LOGINSera terbangun ketika cahaya pagi menyelinap melalui celah tirai.
Untuk beberapa detik, ia tidak mengingat apa pun.
Sampai kemudian ia menyadari sesuatu.
Ia tidak sendirian.
Sera menoleh perlahan.
Damian masih berada di sisi ranjang.
Pria itu membelakanginya, tetapi jarak mereka tidak lagi sejauh semalam. Entah bagaimana, saat tidur, tubuh Damian bergeser sedikit mendekat. Tidak sampai menyentuhnya, hanya cukup untuk membuat jarak yang semula terasa s
Sera tidak menyangka akan bertemu Selena sore itu.Perempuan itu berdiri di depan pintu sebuah kafe dengan sikap tenang, seolah kedatangannya sudah direncanakan sejak awal. Tidak ada senyum ramah. Tidak ada basa-basi.Hanya tatapan yang membuat Sera langsung merasa tidak nyaman.“Aku ingin bicara denganmu.”Sera terdiam sejenak.“Tentang apa?”“Damian.”Satu nama itu cukup membuat hati Sera terasa sedikit berat.Sejak percakapan mereka beberapa malam lalu, hubungan Sera dan Damian masih berada dalam jarak yang aneh. Mereka tidak bertengkar. Tidak pula benar-benar berdamai.Damian masih memperhatikannya dari jauh.Namun ia tidak lagi mendekat.Sera akhirnya mengangguk.Mereka duduk berhadapan.Selena meletakkan tasnya di samping kursi.“Kau tahu Damian sedang menyembunyikan sesuatu darimu?”Sera menatapnya.“Aku tahu.&rd
Sera mulai menyadari perubahan itu pada pagi ketiga.Bukan sesuatu yang besar.Damian masih pulang ke rumah. Masih duduk di meja makan. Masih menjawab ketika Sera bertanya. Bahkan secangkir kopi tanpa gula tetap tersedia di tempatnya setiap pagi.Tetapi ada sesuatu yang hilang.Tatapan Damian.Dulu, meskipun hanya sebentar, laki-laki itu akan memandangnya ketika Sera sedang berbicara. Kadang matanya berhenti pada wajah Sera lebih lama dari yang seharusnya.Sekarang tidak.Setiap kali mata mereka hampir bertemu, Damian justru mengalihkan pandangan.Ketika Sera meletakkan cangkir di hadapannya, Damian hanya berkata, “Terima kasih.”Ketika Sera duduk di seberangnya, Damian segera membuka berkas.Ketika Sera bertanya apakah ia akan pulang untuk makan malam, Damian menjawab singkat, “Jangan tunggu aku.”Kalimat itu sederhana.Tetapi entah mengapa, terdengar seperti sesuatu yang jau
Map tua itu masih berada di atas meja ketika Damian kembali ke rumah.Ia tidak membawanya.Rafael menyimpan seluruh arsip tersebut di tempat yang lebih aman setelah mereka sepakat untuk tidak mengatakan apa pun kepada Sera sebelum mendapatkan bukti yang lebih lengkap.Namun satu kalimat dari arsip itu tidak bisa ditinggalkan Damian di ruang kerja.Perubahan identitas bayi dilakukan atas permintaan pihak keluarga.Sejak membaca kalimat itu, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.Siapa bayi itu?Mengapa identitasnya diubah?Dan mengapa perubahan tersebut terjadi tepat pada malam ketika keluarganya mengalami tragedi?Damian berhenti ketika melihat Miriam Adeline di ruang tamu.Perempuan itu duduk sendirian.Wajahnya tampak jauh lebih pucat daripada yang pernah Damian lihat sebelumnya.Di tangannya terdapat secangkir teh yang tidak disentuh.Damian tidak bertanya mengapa ia a
Malam itu, ruang kerja Damian terasa lebih dingin daripada biasanya.Rafael berdiri di dekat meja besar dengan sebuah map tua di tangannya. Map itu tampak kusam, tepinya menguning, dan beberapa bagian sampulnya sudah terkelupas. Tidak ada nama perusahaan, tidak ada lambang keluarga Wijaya.Hanya satu tulisan kecil yang hampir pudar.Arsip Rumah Sakit.Damian tidak langsung mengambilnya.Matanya justru tertuju pada wajah Rafael.“Apa ini?”Rafael meletakkan map tersebut perlahan di atas meja.“Aku menemukannya di arsip lama rumah sakit yang menangani kelahiran Sera.”Nama itu membuat Damian diam.Sera.Entah mengapa, hanya mendengar nama itu di tengah pembicaraan seperti ini membuat dadanya terasa berat.Beberapa hari terakhir, Damian sudah terbiasa melihat wajah Sera di rumah. Perempuan itu masih melakukan hal-hal kecil seperti biasa. Menyeduh teh di pagi hari
Malam terasa lebih sunyi dari biasanya.Setelah pertengkaran mereka berakhir, Sera masih berdiri di tempat yang sama. Kalimat Damian terus berputar di kepalanya.Aku tidak sanggup kehilanganmu.Sederhana.Tetapi bagi Sera, kalimat itu jauh lebih besar daripada semua janji yang pernah ia dengar.Damian masih berada di hadapannya. Tatapannya tidak lagi setajam beberapa menit lalu. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Sesuatu yang membuat Sera justru semakin takut untuk berharap."Damian..."Pria itu mengangkat wajah."Aku takut."Sera menunduk, memainkan ujung lengan bajunya."Aku takut semua yang terjadi di antara kita hanya sementara."Damian tidak segera menjawab.Ia mendekat satu langkah."Lihat aku."Sera menurut.Tatapan mereka bertemu."Aku sudah terlalu lama berbohong pada diriku sendiri," ujar Damian perlahan.Jantung Sera berdegup lebih cepat."
Pesan itu datang ketika Sera sedang sendirian di ruang kerja.Satu kalimat pendek muncul di layar ponselnya.Berhenti menggali masa lalu.Tidak ada nama pengirim. Tidak ada nomor yang dikenalnya.Jari Sera membeku di atas layar.Untuk beberapa detik, ia hanya menatap tulisan itu tanpa berkedip. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan semata karena takut, melainkan karena ia tahu pesan itu bukan kebetulan.Sejak pengakuan Miriam tentang Daniel dan Ratna, ada sesuatu yang berubah.Masa lalu yang selama ini dikubur keluarganya ternyata belum benar-benar mati.Dan seseorang tidak ingin Sera menemukannya.Ia membaca pesan itu sekali lagi.Kemudian satu pesan baru masuk.Kalau kau terus mencari tahu, bukan hanya nama keluargamu yang akan hancur.Napas Sera tercekat.Ia segera berdiri.Pintu ruang kerja terbuka beberapa menit kemudian. Damian muncul dengan lang







