Share

Bau apa nih??

Author: Mommy_Ar
last update publish date: 2026-05-31 10:33:10

Mbak Dewi justru terkekeh pelan melihat ekspresi panik Nayra yang berlebihan.

"Bercanda, Nay, bercanda. Biar kamunya gak tegang. Makanya ini kita bangunin dia, kita pastikan sendiri kondisi dia gimana.’’

‘’ Mas Arga... Mas!"

Tok, tok, tok!

Baru saja Mbak Dewi mengangkat tangannya untuk mengetuk kembali, terdengar suara gerendel pintu yang digeser perlahan dari dalam.

Bunyi klik kunci yang berputar membuat kedua wanita itu refleks menahan napas dan mundur satu langkah.

Pintu kayu yang catnya sudah agak mengelupas itu perlahan-lahan terbuka ke dalam.

Begitu celah pintu melebar, Nayra seketika terpaku di tempatnya berdiri. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan.

Kondisi Arga yang berdiri di ambang pintu benar-benar jauh lebih parah dari apa yang ia bayangkan sebelumnya lewat cerita Mbak Dewi.

Sudut bibir kiri pria itu pecah dan dilapisi bercak darah kering yang menghitam.

Tulang pipi sebelah kanannya tampak membiru keunguan akibat hantaman benda tumpul yang keras.

Tidak hanya di wajah, lengan kanannya yang kokoh kini dibalut perban putih secara acak-acakan, sementara di beberapa bagian kaki dan lututnya yang terekspos terlihat jelas luka lecet kemerahan yang belum sepenuhnya mengering.

Pagi ini, Arga hanya mengenakan celana pendek santai berwarna hitam dan kaos oblong putih yang tampak agak kusut.

Tatapan matanya yang biasa tajam kini terlihat layu, redup, dan sarat akan rasa lelah yang teramat sangat.

Pria itu bersandar lemah pada kusen pintu, mencoba menopang berat tubuhnya sendiri agar tetap bisa berdiri tegak menghadapi tamunya.

"Mas Arga... ya ampun, gimana kondisinya sekarang?" tanya Mbak Dewi langsung tanpa basa-basi,

suaranya sampai naik satu oktav karena syok melihat penampakan fisik tetangganya itu secara langsung.

Arga mencoba menarik sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman, namun gerakan kecil itu justru membuat luka di ujung bibirnya kembali tertarik.

Ia meringis samar sebelum menjawab.

"Saya gapapa, Mbak Dewi," jawab Arga dengan suara yang terdengar sangat lemah, baritonnya yang biasa tegas kini terdengar parau dan tak bertenaga.

Nayra yang sejak tadi hanya diam memperhatikan, merasa dadanya seperti diremas kuat.

Rasa bersalah karena sempat menuduh pria ini bertindak asusila semalam kini berubah menjadi rasa iba yang mendalam.

Ia melangkah maju satu senti di sebelah Mbak Dewi, menatap lebam di wajah Arga dengan tatapan mata yang bergetar.

"Mas... apa gak sebaiknya Mas Arga ke rumah sakit aja sekarang? Takutnya ada luka dalam yang gak kelihatan," tanya Nayra pelan, nada suaranya dipenuhi kecemasan yang tulus.

Arga mengalihkan pandangannya dari Mbak Dewi, beralih menatap lurus ke dalam manik mata Nayra.

Menyadari gurat kekhawatiran yang begitu nyata di wajah gadis itu, senyuman Arga kali ini terasa sedikit lebih lembut, mengabaikan rasa perih di bibirnya.

"Gak perlu, Mbak Nayra. Terima kasih. Saya cukup istirahat di kamar saja beberapa hari ini, nanti juga sembuh sendiri kok. Sudah biasa," kata Arga, mencoba menenangkan.

"Tapi itu memarnya parah banget, Mas. Sampai biru begitu pipinya," suara Nayra bergetar tanpa bisa ia kendalikan.

Sudut matanya bahkan mulai terasa panas melihat betapa malangnya kondisi pria di depannya ini.

"Gak kok, beneran. Ini sudah diobati semalam seadanya, pakai salep kompres. Sudah gapapa, jangan khawatir," sahut Arga lagi,

nadanya terdengar begitu sabar meyakinkan Nayra, seolah dialah yang sedang berusaha melindungi gadis itu dari rasa panik.

Nayra meremas tali tasnya semakin erat, otaknya berputar memikirkan apa yang bisa ia lakukan untuk meringankan beban tetangganya ini.

"Mas Arga... Mas Arga sudah sarapan belum pagi ini? Biar tenaganya pulih."

"Sudah... tadi di dalam kebetulan masih ada sisa roti tawar. Sudah saya makan sedikit," jawab Arga jujur, walau sebenarnya ia hampir tidak bisa menelan apapun karena rasa sakit di rahangnya.

"Atau... atau ada sesuatu yang lagi Mas mau atau butuhkan sekarang? Obat merah, kain kompres baru, atau mungkin makanan hangat? Biar nanti sekalian saya belikan di depan gang sebelum saya berangkat kerja," tawar Nayra bertubi-tubi dengan nada yang sangat bersungguh-sungguh.

Ia benar-benar ingin menebus kesalahan pikirannya yang kotor semalam dengan memberikan bantuan nyata.

Arga menatap lekat-lekat wajah Nayra yang tampak begitu tulus menawarinya bantuan.

Semburat tipis rasa hangat entah bagaimana muncul di dada pria itu di tengah rasa sakit sekujur tubuhnya.

"Gak usah repot-repot, Mbak Nayra. Terima kasih banyak atas kebaikannya. Di dalam semua perlengkapan obat sudah cukup," tolak Arga dengan sangat halus dan penuh rasa hormat.

‘’Tapi—”

‘’Saya benar tidak apa apa,”

Sementara Arga dan Nayra terus terlibat dalam dialog intens yang sarat akan perhatian dan kekhawatiran, mereka berdua sama sekali tidak menyadari perubahan atmosfer di sekitar mereka.

Mbak Dewi, yang awalnya menjadi juru bicara dan pengetuk pintu utama, mendadak berubah peran menjadi penonton bayangan alias obat nyamuk di antara mereka berdua.

Mbak Dewi berdiri menyamping, melipat kedua tangannya di depan dada sambil bersandar pada dinding koridor.

Sepasang matanya yang berpengalaman itu menatap intens ke arah dua manusia di depannya.

Ia bergantian memperhatikan bagaimana cara Nayra menatap lebam Arga dengan mata yang berkaca-kaca, dan bagaimana cara Arga membalas tatapan itu dengan kelembutan yang tidak pernah ia tunjukkan pada orang lain di kosan ini.

Mereka berdua bicara begitu intens, saling melempar kalimat perhatian, seolah-olah dunia saat ini hanya milik mereka berdua sampai melupakan keberadaan Mbak Dewi yang berdiri tegak di samping mereka.

‘’Hemmm tiba tiba ada aroma sesuatu nih,’’ ucapan mbak Dewi sontak membuyarkan pandangan Arga dan Nayra.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   TAMAT S2

    Hari yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Ballroom hotel bintang lima paling megah di pusat Jakarta telah disulap menjadi sebuah istana megah bernuansa royal grand botanical. Ribuan tangkai bunga impor segar berwarna putih, krem, dan keemasan melapisi setiap sudut ruangan, memancarkan aroma harum yang lembut. Lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit tinggi membiaskan cahaya keemasan yang sangat berkilau, memantul sempurna di atas lantai marmer berpola mewah. Di dalam kamar rias pengantin, Arshyla duduk di depan cermin berbingkai emas. Gaun pengantin bernuansa putih ivory yang dipilihnya melingkar sempurna di tubuh anggunnya. Ekor gaun sepanjang dua meter yang dihiasi payet kristal mutiara tampak menjuntai indah di atas karpet. Rambut hitam lurusnya ditata dengan gelombang halus yang sangat elegan, dihiasi mahkota tiara berlian tipis yang kian memancarkan kecantikan alaminya. Bunda Nay

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 33 s2

    Sejak malam penawaran lamaran di meja makan keluarga Argantara itu, kehidupan Arshyla berubah seratus delapan puluh derajat. Siklus hari-harinya yang biasanya diisi dengan jadwal menemani Nakara di kantor Argantara Law Firm kini sirnah sepenuhnya. Arshy tidak lagi diperbolehkan ikut menembus kemacetan Jakarta untuk merapikan berkas-berkas hukum Naka atau sekadar menyeduh teh chamomile di ruang kerja pria itu. Setiap pagi, sebelum Naka sempat menyapa Arshy di meja makan, sebuah mobil jemputan khusus yang dikirim langsung oleh Bunda Nayra sudah bersiap di depan pelataran rumah. "Arshy sayang, hari ini ikut Bunda ya! Kita punya banyak sekali daftar tempat yang harus dikunjungi," seru Bunda Nayra penuh semangat setiap kali menyambut Arshy dengan pelukan hangat. Sejak saat itulah, Arshy praktis diambil alih oleh calon ibu mertuanya. Naka yang biasanya selalu menempel dan protektif memagari Arshy kini terpaksa menelan kekecewaan. Pria berjas mahal itu kerap kali ditinggalka

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 32 s2

    "Gimana sayang, kamu mau kan menikah sama anak Bunda?" tanya Bunda Nayra dengan raut wajah penuh harap, menatap Arshy lekat-lekat.Arshy membeku di tempatnya. Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya bagaikan petir di siang bolong. Rasa canggung dan bingung seketika melingkupi dadanya. Ia memindahkan pandangannya dari Bunda Nayra, lalu melirik pelan ke arah Naka yang duduk di sampingnya.Dalam hatinya, Arshy sadar diri. Siapa dirinya? Hanya seorang gadis panti asuhan yang tak punya apa-apa, sementara Naka adalah pengacara ternama dari keluarga terpandang. Ia merasa sama sekali tidak pantas disandingkan dengan pria sesempurna Nakara Argantara. Namun yang membuat hatinya makin tak karuan, laki-laki di sampingnya itu justru hanya diam seribu bahasa, menatap lurus ke depan tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk menolak atau menerima.Keheningan di meja makan itu mendadak terasa mencekam. Arshy makin bingung dan serba salah."Naka! Buruan ngomong!" desa

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 31 s2

    Hari demi hari berganti tanpa terasa. Masa-masa awal yang penuh rasa canggung, tangis, dan kepura-puraan kini perlahan menguap digantikan oleh kenyamanan yang mengakar kuat. Hampir tiga bulan lamanya Arshy menetap di kediaman Nakara Argantara. Hubungan keduanya berkembang pesat menuju arah yang amat manis, meski belum ada ikatan resmi yang terucap di antara mereka.Di kantor Argantara Law Firm, Arshy tak lagi sekadar menjadi ‘pajangan ruangan’ seperti yang pernah dikatakan Naka. Gadis berambut lurus yang anggun itu menjelma menjadi sosok yang sangat disayangi oleh seluruh staf. Tanpa diminta, Arshy dengan senang hati membantu pekerjaan ringan di kantor Naka. Mulai dari merapikan meja kerja Naka yang kerap dipenuhi dokumen tebal, menyusun berkas hukum sesuai tanggal, membantu Vano memilah arsip sidang, hingga menyeduh teh hangat favorit Naka setiap pagi. Presence Arshy di ruangan kerja Naka seolah menjadi penawar stres utama bagi sang pengacara konda

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 30 s2

    Usai majelis hakim meninggalkan ruangan, ketegangan di dalam ruang sidang perlahan meluruh. Para jurnalis dan pengunjung mulai bergerak keluar. Naka sibuk merapikan berkas-berkas hukumnya dengan gerakan yang terkesan terburu-buru, mencoba menyembunyikan detak jantungnya yang masih berpacu kencang di dalam dada.Vano yang berdiri di samping Naka menatap sang bos dengan raut penuh selidik dan sedikit jahil."Pak Naka..." panggil Vano pelan seraya berbisik.Naka tak mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya. "Apa?""Bapak tadi... beneran blank gara-gara disenyumin Nona Arshy?" goda Vano tanpa rasa takut.Naka seketika menghentikan pergerakan tangannya. Iris matanya mendadak melirik tajam ke arah asistennya itu, memancarkan kilat intimidasi yang membuat Vano langsung bungkam."Vano," tegur Naka dingin, suaranya sarat penekanan. "Fokus pada berkas putusan untuk minggu depan, atau gajimu bulan ini kupotong setengah.""E-Eh! Jangan, Pak! Ampun, saya c

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 29 s2

    Naka terpaku sejenak. Pertanyaan polos dari Arshy yang terlontar dalam jarak serapat ini membuat dada Naka mendadak berdesir aneh. Ada perasaan hangat yang mendesak bangkit dari lubuk hatinya, perasaan tertarik yang semakin sulit ia sangkal. Namun, gengsi tingginya sebagai seorang Nakara Argantara dengan cepat mengambil alih pertahanan dirinya. Naka berdehem pelan, menguasai kembali ekspresi wajahnya agar tetap terlihat dingin dan profesional. "Karena kita partner. Inget, kita sudah tanda tangan kontrak," kata Naka tajam, enggan mengakui bahwa ia mulai tertarik pada sosok gadis di hadapannya itu. Naka segera melepas pelukan hangat itu. Ia berdiri tegak, merapikan kemeja putihnya yang sedikit kusut akibat remasan jemari Arshy tadi. Pria itu melangkah santai menuju sudut ruangan tempat sebuah kulkas mini berdiri. Naka membukanya, mengambil satu botol air mineral dingin dan segelas jus buah segar untuk meredakan ketegangan Arshy. Naka kembali ke sofa, mengulurkan gelas jus itu

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Dia pacarku!

    Matahari sore baru saja terbenam ketika Nayra melangkah keluar dari area Mall Sentra.Shift kerjanya di butik tas mewah terasa berjalan lebih cepat hari ini, atau mungkin pikirannya saja yang terlalu terbagi sehingga tidak fokus pada waktu. Sepanjang hari, bayangan wajah lebam Arga dan rasa bersal

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Tiba-tiba khawatir

    JEDUARRR!Bagai disambar petir di siang bolong, jantung Nayra mendadak mencos. Kalimat Mbak Dewi barusan terasa seperti hantaman keras yang meruntuhkan semua asumsi liar dan pikiran kotor yang bersarang di kepalanya sejak semalam.‘’Di keroyok?" beo Nayra, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Suara ITU lagi!

    ‘’Ngaco kamu Tar! Udah ah, ayo buruan kerja!’’Hari kerja berlalu bagai siksaan yang panjang bagi Nayra. Berdiri berjam-jam di atas sepatu pantofel sembari melayani pelanggan butik yang cerewet benar-benar menguras sisa energinya. Ketika jam pulang akhirnya tiba pada pukul sembilan malam, Nayra m

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Semoga Gol

    Pikiran-pikiran nakal tentang suara lenguhan semalam kembali berputar di kepalanya, membuat pipi Nayra merona merah di balik kaca helm kelam yang ia kenakan.Tapi berkat kelihaian Arga selap-selip di antara barisan mobil, mereka akhirnya tiba di depan lobi selatan Mall Sentra hanya dalam waktu lima

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status