分享

Suara ITU lagi!

作者: Mommy_Ar
last update publish date: 2026-05-31 10:31:50

‘’Ngaco kamu Tar! Udah ah, ayo buruan kerja!’’

Hari kerja berlalu bagai siksaan yang panjang bagi Nayra.

Berdiri berjam-jam di atas sepatu pantofel sembari melayani pelanggan butik yang cerewet benar-benar menguras sisa energinya.

Ketika jam pulang akhirnya tiba pada pukul sembilan malam, Nayra merasa seluruh persendiannya lolos.

Ia beruntung kali ini langsung mendapatkan ojek online tanpa perlu drama pembatalan seperti tadi pagi.

Sepanjang jalan membelah angin malam kota, pikiran Nayra hanya tertuju pada satu hal: kasur, selimut, dan tidur nyenyak yang mutlak.

Ia berdoa dalam hati semoga malam ini sang duda sebelah kamar juga sama lelahnya dan memilih untuk langsung tidur.

Nayra tiba di kosan hampir pukul sepuluh malam. Suasana lantai satu sudah sepi, hanya menyisakan lampu koridor yang sengaja diredupkan.

Kamar Mbak Dewi tertutup rapat, seperti biasa dia pasti bekerja, dan akan pulang esok hari lagi.

Sambil menghela napas lega, Nayra membuka pintu kamarnya, masuk, dan langsung menguncinya dari dalam.

Ia meletakkan tas kerjanya di atas meja kecil, melepas blazer hitamnya yang terasa gerah, lalu segera membersihkan diri seadanya.

Begitu tubuhnya terbalut kaus longgar dan celana tidur, Nayra langsung menjatuhkan diri ke atas kasur.

Sensasi empuk walau kasurnya sudah agak tipis terasa seperti surga dunia.

"Akhirnya... tidur," gumam Nayra pada diri sendiri.

Ia menarik selimut hingga ke dada, memejamkan mata, dan membiarkan kesadaran lambat laun merayap pergi.

Krieeet... krieeet...

Mata Nayra langsung terbuka lebar. Jantungnya berdegup kencang, memompa adrenalin yang seketika menghancurkan kantuknya dalam sekejap.

Ia melirik ke arah jam digital di ponselnya yang tergeletak di samping bantal.

Pukul 01.45 dini hari.

"Demi apa... jam begini lagi?" batin Nayra, nyaris menangis karena frustrasi.

Krieeet... dug... dug...

Suara derit ranjang kayu itu terdengar lagi, kali ini diikuti oleh benturan ritmis yang samar pada dinding bata yang memisahkan kamar mereka.

Nayra menahan napas, menempelkan telinganya ke bantal, mencoba mengabaikan suara itu.

Namun, dinding tua itu seolah bertindak sebagai speaker alami yang justru memperjelas setiap detail audio dari sebelah.

"Eughhh... hahh!"

Suara lenguhan berat yang tertahan memecah keheningan malam.

Itu suara Arga. Suara bariton yang tadi pagi menyapanya dengan begitu sopan dan berwibawa di atas motor, kini terdengar begitu rapuh, penuh tekanan, dan... sensual.

"Sshhh... pelan-pelan. Jangan pegang itu!’’

Dahi Nayra berkerut dalam di tengah kegelapan kamarnya.

Jantungnya bertalu-talu, bukan lagi hanya karena kesal, melainkan karena ada rasa penasaran dan sensasi aneh yang menggelitik perutnya.

"Jangan pegang itu?" Nayra mengulang kalimat itu dalam hati, ‘’Megang apaan?’’

‘’Shhh cukup! Berhentii!’’

Suara Arga terdengar semakin intens.

Nayra mengepalkan tangannya di balik selimut. Pikirannya benar-benar melesat liar ke arah yang tabu.

Mengingat bayangan tubuh proporsional pria itu tadi pagi yang hanya berbalut singlet putih, dengan otot lengan yang mencuat dan sisa air mandi yang menetes di lehernya... wajah Nayra seketika terasa terbakar hebat di dalam kegelapan.

"Astaga, Nayra! Sadar! Pikirkan hal lain!" rutuknya pada diri sendiri, mencoba mengusir bayangan erotis yang mendadak memenuhi otaknya.

Ia membalikkan tubuhnya membelakangi dinding, lalu menutupi kepalanya dengan bantal erat-erat.

Namun, suara derit ranjang yang konstan itu seolah terus mengejarnya, mengetuk-ngetuk kesadarannya hingga menjelang subuh.

**

Keesokan harinya, sejarah kembali berulang.

Nayra terbangun dengan kondisi yang jauh lebih mengenaskan daripada kemarin.

Kepala bagian belakangnya terasa pening akibat tidur yang terputus-putus.

Dengan langkah gontai dan wajah sekusut kain pel, Nayra keluar kamar membawa peralatan mandinya.

Cklek.

Sebelum melangkah keluar, secara refleks matanya langsung tertuju pada pintu kamar di sebelah kanannya.

Kamar milik Arga tampak tertutup rapat, sepi, dan hening tanpa tanda-tanda kehidupan.

Nayra mendengus pelan, Ia segera melangkah menuju kamar mandi umum dengan handuk dan keranjang sabunnya.

Hari ini ia harus bergerak lebih cepat.

Ia tidak mau mengulangi drama kemarin pagi yang penuh kepanikan, di mana ia harus mengemis tumpangan berkat aksi provokasi Mbak Dewi.

Cukup sekali saja ia merasakan sensasi mendebarkan sekaligus memalukan saat berboncengan sedekat itu dengan sang duda sebelah kamar.

Namun, keanehan mulai terasa ketika Nayra selesai mandi dan kembali ke kamarnya untuk berdandan.

Waktu terus bergulir, jam dindingnya sudah menunjuk ke angka setengah delapan lewat.

Biasanya, pada jam-jam rawan seperti ini, Arga pasti sudah rapi dengan kemeja slim-fit andalannya.

Tetapi sampai Nayra selesai menyematkan nametag di blazer hitamnya dan mengancingkan sepatu pantofelnya, bayangan Arga sama sekali tidak terlihat.

Pria itu seolah lenyap ditelan bumi.

"Apa dia kecapekan karena semalam suntuk 'lembur' sama pacarnya?" gumam Nayra sinis sambil mematut diri di depan cermin.

Ia mencibir sendiri mengingat rangkaian suara desahan dan rintihan yang menyiksanya tadi malam.

Pikiran negatifnya langsung menyimpulkan bahwa pria itu pasti kesiangan karena terlalu memforsir energi di balik selimut.

Sambil menghela napas berat untuk mengusir rasa kesal yang kekanak-kanakan itu,

Nayra menyampirkan tas kerjanya di bahu dan melangkah keluar menuju teras kosan.

Ia mengeluarkan ponsel, bersiap memesan ojek online lebih awal agar tidak terlambat.

Baru saja ia menuruni anak tangga teras, tiba-tiba gerbang kosan terbuka dengan suara decitan nyaring.

Mbak Dewi berjalan terburu-buru memasuki halaman.

Wajah Mbak Dewi terlihat panik, napasnya sedikit terengah-engah saat matanya menangkap sosok Nayra.

Ia langsung berbelok arah dan menghampiri Nayra dengan langkah seribu.

"Nay! Kamu sudah tahu belum?" tanya Mbak Dewi setengah berbisik, namun nadanya penuh dengan urgensi yang meledak-ledak.

Nayra menghentikan gerakan jemarinya di atas layar ponsel. Ia menatap Mbak Dewi dengan dahi berkerut heran.

‘’Tau apa mbak? Heboh banget pagi pagi ?’’

‘’Semalem Arga di keroyok orang!’’

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Semakin dekat

    Ia terkekeh malu, menutupi mulutnya dengan sebelah tangan sementara pipinya kembali merona merah."Iya sih, Mas... habisnya di video itu saus lavanya kelihatan merah merona dan menggoda banget. Karena tiap hari lewat berandaku, ya sudah... aku jadikan bahan akting saja malam itu," aku Nayra jujur, diakhiri dengan tawa kecil yang terdengar sangat renyah di telinga Arga.Arga ikut tertawa pelan, sebuah tawa bariton yang hangat. Melihat senyuman manis Nayra yang kembali terukir, Arga tahu bahwa misinya untuk mengusir bayang-bayang pria bernama Rama itu telah berhasil sepenuhnya untuk sore ini. Di bawah temaram lampu kedai bakso, sandiwara yang bermula dari keterpaksaan itu perlahan-lahan mulai merajut babak baru yang jauh lebih nyata bagi hati mereka masing-masing.**Sejak sore yang berkesan di kedai bakso lava kala itu, lembaran baru dalam hubungan antara Nayra dan Arga perlahan-lahan mulai terbuka. Segala sesuatunya mengalir begitu saja seperti air, tanpa ada paksaan, tanpa ada ske

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Aku yang tidak mau!

    Mendengar suara itu, tubuh Nayra seketika membeku. Rasa hangat dan gugup yang sejak tadi mendominasi dadanya karena Arga, kini menguap tanpa bekas, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke seluruh aliran darahnya. Tatapan mata polos Nayra mendadak berubah menjadi sangat dingin dan menusuk. Ia melangkah keluar dari balik punggung Arga, menatap lurus ke arah pria necis di depannya.​"Ngapain kamu kesini?" tanya Nayra dengan nada suara yang teramat datar, dingin, dan tanpa ekspresi sedikit pun.​Atmosfer di lobby mall sore itu mendadak berubah menjadi medan pertempuran baru. Di satu sisi ada Arga yang menatap penuh selidik, di sisi lain ada pria asing dari masa lalu Nayra, dan di tengah-tengahnya ada Nayra yang kini harus berhadapan dengan babak baru kehidupan yang selama ini mati-matian ia hindari. "Kamu masih marah sama aku?" tanya pria bernama Rama itu, melangkah satu senti lebih dekat. Tatapan matanya beralih dari egois menjadi penuh permohonan, mencoba mencari sisa-sisa ke

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Jin dasim

    Nayra menggigit bibir bawahnya pelan, berpikir keras mencari celah untuk menolak halus. Namun, mengingat sore nanti ia memang tidak memiliki agenda lain setelah pulang kerja, akhirnya ia pasrah. "Sore aja gimana, Mas? Siang ini aku gak bisa keluar dari area mall karena cuma dapat waktu istirahat sebentar.""Baiklah, nanti sore sekalian aku jemput kamu di lobby mall."Melihat kalimat "aku jemput", jempol Nayra dengan kecepatan penuh langsung mengetik balasan instan untuk menolak. "Ehhh gak usah, Mas! Repot banget kalau harus jemput segala. Kita langsung ketemu di warung baksonya aja nanti sore."Namun, tampaknya Arga bukanlah tipe pria yang mudah digoyahkan keputusannya. Pesan terakhir dari pria itu masuk dengan sangat mutlak, menutup ruang negosiasi bagi Nayra. "Gapapa, tempat kerja kita dekat sekali, kompleks gedungnya bersebelahan. Jadi nanti sore sekalian aku jemput kamu pukul lima tepat. Jangan pulang duluan."Nayra melongo menatap layar

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Aku hanya bercanda

    "Cieee... yang pagi-pagi sudah dianterin sama ayank baru," goda Tari, sembari menaik-turunkan kedua alisnya dengan ekspresi super jahil.Tari sejak tadi memang sudah mengintip dari balik kaca besar butik saat sebuah motor matic besar berhenti tepat di lobby utara mall. Ia melihat dengan jelas bagaimana jalannya prosesi Nayra turun dari motor, mengembalikan helm dengan gerakan canggung, hingga pria tegap berjaket denim itu memberikan senyuman hangat sebelum berlalu pergi."Apaan sih, Tar! Jangan ngaco deh, orang cuma kebetulan bareng saja kok," sahut Nayra buru-buru membantah, mencoba fokus kembali pada tas di depannya. Namun, usahanya gagal total karena semburat warna merah muda yang pekat langsung terbit di kedua belah pipinya, mengkhianati kalimat penyangkalannya sendiri.Tari terkekeh renyah, menyandarkan tubuhnya pada pilar etalase sambil melipat tangan di dada. "Kebetulan apa? Kebetulan gak ada ojol lagi kah kayak waktu itu?’’‘’ Hari gini ma

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Ada rasa hangat

    "Mau mandi?" tanya Arga basa-basi, melirik handuk di bahu Nayra."I-iya, Mas..." Nayra mencicit pelan, merutuki dirinya sendiri dalam hati mengapa ia harus terus-menerus mendadak gagap setiap kali berhadapan langsung dalam jarak sedekat ini dengan Arga."Silakan, di dalam sudah kosong kok," ujar Arga ramah, melangkah sedikit ke samping untuk memberikan ruang yang cukup bagi Nayra agar bisa lewat tanpa harus bersentuhan fisik dengannya.Namun, alih-alih langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang uap hangatnya masih mengepul, rasa penasaran yang besar dalam dada Nayra mendadak mengambil alih kendali lidahnya. Ia mendongakkan kepala, menatap lurus ke arah Arga dengan dahi berkerut halus."Mas Arga... kok tumben mandi pagi banget?’’ tanya Nayra akhirnya penasaran.Arga terkekeh pelan, sebuah tawa pendek yang terdengar sangat tulus di telinga Nayra. "Iya, Nay. Hari ini aku mau mulai masuk kerja lagi ke kantor," jawab Arga sambil merapikan

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Sayang

    "Ini... ini tadi pas pulang kerja aku sempat mampir beli makanan hangat, sama... sama ini ada sedikit buah-buahan, jeruk sama apel segar. Sengaja aku belikan buat Mas Arga, biar ada tenaga buat minum obat," Nayra meletakkan kembali kantong-kantong itu dengan posisi yang lebih rapi di dekat jajaran botol obat dan salep milik Arga.Arga menatap kantong makanan dan buah-buahan itu bergantian, lalu kembali menatap Nayra. Rasa hangat yang menjalar di dadanya kini semakin pekat. Di tengah kondisinya yang remuk redam dan dikhianati oleh masa lalu, perhatian tulus dari seorang gadis yang baru sebulan menjadi tetangga kamarnya terasa seperti oase di padang pasir."Terima kasih banyak sekali lagi, Nay. Kamu repot-repot sekali, padahal baru pulang kerja pasti capek," ucap Arga lembut, suaranya merendah penuh magnet."N-nggak repot kok, Mas. Kebetulan searah jalan pulang juga tadi," bohong Nayra, padahal ia harus berjalan memutar dua blok demi mendapatkan buah-buahan

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status