LOGINMbak Dewi justru terkekeh pelan melihat ekspresi panik Nayra yang berlebihan.
"Bercanda, Nay, bercanda. Biar kamunya gak tegang. Makanya ini kita bangunin dia, kita pastikan sendiri kondisi dia gimana.’’ ‘’ Mas Arga... Mas!" Tok, tok, tok! Baru saja Mbak Dewi mengangkat tangannya untuk mengetuk kembali, terdengar suara gerendel pintu yang digeser perlahan dari dalam. Bunyi klik kunci yang berputar membuat kedua wanita itu refleks menahan napas dan mundur satu langkah. Pintu kayu yang catnya sudah agak mengelupas itu perlahan-lahan terbuka ke dalam. Begitu celah pintu melebar, Nayra seketika terpaku di tempatnya berdiri. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Kondisi Arga yang berdiri di ambang pintu benar-benar jauh lebih parah dari apa yang ia bayangkan sebelumnya lewat cerita Mbak Dewi. Sudut bibir kiri pria itu pecah dan dilapisi bercak darah kering yang menghitam. Tulang pipi sebelah kanannya tampak membiru keunguan akibat hantaman benda tumpul yang keras. Tidak hanya di wajah, lengan kanannya yang kokoh kini dibalut perban putih secara acak-acakan, sementara di beberapa bagian kaki dan lututnya yang terekspos terlihat jelas luka lecet kemerahan yang belum sepenuhnya mengering. Pagi ini, Arga hanya mengenakan celana pendek santai berwarna hitam dan kaos oblong putih yang tampak agak kusut. Tatapan matanya yang biasa tajam kini terlihat layu, redup, dan sarat akan rasa lelah yang teramat sangat. Pria itu bersandar lemah pada kusen pintu, mencoba menopang berat tubuhnya sendiri agar tetap bisa berdiri tegak menghadapi tamunya. "Mas Arga... ya ampun, gimana kondisinya sekarang?" tanya Mbak Dewi langsung tanpa basa-basi, suaranya sampai naik satu oktav karena syok melihat penampakan fisik tetangganya itu secara langsung. Arga mencoba menarik sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman, namun gerakan kecil itu justru membuat luka di ujung bibirnya kembali tertarik. Ia meringis samar sebelum menjawab. "Saya gapapa, Mbak Dewi," jawab Arga dengan suara yang terdengar sangat lemah, baritonnya yang biasa tegas kini terdengar parau dan tak bertenaga. Nayra yang sejak tadi hanya diam memperhatikan, merasa dadanya seperti diremas kuat. Rasa bersalah karena sempat menuduh pria ini bertindak asusila semalam kini berubah menjadi rasa iba yang mendalam. Ia melangkah maju satu senti di sebelah Mbak Dewi, menatap lebam di wajah Arga dengan tatapan mata yang bergetar. "Mas... apa gak sebaiknya Mas Arga ke rumah sakit aja sekarang? Takutnya ada luka dalam yang gak kelihatan," tanya Nayra pelan, nada suaranya dipenuhi kecemasan yang tulus. Arga mengalihkan pandangannya dari Mbak Dewi, beralih menatap lurus ke dalam manik mata Nayra. Menyadari gurat kekhawatiran yang begitu nyata di wajah gadis itu, senyuman Arga kali ini terasa sedikit lebih lembut, mengabaikan rasa perih di bibirnya. "Gak perlu, Mbak Nayra. Terima kasih. Saya cukup istirahat di kamar saja beberapa hari ini, nanti juga sembuh sendiri kok. Sudah biasa," kata Arga, mencoba menenangkan. "Tapi itu memarnya parah banget, Mas. Sampai biru begitu pipinya," suara Nayra bergetar tanpa bisa ia kendalikan. Sudut matanya bahkan mulai terasa panas melihat betapa malangnya kondisi pria di depannya ini. "Gak kok, beneran. Ini sudah diobati semalam seadanya, pakai salep kompres. Sudah gapapa, jangan khawatir," sahut Arga lagi, nadanya terdengar begitu sabar meyakinkan Nayra, seolah dialah yang sedang berusaha melindungi gadis itu dari rasa panik. Nayra meremas tali tasnya semakin erat, otaknya berputar memikirkan apa yang bisa ia lakukan untuk meringankan beban tetangganya ini. "Mas Arga... Mas Arga sudah sarapan belum pagi ini? Biar tenaganya pulih." "Sudah... tadi di dalam kebetulan masih ada sisa roti tawar. Sudah saya makan sedikit," jawab Arga jujur, walau sebenarnya ia hampir tidak bisa menelan apapun karena rasa sakit di rahangnya. "Atau... atau ada sesuatu yang lagi Mas mau atau butuhkan sekarang? Obat merah, kain kompres baru, atau mungkin makanan hangat? Biar nanti sekalian saya belikan di depan gang sebelum saya berangkat kerja," tawar Nayra bertubi-tubi dengan nada yang sangat bersungguh-sungguh. Ia benar-benar ingin menebus kesalahan pikirannya yang kotor semalam dengan memberikan bantuan nyata. Arga menatap lekat-lekat wajah Nayra yang tampak begitu tulus menawarinya bantuan. Semburat tipis rasa hangat entah bagaimana muncul di dada pria itu di tengah rasa sakit sekujur tubuhnya. "Gak usah repot-repot, Mbak Nayra. Terima kasih banyak atas kebaikannya. Di dalam semua perlengkapan obat sudah cukup," tolak Arga dengan sangat halus dan penuh rasa hormat. ‘’Tapi—” ‘’Saya benar tidak apa apa,” Sementara Arga dan Nayra terus terlibat dalam dialog intens yang sarat akan perhatian dan kekhawatiran, mereka berdua sama sekali tidak menyadari perubahan atmosfer di sekitar mereka. Mbak Dewi, yang awalnya menjadi juru bicara dan pengetuk pintu utama, mendadak berubah peran menjadi penonton bayangan alias obat nyamuk di antara mereka berdua. Mbak Dewi berdiri menyamping, melipat kedua tangannya di depan dada sambil bersandar pada dinding koridor. Sepasang matanya yang berpengalaman itu menatap intens ke arah dua manusia di depannya. Ia bergantian memperhatikan bagaimana cara Nayra menatap lebam Arga dengan mata yang berkaca-kaca, dan bagaimana cara Arga membalas tatapan itu dengan kelembutan yang tidak pernah ia tunjukkan pada orang lain di kosan ini. Mereka berdua bicara begitu intens, saling melempar kalimat perhatian, seolah-olah dunia saat ini hanya milik mereka berdua sampai melupakan keberadaan Mbak Dewi yang berdiri tegak di samping mereka. ‘’Hemmm tiba tiba ada aroma sesuatu nih,’’ ucapan mbak Dewi sontak membuyarkan pandangan Arga dan Nayra.Bagai disengat aliran listrik bertegangan tinggi, tubuh Nayra seketika menegang sempurna saat di tunjuk pacar oleh duda sebelah kamarnya.Jantungnya berdegup sangat kencang, memukul-mukul rongga dadanya dengan ritme yang berantakan hingga ia hampir lupa bagaimana cara bernapas. Kantong plastik di genggamannya berkerisik pelan karena jarinya yang mendadak gemetar.Nayra yang menjadi pusat perhatian mendadak linglung. Dengan gerakan kaku, ia menolehkan kepalanya ke arah kanan, lalu ke arah kiri, mencoba mencari tahu apakah ada orang lain yang berdiri di dekatnya yang mungkin menjadi objek tunjukan Arga. Namun nihil. Tidak ada siapa-siapa di radius satu meter di sampingnya. Di belakangnya, hanya ada Mbak Dewi yang sedang asyik mengobrol setengah berbisik dengan Bu Ratmi, sang pemilik kosan, yang baru saja turun dari lantai dua."Sayang, kamu sudah pulang?"Suara Arga mendadak berubah drastis. Nada dingin dan menggelegar yang ia gunakan untuk mengusir Shila beberapa detik lalu lenyap
Matahari sore baru saja terbenam ketika Nayra melangkah keluar dari area Mall Sentra.Shift kerjanya di butik tas mewah terasa berjalan lebih cepat hari ini, atau mungkin pikirannya saja yang terlalu terbagi sehingga tidak fokus pada waktu. Sepanjang hari, bayangan wajah lebam Arga dan rasa bersalah yang menggunung terus membayangi benaknya.Sebelum memesan ojek online untuk pulang, Nayra menyempatkan diri mampir ke sebuah rumah makan di dekat mall untuk membeli satu porsi makanan hangat. Tidak lupa, ia juga singgah ke toko buah terdekat, memilih satu kantong plastik berisi buah jeruk dan apel segar. Ia berpikir, orang yang sedang memulihkan diri dari luka fisik pasti membutuhkan asupan nutrisi yang baik. Setidaknya, ini adalah cara terbaik bagi Nayra untuk menebus prasangka buruknya semalam.Namun, harapan Nayra untuk bisa menjenguk tetangganya dengan tenang seketika pupus begitu ia melangkah masuk ke koridor lantai satu kosan tua itu. Suasana lorong yang biasanya sepi di jam-ja
Mbak Dewi justru terkekeh pelan melihat ekspresi panik Nayra yang berlebihan. "Bercanda, Nay, bercanda. Biar kamunya gak tegang. Makanya ini kita bangunin dia, kita pastikan sendiri kondisi dia gimana.’’‘’ Mas Arga... Mas!"Tok, tok, tok!Baru saja Mbak Dewi mengangkat tangannya untuk mengetuk kembali, terdengar suara gerendel pintu yang digeser perlahan dari dalam. Bunyi klik kunci yang berputar membuat kedua wanita itu refleks menahan napas dan mundur satu langkah. Pintu kayu yang catnya sudah agak mengelupas itu perlahan-lahan terbuka ke dalam.Begitu celah pintu melebar, Nayra seketika terpaku di tempatnya berdiri. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Kondisi Arga yang berdiri di ambang pintu benar-benar jauh lebih parah dari apa yang ia bayangkan sebelumnya lewat cerita Mbak Dewi.Sudut bibir kiri pria itu pecah dan dilapisi bercak darah kering yang menghitam. Tulang pipi sebelah kanannya tampak membiru keunguan akibat hantaman benda tumpul yang keras. Tidak hanya di w
JEDUARRR!Bagai disambar petir di siang bolong, jantung Nayra mendadak mencos. Kalimat Mbak Dewi barusan terasa seperti hantaman keras yang meruntuhkan semua asumsi liar dan pikiran kotor yang bersarang di kepalanya sejak semalam.‘’Di keroyok?" beo Nayra, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. "Kok... kok Mbak Dewi bisa tahu? Mas Arga berantem sama siapa?"Mbak Dewi mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum bercerita. "Aku juga gak tahu gimana cerita aslinya, Nay. Cuma semalam tuh, kan, aku lagi di room sebelah, lagi sibuk melayani tamu yang pesan minum."Mbak Dewi menjeda kalimatnya sebentar, menoleh ke kanan dan ke kiri seolah memastikan tidak ada penghuni kos lain yang menguping pembicaraan sensitif ini."Tiba-tiba, VIP room yang di sebelah tempatku itu rame banget, berisik suara botol pecah sama kursi digeser kasar," lanjut Mbak Dewi dengan mata melebar, menggambarkan ketegangan malam itu. "Kami semua yang di luar, anak-anak kasir sama waitress langsung
‘’Ngaco kamu Tar! Udah ah, ayo buruan kerja!’’Hari kerja berlalu bagai siksaan yang panjang bagi Nayra. Berdiri berjam-jam di atas sepatu pantofel sembari melayani pelanggan butik yang cerewet benar-benar menguras sisa energinya. Ketika jam pulang akhirnya tiba pada pukul sembilan malam, Nayra merasa seluruh persendiannya lolos. Ia beruntung kali ini langsung mendapatkan ojek online tanpa perlu drama pembatalan seperti tadi pagi. Sepanjang jalan membelah angin malam kota, pikiran Nayra hanya tertuju pada satu hal: kasur, selimut, dan tidur nyenyak yang mutlak. Ia berdoa dalam hati semoga malam ini sang duda sebelah kamar juga sama lelahnya dan memilih untuk langsung tidur.Nayra tiba di kosan hampir pukul sepuluh malam. Suasana lantai satu sudah sepi, hanya menyisakan lampu koridor yang sengaja diredupkan. Kamar Mbak Dewi tertutup rapat, seperti biasa dia pasti bekerja, dan akan pulang esok hari lagi.Sambil menghela napas lega, Nayra membuka pintu kamarnya, masuk, dan langsung
Pikiran-pikiran nakal tentang suara lenguhan semalam kembali berputar di kepalanya, membuat pipi Nayra merona merah di balik kaca helm kelam yang ia kenakan.Tapi berkat kelihaian Arga selap-selip di antara barisan mobil, mereka akhirnya tiba di depan lobi selatan Mall Sentra hanya dalam waktu lima belas menit. Nayra bernapas lega, ia punya sisa waktu sepuluh menit sebelum jam absennya dimulai.Begitu motor berhenti sempurna di area drop-off, Nayra segera turun dengan gerakan secepat yang ia bisa, mencoba mengembalikan jarak aman di antara mereka. Ia melepas kancing helm dengan jemari yang sedikit gemetar, lalu menyerahkannya kembali kepada pria itu."Makasih ya, Mas, tumpangannya. Dan... maaf banget kalau sudah merepotkan jalan Mas Arga pagi-pagi begini," ujar Nayra setengah membungkuk, menatap Arga dengan rasa sungkan yang kentara.Arga menerima helm abu-abu itu dengan satu tangan, lalu menaruhnya di dahan spion. Ia menatap Nayra sejenak, senyuman tipis yang misterius namun menaw







