Share

Sekutu Tak Terduga

Penulis: Nusagung
last update Tanggal publikasi: 2026-09-07 12:36:47

Dua hari setelah makan malam pertama itu, Alena masih memikirkan kata-kata Nadia. Laporan keuangan proyek distrik selatan. Ia tidak punya akses langsung ke dokumen internal Pradipta Group, tapi sebagai istri Raka yang sah, mungkin ada celah yang bisa dimanfaatkan.

Kesempatan itu datang lebih cepat dari dugaan. Pagi itu, Raka harus berangkat ke luar kota untuk urusan bisnis mendadak, meninggalkan Alena sendirian di rumah besar itu untuk pertama kalinya.

"Aku baru kembali lusa," kata Raka sebelum berangkat. "Kalau butuh sesuatu, bilang saja ke Bi Inah."

Alena mengangguk, tapi pikirannya sudah melayang ke arah lain. Dengan Raka pergi, mungkin ini saatnya mencari Nadia untuk bicara lebih jauh, tanpa risiko didengar orang lain di rumah.

Ia menemukan Nadia di taman belakang, duduk sendirian sambil membaca buku di bawah pohon rindang.

"Nadia."

Gadis itu mendongak, sedikit terkejut. "Kak Alena. Ada apa?"

Alena duduk di bangku taman di sebelahnya. "Aku mau lanjutkan obrolan kita malam itu. Soal proyek distrik selatan."

Nadia menutup bukunya, wajahnya berubah waspada. Ia melirik sekeliling, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.

"Kenapa kau begitu tertarik soal itu?"

"Karena aku merasa banyak hal disembunyikan dariku di rumah ini. Dan kau satu-satunya orang yang terlihat mau jujur padaku."

Nadia terdiam sesaat, mempertimbangkan sesuatu. Akhirnya ia menghela napas panjang.

"Baiklah. Tapi kau harus janji, apa pun yang aku ceritakan, jangan pernah bilang ke Kak Dimas atau Sarah bahwa informasinya dariku."

"Aku janji."

"Setahun lalu, Kak Dimas memimpin proyek pengembangan properti di distrik selatan. Proyek besar, investasinya triliunan rupiah. Tapi enam bulan terakhir, aku dengar dari staf keuangan yang masih aku kenal dekat, ada... ketidaksesuaian dalam laporan pengeluaran proyek itu."

"Ketidaksesuaian seperti apa?"

"Dana yang dilaporkan keluar untuk pembangunan, jumlahnya jauh lebih besar dari yang benar-benar terpakai di lapangan. Semacam mark-up besar-besaran." Nadia menurunkan suaranya lebih pelan lagi. "Dan yang mengerikan, kalau ini benar dan sampai terungkap ke publik atau investor, bisa menghancurkan reputasi Pradipta Group. Mungkin lebih parah dari krisis keuangan yang sedang dialami keluargamu sekarang."

Alena mencerna informasi itu perlahan. "Kenapa kau tahu soal ini, tapi tidak pernah bilang ke ayahmu atau Raka?"

Wajah Nadia berubah sedih. "Aku pernah coba, setahun lalu. Tapi Ayah bilang aku terlalu banyak curiga, bahwa Dimas anak sulung yang paling dipercaya untuk memimpin bisnis keluarga. Ayah bahkan sempat marah besar, mengira aku iri pada kakakku sendiri."

"Bagaimana dengan Raka? Apa dia tahu?"

"Aku tidak yakin. Raka dan Dimas tidak terlalu dekat sejak dulu. Ada semacam persaingan diam-diam di antara mereka soal siapa yang akan jadi penerus utama Pradipta Group." Nadia menatap Alena serius. "Itu sebabnya aku bilang, hati-hati sama Kak Dimas. Kalau dia merasa posisinya terancam—apalagi dengan pernikahanmu yang memperkuat posisi Raka di keluarga—dia bisa melakukan apa saja untuk melindungi dirinya."

Percakapan itu memberi Alena banyak hal baru untuk dipikirkan. Bukan hanya soal dendam lama antara keluarga Wijaya dan Pradipta, tapi juga konflik internal di dalam keluarga Pradipta sendiri yang tampaknya jauh lebih rumit dari yang terlihat di permukaan.

"Nadia, boleh aku tanya satu hal lagi?"

"Tentu."

"Apa kau tahu soal seseorang bernama Broto? Aku dengar nama itu, terhubung dengan sejarah lama antara keluarga kita."

Nadia mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Broto... nama itu terdengar familiar. Aku pernah dengar Ayah menyebut nama itu sekali, waktu bicara di telepon dengan nada marah. Tapi aku tidak tahu detailnya."

Sebelum mereka bisa melanjutkan obrolan, terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah rumah utama. Keduanya buru-buru mengubah topik pembicaraan menjadi obrolan ringan biasa, tepat saat Sarah muncul di ambang pintu taman.

"Wah, akrab sekali kalian berdua," kata Sarah, tersenyum—senyum yang sama seperti malam pertama Alena tiba, terlalu manis untuk terasa tulus. "Sedang bicarakan apa?"

"Tidak ada apa-apa, Kak. Cuma ngobrol biasa," jawab Nadia cepat, terlalu cepat hingga terdengar mencurigakan.

Sarah menatap keduanya bergantian, matanya menyipit sedikit, seolah tidak sepenuhnya percaya. "Baiklah kalau begitu. Alena, Ibu memanggilmu ke ruang keluarga. Katanya ada yang ingin dibicarakan."

Alena mengangguk, berdiri dari bangku taman. Sebelum melangkah pergi, ia sempat bertukar pandang singkat dengan Nadia—pandangan yang seolah berkata, percakapan ini belum selesai, tapi harus dilanjutkan lain waktu, dengan lebih hati-hati.

Dalam perjalanan menuju ruang keluarga, pikiran Alena dipenuhi pertanyaan baru. Apakah kecurigaan Nadia soal proyek distrik selatan ada hubungannya dengan alasan sebenarnya di balik pernikahan mendadak ini? Ataukah ini dua masalah terpisah yang kebetulan terjadi di waktu yang sama?

Yang pasti, satu hal sudah jelas bagi Alena—di rumah besar ini, penuh dengan senyum formal dan sopan santun di permukaan, hampir semua orang menyimpan agenda mereka sendiri.

Dan kini, ia harus mencari tahu siapa yang benar-benar bisa dipercaya, sebelum semua rahasia ini meledak dan menyeretnya lebih dalam ke dalam pusaran masalah yang bukan miliknya sejak awal.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Suamiku, Musuh Keluargaku   Ancaman Baru

    Tiga hari setelah kedatangan Broto, nggak ada kejadian aneh apa pun. Nggak ada pesan misterius, nggak ada tamu tak diundang. Justru itu yang bikin Alena makin nggak tenang."Kayak nunggu badai," katanya suatu malam, waktu dia dan Raka lagi makan malam berdua di kamar—kebiasaan yang udah jadi rutinitas mereka belakangan ini."Mungkin emang lagi nyusun strategi," jawab Raka, nyuil ayam di piringnya tanpa nafsu makan yang jelas. "Orang kayak dia nggak gerak sembarangan."Alena ngangguk pelan. Dia udah coba fokus ke kerjaan, ke urusan rumah tangga sehari-hari, tapi pikirannya terus aja balik ke percakapan sama Broto. Pion di papan yang lebih besar."Eh," katanya tiba-tiba, "kamu masih inget nggak, dulu waktu kita tanda tangan kontrak, kamu bilang nggak mau ada perasaan pribadi ikut campur?"Raka ngangkat alis, agak bingung arah pembicaraan tiba-tiba pindah. "Inget. Kenapa?""Cuma mikir aja," Alena senyum kecil, "gimana kita sekarang."Raka taruh sendoknya, natap Alena lama. "Kalau boleh j

  • Suamiku, Musuh Keluargaku   Wajah di Balik Bayangan

    Dua hari setelah malam pengakuan Pak Pradipta, semuanya kelihatan tenang. Terlalu tenang, menurut Alena.Dia lagi di dapur, bikin teh sendiri—kebiasaan baru sejak beberapa minggu terakhir, karena entah kenapa itu bikin dia lebih tenang mikir—waktu Nadia masuk dengan wajah aneh. Bukan panik kayak biasanya. Lebih ke... bingung."Kak, ada tamu. Katanya mau ketemu Ayah, tapi Ayah lagi di kantor.""Tamu siapa?""Nggak mau kasih tau nama depannya. Cuma bilang... 'teman lama'."Sesuatu di cara Nadia ngomong bikin Alena langsung waspada. Dia taruh cangkirnya, jalan ke ruang tamu.Pria itu berdiri deket jendela, mbelakangin pintu masuk. Jas abu-abu, rapi, umur mungkin sekitar enam puluhan tapi masih keliatan bugar. Waktu dia noleh, Alena langsung tau siapa ini—meski belum pernah ketemu langsung.Wajahnya sama kayak di foto lama yang pernah ditunjukkan Om Hartono."Kau pasti Alena," katanya, senyumnya sopan, tapi ada sesu

  • Suamiku, Musuh Keluargaku   Pengakuan Ayah

    Ruang kerja Pak Pradipta gelap kecuali lampu meja yang menyala redup. Raka dan Alena duduk di kursi tamu, sementara pria tua itu berdiri membelakangi mereka, menatap keluar jendela yang menghadap kota.Sudah lima menit dia diam saja."Ayah?" Raka akhirnya memanggil.Pak Pradipta menghela napas panjang, tapi tidak langsung berbalik."Kalian tahu kenapa dulu aku dan ayah Alena bisa jadi rekan bisnis?" Dia bertanya, suaranya aneh—bukan nada berwibawa yang biasa dipakai di rapat direksi. "Bukan cuma soal keuntungan. Kami berteman. Teman baik, sebenarnya. Sebelum semua kekacauan itu."Alena menegakkan duduknya. Ini bukan sesuatu yang pernah diceritakan padanya."Dua puluh tahun lalu, wijaya—ayahmu—dia yang menyelamatkan bisnisku waktu aku baru mulai. Aku hampir bangkrut sebelum sempat besar. Dia pinjamkan modal tanpa jaminan apa pun. Cuma percaya."Pak Pradipta akhirnya berbalik. Matanya berkaca-kaca, hal yang tidak pernah dilihat Raka sebelumnya dari ayahnya sendiri."Terus apa yang terja

  • Suamiku, Musuh Keluargaku   Operasi Penyelamatan

    Pagi itu, Raka mengumpulkan semua pihak yang bisa dipercaya di ruang kerja pribadinya—Pak Handoko dan dua anak buahnya, serta seorang kenalan lama Raka yang kebetulan bekerja sebagai perwira polisi, Komisaris Wibowo, yang bersedia membantu secara tidak resmi sebelum kasus ini dilaporkan penuh."Kita tidak bisa menyerbu langsung," kata Komisaris Wibowo, menatap peta lokasi gudang yang sudah ditandai Pak Handoko semalam. "Kalau memang ada penyanderaan, tindakan gegabah bisa membahayakan korban. Saya bisa bantu urus izin operasi kecil, tapi harus cepat dan senyap.""Berapa lama itu bisa diurus?" tanya Raka."Dengan koneksi saya, mungkin sore ini bisa jalan. Tapi saya butuh alasan resmi untuk masuk tanpa membuat kecurigaan bocor ke pihak dalam yang mungkin terlibat."Alena, yang duduk di sudut ruangan sejak pagi, akhirnya angkat suara. "Bagaimana kalau alasannya laporan dugaan penyekapan dari warga sekitar? Tidak perlu menyebut nama Pradipta sama sekali di laporan awal."Komisaris Wibowo

  • Suamiku, Musuh Keluargaku   Jejak yang Ditemukan

    Raka tidak tidur lagi malam itu. Ia duduk di meja kerja, memperbesar foto blur itu berkali-kali, mencoba mengenali bangunan di latar belakang."Ini gudang," katanya akhirnya, menunjuk bagian sudut foto yang nyaris tidak terlihat. "Lihat atapnya. Model seng bergelombang seperti ini biasanya dipakai gudang tua di kawasan industri pinggiran."Alena mendekat, memperhatikan detail yang ditunjuk Raka. "Kawasan industri mana?""Aku tidak yakin. Tapi Pak Handoko mungkin bisa membantu melacaknya. Dia lebih berpengalaman soal hal semacam ini."Raka langsung menghubungi Pak Handoko meski waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Pria itu menjawab tanpa terdengar terganggu, seolah sudah terbiasa dihubungi di jam-jam aneh."Kirim fotonya, Pak Raka. Saya coba analisis."***Kabar berikutnya datang keesokan siang, lebih cepat dari yang diperkirakan. Pak Handoko berhasil mempersempit lokasi ke sebuah kawasan pergudangan tua di daerah Cakung, berdasarkan analisis bayangan dan sudut bangunan di foto

  • Suamiku, Musuh Keluargaku   Mencari yang Hilang

    Pagi itu, Raka bangun lebih awal dari biasanya, sudah duduk di meja kerja kamar mereka dengan laptop menyala saat Alena membuka mata."Kau tidak tidur?" tanya Alena, masih setengah mengantuk."Sempat, sebentar," jawab Raka, tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Aku menyuruh orang kepercayaanku melacak alamat terakhir staf yang menghilang itu. Namanya Pak Yudo. Menurut catatan HR, dia sudah delapan tahun bekerja di divisi keuangan sebelum tiba-tiba mengundurkan diri minggu lalu."Alena bangun, duduk di sisi ranjang. "Ada hasil?""Alamat rumahnya di catatan HR sudah tidak berpenghuni. Tetangga bilang keluarganya pindah mendadak, sekitar waktu yang sama dengan pengunduran dirinya.""Pindah mendadak, tanpa jejak?" Alena merasa perutnya mual mendengar itu. "Itu bukan kepindahan biasa.""Aku setuju." Raka menutup laptopnya, menatap Alena serius. "Tapi kita harus hati-hati. Kalau benar dia 'dibungkam' seperti kata pesan semalam, menc

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status