian dan sayang pada Natalie, maka kau salah paham,” jelas Isabella pada wanita itu. Seketika Mrs. Dysen merasa lega. Isabella merasa gamang saat beberapa jam lagi menuju waktu pesta akan digelar. Wanita itu mengalihkan tatapannya ke arah depan, di mana Jestin terlihat sibuk dengan tumpukan berkas-berkas di ruangan pribadi Isabella. Biasanya, setelah Aldrich menjadi pria bayarannya, pria itu ada di sana membantu Jestin. Awalnya, Aldrich sangat diragukan oleh Jestin, tapi ternyata pria bayarannya itu sedikit lebih pintar dari yang ia bayangkan. “Kapan kau kembali, Aldrich? Katanya hanya pergi sebentar ... apa, dia tidak akan kembali?” Suara lirih Isabella yang masih bisa didengar telinga. Entah bertanya pada siapa. Isabella memegangi keningnya. Tiba-tiba ia merasa sangat pusing. “Nyonya baik-baik saja?” Dysen menyentuh lengan Isabella. “Aku baik-baik saja,” jawab Isabella. Saat Isabella dan Mrs. Dysen hendak beranjak pergi, tiba-tiba saja Natalie muncul menyapa mereka. “Nyonya Marquess…” Gadis itu tersenyum berseri-seri mendekatinya. Isabella pun tersenyum, meskipun tidak se-ria gadis di hadapannya itu. “...ada apa?” Isabella menatapnya. “Saya ingin berterima kasih, karena Anda sudah menyiapkan pesta untuk kehamilan saya. Anak Tuan Marquess yang ada di dalam perut saat saat ini pasti sangat bahagia,” ujar gadis itu tersenyum manis. Natalie memeluk salah satu kotak hadiah yang ia bawa. “Saya juga mendapatkan banyak hadiah dari Keluarga Marquess Roswell. Apakah Nyonya yang tidak hamil mendapatkan hadiah juga?” Isabella melipat tangannya di dada dan menunduk menatap rendah gadis itu. “Sayangnya, aku bukan bocah yang bahagia hanya dengan mendapatkan hadiah,” balas Isabella telak. “Oh, ma-maksud saya—” Isabella tahu apa maksud gadis itu. “Kau tidak perlu membandingkan dirimu dan aku, Natalie. Karena, aku dan kau tidak akan pernah setara dalam hal apapun. Meskipun kita menjadi istri dari satu pria yang sama. Kau, bukan siapa-siapa untukku!” Ucapan Isabella membuat Natalie membeku di tempat tanpa sempat memberikan jawaban atau pembelaan. Isabella yang tak peduli, ia meninggalkan Natalie dan berjalan pergi bersama Dysen, daripada harus menanggapi gadis menyebalkan itu. **** Aldrich berjalan masuk ke kediaman Marquess Roswell, setelah pergi untuk sebuah kepentingan selama beberapa jam lamanya. Begitu Aldrich berjalan di lorong samping, di sana ia melihat Caspian Roswell berdiri menatapnya.Dengan tenang Aldrich melewati pria itu begitu saja. Seolah-olah ia tidak melihat Caspian di sana.
“Sebenarnya, dibayar berapa kau oleh istriku untuk menjadi kekasih pura-puranya?” tanya Caspian penasaran.
Langkah Aldrich langsung terhenti di tempat, memutar tubuhnya lalu perlahan mendekati Caspian.
Caspian tanpa sadar menelan ludah dan bergerak mundur. Ada aura dominasi dan intimidasi yang menguar dari pria bayaran ini yang tiba-tiba menyergapnya. Caspian berpikir, mengapa pria rendahan seperti orang ini bisa membuatnya menciut?
Namun, ia tidak boleh kalah. Caspian mengangkat kedua tangannya di depan dada, untuk menghentikan Aldrich. "Berhenti di sana. Menjauh dariku. Dasar tidak tahu etika!"
Adrich hanya tersenyum tipis, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Katakan padaku!" Dagu Caspian terangkat, berusaha melawan intimidasi Aldrich. "Dibayar berapa oleh istriku? Kau tuli?"
Di satu sisi Caspian tampak tidak peduli pada Isabella. Tapi begitu ada pria lain di sebelahnya, Caspian merasa tidak suka.
Satu sudut bibir Aldrich terangkat. “Sangat mahal. Sampai saya tidak sanggup menerima upahnya." “Cih,” decih Caspian. “Katakan saja, berapa dia membayarmu. Aku akan menggantikannya sepuluh kali lipat, asal kau pergi dan tinggalkan istriku!” Aldrich kembali berjalan mendekati Caspian. “Tidak bisa. Tuan saya adalah Nyonya Isabella, bukan Anda. Seribu kali pun Anda memerintah saya ... saya tidak akan beranjak dari sisi beliau.” “Beraninya kau denganku, Pria rendahan!” Caspian mengepalkan tangannya dan menarik kerah jas yang Aldrich pakai. Tangannya terangkat siap melayangkan kepalan tangannya. “Caspian! Apa yang kau lakukan?!” teriakan keras Isabella menggema di lorong itu. Wanita itu berlari mendekati Caspian dan Aldrich. Dengan cekatan, Isabella menarik lengan Aldrich dan menjauhkannya dari Caspian. Wajah Isabella tampak sangat panik. Ia menangkup kedua pipi Aldrich dengan jemari tangannya yang terasa gemetar dan dingin. “Kau tidak apa-apa? Kau tidak dipukul olehnya?” tanya Isabella. Aldrich tersenyum, ia meraih telapak tangan kanan Isabella dan mengecupnya dengan hangat. “Aku baik-baik saja, Sayang,” balas pria itu. Panggilan 'Sayang' yang terlontar dari mulut kekasih bayarannya, sukses membuat detak jantung Isabella menggila. Isabella langsung memeluknya dengan erat, kesempatan dan waktu yang tepat saat Caspian ada di hadapannya. “Apa-apaan kau, Isabella? Beraninya kau memeluk pria lain di depanku?” Suara Caspian terdengar dalam dan desis. Pelukan Isabella memudar perlahan-lahan pada tubuh Aldrich. “Kau yang apa-apaan?! Beraninya kau menyerang kekasihku, sedangkan aku tidak pernah melakukan apapun pada kekasihmu itu!” balas telak Isabella. “Sudahlah, Isabella.…” Aldrich berbisik lirih dan melingkarkan tangannya di pinggang Isabella. Isabella menatap Caspian penuh peringatan sampai akhirnya ia menegaskan, “Sekali lagi kau berani menyentuh kekasihku, aku tak akan memaafkanmu, Caspian!” Isabella menarik tangan Aldrich dan mengajaknya pergi dari lorong itu. Berbeda halnya dengan Caspian yang tak menyangka Isabella berpihak kekasihnya itu dengan pembelaan yang besar. Caspian kesal dibuatnya. “Beraninya kau menduakanku, Isabella!”Sudah beberapa hari berlalu Isabella tidak kunjung pulang sekalipun di hari ulang tahun Caspian yang kini digelar dengan pesta makan malam di kediaman Marquess Roswell. Dihadiri oleh para rekan bisnis sekaligus para tamu para bangsawan Salatine. Para wanita tamu undangan saling berbisik terlihat mencari-cari di mana Marchioness. “Lady Natalie, mengapa saya tidak melihat Marchioness? Ke mana beliau?” Pertanyaan terucap dari bibir seorang wanita yang berdiri di samping Natalie. Satu wanita di sampingnya menyahuti, “Sekalipun Marchioness memiliki kekasih baru, tapi rasanya tidak sopan bila di ulang tahun suami sahnya dia tidak datang.” Natalie tersenyum kaku. “Sebenarnya, setelah malam pesta waktu itu, Marchioness Isabella pergi dengan kekasihnya entah ke mana. Tuan Marquess Roswell sangat kepikiran tentang keberadaan Marchioness. Tapi sepertinya, beliau memang mengejar kekasihnya.” “Aku baru tahu kalau Marchioness Isabella memiliki seorang kekasih. Padahal selama ini, dia tidak
Beberapa hari kemudian. “Berkas ini berisi akta pernikahan Anda dan Sir Aldrich, Nyonya Marchioness.” Wanita bergaun merah itu duduk menyilangkan kakinya di dalam sebuah rumah berlantai dua yang berada cukup jauh dari kota Salatine. Setelah beberapa hari Isabella dan Aldrich pergi dari kediaman Marquess Roswell, sejak saat itu Isabella mencari cara untuk melakukan pernikahan dengan Aldrich, meskipun bukan pernikahan resmi, tetapi pernikahan yang hanya bisa menjadi tameng dan perlindungan untuk Isabella sampai ia bisa terlepas dan bercerai dari Caspian. Hingga Aldrich membantunya dengan cara menyewa seorang pemalsu dokumen profesional, untuk membuatkan akta pernikahan palsu. “Berkas ini sangat mirip akta pernikahan yang asli,” ucap Isabella membukanya. “Anda sangat hebat, Tuan Dillard.” Pria berambut putih di hadapannya itu hanya tersenyum sambil mengangguk. “Ya, saya sudah menyesuaikan dengan baik,” jawabnya. “Dibandingkan Anda menyewa pejabat palsu sebagai registrar
“Apa yang kau katakan, Marchioness!” Teriakan keras Caspian menggema di dalam ruangan pesta. Situasi ini menjadi sangat menegangkan. Caspian berjalan tegas ke arah Isabella. Kilatan amarah di kedua matanya penuh yang siap meledak. Tindakan Isabella yang membuatnya sangat malu di depan para tamu. “Kau sudah gila dengan apa yang kau lontarkan barusan?” Tidak kira-kira, Caspian menegur istrinya di hadapan semua orang. Isabella menggeleng pelan. Wajahnya datar seperti tak tersentuh. “Aku ingin kita setara dalam hal apapun. Kau tidak pernah mencintaiku selama ini, tapi kau justru mengutamakan simpananmu!” Setajam pisau sorot Isabella tertuju pada Natalie yang gemetaran. “Jadi, aku pun juga menginginkan cinta dari pria lain. Sama sepertimu.” “Tidak, aku tidak memberikanmu hak untuk berhubungan dengan pria ini!” Caspian menatap tajam Aldrich yang merangkul pundak Isabella. “Sama seperti yang kau ucapkan padaku, Caspian. Kau juga tidak berhak melarangku. Bahkan bertahun-t
Isabella membawa Aldrich masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu itu dengan rapat. Ia memutar tubuhnya menatap Aldrich yang berdiri di belakangnya. “Kau benar-benar tidak dipukul oleh Caspian?” tanya Isabella lagi. “...tidak, Nyonya,” jawabnya tenang. Isabella mengelus dadanya lega. “Syukurlah.” “Nyonya mengkhawatirkan saya?” “Tentu saja!” pekik Isabella dengan nada sedikit meninggi. “Kau adalah pria yang aku sewa, bukan milikku. Bila terjadi sesuatu padamu, aku pasti akan bertanggung jawab penuh.” Aldrich mendekat, jaraknya yang semakin dekat dengan Isabella. Wanita cantik bergaun biru tua itu membeku seperti es memasang Aldrich dengan linglung. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, Isabella merasakan tubuhnya menggigil saat telapak tangan Aldrich menyentuh pipinya. “Saya merasa senang, karena telah memiliki seorang Nyonya yang baik seperti Anda,” ucapnya. Tangan hangat milik Aldrich seperti mengandung bubuk sihir yang membuat Isabella membeku di tempat.
Beberapa hari kemudian. Pesta musim panas selalu diselenggarakan di kediaman Marquess Roswell. Tapi pesta tahun ini berbeda dari biasanya. Sebelum pesta digelar esok hari, pagi ini Isabella melihat banyak hadiah-hadiah yang datang. Isabella memperhatikan Natalie yang kegirangan saat para pelayan membawakan beberapa hadiah ke dalam kamarnya. “Dari mana dia mendapatkan banyak hadiah itu, Mrs. Dyster?” tanya Isabella pada pelayan setianya. Wanita setengah umur itu tampak ragu, lalu dia berkata, “Semua hadiah itu datang dari Keluarga Marquess terdahulu, Nyonya. Mereka mengirimkan banyak hadiah musim panas untuk Lady Natalie. Terlebih lagi, orang tua Tuan Marquess Caspian tahu kalau Lady Natalie saat ini sedang hamil. Jadi, mereka sangat perhatian.” Isabella tetap diam membeku di tempat. Pemandangan ini mengingatkan ia saat masih pertama kalinya menjadi istri Caspian. Isabella menerima banyak hadiah dari keluarga suaminya, saat ia hamil anak pertamanya, namun keguguran, hingga
Setelah mengenalkan Aldrich pada suaminya, Isabella menarik Aldrich untuk kembali ikut bersamanya ke dalam ruangan pribadi Isabella. Wajah Isabella tampak pucat saat masuk ke dalam ruangan pribadinya. Aldrich tersenyum samar melihat raut itu. “Apakah Anda menyesal?” tanya Aldrich, memperhatikan wajah wanita itu. Isabella tersenyum kecut. “Tidak sama sekali." Wanita itu meraih kertas dan sebuah pena bulu di atas mejanya. Lalu, Isabella menarik tangan Aldrich yang memerintahnya untuk duduk di sebuah kursi. “Tanda tangani perjanjian ini, Aldrich,” perintahnya “...perjanjian?” “Iya. Aku ingin kau menjadi kekasihku, atau kau bersikap seakan-akan kau pria yang siap untuk menjadi suami keduaku. Jangan ragu kalau kau ingin berkontak fisik denganku, apalagi di hadapan Caspian!” Isabella menjabarkan isi perjanjiannya pada Aldrich. Pria berambut hitam itu meraih pena bulu di sampingnya. Namun, belum sempat ujung pena itu menyentuh kertas, Aldrich menatap Isabella dalam-dal