MasukIsabella membawa Aldrich masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu itu dengan rapat. Ia memutar tubuhnya menatap Aldrich yang berdiri di belakangnya.
“Kau benar-benar tidak dipukul oleh Caspian?” tanya Isabella lagi. “...tidak, Nyonya,” jawabnya tenang. Isabella mengelus dadanya lega. “Syukurlah.” “Nyonya mengkhawatirkan saya?” “Tentu saja!” pekik Isabella dengan nada sedikit meninggi. “Kau adalah pria yang aku sewa, bukan milikku. Bila terjadi sesuatu padamu, aku pasti akan bertanggung jawab penuh.” Aldrich mendekat, jaraknya yang semakin dekat dengan Isabella. Wanita cantik bergaun biru tua itu membeku seperti es memasang Aldrich dengan linglung. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, Isabella merasakan tubuhnya menggigil saat telapak tangan Aldrich menyentuh pipinya. “Saya merasa senang, karena telah memiliki seorang Nyonya yang baik seperti Anda,” ucapnya. Tangan hangat milik Aldrich seperti mengandung bubuk sihir yang membuat Isabella membeku di tempat. Sebelum ia tersadar dan tubuhnya tersentak. “O-oh, ya....” Isabella mundur perlahan, langsung memutar tubuhnya memunggungi Aldrich. Jemari tangannya meremas kuat rok gaun yang ia pakai. Isabella memejamkan kedua matanya sebentar. “Aldrich.” “...ya, Nyonya?” Aldrich berjalan dua langkah mendekati Isabella. Isabella memutar tubuhnya kembali menatap pria itu dengan tatapan penuh tekad. “Malam ini adalah perayaan pesta musim panas, sekaligus merayakan kehamilan Natalie dan pernikahan suamiku yang secara diam-diam." Rona wajahnya menunjukkan kekecewaan yang mendalam. Wanita itu mendongak menatap Aldrich yang menunggu ucapannya. “Aku ingin malam ini kau ikut hadir ke pesta ini sebagai pasanganku. Aku tidak peduli pada apa yang orang katakan tentangku,” ungkapnya serius. “Jadi ... tolong kerjasamanya.” Pria itu mengangguk dan menarik lengan Isabella secara tiba-tiba. Isabella terpana begitu Aldrich memeluknya. Pria itu meletakkan dagunya di pundak Isabella dan berbisik, “Malam ini, kita akan menjadi pasangan yang paling serasi, Nyonya Isabella.” Kata-kata Aldrich mampu menumbuhkan kembali rasa semangat dalam diri Isabella. Senyumannya perlahan timbul. Isabella mengangkat kedua tangannya membalas pelukan Aldrich dan untuk sesaat ia merasakan ketenangan bersama kekasih bayarannya ini. **** Malam pesta di kediaman Keluarga Marquez Roswell berlangsung meriah seperti tahun-tahun yang lalu. Para tamu bangsawan yang datang malam ini sedikit dibuat terkejut saat Marquess Caspian Roswell mengenalkan Natalie sebagai kekasihnya. Meskipun Caspian diam-diam telah menikahi Natalie, karena tujuan pribadi yang mendesak. Namun di depan banyak orang, ia menganggap Natalie hanya kekasih atau simpanan biasa. Akan tetapi, apapun status Natalie, tetap akan menebar gosip hangat di kalangan bangsawan. “Aku tidak menyangka, Tuan Marquess akan memiliki wanita lain. Padahal Marchioness Isabella adalah wanita yang sangat cantik di Salatine.” Saat seorang tamu menyebut nama Isabella. Semua orang tersadar bahwa Isabella tidak menampakkan dirinya di sana. Entah ke mana wanita itu. Simpang siur gosip dari para tamu mengatakan Isabella pasti sedang bersedih dan mengurung diri malam ini karena suaminya bersama wanita lain. “Kasihan sekali Marchioness Isabella, pasti saat ini dia sedang patah hati.” “Tetapi salahnya sendiri. Siapa suruh dia menggugurkan kandungannya. Itu hanya dilakukan oleh manusia yang tidak punya hati.” “Benar. Baru tahu rasa dia setelah suaminya memiliki wanita lain di sisinya.” Gunjingan para bangsawan terdengar di mana-mana. Ada yang merasa kasihan pada Isabella, ada juga yang merasa biasa saja karena rumor tentang Isabella yang keguguran karena disengaja beberapa bulan lalu, disebar dengan kejam oleh ibu mertuanya, Marchioness terdahulu—Rosalie Roswell. Akan tetapi, suara bising orang-orang itu terhenti saat seorang wanita dengan gaun biru gelap berjalan masuk ke dalam ruangan pesta. Semua orang tercengang, bukan hanya pada kecantikan seorang Marchioness Isabella, melainkan pada sosok pria tampan bertubuh gagah, yang berdiri di sampingnya bak pasangan serasi. Kemunculan mereka berhasil membuat Caspian dan Natalie terkejut, terlebih lagi Caspian melihat Isabella muncul bersama pria lain yang digandengnya dengan bangga. . Isabella dan Aldrich berjalan mendekati Caspian dan Natalie. “Selamat atas kehamilanmu, Natalie. Dan ... semoga calon pewaris itu bisa tumbuh dan lahir dengan sehat,” ucap Isabella. “Terima kasih, Nyonya,” jawab Natalie tersenyum manis. Gadis itu, sesekali dia melirik Aldrich yang diam merangkul Isabella dengan posesif. Kebisingan para tamu bangsawan yang datang membuat Caspian jengah. Pria itu menatap Isabella dengan penuh ancaman yang nyata. Namun, Isabella tidak mempedulikannya. “Nyonya Marchioness....” Seorang tamu memanggilnya. Dia adalah Countess Fristy—sang matchmaker terkenal di Kota Salatine. Langkah Isabella terhenti, ia menoleh menatap wanita bergaun merah itu. “Ya, Countess Fristy?” “Kalau boleh saya tahu, siapa pria tampan di samping Anda?” tanya wanita berambut keriting yang berdiri di hadapan Aldrich dan memasangnya dengan puas. Isabella memeluk lengan Aldrich dengan posesif, begitupun Aldrich melingkarkan tangannya di pinggang Isabella dengan posesif. Mereka saling bertatapan selama beberapa detik dan tersenyum. “Pria ini ... adalah calon suami keduaku, Aldrich Constantine,” ungkap Isabella di depan semua orang itu. “Apa?!” Semua orang memeluk tak percaya. Kebisingan langsung terjadi saat ini. Berbisik-bisik, bergosip, dan Isabella sudah kebal dengan semua itu. Isabella mengangkat wajahnya ke atas sana menatap setajam pedang pada Caspian dan Natalie yang sama-sama terkejut dengan pernyataan Isabella tang begitu tiba-tiba. Tetapi sekali lagi, Isabella tidak peduli sekalipun hal ini akan menjadi berita panas dan gosip yang menggelegar di esok hari. Isabella memandang tajam, dan juga tersenyum smirk pada Caspian yang menahan ledakan amarah. “Karena suamiku telah memiliki istri baru. Maka, aku tidak ingin kalah darinya. Aku juga, menginginkan seorang suami kedua!”Sudah beberapa hari berlalu Isabella tidak kunjung pulang sekalipun di hari ulang tahun Caspian yang kini digelar dengan pesta makan malam di kediaman Marquess Roswell. Dihadiri oleh para rekan bisnis sekaligus para tamu para bangsawan Salatine. Para wanita tamu undangan saling berbisik terlihat mencari-cari di mana Marchioness. “Lady Natalie, mengapa saya tidak melihat Marchioness? Ke mana beliau?” Pertanyaan terucap dari bibir seorang wanita yang berdiri di samping Natalie. Satu wanita di sampingnya menyahuti, “Sekalipun Marchioness memiliki kekasih baru, tapi rasanya tidak sopan bila di ulang tahun suami sahnya dia tidak datang.” Natalie tersenyum kaku. “Sebenarnya, setelah malam pesta waktu itu, Marchioness Isabella pergi dengan kekasihnya entah ke mana. Tuan Marquess Roswell sangat kepikiran tentang keberadaan Marchioness. Tapi sepertinya, beliau memang mengejar kekasihnya.” “Aku baru tahu kalau Marchioness Isabella memiliki seorang kekasih. Padahal selama ini, dia tidak
Beberapa hari kemudian. “Berkas ini berisi akta pernikahan Anda dan Sir Aldrich, Nyonya Marchioness.” Wanita bergaun merah itu duduk menyilangkan kakinya di dalam sebuah rumah berlantai dua yang berada cukup jauh dari kota Salatine. Setelah beberapa hari Isabella dan Aldrich pergi dari kediaman Marquess Roswell, sejak saat itu Isabella mencari cara untuk melakukan pernikahan dengan Aldrich, meskipun bukan pernikahan resmi, tetapi pernikahan yang hanya bisa menjadi tameng dan perlindungan untuk Isabella sampai ia bisa terlepas dan bercerai dari Caspian. Hingga Aldrich membantunya dengan cara menyewa seorang pemalsu dokumen profesional, untuk membuatkan akta pernikahan palsu. “Berkas ini sangat mirip akta pernikahan yang asli,” ucap Isabella membukanya. “Anda sangat hebat, Tuan Dillard.” Pria berambut putih di hadapannya itu hanya tersenyum sambil mengangguk. “Ya, saya sudah menyesuaikan dengan baik,” jawabnya. “Dibandingkan Anda menyewa pejabat palsu sebagai registrar
“Apa yang kau katakan, Marchioness!” Teriakan keras Caspian menggema di dalam ruangan pesta. Situasi ini menjadi sangat menegangkan. Caspian berjalan tegas ke arah Isabella. Kilatan amarah di kedua matanya penuh yang siap meledak. Tindakan Isabella yang membuatnya sangat malu di depan para tamu. “Kau sudah gila dengan apa yang kau lontarkan barusan?” Tidak kira-kira, Caspian menegur istrinya di hadapan semua orang. Isabella menggeleng pelan. Wajahnya datar seperti tak tersentuh. “Aku ingin kita setara dalam hal apapun. Kau tidak pernah mencintaiku selama ini, tapi kau justru mengutamakan simpananmu!” Setajam pisau sorot Isabella tertuju pada Natalie yang gemetaran. “Jadi, aku pun juga menginginkan cinta dari pria lain. Sama sepertimu.” “Tidak, aku tidak memberikanmu hak untuk berhubungan dengan pria ini!” Caspian menatap tajam Aldrich yang merangkul pundak Isabella. “Sama seperti yang kau ucapkan padaku, Caspian. Kau juga tidak berhak melarangku. Bahkan bertahun-t
Isabella membawa Aldrich masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu itu dengan rapat. Ia memutar tubuhnya menatap Aldrich yang berdiri di belakangnya. “Kau benar-benar tidak dipukul oleh Caspian?” tanya Isabella lagi. “...tidak, Nyonya,” jawabnya tenang. Isabella mengelus dadanya lega. “Syukurlah.” “Nyonya mengkhawatirkan saya?” “Tentu saja!” pekik Isabella dengan nada sedikit meninggi. “Kau adalah pria yang aku sewa, bukan milikku. Bila terjadi sesuatu padamu, aku pasti akan bertanggung jawab penuh.” Aldrich mendekat, jaraknya yang semakin dekat dengan Isabella. Wanita cantik bergaun biru tua itu membeku seperti es memasang Aldrich dengan linglung. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, Isabella merasakan tubuhnya menggigil saat telapak tangan Aldrich menyentuh pipinya. “Saya merasa senang, karena telah memiliki seorang Nyonya yang baik seperti Anda,” ucapnya. Tangan hangat milik Aldrich seperti mengandung bubuk sihir yang membuat Isabella membeku di tempat.
Beberapa hari kemudian. Pesta musim panas selalu diselenggarakan di kediaman Marquess Roswell. Tapi pesta tahun ini berbeda dari biasanya. Sebelum pesta digelar esok hari, pagi ini Isabella melihat banyak hadiah-hadiah yang datang. Isabella memperhatikan Natalie yang kegirangan saat para pelayan membawakan beberapa hadiah ke dalam kamarnya. “Dari mana dia mendapatkan banyak hadiah itu, Mrs. Dyster?” tanya Isabella pada pelayan setianya. Wanita setengah umur itu tampak ragu, lalu dia berkata, “Semua hadiah itu datang dari Keluarga Marquess terdahulu, Nyonya. Mereka mengirimkan banyak hadiah musim panas untuk Lady Natalie. Terlebih lagi, orang tua Tuan Marquess Caspian tahu kalau Lady Natalie saat ini sedang hamil. Jadi, mereka sangat perhatian.” Isabella tetap diam membeku di tempat. Pemandangan ini mengingatkan ia saat masih pertama kalinya menjadi istri Caspian. Isabella menerima banyak hadiah dari keluarga suaminya, saat ia hamil anak pertamanya, namun keguguran, hingga
Setelah mengenalkan Aldrich pada suaminya, Isabella menarik Aldrich untuk kembali ikut bersamanya ke dalam ruangan pribadi Isabella. Wajah Isabella tampak pucat saat masuk ke dalam ruangan pribadinya. Aldrich tersenyum samar melihat raut itu. “Apakah Anda menyesal?” tanya Aldrich, memperhatikan wajah wanita itu. Isabella tersenyum kecut. “Tidak sama sekali." Wanita itu meraih kertas dan sebuah pena bulu di atas mejanya. Lalu, Isabella menarik tangan Aldrich yang memerintahnya untuk duduk di sebuah kursi. “Tanda tangani perjanjian ini, Aldrich,” perintahnya “...perjanjian?” “Iya. Aku ingin kau menjadi kekasihku, atau kau bersikap seakan-akan kau pria yang siap untuk menjadi suami keduaku. Jangan ragu kalau kau ingin berkontak fisik denganku, apalagi di hadapan Caspian!” Isabella menjabarkan isi perjanjiannya pada Aldrich. Pria berambut hitam itu meraih pena bulu di sampingnya. Namun, belum sempat ujung pena itu menyentuh kertas, Aldrich menatap Isabella dalam-dal