Mag-log inMobil berhenti tepat di halaman sebuah rumah mewah bergaya modern.Pintu besi setinggi tiga meter terbuka perlahan.Lampu taman menyala terang, menerangi halaman yang luas.Naya turun lebih dulu.Tangannya masih digenggam salah satu pria berbadan besar.Di belakangnya, Tari ikut turun dengan wajah pucat.Tatapan Naya menyapu sekeliling.Terlalu banyak penjaga.Terlalu banyak kamera.Keluar dari tempat ini tidak akan mudah.Pintu utama terbuka.Seorang pria berdiri di ambang pintu dengan setelan jas berwarna abu-abu gelap.Rambutnya tersisir rapi.Senyumnya tipis.Erwin.Ia melangkah turun beberapa anak tangga.Begitu berada di hadapan Naya, ia justru sedikit membungkukkan badan."Selamat malam, Naya."Nada suaranya tenang.Sopan.Seolah tidak sedang menerima tamu hasil penculikan.Naya menatapnya tajam."Aku tidak merasa malam ini layak disebut selamat."Erwin tersenyum tipis."Aku minta maaf."Kalimat itu membuat Naya mengernyit."Apa?""Aku minta maaf karena cara mengundangmu salah.
Mobil perlahan memasuki sebuah kawasan elite yang tenang.Risa yang sejak tadi memeluk tas kecilnya hanya diam menatap keluar jendela.Matanya perlahan membesar.Satu per satu rumah besar berlalu.Lalu mobil berhenti di depan sebuah gerbang tinggi dengan ornamen besi berwarna hitam dan emas.Gerbang itu terbuka perlahan secara otomatis.Mobil kembali melaju masuk.Risa berkedip beberapa kali."Jauh..."gumamnya pelan.Jalan menuju bangunan utama saja terasa seperti memasuki sebuah taman.Di kanan dan kiri terbentang hamparan rumput yang terawat rapi.Pohon-pohon besar berjajar.Di tengah taman bahkan terdapat air mancur yang menyala diterpa lampu-lampu taman.Mobil akhirnya berhenti tepat di depan bangunan utama.Risa mendongak.Mulutnya perlahan terbuka.Rumah itu...tidak.Lebih tepat disebut istana.Bangunannya megah dengan pilar-pilar tinggi, balkon yang luas, dan dinding marmer yang memantulkan cahaya lampu malam.Kalau rumah Eyang Wulan selama ini sudah dianggap sangat mewah ole
Kantor polisi yang semula cukup ramai perlahan mulai tenang.Risa masih duduk di kursi tunggu sambil memeluk tas kecilnya. Matanya sembab karena terlalu banyak menangis malam itu.Di sampingnya, Marina duduk dengan tenang.Sesekali wanita tua itu mengusap punggung Risa pelan.Tidak memaksa bicara.Tidak juga bertanya macam-macam.Hanya menemani.Tak lama kemudian seorang petugas kembali dari ruang dalam."Bu Marina."Marina langsung berdiri."Iya, Pak?"Petugas itu mengangguk."Kami baru mendapat informasi terbaru."Risa langsung mengangkat kepala."Mama aku?"Petugas tersenyum tipis."Kasus penculikan yang Anda laporkan ternyata sudah ditangani tim lain."Risa langsung berdiri."Benarkah?""Iya.""Jadi Mama akan selamat?"Petugas itu tidak langsung menjawab.Namun ia mengangguk pelan."Kami sedang berusaha."Meski bukan jawaban pasti, wajah Risa terlihat sedikit lebih lega.Setidaknya sekarang ada yang mencari mamanya.Setidaknya ia tidak sendirian.Marina pun mengembuskan napas pela
Ponsel di tangan Gilang perlahan turun.Tatapannya kosong beberapa detik.Lalu ia menarik napas panjang.Pilihan sudah dibuat.Dan malam ini, untuk pertama kalinya sejak delapan tahun lalu, ia memilih menekan semua keinginan pribadinya.Gilang kembali menghubungi Vela.Panggilan langsung tersambung."Aku lanjut tugas."Di seberang sana Vela terdiam sebentar."Kamu yakin?""Aku nggak punya pilihan."Vela menghela napas."Baik. Aku yang cari Naya.""Temukan dia."Nada suara Gilang rendah.Namun ada sesuatu yang membuat Vela ikut diam.Karena ia tahu.Pria itu sedang menahan diri mati-matian."Dan Vela...""Iya?""Jangan sampai dia kenapa-kenapa."Vela tersenyum tipis."Kamu ngomong kayak suami posesif."Klik.Panggilan terputus.Gilang memejamkan mata sesaat.Lalu menyalakan motor.Namun sebelum bergerak, ponselnya kembali bergetar.Nomor kantor polisi.Gilang langsung mengangkat."Ya?""Selamat malam, Pak. Benar dengan Bapak Gilang?""Iya.""Kami dari Polsek Cibubur. Terkait laporan an
Malam mulai turun perlahan.Lampu-lampu menyala satu per satu ketika mobil mewah milik Marina melaju membelah jalanan yang sepi.Di kursi belakang, Risa masih memegang ponsel dengan kedua tangan kecilnya.Matanya merah.Beberapa kali ia mengusap air mata dengan punggung tangan.Namun jemarinya masih terus menekan nomor yang sama.Papa.Panggilan pertama.Tidak diangkat.Panggilan kedua.Masih sama.Panggilan ketiga.Tetap tidak ada jawaban.Risa mulai menggigit bibirnya sendiri."Eyang..."Marina yang duduk di sampingnya menoleh."Iya, Sayang?""Papa aku sibuk."Suara Risa mulai bergetar lagi."Aku takut Mama kenapa-kenapa..."Marina mengusap kepala anak kecil itu perlahan."Papa kamu pasti sedang berusaha."Pak Harun yang menyetir menghela napas pelan."Nyonya, lebih baik kita ke kantor polisi."Marina menoleh."Kenapa?""Kalau benar ada penculikan, terlalu berbahaya kalau kita mendatangi tempat itu sendiri."Risa langsung mengangkat kepala."Tapi Mama sama Mbak Tari di sana!"Pak Ha
Malam semakin larut.Di bawah lampu jalan yang temaram, Gilang masih berdiri di atas motornya.Tatapannya dingin.Napasnya belum sepenuhnya tenang.Namun pikirannya sudah bekerja.Ia langsung mengambil ponsel.Nama pertama yang ia hubungi adalah Vela.Tidak sampai tiga kali dering."Hallo?" suara Vela terdengar mengantuk."Vel."Nada suara Gilang membuat wanita itu langsung duduk tegak."Ada apa?""Cari plat nomor B 1927 KXP."Vela mengernyit."Mobil siapa?""Cari saja.""Gilang.""Vel.""Ini tengah malam.""Aku tahu.""Dan kamu menyuruhku melacak kendaraan?"Sunyi.Vela langsung sadar.Ini bukan permintaan biasa.Apalagi Gilang sedang menyamar.Kalau sampai ketahuan, operasi tiga bulan yang sedang berjalan bisa berantakan."Gilang, ada apa sebenarnya?""Tolong."Hanya satu kata.Dan Vela semakin curiga.Karena selama mengenal pria itu, Gilang hampir tidak pernah meminta tolong."Kamu sembunyikan sesuatu?"Sunyi."Gilang.""Tolong cari.""Kamu biasanya selalu jujur.""Vel.""Kali ini
Pelabuhan itu sunyi. Hanya suara ombak menghantam lambung kapal kargo yang memecah kesunyian. Lampu dermaga memantul di permukaan laut, membuat air tampak seperti lembaran logam hitam. Gilang berdiri di balik kontainer, headset kecil menempel di telinga. Baru kali ini dia kurang fokus dalam bekerj
Lampu-lampu neon berdansa liar di langit-langit SBCD, diskotik paling hits di jantung kota. Musik menghentak. Alkohol tumpah. Malam merayakan rahasia dan kebodohan. Di salah satu sudut ruangan yang penuh asap dan cahaya berkelip, seorang wanita muda duduk sendirian di depan meja bar. Gelas di tang
Malam itu udara terasa dingin menusuk kulit.Anaya duduk kaku di belakang motor Gilang. Angin malam menerpa wajahnya, membuat ujung roknya berkibar liar. Tangannya mencengkeram erat jaket kulit yang dipakai pria di depannya.Ia tidak berani bicara.Gilang juga tidak mengatakan apa pun sejak mereka
Matahari baru saja naik saat Gilang duduk di meja makan. Pria brewok itu masih mengenakan kaos hitam longgar dan celana training. Aroma kopi hitam mengepul di hadapannya, tapi sorot matanya tetap kosong, menatap layar ponsel tanpa benar-benar membaca apapun. “Mas...” Suara Naya terdengar dari dapu







