LOGINRuangan itu tidak besar.Dindingnya polos, hanya dihiasi peta kota Bogor dan beberapa foto hasil pengintaian yang ditempel seadanya. Lampu di langit-langit menyala redup, menciptakan bayangan tajam di wajah empat orang yang duduk mengelilingi meja.Suasana serius.Namun tidak sepenuhnya tegang.Gilang berdiri di depan papan. Tangannya memegang spidol, sementara matanya menyapu tiga orang di depannya.Vela bersandar santai di kursinya. Rendi duduk setengah malas, memainkan korek api tanpa menyalakannya. Adi duduk tegak, mencatat sesuatu di buku kecilnya.“Ini misi terakhir kita,” ucap Gilang.Nada suaranya datar. Tegas.Namun cukup untuk membuat semua orang langsung fokus.“Setelah ini, kita kembali ke posisi masing-masing.”Rendi mengangkat alis.“Balik jadi manusia normal lagi ya?”“Kalau kamu pernah normal,” sahut Adi tanpa menoleh.Rendi langsung mendengus.“Eh, aku normal. Cuma versi premium.”Vela tertawa kecil.“Premium gagal.”Gilang tidak ikut tertawa. Tapi sudut bibirnya sedi
Ruang operasi itu kecil.Lampunya sedikit redup. Alat-alatnya tidak lengkap. Beberapa terlihat sudah tua, namun masih terawat dengan baik.Naya dan Ana mendorong brankar masuk dengan cepat.“Taruh di sini,” ucap Naya tegas.Gilang dipindahkan ke meja operasi.Napasnya mulai berat. Wajahnya pucat. Namun matanya masih tertuju pada Naya.Tidak lepas. Naya yang sibuk menyiapkan alat sempat menangkap tatapan itu. Ia berhenti sejenak. Menoleh. Mengangkat alis.“Apa?”Gilang tidak menjawab. Masih menatap.Naya pun menghela napas kesal. “Kamu naksir aku ya?”Ana yang sedang menyiapkan alat langsung tersedak kecil dan Naya melanjutkan dengan santai, “Atau kamu belum pernah lihat wanita cantik?”Gilang hampir tersenyum kesal. Dalam hati ia bergumam, "Harusnya aku itu marah, tapi setelah melihatmu semua hilang."Namun yang keluar hanya suara pelan, “Belum pernah lihat yang seperti kamu.”Naya mendecak.“Gombal. Hemat tenaga kamu.”Ia kembali fokus. Tangannya bergerak cepat. Terampil. Seolah sud
Langkah Gilang mulai goyah.Darah yang merembes dari tubuhnya semakin banyak. Membasahi sisi bajunya, menetes perlahan ke lantai yang dingin.Namun tangannya masih menggenggam pergelangan Naya. Tidak terlalu kuat. Tapi cukup untuk menahan dirinya tetap berdiri.“Naya kita harus terus jalan, hindari polisi.” ucapnya pelan. Napasnya mulai berat, terputus-putus.Naya menghentikan langkahnya tiba-tiba.“Berhenti. Kamu tahu namaku. Kenapa kita harus menghindari polisi?"Nada itu tegas.Gilang menatapnya. Untuk sesaat, ia seperti ingin membantah. Namun tubuhnya sendiri mengkhianatinya.“Lukanya dalam. Kita harus ke rumah sakit sekarang.”Naya menoleh ke sekitar.Sepi.Tidak ada kendaraan.Tidak ada orang.Ia menggigit bibir.“Aku cari bantuan.”Ia berlari. Tanpa menoleh lagi.Gilang menatap punggung itu menjauh. Matanya tidak berkedip. Seolah jika ia berkedip, sosok itu akan menghilang lagi.Tangannya perlahan turun dari luka. Darah masih mengalir. Namun ia tidak memedulikannya. Yang ia pik
Naya melangkah cepat meninggalkan pria itu.Langkahnya tegas, tapi pikirannya tidak. Kesal. Marah. Dan entah kenapa jantungnya belum benar-benar tenang.“Aneh banget sih orangnya,” gumamnya pelan.Ia menarik napas panjang. Mencoba menenangkan diri. Rumah sakit. Ia harus kembali. Ia memaksa fokus. Naya melangkah lebih cepat. Langkahnya tegas, tapi emosinya masih berantakan.Tangan yang menggenggam ponsel terasa hangat, entah karena kesal atau karena sesuatu yang lain yang tidak ingin ia akui.“Kurang ajar,” gumamnya pelan.Ia tidak menoleh lagi.Tidak mau.Namun anehnya bayangan wajah pria itu tidak juga hilang.Tatapan itu.Nada suaranya.Cara dia berdiri.Semua terasa mengganggu.Seolah pernah ia kenal. Seolah pernah dekat.Tapi pikirannya menolak.“Tidak mungkin,” bisiknya.Langkahnya semakin cepat, masuk ke keramaian pasar malam yang ramai oleh suara tawar-menawar, lampu warna-warni, dan aroma makanan yang bercampur jadi satu.Di sisi lain Gilang masih berdiri di tempat.Menatap p
Dari kejauhan dua pria berdiri dan mengobrol santai.Namun mata mereka tiba-tiba menangkap sesuatu di depan.“Eh, itu siapa?”Gilang langsung menyadari situasi. Gerakannya terhenti sepersekian detik dan perhitungan cepat. Jika dua orang itu melihat lebih lama, semuanya selesai.Tanpa pikir panjang, ia bergerak.Menarik Naya dengan cepat.Tubuh Naya terdorong ke dinding di sisi jalan.“Eh—!”Belum sempat bereaksi, jarak di antara mereka menghilang.Tangan Gilang terangkat. Jempolnya menekan ringan di bibir Naya. Seolah sedang mencium. Dalam gelap, wajah Naya tertutup sebagian kain. Tidak jelas. Tidak dikenali. Naya membeku. Matanya membesar.Ia memberontak. Namun tangan Gilang menahan.“Diam,” bisiknya rendah.Langkah kaki mendekat. Naya terpaksa berhenti. Napasnya tertahan. Wajah mereka terlalu dekat. Hangat. Dan jempol itu masih menempel di bibirnya.Dua pria itu menyorotkan cahaya ponsel, hingga membuat Gilang menunduk sedikit. Menutup sudut pandang. Melindungi.Dan di detik itu se
Kota Bogor tidak pernah benar-benar tidur sejak bencana itu terjadi.Sejak tanah longsor menghantam desa di kaki bukit, rumah sakit kecil di wilayah itu berubah menjadi pusat kekacauan yang tak pernah sepi. Lorong-lorong dipenuhi suara langkah tergesa, tangisan keluarga, dan instruksi cepat para tenaga medis yang berusaha menahan batas kemampuan mereka sendiri.Di tengah semua itu, Naya berdiri. Bukan sebagai pengunjung. Bukan pula sebagai relawan biasa.Ia datang sebagai tenaga perbantuan dipanggil cepat, dikirim tanpa banyak pilihan, dan langsung terjun ke medan yang tidak memberinya waktu untuk berpikir panjang.Hari pertama terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata. Hari kedua tubuhnya mulai terbiasa, tapi hatinya tidak. Dan kini, hari ketiga.Naya berdiri di depan wastafel kecil, membilas tangannya yang terasa kaku. Bekas sarung tangan medis meninggalkan garis merah di kulitnya. Rambutnya diikat seadanya, beberapa helai jatuh berantakan di sisi wajah.Ia menatap pantulan diri







