MasukSetelah mengenalkan Aldrich pada suaminya, Isabella menarik Aldrich untuk kembali ikut bersamanya ke dalam ruangan pribadi Isabella.
Wajah Isabella tampak pucat saat masuk ke dalam ruangan pribadinya. Aldrich tersenyum samar melihat raut itu. “Apakah Anda menyesal?” tanya Aldrich, memperhatikan wajah wanita itu. Isabella tersenyum kecut. “Tidak sama sekali." Wanita itu meraih kertas dan sebuah pena bulu di atas mejanya. Lalu, Isabella menarik tangan Aldrich yang memerintahnya untuk duduk di sebuah kursi. “Tanda tangani perjanjian ini, Aldrich,” perintahnya “...perjanjian?” “Iya. Aku ingin kau menjadi kekasihku, atau kau bersikap seakan-akan kau pria yang siap untuk menjadi suami keduaku. Jangan ragu kalau kau ingin berkontak fisik denganku, apalagi di hadapan Caspian!” Isabella menjabarkan isi perjanjiannya pada Aldrich. Pria berambut hitam itu meraih pena bulu di sampingnya. Namun, belum sempat ujung pena itu menyentuh kertas, Aldrich menatap Isabella dalam-dalam. “Sebenarnya, apa yang membuat Anda melakukan ini, Nyonya Marchioness?” tanyanya penasaran. Isabella berjalan ke arah jendela besar di dalam ruangan itu. Ia menatap pemandangan di luar dengan pandangan ruyup. “Kau tahu bukan, wanita di samping suamiku tadi. Apakah itu belum cukup menjadi jawaban dariku?” Isabella berucap datar dan dingin. “Aku tidak akan membutuhkanmu kalau aku dan suamiku bisa bercerai dengan mudah. Tiga tahun aku menjadi istri yang baik, tapi dibalas dengan sakit berlipat-lipat. Kalau dia mendapatkan wanita lain, maka aku juga bisa mendapatkan pria lain, meskipun ... hanya sandiwara.” Tanpa pikir panjang, Aldrich menggoreskan ujung tinta pena itu di atas kertas perjanjian yang Isabella berikan padanya. Pria itu beranjak dari duduknya dan menyerahkan surat perjanjian itu pada Isabella. “Saya sepakat, dengan isi perjanjian ini,” ujarnya. Isabella tersenyum, tangannya terangkat ragu menyentuh pipi Aldrich. Jemari tangannya terasa gemetar dan dingin, hingga Aldrich menyentuh tangan itu dan melekatkan di pipinya. “Manfaatkan saya dengan baik, Nyonya,” bisiknya pria itu. Jantung Isabella berpacu saat wajah tampan itu begitu dekat. Bahkan, Isabella tidak pernah menyentuh wajah Caspian seperti ini. Wanita itu tersenyum. “Jadilah seseorang yang penurut dan patuh untukku, kau mengerti?” Aldrich mengecup telapak tangan Isabella dengan hangat, lalu menjawab, “Dengan senang hati, Nyonya Isabella.” **** Sore harinya.... “Dua hari lagi, aku ingin kau mengurus pesta perayaan musim panas dan pengumuman tentang kehamilan Natalie. Karena dia mengandung anakku, maka harus diadakan pesta untuk menyambutnya.” Isabella yang tengah melepaskan anting berlian di telinganya lantas terhenti. Wanita itu menatap suaminya dari pantulan cermin meja riasnya. Isabella meraih sisir dan mulai menyisir rambut panjangnya. “Kau menemuiku hanya untuk itu?” “Iya. Besok aku sangat sibuk dengan pekerjaanku, ada beberapa pertemuan penting yang harus aku lakukan. Kalau bukan aku, memangnya kau bisa?” seru Caspian, benar-benar mengejek. Isabella tetap duduk di tempatnya. Ia menatap berbagai macam perhiasan di dalam kotak beludru berwarna biru tua di hadapannya. “Baiklah, aku akan menyiapkan pestanya,” jawab Isabella tanpa protes. Caspian terdiam sesaat memandangi Isabella. Tidak biasanya wanita itu tidak melayangkan protes apapun. “Kau tidak iri atau cemburu, aku membuat pesta ini untuk Natalie?” tanyanya. Isabella sontak menatapnya kaget. Apa-apaan pria itu? “Aku? Cemburu dan iri pada seorang wanita selingkuhan?” kekehnya. Caspian mendengus, rupanya justru ia sendiri yang melayangkan pertanyaan dengan kata-kata yang salah pada istrinya itu. “Baiklah. Pastikan nanti kau meminta pelayan untuk membuat scone dan macaron sebagai hidangan di pesta. Natalie sangat menyukainya,” perintah Caspian. “Dia juga ingin undangannya ditulis di atas kertas berwarna biru.” “Ngomong-ngomong soal undangan, bagaimana aku menuliskan tentang kehamilan Natalie di kertas undangan itu?” Isabella sedikit menoleh melirik suaminya. Rupanya yang cantik, anggun tampak dingin dan datar. Wanita itu bangun dari duduknya dan berdiri dengan elegan. “Apakah, aku harus menulis pesta perayaan musim panas dan perayaan kehamilan kekasih gelap suamiku? Atau ... perayaan kehamilan seorang selingkuhan Marquess Roswell, atau—” “Cukup, Isabella!” sentak Caspian. Pria itu mendekatinya. “Aku tidak butuh bantuanmu lagi! Aku akan meminta Kepala Pelayan Dysen untuk mengurusnya! Kau tidak becus sebagai apapun di dalam rumah ini!” Caspian melewati Isabella begitu saja dan menutup pintu kamarnya dengan keras, meninggalkan Isabella sendirian di dalam kamar itu. Tidak henti-hentinya Caspian memaki Isabella. Setelah membanting pintu kamar sang istri, Caspian menatap pintu kamar itu dan ia mengacak rambutnya hitamnya. “Sial!” umpat Caspian dengan napas naik turun. Jemari tangannya terkepal memukul dinding di sampingnya. Matanya menyala-nyala dengan perasaan tak menyangka. Kedua tangan Caspian terkepal kuat. “Bagaimana bisa, wanita itu bersikap seangkuh ini padaku?” Caspian memejamkan kedua matanya erat dan kembali memukul dinding di sampingnya. “Seberapa lama kau bisa bertahan dan bersikap menyebalkan padaku hanya dengan mengandalkan pria simpanamu itu, Isabella!”Sudah beberapa hari berlalu Isabella tidak kunjung pulang sekalipun di hari ulang tahun Caspian yang kini digelar dengan pesta makan malam di kediaman Marquess Roswell. Dihadiri oleh para rekan bisnis sekaligus para tamu para bangsawan Salatine. Para wanita tamu undangan saling berbisik terlihat mencari-cari di mana Marchioness. “Lady Natalie, mengapa saya tidak melihat Marchioness? Ke mana beliau?” Pertanyaan terucap dari bibir seorang wanita yang berdiri di samping Natalie. Satu wanita di sampingnya menyahuti, “Sekalipun Marchioness memiliki kekasih baru, tapi rasanya tidak sopan bila di ulang tahun suami sahnya dia tidak datang.” Natalie tersenyum kaku. “Sebenarnya, setelah malam pesta waktu itu, Marchioness Isabella pergi dengan kekasihnya entah ke mana. Tuan Marquess Roswell sangat kepikiran tentang keberadaan Marchioness. Tapi sepertinya, beliau memang mengejar kekasihnya.” “Aku baru tahu kalau Marchioness Isabella memiliki seorang kekasih. Padahal selama ini, dia tidak
Beberapa hari kemudian. “Berkas ini berisi akta pernikahan Anda dan Sir Aldrich, Nyonya Marchioness.” Wanita bergaun merah itu duduk menyilangkan kakinya di dalam sebuah rumah berlantai dua yang berada cukup jauh dari kota Salatine. Setelah beberapa hari Isabella dan Aldrich pergi dari kediaman Marquess Roswell, sejak saat itu Isabella mencari cara untuk melakukan pernikahan dengan Aldrich, meskipun bukan pernikahan resmi, tetapi pernikahan yang hanya bisa menjadi tameng dan perlindungan untuk Isabella sampai ia bisa terlepas dan bercerai dari Caspian. Hingga Aldrich membantunya dengan cara menyewa seorang pemalsu dokumen profesional, untuk membuatkan akta pernikahan palsu. “Berkas ini sangat mirip akta pernikahan yang asli,” ucap Isabella membukanya. “Anda sangat hebat, Tuan Dillard.” Pria berambut putih di hadapannya itu hanya tersenyum sambil mengangguk. “Ya, saya sudah menyesuaikan dengan baik,” jawabnya. “Dibandingkan Anda menyewa pejabat palsu sebagai registrar
“Apa yang kau katakan, Marchioness!” Teriakan keras Caspian menggema di dalam ruangan pesta. Situasi ini menjadi sangat menegangkan. Caspian berjalan tegas ke arah Isabella. Kilatan amarah di kedua matanya penuh yang siap meledak. Tindakan Isabella yang membuatnya sangat malu di depan para tamu. “Kau sudah gila dengan apa yang kau lontarkan barusan?” Tidak kira-kira, Caspian menegur istrinya di hadapan semua orang. Isabella menggeleng pelan. Wajahnya datar seperti tak tersentuh. “Aku ingin kita setara dalam hal apapun. Kau tidak pernah mencintaiku selama ini, tapi kau justru mengutamakan simpananmu!” Setajam pisau sorot Isabella tertuju pada Natalie yang gemetaran. “Jadi, aku pun juga menginginkan cinta dari pria lain. Sama sepertimu.” “Tidak, aku tidak memberikanmu hak untuk berhubungan dengan pria ini!” Caspian menatap tajam Aldrich yang merangkul pundak Isabella. “Sama seperti yang kau ucapkan padaku, Caspian. Kau juga tidak berhak melarangku. Bahkan bertahun-t
Isabella membawa Aldrich masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu itu dengan rapat. Ia memutar tubuhnya menatap Aldrich yang berdiri di belakangnya. “Kau benar-benar tidak dipukul oleh Caspian?” tanya Isabella lagi. “...tidak, Nyonya,” jawabnya tenang. Isabella mengelus dadanya lega. “Syukurlah.” “Nyonya mengkhawatirkan saya?” “Tentu saja!” pekik Isabella dengan nada sedikit meninggi. “Kau adalah pria yang aku sewa, bukan milikku. Bila terjadi sesuatu padamu, aku pasti akan bertanggung jawab penuh.” Aldrich mendekat, jaraknya yang semakin dekat dengan Isabella. Wanita cantik bergaun biru tua itu membeku seperti es memasang Aldrich dengan linglung. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, Isabella merasakan tubuhnya menggigil saat telapak tangan Aldrich menyentuh pipinya. “Saya merasa senang, karena telah memiliki seorang Nyonya yang baik seperti Anda,” ucapnya. Tangan hangat milik Aldrich seperti mengandung bubuk sihir yang membuat Isabella membeku di tempat.
Beberapa hari kemudian. Pesta musim panas selalu diselenggarakan di kediaman Marquess Roswell. Tapi pesta tahun ini berbeda dari biasanya. Sebelum pesta digelar esok hari, pagi ini Isabella melihat banyak hadiah-hadiah yang datang. Isabella memperhatikan Natalie yang kegirangan saat para pelayan membawakan beberapa hadiah ke dalam kamarnya. “Dari mana dia mendapatkan banyak hadiah itu, Mrs. Dyster?” tanya Isabella pada pelayan setianya. Wanita setengah umur itu tampak ragu, lalu dia berkata, “Semua hadiah itu datang dari Keluarga Marquess terdahulu, Nyonya. Mereka mengirimkan banyak hadiah musim panas untuk Lady Natalie. Terlebih lagi, orang tua Tuan Marquess Caspian tahu kalau Lady Natalie saat ini sedang hamil. Jadi, mereka sangat perhatian.” Isabella tetap diam membeku di tempat. Pemandangan ini mengingatkan ia saat masih pertama kalinya menjadi istri Caspian. Isabella menerima banyak hadiah dari keluarga suaminya, saat ia hamil anak pertamanya, namun keguguran, hingga
Setelah mengenalkan Aldrich pada suaminya, Isabella menarik Aldrich untuk kembali ikut bersamanya ke dalam ruangan pribadi Isabella. Wajah Isabella tampak pucat saat masuk ke dalam ruangan pribadinya. Aldrich tersenyum samar melihat raut itu. “Apakah Anda menyesal?” tanya Aldrich, memperhatikan wajah wanita itu. Isabella tersenyum kecut. “Tidak sama sekali." Wanita itu meraih kertas dan sebuah pena bulu di atas mejanya. Lalu, Isabella menarik tangan Aldrich yang memerintahnya untuk duduk di sebuah kursi. “Tanda tangani perjanjian ini, Aldrich,” perintahnya “...perjanjian?” “Iya. Aku ingin kau menjadi kekasihku, atau kau bersikap seakan-akan kau pria yang siap untuk menjadi suami keduaku. Jangan ragu kalau kau ingin berkontak fisik denganku, apalagi di hadapan Caspian!” Isabella menjabarkan isi perjanjiannya pada Aldrich. Pria berambut hitam itu meraih pena bulu di sampingnya. Namun, belum sempat ujung pena itu menyentuh kertas, Aldrich menatap Isabella dalam-dal