Se connecter‘’Ngaco kamu Tar! Udah ah, ayo buruan kerja!’’
Hari kerja berlalu bagai siksaan yang panjang bagi Nayra. Berdiri berjam-jam di atas sepatu pantofel sembari melayani pelanggan butik yang cerewet benar-benar menguras sisa energinya. Ketika jam pulang akhirnya tiba pada pukul sembilan malam, Nayra merasa seluruh persendiannya lolos. Ia beruntung kali ini langsung mendapatkan ojek online tanpa perlu drama pembatalan seperti tadi pagi. Sepanjang jalan membelah angin malam kota, pikiran Nayra hanya tertuju pada satu hal: kasur, selimut, dan tidur nyenyak yang mutlak. Ia berdoa dalam hati semoga malam ini sang duda sebelah kamar juga sama lelahnya dan memilih untuk langsung tidur. Nayra tiba di kosan hampir pukul sepuluh malam. Suasana lantai satu sudah sepi, hanya menyisakan lampu koridor yang sengaja diredupkan. Kamar Mbak Dewi tertutup rapat, seperti biasa dia pasti bekerja, dan akan pulang esok hari lagi. Sambil menghela napas lega, Nayra membuka pintu kamarnya, masuk, dan langsung menguncinya dari dalam. Ia meletakkan tas kerjanya di atas meja kecil, melepas blazer hitamnya yang terasa gerah, lalu segera membersihkan diri seadanya. Begitu tubuhnya terbalut kaus longgar dan celana tidur, Nayra langsung menjatuhkan diri ke atas kasur. Sensasi empuk walau kasurnya sudah agak tipis terasa seperti surga dunia. "Akhirnya... tidur," gumam Nayra pada diri sendiri. Ia menarik selimut hingga ke dada, memejamkan mata, dan membiarkan kesadaran lambat laun merayap pergi. Krieeet... krieeet... Mata Nayra langsung terbuka lebar. Jantungnya berdegup kencang, memompa adrenalin yang seketika menghancurkan kantuknya dalam sekejap. Ia melirik ke arah jam digital di ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Pukul 01.45 dini hari. "Demi apa... jam begini lagi?" batin Nayra, nyaris menangis karena frustrasi. Krieeet... dug... dug... Suara derit ranjang kayu itu terdengar lagi, kali ini diikuti oleh benturan ritmis yang samar pada dinding bata yang memisahkan kamar mereka. Nayra menahan napas, menempelkan telinganya ke bantal, mencoba mengabaikan suara itu. Namun, dinding tua itu seolah bertindak sebagai speaker alami yang justru memperjelas setiap detail audio dari sebelah. "Eughhh... hahh!" Suara lenguhan berat yang tertahan memecah keheningan malam. Itu suara Arga. Suara bariton yang tadi pagi menyapanya dengan begitu sopan dan berwibawa di atas motor, kini terdengar begitu rapuh, penuh tekanan, dan... sensual. "Sshhh... pelan-pelan. Jangan pegang itu!’’ Dahi Nayra berkerut dalam di tengah kegelapan kamarnya. Jantungnya bertalu-talu, bukan lagi hanya karena kesal, melainkan karena ada rasa penasaran dan sensasi aneh yang menggelitik perutnya. "Jangan pegang itu?" Nayra mengulang kalimat itu dalam hati, ‘’Megang apaan?’’ ‘’Shhh cukup! Berhentii!’’ Suara Arga terdengar semakin intens. Nayra mengepalkan tangannya di balik selimut. Pikirannya benar-benar melesat liar ke arah yang tabu. Mengingat bayangan tubuh proporsional pria itu tadi pagi yang hanya berbalut singlet putih, dengan otot lengan yang mencuat dan sisa air mandi yang menetes di lehernya... wajah Nayra seketika terasa terbakar hebat di dalam kegelapan. "Astaga, Nayra! Sadar! Pikirkan hal lain!" rutuknya pada diri sendiri, mencoba mengusir bayangan erotis yang mendadak memenuhi otaknya. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi dinding, lalu menutupi kepalanya dengan bantal erat-erat. Namun, suara derit ranjang yang konstan itu seolah terus mengejarnya, mengetuk-ngetuk kesadarannya hingga menjelang subuh. ** Keesokan harinya, sejarah kembali berulang. Nayra terbangun dengan kondisi yang jauh lebih mengenaskan daripada kemarin. Kepala bagian belakangnya terasa pening akibat tidur yang terputus-putus. Dengan langkah gontai dan wajah sekusut kain pel, Nayra keluar kamar membawa peralatan mandinya. Cklek. Sebelum melangkah keluar, secara refleks matanya langsung tertuju pada pintu kamar di sebelah kanannya. Kamar milik Arga tampak tertutup rapat, sepi, dan hening tanpa tanda-tanda kehidupan. Nayra mendengus pelan, Ia segera melangkah menuju kamar mandi umum dengan handuk dan keranjang sabunnya. Hari ini ia harus bergerak lebih cepat. Ia tidak mau mengulangi drama kemarin pagi yang penuh kepanikan, di mana ia harus mengemis tumpangan berkat aksi provokasi Mbak Dewi. Cukup sekali saja ia merasakan sensasi mendebarkan sekaligus memalukan saat berboncengan sedekat itu dengan sang duda sebelah kamar. Namun, keanehan mulai terasa ketika Nayra selesai mandi dan kembali ke kamarnya untuk berdandan. Waktu terus bergulir, jam dindingnya sudah menunjuk ke angka setengah delapan lewat. Biasanya, pada jam-jam rawan seperti ini, Arga pasti sudah rapi dengan kemeja slim-fit andalannya. Tetapi sampai Nayra selesai menyematkan nametag di blazer hitamnya dan mengancingkan sepatu pantofelnya, bayangan Arga sama sekali tidak terlihat. Pria itu seolah lenyap ditelan bumi. "Apa dia kecapekan karena semalam suntuk 'lembur' sama pacarnya?" gumam Nayra sinis sambil mematut diri di depan cermin. Ia mencibir sendiri mengingat rangkaian suara desahan dan rintihan yang menyiksanya tadi malam. Pikiran negatifnya langsung menyimpulkan bahwa pria itu pasti kesiangan karena terlalu memforsir energi di balik selimut. Sambil menghela napas berat untuk mengusir rasa kesal yang kekanak-kanakan itu, Nayra menyampirkan tas kerjanya di bahu dan melangkah keluar menuju teras kosan. Ia mengeluarkan ponsel, bersiap memesan ojek online lebih awal agar tidak terlambat. Baru saja ia menuruni anak tangga teras, tiba-tiba gerbang kosan terbuka dengan suara decitan nyaring. Mbak Dewi berjalan terburu-buru memasuki halaman. Wajah Mbak Dewi terlihat panik, napasnya sedikit terengah-engah saat matanya menangkap sosok Nayra. Ia langsung berbelok arah dan menghampiri Nayra dengan langkah seribu. "Nay! Kamu sudah tahu belum?" tanya Mbak Dewi setengah berbisik, namun nadanya penuh dengan urgensi yang meledak-ledak. Nayra menghentikan gerakan jemarinya di atas layar ponsel. Ia menatap Mbak Dewi dengan dahi berkerut heran. ‘’Tau apa mbak? Heboh banget pagi pagi ?’’ ‘’Semalem Arga di keroyok orang!’’Menara Sudirman berdiri megah dan berkilau di bawah terik matahari Jakarta. Marmer mengkilap, aroma parfum mahal, serta lalu lalang orang-orang ber-jas rapi membuat Arshy merasa seperti makhluk asing dari planet lain.Mengenakan kemeja putih yang sedikit lecek dan celana kain hitam pudar, Arshy melangkah masuk ke area lobby Argantara & Partners Law Firm di lantai 18."Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa dibantu? Sudah ada janji appointment dengan pengacara kami?" sela seorang resepsionis cantik dengan senyum ramah yang terlatih."Pagi, Mbak. Saya mau bertemu dengan Pak Nakara Argantara. Penting sekali," ucap Arshy cepat, menyatukan kedua tangannya di dada.Resepsionis itu memeriksa layar komputernya. "Atas nama siapa? Dari perusahaan apa?""Saya... saya Arshila. Bukan dari perusahaan, Mbak. Saya ingin meminta bantuan hukum untuk sengketa tanah panti asuhan kami."Senyum resepsionis itu perlahan memudar, berganti dengan tatapan prihatin yang diwarnai rasa canggu
Pagi belum sepenuhnya menyapa ketika bus antarkota yang ditumpangi Arshy berhenti di Terminal Pulo Gebang, Jakarta Timur. Deru mesin kendaraan besar, asap knalpot yang memedihkan mata, serta teriakan para calo tiket langsung menyambut pendengarannya.Arshy memeluk erat tas ransel kusamnya di depan dada. Di dalam tas itu, selain beberapa helai pakaian sederhana, terdapat seluruh tabungan terakhir panti yang sempat ia kumpulkan bersama Tasya uang senilai satu juta lima ratus ribu rupiah. Harta terakhir yang menjadi penyambung nafas bagi perjuangannya di ibu kota."Jakarta..." gumam Arshy pelan. Matanya menatap deretan gedung menjulang tinggi di kejauhan yang tertutup kabut polusi. Bagi Arshy, gedung-gedung itu terlihat seperti raksasa beton yang siap menelan siapa saja yang lemah.Langkah pertama Arshy dimulai dengan mendatangi sebuah alamat di kawasan Manggarai yang ia dapatkan dari brosur agen penyalur tenaga kerja beberapa minggu lalu. Dengan berbekal peta kertas dan sisa daya p
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Tasya, menghantam dada Arshy bagaikan pukulan benda tumpul. Arshy perlahan melepaskan dekapan anak-anak. Ia berdiri, menatap tidak percaya pada sahabatnya sendirigadis yang tumbuh bersama dirinya di bawah atap yang sama."Tasya, kamu sadar dengan apa yang kamu ucapin?" gumam Arshy, suaranya gemetar menahan amarah yang mendidih."Sadar lah!" balas Tasya setengah berteriak, matanya mulai berkaca-kaca karena frustrasi. "Kamu lihat Bunda Rahayu di rumah sakit? Sampai sekarang kondisinya malah semakin kritis di ICU! Kita butuh biaya banyak buat bayar kamar, obat, sama perawatan Bunda! Daripada kita capek-capek cari uang yang jumlahnya tidak masuk akal cuma buat nebus tanah panti ini, mending kita fokus ke Bunda!"Tasya melangkah maju, mendekati Arshy yang membeku. Ia memegang kedua bahu Arshy, menatap mata sahabatnya dengan tatapan memohon sekaligus putus asa."Ar, sadar, Ar... panti ini sudah bukan hak kita lagi. Kita cuma menumpang!"Plaakkk
"Bunda serius, Naka," sela Nayra, menatap putra sulungnya dengan pandangan penuh harap. "Teman-teman Bunda semuanya sudah punya menantu. Bahkan anak Tante Dona yang usianya di bawah kamu, bulan depan mau menikah. Kamu kapan kenalin calon kamu ke rumah?’’"Naka belum mikirin ke sana, Bun. Karir Naka baru dimulai. Banyak kasus besar yang butuh perhatian penuh dari Naka," alasan yang sama kembali diluncurkan Naka bagai tameng."Pekerjaan itu enggak akan ada habisnya, Nakara!" tegas Arga kali ini dengan nada lebih berbobot. "Kamu butuh pendamping. Orang yang bisa menyambut kamu saat kamu lelah pulang kerja, orang yang bisa bikin hidup kamu enggak cuma isinya kertas dan hukum. Ayah sama Bunda gak minta kamu langsung menikah besok, tapi setidaknya bawa satu wanita yang serius sama kamu.""Naka belum menemukan yang cocok, Yah," potong Naka mantap. "Dan Naka enggak mau terburu-buru cuma demi memenuhi ekspektasi orang."Nayra menghela napas panjang, menatap suaminya dengan raut wajah menye
Belasan tahun kemudian … Suara ketukan palu hakim menggema kokoh di dalam ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Keheningan yang menegang seketika pecah, berganti menjadi bisik-bisik riuh dari para pengunjung, awak media, hingga barisan pengacara yang memadati area belakang. "Menyatakan bahwa Gugatan Wanprestasi yang diajukan oleh Pihak Penggugat ditolak seluruhnya. Dan membebankan seluruh biaya perkara kepada Pihak Penggugat." Di barisan depan meja Tergugat, seorang pria berdiri tegap. Ia merapikan kancing jas hitam disukanya yang membalut bahu tegap dan lebar itu dengan gerakan yang sangat tenang, bahkan cenderung dingin. Wajahnya yang tegas, dengan rahang kokoh dan tatapan mata tajam di balik sorot matanya yang tenang, sama sekali tidak menunjukkan luapan kegembiraan berlebih. Nakara Argantara. Pengacara muda berumur 25 tahun yang dalam tiga tahun terakhir menjadi mimpi buruk bagi lawan-lawannya di meja hijau. "Kerja bagus, Nakara," bisik rekan senior di
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden tipis di ruang keluarga rumah megah Arga. Udara pagi terasa sangat sejuk, diiringi aroma minyak telon dan bedak bayi yang khas, memenuhi setiap sudut ruangan. Rumah yang dulunya sepi dan hening itu kini menjelma menjadi istana penuh tawa, riuh, dan kehangatan yang meluap-luap.Di atas sofa panjang yang empuk, Nayra duduk bersandarkan bantal dengan senyuman lembut yang tak pernah pudar dari wajah ayunya. Di kedua lengannya, terbaring dua sosok mungil yang terbungkus bedong kain lembut berwarna pastel. Anak kembar mereka yang baru berusia dua bulan, seorang bayi perempuan cantik bernama Shakira Arunika dan bayi laki-laki tampan bernama Arshaka Sebastian sedang tertidur lelap setelah selesai menyusu."Sayang, kamu tahu, tas tempat pensil warna Naka di mana ya? Kok gak ada di meja belajar?"Suara berat nan hangat Arga memecah keheningan pagi. Pria itu keluar dari arah koridor kamar anak dengan penampilan yang sudah s
Matahari sore baru saja terbenam ketika Nayra melangkah keluar dari area Mall Sentra.Shift kerjanya di butik tas mewah terasa berjalan lebih cepat hari ini, atau mungkin pikirannya saja yang terlalu terbagi sehingga tidak fokus pada waktu. Sepanjang hari, bayangan wajah lebam Arga dan rasa bersal
Arga melirik ke arah Nayra sekilas, lalu kembali menatap Mbak Dewi. "Iya, betul. Kompleks gedungnya memang bersebelahan langsung dengan area mall.""Wahhh, pas banget! Pucuk dicinta ulam pun tiba, Nayra kecewa mas Arga punm tiba," Mbak Dewi berputar menghadap Arga dengan wajah memelas yang dibuat-
"Pagi juga mbak, permisi ya," jawab laki-laki itu berusaha ramah dan sopan.‘’Iya Mas, hati hati ya. Kalau butuh sesuatu bisa calling me,” kata mbak Dewi bercanda namun sukses membuat laki laki itu bergidik ngeri.Dia segera pamit pergi ke kamar nya, sebelum dia kembali di goda oleh wanita itu.Ber
Krieeet... krieeet..."Eughhh!""Sshhhh..."Mata Nayra langsung terbuka lebar, menatap lurus ke langit-langit kamar yang temaram. Dalam sekejap, rasa kantuk yang tadinya menggelayuti kelopak matanya menguap tanpa bekas.Tubuhnya menegang di balik selimut tipis. Jantungnya mulai bertalu cepat, buk







