LOGIN“Jadi semua ini berawal dariku?” tanya Adrian sambil menatap sistem yang menampilkan identitas dirinya dari kehidupan pertama. “Benar,” jawab Sang Penghapus. “Kau menciptakan sistem itu untuk memastikan tidak ada seorang pun yang dapat menentukan jalan hidupmu.” Adrian terdiam. Ia menatap Pedang Sang Penjaga di tangannya, lalu memandang Aryan yang masih berjuang mempertahankan kesadarannya dari Penguasa Ketiga. “Ayah, apakah kau mengetahui semua ini sejak awal?” tanya Adrian. “Tidak semuanya,” jawab Aryan dengan suara berat. “Aku hanya mengetahui bahwa kau meminta sistem itu disembunyikan sampai kau menemukan kembali dirimu sendiri.” Adrian mengepalkan tangan. “Berarti aku memang sengaja menghapus ingatanku,” ujar Adrian. “Benar,” jawab Sang Penghapus. “Kau meminta kepadaku untuk menghapus seluruh kehidupan pertamamu.” Adrian memejamkan mata. Potongan-potongan ingatan berputar di dalam pikirannya. Dirinya sebagai Penguasa Pertama. Dunia purba. Penguasa Kelima yang pernah
“Siapa pencipta Kehendak Bebasku?” tanya Adrian sambil menatap Sang Penghapus. Sang Penghapus terdiam cukup lama. “Namanya tidak pernah dicatat dalam sejarah,” jawab Sang Penghapus. Adrian menggenggam Pedang Sang Penjaga. “Kalau begitu, bagaimana kau bisa mengenalnya?” tanya Adrian. “Karena aku pernah berdiri di hadapannya,” jawab Sang Penghapus. Adrian menatapnya tajam. “Dan apa yang dia inginkan dariku?” tanya Adrian. Sang Penghapus menarik napas panjang. “Dia ingin melihat apakah kau mampu memilih tanpa dipengaruhi takdir,” jawabnya. Adrian terdiam. “Jadi semua ini adalah ujian?” tanya Adrian. “Tidak sepenuhnya,” jawab Sang Penghapus. “Kehidupanmu memang memiliki rancangan, tetapi keputusanmu selalu berada di tanganmu.” Adrian menatap tangannya sendiri. “Kalau begitu, siapa yang menciptakan sistem di dalam tubuhku?” tanya Adrian. Sang Penghapus tidak menjawab. Penguasa Ketiga yang masih menguasai sebagian tubuh Aryan akhirnya berbicara. “Bukan sistem yang menciptak
“Jadi kau memang pernah mencoba membunuhku?” tanya Adrian sambil menatap bayangan masa lalunya. Penguasa Ketiga tersenyum dari dalam tubuh Aryan. “Tidak sesederhana itu,” jawab Penguasa Ketiga. Adrian menggenggam Pedang Sang Penjaga. “Kalau begitu, jelaskan,” ujar Adrian. Bayangan di hadapan Adrian semakin jelas. Dirinya yang masih menjadi Penguasa Pertama berdiri di sebuah aula kuno. Di hadapannya, Penguasa Ketiga memegang senjata berwarna hitam yang diarahkan tepat ke dadanya. “Aku memberimu satu kesempatan terakhir,” ujar Penguasa Ketiga dalam ingatan itu. “Aku sudah menentukan pilihanku,” jawab Adrian muda. “Kau akan meninggalkan dunia purba?” tanya Penguasa Ketiga. “Aku akan meninggalkan kalian,” jawab Adrian muda. Adrian menatap adegan tersebut dengan dada berdebar. “Kenapa aku harus pergi?” tanya Adrian sekarang. Penguasa Ketiga menatapnya. “Karena kau menemukan sesuatu yang tidak seharusnya kau temukan,” jawab Penguasa Ketiga. “Apa yang kutemukan?” tanya Adrian.
“Jadi kau yang pertama kali mengajariku menggunakan inti purba?” tanya Adrian sambil menatap mata merah Aryan. “Benar,” jawab Penguasa Ketiga melalui tubuh Aryan. “Dulu kau adalah murid yang paling sulit dikendalikan.” Adrian mengangkat Pedang Sang Penjaga. “Aku tidak pernah menjadi milik siapa pun,” jawab Adrian tegas. Penguasa Ketiga tertawa pelan. “Bahkan setelah kehilangan seluruh ingatan, sifatmu tetap sama,” ujar Penguasa Ketiga. Adrian menyipitkan mata. “Kalau kau guruku, kenapa kau membiarkan aku menjadi manusia?” tanya Adrian. “Karena itu bukan pilihanku,” jawab Penguasa Ketiga. “Kau sendiri yang memaksa dunia purba melepaskanmu.” Adrian terdiam. “Jelaskan,” perintah Adrian. Penguasa Ketiga mengangkat tangan Aryan. “Ketika kau masih menjadi Penguasa Pertama, kau menemukan kebenaran tentang inti purba,” ujar Penguasa Ketiga. “Kau mengetahui bahwa para penguasa menggunakan inti tersebut untuk mempertahankan kehidupan mereka.” Adrian menatap kosong. “Lalu aku menol
“Ayah adalah Penguasa Ketiga?” tanya Adrian sambil menatap Aryan dengan wajah tak percaya. Aryan berdiri diam beberapa langkah dari Adrian. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan, seolah rahasia itu memang akhirnya akan terbongkar. “Benar, Adrian,” jawab Aryan dengan suara berat. Adrian menggenggam Pedang Sang Penjaga. “Sejak kapan?” tanya Adrian. “Sejak sebelum kau lahir,” jawab Aryan. Adrian menahan napas. “Kenapa Ayah menyembunyikannya dariku?” tanya Adrian. “Karena aku ingin kau memiliki kehidupan sebagai manusia,” jawab Aryan. Adrian menatap tajam. “Jangan gunakan alasan itu untuk menyembunyikan kebenaran,” ujar Adrian. Aryan terdiam. “Aku berhak mengetahui siapa sebenarnya ayahku,” lanjut Adrian. “Benar,” jawab Aryan. “Dan sekarang aku akan menceritakan semuanya.” Sang Penghapus berdiri di samping Adrian. “Berhati-hatilah,” ujar Sang Penghapus. “Tidak semua yang dikatakan Aryan akan mudah kau terima.” Adrian menoleh kepadanya. “Aku akan menentukan sendiri apa y
“Siapa yang dimaksud dengan Penguasa Ketiga?” tanya Adrian sambil menatap sistem yang terus menampilkan lokasi target. [LOKASI TARGET: DUNIA MANUSIA.] [JARAK: TIDAK DAPAT DIUKUR.] [IDENTITAS: TERKUNCI.] Sang Penghapus berdiri diam di hadapan Adrian. “Aku tidak bisa memberikan namanya,” jawab Sang Penghapus. Adrian menoleh tajam. “Kenapa?” tanya Adrian. “Karena identitasnya dilindungi oleh hukum dunia manusia,” jawab Sang Penghapus. Adrian mengerutkan kening. “Sejak kapan penguasa purba bisa bersembunyi di balik hukum manusia?” tanya Adrian. “Sejak seseorang memberinya tubuh manusia,” jawab Sang Penghapus. Adrian terdiam. “Siapa yang memberinya tubuh?” tanya Adrian. Sang Penghapus tidak langsung menjawab. “Aku tidak tahu,” jawabnya. Adrian menatapnya curiga. “Kau terlalu sering mengatakan tidak tahu,” ujar Adrian. Sang Penghapus menghela napas. “Karena ada bagian sejarah yang bahkan aku tidak berani sentuh,” jawabnya. Adrian menggenggam Pedang Sang Penjaga. “Kalau







