Share

Dia pacarku!

Author: Mommy_Ar
last update publish date: 2026-05-31 10:33:37

Matahari sore baru saja terbenam ketika Nayra melangkah keluar dari area Mall Sentra.

Shift kerjanya di butik tas mewah terasa berjalan lebih cepat hari ini, atau mungkin pikirannya saja yang terlalu terbagi sehingga tidak fokus pada waktu.

Sepanjang hari, bayangan wajah lebam Arga dan rasa bersalah yang menggunung terus membayangi benaknya.

Sebelum memesan ojek online untuk pulang, Nayra menyempatkan diri mampir ke sebuah rumah makan di dekat mall untuk membeli satu porsi makanan hangat.

Tidak lupa, ia juga singgah ke toko buah terdekat, memilih satu kantong plastik berisi buah jeruk dan apel segar.

Ia berpikir, orang yang sedang memulihkan diri dari luka fisik pasti membutuhkan asupan nutrisi yang baik.

Setidaknya, ini adalah cara terbaik bagi Nayra untuk menebus prasangka buruknya semalam.

Namun, harapan Nayra untuk bisa menjenguk tetangganya dengan tenang seketika pupus begitu ia melangkah masuk ke koridor lantai satu kosan tua itu.

Suasana lorong yang biasanya sepi di jam-jam pulang kerja, kini mendadak ramai.

Beberapa penghuni kosan, termasuk Mbak Dewi dan beberapa anak lantai dua, tampak berdiri berkerumun di depan kamarnya dan Arga.

Suasana di depan kamar Arga terasa canggung dan tegang.

Alih-alih suasana menjenguk yang penuh simpati, dari dalam kamar yang pintunya terbuka sedikit itu justru terdengar suara perdebatan yang cukup riuh dan intens.

"Aku lagi gak mau debat, Shil!" Suara Arga terdengar memecah keheningan koridor.

Meskipun terdengar lemah, parau, dan sarat akan rasa sakit fisik, nada baritonnya malam ini terasa begitu berat dan penuh dengan penekanan emosi yang tertahan.

"Aku juga gak mau debat sama kamu, Ga. Tapi aku beneran tulus ke kamu! Tolong dengerin aku dulu!"

Suara lengkingan seorang wanita membalas dari dalam kamar.

Suara itu terdengar asing di telinga Nayra, elegan, namun penuh dengan nada menuntut yang egois.

Nayra berdiri terpaku beberapa langkah di belakang kerumunan. Jantungnya mendadak berdegup kencang karena terkejut.

Walau pintu kamar itu terbuka, tubuh beberapa orang yang berdiri di depan Nayra sepenuhnya menghalangi pandangannya untuk melihat langsung siapa sosok wanita di dalam sana.

Kantong plastik berisi makanan dan buah di genggaman tangan Nayra terasa mendadak berat.

"Mending kamu pulang dulu sekarang, aku mau istirahat!" usir Arga tanpa tedeng aling-aling.

Suaranya terdengar sangat dingin, seolah tidak ada lagi ruang untuk negosiasi.

"Arga, plis... aku gak bisa diginiin!" ratap wanita itu lagi, nadanya mulai terdengar histeris dan memelas.

"Kamu pikir aku bisa diginiin juga?" Suara Arga meninggi satu oktav, memotong kalimat wanita itu dengan tajam.

Dari celah kerumunan, Nayra bisa merasakan aura intimidasi yang pekat.

Arga mengembuskan napasnya dengan kasar, sebuah helaan napas penuh frustrasi yang membuat dadanya yang memar terasa semakin nyeri.

Tubuhnya malam ini benar-benar terasa remuk redam akibat pengeroyokan semalam, namun emosi yang bergejolak di dadanya seperti enggan untuk dia tahan lagi.

"Kamu tahu gimana paniknya aku semalam setelah menerima telepon darimu? Dan sekarang, kamu lihat kondisi aku sekarang?" tanya Arga dengan suara bergetar menahan amarah, tangan kirinya mengepal erat di atas seprai kasur hingga buku-buku jarinya memutih.

‘’Ar, aku bisa jelasin semuanya.’’

‘’Gak perlu, aku gak mau denger apapun lagi. Aku Cuma mau minta tolong, pergilah! Jangan menghubungiku lagi !’’

‘’Tapi Ar—‘’

‘’Plis Shil, jaga perasaan pacar ku!’’

‘’What! Pacar? Kamu sudah punya pacar Ga?’’

‘’Iya, jadi kamu pergilah dan jangan menggangguku lagi. Ini kali terakhir aku terlibat sama kamu!’’

‘’Gak mungkin, kamu bohong sama aku kan Ga? Gak mungkin kamu punya pacar hahaha, bohong, gak mungkin!’’

‘’Kamu gak percaya ? Itu pacar aku!’’

Seketika itu juga, Shila memutar tubuhnya dengan cepat.

Pandangan matanya yang tajam dan sarat akan rasa permusuhan langsung menembus celah pintu, mengikuti arah telunjuk Arga.

Matanya tertuju pada seorang gadis yang masih mengenakan seragam kerja lengkap blazer hitam dan celana formal, sembari menenteng kantong plastik berisi bubur ayam dan sebuah kantong buah di tangan kirinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   TAMAT S2

    Hari yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Ballroom hotel bintang lima paling megah di pusat Jakarta telah disulap menjadi sebuah istana megah bernuansa royal grand botanical. Ribuan tangkai bunga impor segar berwarna putih, krem, dan keemasan melapisi setiap sudut ruangan, memancarkan aroma harum yang lembut. Lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit tinggi membiaskan cahaya keemasan yang sangat berkilau, memantul sempurna di atas lantai marmer berpola mewah. Di dalam kamar rias pengantin, Arshyla duduk di depan cermin berbingkai emas. Gaun pengantin bernuansa putih ivory yang dipilihnya melingkar sempurna di tubuh anggunnya. Ekor gaun sepanjang dua meter yang dihiasi payet kristal mutiara tampak menjuntai indah di atas karpet. Rambut hitam lurusnya ditata dengan gelombang halus yang sangat elegan, dihiasi mahkota tiara berlian tipis yang kian memancarkan kecantikan alaminya. Bunda Nay

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 33 s2

    Sejak malam penawaran lamaran di meja makan keluarga Argantara itu, kehidupan Arshyla berubah seratus delapan puluh derajat. Siklus hari-harinya yang biasanya diisi dengan jadwal menemani Nakara di kantor Argantara Law Firm kini sirnah sepenuhnya. Arshy tidak lagi diperbolehkan ikut menembus kemacetan Jakarta untuk merapikan berkas-berkas hukum Naka atau sekadar menyeduh teh chamomile di ruang kerja pria itu. Setiap pagi, sebelum Naka sempat menyapa Arshy di meja makan, sebuah mobil jemputan khusus yang dikirim langsung oleh Bunda Nayra sudah bersiap di depan pelataran rumah. "Arshy sayang, hari ini ikut Bunda ya! Kita punya banyak sekali daftar tempat yang harus dikunjungi," seru Bunda Nayra penuh semangat setiap kali menyambut Arshy dengan pelukan hangat. Sejak saat itulah, Arshy praktis diambil alih oleh calon ibu mertuanya. Naka yang biasanya selalu menempel dan protektif memagari Arshy kini terpaksa menelan kekecewaan. Pria berjas mahal itu kerap kali ditinggalka

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 32 s2

    "Gimana sayang, kamu mau kan menikah sama anak Bunda?" tanya Bunda Nayra dengan raut wajah penuh harap, menatap Arshy lekat-lekat.Arshy membeku di tempatnya. Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya bagaikan petir di siang bolong. Rasa canggung dan bingung seketika melingkupi dadanya. Ia memindahkan pandangannya dari Bunda Nayra, lalu melirik pelan ke arah Naka yang duduk di sampingnya.Dalam hatinya, Arshy sadar diri. Siapa dirinya? Hanya seorang gadis panti asuhan yang tak punya apa-apa, sementara Naka adalah pengacara ternama dari keluarga terpandang. Ia merasa sama sekali tidak pantas disandingkan dengan pria sesempurna Nakara Argantara. Namun yang membuat hatinya makin tak karuan, laki-laki di sampingnya itu justru hanya diam seribu bahasa, menatap lurus ke depan tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk menolak atau menerima.Keheningan di meja makan itu mendadak terasa mencekam. Arshy makin bingung dan serba salah."Naka! Buruan ngomong!" desa

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 31 s2

    Hari demi hari berganti tanpa terasa. Masa-masa awal yang penuh rasa canggung, tangis, dan kepura-puraan kini perlahan menguap digantikan oleh kenyamanan yang mengakar kuat. Hampir tiga bulan lamanya Arshy menetap di kediaman Nakara Argantara. Hubungan keduanya berkembang pesat menuju arah yang amat manis, meski belum ada ikatan resmi yang terucap di antara mereka.Di kantor Argantara Law Firm, Arshy tak lagi sekadar menjadi ‘pajangan ruangan’ seperti yang pernah dikatakan Naka. Gadis berambut lurus yang anggun itu menjelma menjadi sosok yang sangat disayangi oleh seluruh staf. Tanpa diminta, Arshy dengan senang hati membantu pekerjaan ringan di kantor Naka. Mulai dari merapikan meja kerja Naka yang kerap dipenuhi dokumen tebal, menyusun berkas hukum sesuai tanggal, membantu Vano memilah arsip sidang, hingga menyeduh teh hangat favorit Naka setiap pagi. Presence Arshy di ruangan kerja Naka seolah menjadi penawar stres utama bagi sang pengacara konda

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 30 s2

    Usai majelis hakim meninggalkan ruangan, ketegangan di dalam ruang sidang perlahan meluruh. Para jurnalis dan pengunjung mulai bergerak keluar. Naka sibuk merapikan berkas-berkas hukumnya dengan gerakan yang terkesan terburu-buru, mencoba menyembunyikan detak jantungnya yang masih berpacu kencang di dalam dada.Vano yang berdiri di samping Naka menatap sang bos dengan raut penuh selidik dan sedikit jahil."Pak Naka..." panggil Vano pelan seraya berbisik.Naka tak mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya. "Apa?""Bapak tadi... beneran blank gara-gara disenyumin Nona Arshy?" goda Vano tanpa rasa takut.Naka seketika menghentikan pergerakan tangannya. Iris matanya mendadak melirik tajam ke arah asistennya itu, memancarkan kilat intimidasi yang membuat Vano langsung bungkam."Vano," tegur Naka dingin, suaranya sarat penekanan. "Fokus pada berkas putusan untuk minggu depan, atau gajimu bulan ini kupotong setengah.""E-Eh! Jangan, Pak! Ampun, saya c

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 29 s2

    Naka terpaku sejenak. Pertanyaan polos dari Arshy yang terlontar dalam jarak serapat ini membuat dada Naka mendadak berdesir aneh. Ada perasaan hangat yang mendesak bangkit dari lubuk hatinya, perasaan tertarik yang semakin sulit ia sangkal. Namun, gengsi tingginya sebagai seorang Nakara Argantara dengan cepat mengambil alih pertahanan dirinya. Naka berdehem pelan, menguasai kembali ekspresi wajahnya agar tetap terlihat dingin dan profesional. "Karena kita partner. Inget, kita sudah tanda tangan kontrak," kata Naka tajam, enggan mengakui bahwa ia mulai tertarik pada sosok gadis di hadapannya itu. Naka segera melepas pelukan hangat itu. Ia berdiri tegak, merapikan kemeja putihnya yang sedikit kusut akibat remasan jemari Arshy tadi. Pria itu melangkah santai menuju sudut ruangan tempat sebuah kulkas mini berdiri. Naka membukanya, mengambil satu botol air mineral dingin dan segelas jus buah segar untuk meredakan ketegangan Arshy. Naka kembali ke sofa, mengulurkan gelas jus itu

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bau apa nih??

    Mbak Dewi justru terkekeh pelan melihat ekspresi panik Nayra yang berlebihan. "Bercanda, Nay, bercanda. Biar kamunya gak tegang. Makanya ini kita bangunin dia, kita pastikan sendiri kondisi dia gimana.’’‘’ Mas Arga... Mas!"Tok, tok, tok!Baru saja Mbak Dewi mengangkat tangannya untuk mengetuk ke

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Pegangan, Nay!

    Arga melirik ke arah Nayra sekilas, lalu kembali menatap Mbak Dewi. "Iya, betul. Kompleks gedungnya memang bersebelahan langsung dengan area mall.""Wahhh, pas banget! Pucuk dicinta ulam pun tiba, Nayra kecewa mas Arga punm tiba," Mbak Dewi berputar menghadap Arga dengan wajah memelas yang dibuat-

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Kebetulan atau Takdir

    "Pagi juga mbak, permisi ya," jawab laki-laki itu berusaha ramah dan sopan.‘’Iya Mas, hati hati ya. Kalau butuh sesuatu bisa calling me,” kata mbak Dewi bercanda namun sukses membuat laki laki itu bergidik ngeri.Dia segera pamit pergi ke kamar nya, sebelum dia kembali di goda oleh wanita itu.Ber

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Suara aneh

    Krieeet... krieeet..."Eughhh!""Sshhhh..."Mata Nayra langsung terbuka lebar, menatap lurus ke langit-langit kamar yang temaram. Dalam sekejap, rasa kantuk yang tadinya menggelayuti kelopak matanya menguap tanpa bekas.Tubuhnya menegang di balik selimut tipis. Jantungnya mulai bertalu cepat, buk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status