LOGINMendengar pertanyaan ragu dari Vani, Devan hanya mendengus pelan sembari melambaikan tangannya seolah mengusir sang istri agar segera masuk ke dalam rumah."Iya sana kamu ganti baju sana bau acem." Ucap Devan meledek aroma tubuh Vani yang seharian belajar di kelas, padahal aslinya wajah Devan hanya sedang menutupi rasa gengsinya yang ketahuan mulai perhatian.Vani langsung mencibirkan bibirnya, menatap suaminya dengan pandangan mata melotot tidak terima dibilang bau matahari. "Enak ajah gak ya." Ucap Vani membela diri, karena dia yakin dia sudah memakai minyak wangi tadi siang sebelum bel pulang sekolah berbunyi.Si kecil Emran yang masih berdiri di dekat mereka langsung berkacak pinggang, menatap pamannya dengan pandangan mata menantang demi membela bibi kesayangannya. "Jangan di dengerin si Om mah aunty orang Om yang bau ketek juga bukan aunty." Ucap Emran dengan polosnya membalikkan ejekan Devan, membuat Vani seketika tertawa kecil menahan geli.Wajah Devan langsung berubah masam s
"Itu ambilin keripik kacang." Ucap Devan memberi perintah dengan dagu yang sedikit terangkat, menunjuk ke arah stoples tersebut.Vani yang sedang menata sendok langsung menoleh ke arah yang ditunjuk suaminya, lalu terkekeh pelan melihat ketidaktahuan Tuan Muda di hadapannya itu. Vani langsung membuka tutup toples dan mengambil beberapa bungkus camilan renyah tersebut."Ini bukan keripik kacang tapi rempeyek." Ucap Vani yang langsung kasih rempeyek nya ke Devan dengan senyuman tipis di wajahnya.Devan menerima camilan itu, lalu langsung menggigitnya hingga terdengar suara kriuk yang sangat nyaring. Matanya seketika berbinar karena rasa gurih dan asinnya bener-bener pas di lidah tingginya. "Siapa yang bikin ini?" Tanya Devan sembari terus mengunyah dengan lahap."Mbak Sari lah." Ucap Vani dengan nada bangga, pamer kalau masakan pemilik warteg yang dulu bantu Vani kerja di warteg ini.Devan manggut-manggut menikmati kegaringan rempeyek tersebut. Rasanya yang nagih membuat pria kaya itu l
Dengan langkah tegap yang memancarkan aura mengintimidasi, Devan jalan ke arah kumpulan anak-anak perempuan yang suka buli Vani selama ini di sekolah. Siska dan gengnya yang tadi tertawa mengejek seketika membeku saat menyadari pria jangkung berwajah tampan namun dingin itu melangkah lurus ke arah mereka dengan tatapan mata yang seolah siap menguliti mereka hidup-hidup.Devan berhenti tepat di depan Siska, melipat kedua tangannya di dada sembari menyunggingkan senyum meremehkan yang sangat sinis."Kamu bukannya jalang yang di club f?" tanya Devan dengan nada suara lantang yang sengaja dibuat terdengar oleh murid-murid lain di sekitar gerbang. Wajah Siska seketika berubah pucat pasi mendengar rahasia kelamnya dibongkar begitu saja.Devan mendengus jijik, lalu melanjutkan ucapannya dengan penuh penekanan. "Ternyata cuma jalang yang buli orang saya, dasar tak tau diri! Kalian semua harus tau kalau yang harus kalian buli itu bukan Vani yang kata kalian miskin. Vani itu orang saya! Dia mau
Devan terus majuin motor nya dengan kecepatan penuh membelah jalanan raya. Fokus matanya menatap lurus ke depan, dia tak mau lagi lihat kebelakang untuk meratapi wanita parasit seperti Lana. Dada Devan naik turun menahan rasa muak yang teramat sangat. Dia tahu pasti Zidan dan Lana ada sesuatu yang menjijikkan di dalam kamar kosan itu sebelum dia pergi tadi. Masalahnya, pas di ambang pintu tadi Devan gak sengaja lihat celana dalam Lana dan celana pendek Zidan ada di bawah pinggir kursi di dalam kamar. Fakta itu seolah menampar Devan bahwa keputusannya untuk mundur dan melepas Lana adalah hal yang paling tepat."Gila........!!!" teriak Devan sekencang mungkin di balik helmnya, meluapkan seluruh rasa jijik dan emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.Untuk menenangkan pikirannya yang kotor akibat kelakuan mantannya, Devan akhirnya ke sekolah Vani untuk mencari ketenangan dari sang istri sah. Dia menghentikan laju sepeda motor besarnya, lalu diam di depan gerbang sekolahan Vani yang tampak
Sesampainya di klinik dokter langganan keluarga, Eko dan Vani langsung berusaha keras mengalihkan perhatian si kecil. Sepanjang proses pemeriksaan, Emran diajak ngobrol terus-menerus seputar mainan dan kartun kesukaannya, sampai dia sendiri sama sekali tak sadar kalau lengan kecilnya sudah disuntik dan diambil darahnya oleh sang dokter.Dokter yang memeriksa Emran tersenyum ramah sembari menempelkan plester bergambar lucu di bekas suntikan. "Udah selesai, jangan kena air dulu ini ya, boy," ucap dokter itu dengan nada lembut menepuk bahu Emran.Emran yang baru sadar langsung mengerjapkan matanya yang bulat dengan ekspresi kebingungan. "Eeeehhhh... udah ini teh, Dok?" tanya Emran polos sembari menatap lengannya sendiri.Sang dokter terkekeh geli melihat tingkah menggemaskan itu. "Udah, tuh gak sakit kan?" tanya dokter itu balik memancing senyum Emran.Emran menarik sudut bibirnya, menahan gengsi anak laki-laki. "Sedikit sih..." ucap Emran mengakui rasa clekitnya yang hanya terasa sebent
Suasana di area luar bangunan sore itu terasa cukup hangat. Emran yang bertubuh mungil tampak mulai menunjukkan tanda-tante kelelahan, enggan melangkahkan kakinya sendiri di atas paving blok. Dia mendongak, menatap ke arah pria paruh baya yang selalu setia menemani keluarganya dengan pandangan manja."Gendong......" ucap Emran sembari mengulurkan kedua tangan kecilnya ke atas, meminta perhatian.Kardi yang memang sangat menyayangi anak majikannya itu langsung tersenyum lebar. Tanpa ragu sedikit pun, dia langsung membungkukkan badannya dengan sigap demi menuruti keinginan sang bocah. "Yuk.... di gendong...." ucap Kardi yang langsung gendong Emran ke dalam pelukannya yang kokoh, menepuk-nepuk punggung bocah itu dengan penuh kasih sayang.Eko yang berjalan di samping mereka menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kemanjaan sang anak yang seolah tidak mau lepas dari asisten pribadinya sejak tadi pagi. Dia mengulurkan tangannya, mencoba merayu anaknya agar mau pindah ke dekapannya sendiri.
Mang Kardi yang masih berdiri di ambang pintu penghubung berbentuk coklat tua itu langsung menggaruk kepalanya sembari menenteng kantong belanjaan. Dia menatap Devan dengan wajah kikuk sekaligus serba salah."Cemilannya ada di rumah sebelah, Den Devan. Saya gak bawa apa-apa ke sini, semuanya langsu
"Ada di dapur...!" ucap Vani dan Vano kompak bersamaan sembari telunjuk mereka menunjuk ke arah sudut ruangan yang sama.Mendengar petunjuk itu, mereka akhirnya berbondong-bondong berjalan ke area dapur rumah Vani. Langkah kaki mereka terhenti di depan sebuah pintu kayu bernuansa kuno yang terletak
"Hah.... Om Devan mah gak lihat-lihat sih, rumah aku itu posisinya strategis banget tahu! Lihat aja tuh, rumah aku pas banget di belokan jalan, dan di sebelah sana itu deket banget sama sekolah SD, SMP, dan SMA. Jadi, kalau Mang Kardi mau jualan di sana, jelas bakal lebih strategis dan ramai pembel
"Dung... cak.. cak.. dung... cak... cak..."Suara petikan senar bas betot yang bernada sumbang itu terdengar makin jelas dan nyaring mendekati pagar halaman rumah.Mata Eko melotot sempurna begitu melihat penampakan di luar teras. "Anjir! Setan alas, ternyata pengamen bencong...!" teriak Eko hister







