تسجيل الدخولSejak malam ketika Damian membiarkannya memegang tangannya, Sera merasa ada sesuatu yang berubah.
Bukan perubahan besar.
Damian masih Damian yang sama—pendiam, sulit ditebak, dan lebih sering menyimpan kalimat di balik tatapan daripada mengucapkannya. Namun, akhir-akhir ini, ada hal-hal kecil yang tidak bisa lagi Sera abaikan.
Damian mulai menunggunya makan.
Mulai mengingat kapan ia terlalu lelah.
Mulai memperhatikan apakah Sera sudah sarapan atau belu
“Damian!”Suara Sera membuat Damian berlari dari ruang kerja menuju kamar mereka.“Ada apa? Kau kesakitan? Kita harus ke rumah sakit sekarang!”Sera mencengkeram seprai, menahan nyeri yang datang semakin kuat. Ia berusaha tersenyum melihat suaminya berdiri dengan wajah pucat.“Sayang, aku rasa bayinya sudah ingin bertemu dengan kita.”Damian membeku.Lalu ia berteriak memanggil semua orang.“CLARA! NADIA! PANGGIL SOPIR! TAS RUMAH SAKITNYA DI MANA?”Clara muncul di ambang pintu sambil membawa tas persalinan yang sudah disiapkan sejak beberapa minggu lalu. Nadia menyusul di belakangnya, lalu langsung tertawa melihat Damian mondar-mandir tanpa arah.“Damian, rumah sakitnya tidak akan pindah tempat,” goda Nadia. “Kau tidak perlu berteriak seperti sedang menghadapi pengambilalihan perusahaan.”“Aku tidak berteriak.”“Kau ba
“Aku datang bukan untuk membahas masa lalu lagi, Ayah. Aku datang untuk mengakhirinya.”Baskoro terdiam ketika Damian meletakkan sebuah map di atas meja ruang kerjanya.Untuk sesaat, pria yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai kepala keluarga Wijaya itu tampak kehilangan kata-kata. Ia menatap putranya, mencoba mencari kemarahan yang biasanya muncul setiap kali mereka membicarakan masa lalu.Namun, Damian tidak datang dengan amarah.Justru ketenangannya membuat Baskoro merasa lebih gugup.“Kau ingin mengatakan sesuatu?” tanya Baskoro akhirnya.Damian menarik kursi, lalu duduk berhadapan dengannya.“Aku sudah terlalu lama menyimpan kebencian kepadamu.”Baskoro menunduk. Jemarinya saling bertaut di atas meja.“Aku tahu.”“Tidak. Ayah tidak tahu bagaimana rasanya tumbuh dengan keyakinan bahwa keluarga kita hancur karena pengkhianatan orang lain. Aku percaya pad
“Damian, ada sesuatu dari berkas terakhir Armand yang harus kau baca.”Rafael meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja kerja Damian.Amplop itu sudah menguning. Di bagian depannya tertulis satu nama dengan tinta yang mulai memudar.Damian Wijaya.Damian mengernyit. “Apa ini?”“Surat pribadi yang tersimpan bersama dokumen terakhir Armand. Aku tidak membukanya karena surat itu ditujukan kepadamu.”Damian menatap amplop tersebut cukup lama sebelum akhirnya mengambilnya.Nama Armand selalu mengingatkannya pada rahasia yang pernah menghancurkan hubungan dua keluarga. Namun, kali ini tidak ada laporan bisnis atau bukti hukum di tangannya. Hanya selembar surat dari ayah kandung Sera.Damian membuka amplop itu dengan hati-hati.Tulisan tangan di dalamnya masih terbaca jelas.Untuk Damian Wijaya, laki-laki yang suatu hari nanti mungkin akan menjadi suami putriku
“Damian, aku hanya ingin mengambil segelas air.”“Biar aku yang mengambilnya.”Sera menatap suaminya dengan kedua tangan bertumpu di pinggang. “Gelasnya ada di meja, tiga langkah dari sini.”“Lantainya mungkin licin.”“Tidak ada yang tumpah.”“Kalau begitu, biar aku tetap mengambilnya.”Sera memejamkan mata, menahan kesabaran.Kehamilannya telah memasuki tahap akhir. Perutnya semakin besar, gerakannya lebih lambat, dan ia mudah lelah. Namun, Damian bertindak seolah istrinya bisa menghilang setiap kali ia berpaling.Sejak pagi, ia sudah melarang Sera naik tangga sendirian, memindahkan bantal ke setiap sofa yang biasa didudukinya, dan menelepon Theo dua kali hanya untuk memastikan bahwa perubahan pola tidur Sera masih tergolong wajar.Kini, bahkan segelas air pun menjadi urusan besar.“Damian, aku hamil, bukan terbuat dari kaca.”
“Kita harus menulis apa?”Damian menatap selembar kertas kosong di hadapannya seolah sedang menghadapi kontrak bisnis bernilai triliunan rupiah.Sera menahan senyum. “Surat untuk anak kita.”“Aku tahu.”“Kalau begitu, kenapa wajahmu seperti sedang menghadapi rapat pemegang saham?”Damian meletakkan pena, lalu menatap istrinya. “Karena aku tidak ingin menulis sesuatu yang salah.”Sera menggeser kursinya mendekat.“Ini bukan laporan perusahaan, Damian. Anak kita tidak akan menilai tata bahasa atau susunan kalimatmu.”“Bagaimana kalau suatu hari dia membacanya dan menganggap ayahnya bodoh?”Sera tertawa kecil. “Kalau begitu, setidaknya dia akan tahu ayahnya punya sisi yang lucu.”Damian menggeleng, tetapi sudut bibirnya terangkat.Malam itu, mereka duduk berdampingan di ruang keluarga. Dua lembar kertas, dua pena, dan sebuah kotak kayu kecil terletak di atas meja. Mereka sepakat menulis surat untuk calon anak
“Damian, kita sedang menyiapkan kamar bayi, bukan membangun cabang perusahaanmu!”Clara meletakkan katalog furnitur di atas meja.Damian mengabaikannya. Ia masih memeriksa denah kamar bayi di tabletnya.“Aku hanya memastikan semuanya aman.”“Kau sudah menolak tiga tempat tidur bayi, meminta pengukuran ulang lemari, dan membuat daftar pencahayaan.” Clara menatap kakaknya tak percaya. “Bayi kita belum lahir, tetapi dia sudah punya rencana kerja.”Sera tertawa kecil dari sofa.Damian menoleh. “Kamu juga menertawakanku?”“Aku hanya merasa Clara ada benarnya.”“Aku ingin anak kita mendapatkan yang terbaik.”Sera menghampirinya, lalu menggenggam tangannya.“Yang terbaik tidak selalu berarti paling mahal atau paling lengkap. Kita sedang menyiapkan kamar untuk bayi, bukan ruang pamer.”Damian terdiam.Clara langsu







