Partager

Ayo Chek in

Auteur: Mommy_Ar
last update Date de publication: 2026-06-10 11:35:01

Kalimat Nayra menggantung begitu saja di udara. Lidahnya mendadak kelu, terkunci rapat oleh rasa syok yang teramat sangat.

Sepasang matanya masih menatap tidak percaya pada kotak beludru merah di tangan Arga, lalu beralih pada rahang tegas pria itu yang kini mendongak menatapnya penuh harap.

"Aku gak maksa kamu buat langsung menerima aku sekarang, Nay. Aku tahu ini mendadak banget buat kamu," kata Arga, suara baritonnya melembut, mencoba mencairkan ketegangan yang menyelimuti atmosfer di anta
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Ayo Chek in

    Kalimat Nayra menggantung begitu saja di udara. Lidahnya mendadak kelu, terkunci rapat oleh rasa syok yang teramat sangat. Sepasang matanya masih menatap tidak percaya pada kotak beludru merah di tangan Arga, lalu beralih pada rahang tegas pria itu yang kini mendongak menatapnya penuh harap. "Aku gak maksa kamu buat langsung menerima aku sekarang, Nay. Aku tahu ini mendadak banget buat kamu," kata Arga, suara baritonnya melembut, mencoba mencairkan ketegangan yang menyelimuti atmosfer di antara mereka. "Tapi aku beneran berharap... walau seandainya hari ini kamu menolak lamaranku, kita masih bisa tetap akrab selayaknya tetangga dan teman dekat seperti sekarang ini. Aku gak mau setelah hari ini kamu malah menjauh dan canggung lagi sama aku."Mendengar ketulusan yang luar biasa dari kalimat Arga, rasa sesak karena gugup di dada Nayra perlahan-lahan mulai mengurai. Ia menatap lekat sepasang netra tajam di depannya, mencari sisa-sisa keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah se

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Sebuah pernyataan gila

    Nada suaranya mendadak berubah menjadi sangat serius, menghilangkan sisa-sisa gurauan usil yang sejak pagi ia lontarkan. "Apa, Mas?" Nayra mengerjapkan matanya, rasa penasaran yang besar seketika timbul di benaknya. Nayra mengubah posisi berdirinya menjadi sepenuhnya menghadap ke arah Arga, bersiap untuk mendengarkan. Namun, alih-alih langsung berbicara dari tempat duduknya, Arga perlahan bangkit berdiri. Pria tegap itu melangkah maju dua tapak, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka hingga aroma wangi parfumnya kembali menguar pekat menyentuh indra penciuman Nayra. Tanpa diduga, Arga mengulurkan kedua belah tangannya. Dengan gerakan yang teramat lembut namun pasti, ia meraih jemari mungil Nayra dan menggenggamnya dengan erat di antara telapak tangannya yang hangat. Nayra sedikit kaget. Sentuhan fisik yang mendadak itu seolah mengirimkan aliran listrik bertegangan rendah yang membuat seluruh tubuhnya menegang kaku. Jantungnya mulai berdegup dengan ritme ya

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Jalan jalan

    "Dih, apaan sih, Mbak Dewi! Enggak ah, jangan mengada-ada deh. Kita cuma biasa aja kok, selayaknya tetangga kosan yang saling bantu," elak Nayra dengan suara yang sedikit meninggi akibat salah tingkah."Yaelah, Nay... gak usah ngelak begitu sama Mbak," sahut Mbak Dewi sambil tertawa renyah, melangkah maju lalu mencolek dagu Nayra dengan gemas. "Lihat tuh wajah kamu sekarang. Gak usah pakai cermin juga Mbak tahu kalau pipi kamu itu sudah merah banget Nay, persis kayak kepiting yang baru aja kecemplung ke dalam kuah hot pot szechuan yang super pedas itu! Hahaha!"Seketika itu juga, Nayra langsung menangkup kedua belah pipinya dengan telapak tangan. Dan benar saja, kulit pipinya terasa sangat hangat dan terbakar hebat. Tawa renyah Mbak Dewi yang menggema di area jemuran pagi itu sukses membuat Nayra semakin malu setengah mati. Ia hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal sekaligus pasrah, menyadari bahwa radar gosip Mbak Dewi memang terlalu kuat untuk bisa dikelabui oleh sandiwara am

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Semakin dekat

    Ia terkekeh malu, menutupi mulutnya dengan sebelah tangan sementara pipinya kembali merona merah."Iya sih, Mas... habisnya di video itu saus lavanya kelihatan merah merona dan menggoda banget. Karena tiap hari lewat berandaku, ya sudah... aku jadikan bahan akting saja malam itu," aku Nayra jujur, diakhiri dengan tawa kecil yang terdengar sangat renyah di telinga Arga.Arga ikut tertawa pelan, sebuah tawa bariton yang hangat. Melihat senyuman manis Nayra yang kembali terukir, Arga tahu bahwa misinya untuk mengusir bayang-bayang pria bernama Rama itu telah berhasil sepenuhnya untuk sore ini. Di bawah temaram lampu kedai bakso, sandiwara yang bermula dari keterpaksaan itu perlahan-lahan mulai merajut babak baru yang jauh lebih nyata bagi hati mereka masing-masing.**Sejak sore yang berkesan di kedai bakso lava kala itu, lembaran baru dalam hubungan antara Nayra dan Arga perlahan-lahan mulai terbuka. Segala sesuatunya mengalir begitu saja seperti air, tanpa ada paksaan, tanpa ada ske

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Aku yang tidak mau!

    Mendengar suara itu, tubuh Nayra seketika membeku. Rasa hangat dan gugup yang sejak tadi mendominasi dadanya karena Arga, kini menguap tanpa bekas, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke seluruh aliran darahnya. Tatapan mata polos Nayra mendadak berubah menjadi sangat dingin dan menusuk. Ia melangkah keluar dari balik punggung Arga, menatap lurus ke arah pria necis di depannya.​"Ngapain kamu kesini?" tanya Nayra dengan nada suara yang teramat datar, dingin, dan tanpa ekspresi sedikit pun.​Atmosfer di lobby mall sore itu mendadak berubah menjadi medan pertempuran baru. Di satu sisi ada Arga yang menatap penuh selidik, di sisi lain ada pria asing dari masa lalu Nayra, dan di tengah-tengahnya ada Nayra yang kini harus berhadapan dengan babak baru kehidupan yang selama ini mati-matian ia hindari. "Kamu masih marah sama aku?" tanya pria bernama Rama itu, melangkah satu senti lebih dekat. Tatapan matanya beralih dari egois menjadi penuh permohonan, mencoba mencari sisa-sisa ke

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Jin dasim

    Nayra menggigit bibir bawahnya pelan, berpikir keras mencari celah untuk menolak halus. Namun, mengingat sore nanti ia memang tidak memiliki agenda lain setelah pulang kerja, akhirnya ia pasrah. "Sore aja gimana, Mas? Siang ini aku gak bisa keluar dari area mall karena cuma dapat waktu istirahat sebentar.""Baiklah, nanti sore sekalian aku jemput kamu di lobby mall."Melihat kalimat "aku jemput", jempol Nayra dengan kecepatan penuh langsung mengetik balasan instan untuk menolak. "Ehhh gak usah, Mas! Repot banget kalau harus jemput segala. Kita langsung ketemu di warung baksonya aja nanti sore."Namun, tampaknya Arga bukanlah tipe pria yang mudah digoyahkan keputusannya. Pesan terakhir dari pria itu masuk dengan sangat mutlak, menutup ruang negosiasi bagi Nayra. "Gapapa, tempat kerja kita dekat sekali, kompleks gedungnya bersebelahan. Jadi nanti sore sekalian aku jemput kamu pukul lima tepat. Jangan pulang duluan."Nayra melongo menatap layar

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status