LOGINIa terkekeh malu, menutupi mulutnya dengan sebelah tangan sementara pipinya kembali merona merah."Iya sih, Mas... habisnya di video itu saus lavanya kelihatan merah merona dan menggoda banget. Karena tiap hari lewat berandaku, ya sudah... aku jadikan bahan akting saja malam itu," aku Nayra jujur, diakhiri dengan tawa kecil yang terdengar sangat renyah di telinga Arga.Arga ikut tertawa pelan, sebuah tawa bariton yang hangat. Melihat senyuman manis Nayra yang kembali terukir, Arga tahu bahwa misinya untuk mengusir bayang-bayang pria bernama Rama itu telah berhasil sepenuhnya untuk sore ini. Di bawah temaram lampu kedai bakso, sandiwara yang bermula dari keterpaksaan itu perlahan-lahan mulai merajut babak baru yang jauh lebih nyata bagi hati mereka masing-masing.**Sejak sore yang berkesan di kedai bakso lava kala itu, lembaran baru dalam hubungan antara Nayra dan Arga perlahan-lahan mulai terbuka. Segala sesuatunya mengalir begitu saja seperti air, tanpa ada paksaan, tanpa ada ske
Mendengar suara itu, tubuh Nayra seketika membeku. Rasa hangat dan gugup yang sejak tadi mendominasi dadanya karena Arga, kini menguap tanpa bekas, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke seluruh aliran darahnya. Tatapan mata polos Nayra mendadak berubah menjadi sangat dingin dan menusuk. Ia melangkah keluar dari balik punggung Arga, menatap lurus ke arah pria necis di depannya."Ngapain kamu kesini?" tanya Nayra dengan nada suara yang teramat datar, dingin, dan tanpa ekspresi sedikit pun.Atmosfer di lobby mall sore itu mendadak berubah menjadi medan pertempuran baru. Di satu sisi ada Arga yang menatap penuh selidik, di sisi lain ada pria asing dari masa lalu Nayra, dan di tengah-tengahnya ada Nayra yang kini harus berhadapan dengan babak baru kehidupan yang selama ini mati-matian ia hindari. "Kamu masih marah sama aku?" tanya pria bernama Rama itu, melangkah satu senti lebih dekat. Tatapan matanya beralih dari egois menjadi penuh permohonan, mencoba mencari sisa-sisa ke
Nayra menggigit bibir bawahnya pelan, berpikir keras mencari celah untuk menolak halus. Namun, mengingat sore nanti ia memang tidak memiliki agenda lain setelah pulang kerja, akhirnya ia pasrah. "Sore aja gimana, Mas? Siang ini aku gak bisa keluar dari area mall karena cuma dapat waktu istirahat sebentar.""Baiklah, nanti sore sekalian aku jemput kamu di lobby mall."Melihat kalimat "aku jemput", jempol Nayra dengan kecepatan penuh langsung mengetik balasan instan untuk menolak. "Ehhh gak usah, Mas! Repot banget kalau harus jemput segala. Kita langsung ketemu di warung baksonya aja nanti sore."Namun, tampaknya Arga bukanlah tipe pria yang mudah digoyahkan keputusannya. Pesan terakhir dari pria itu masuk dengan sangat mutlak, menutup ruang negosiasi bagi Nayra. "Gapapa, tempat kerja kita dekat sekali, kompleks gedungnya bersebelahan. Jadi nanti sore sekalian aku jemput kamu pukul lima tepat. Jangan pulang duluan."Nayra melongo menatap layar
"Cieee... yang pagi-pagi sudah dianterin sama ayank baru," goda Tari, sembari menaik-turunkan kedua alisnya dengan ekspresi super jahil.Tari sejak tadi memang sudah mengintip dari balik kaca besar butik saat sebuah motor matic besar berhenti tepat di lobby utara mall. Ia melihat dengan jelas bagaimana jalannya prosesi Nayra turun dari motor, mengembalikan helm dengan gerakan canggung, hingga pria tegap berjaket denim itu memberikan senyuman hangat sebelum berlalu pergi."Apaan sih, Tar! Jangan ngaco deh, orang cuma kebetulan bareng saja kok," sahut Nayra buru-buru membantah, mencoba fokus kembali pada tas di depannya. Namun, usahanya gagal total karena semburat warna merah muda yang pekat langsung terbit di kedua belah pipinya, mengkhianati kalimat penyangkalannya sendiri.Tari terkekeh renyah, menyandarkan tubuhnya pada pilar etalase sambil melipat tangan di dada. "Kebetulan apa? Kebetulan gak ada ojol lagi kah kayak waktu itu?’’‘’ Hari gini ma
"Mau mandi?" tanya Arga basa-basi, melirik handuk di bahu Nayra."I-iya, Mas..." Nayra mencicit pelan, merutuki dirinya sendiri dalam hati mengapa ia harus terus-menerus mendadak gagap setiap kali berhadapan langsung dalam jarak sedekat ini dengan Arga."Silakan, di dalam sudah kosong kok," ujar Arga ramah, melangkah sedikit ke samping untuk memberikan ruang yang cukup bagi Nayra agar bisa lewat tanpa harus bersentuhan fisik dengannya.Namun, alih-alih langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang uap hangatnya masih mengepul, rasa penasaran yang besar dalam dada Nayra mendadak mengambil alih kendali lidahnya. Ia mendongakkan kepala, menatap lurus ke arah Arga dengan dahi berkerut halus."Mas Arga... kok tumben mandi pagi banget?’’ tanya Nayra akhirnya penasaran.Arga terkekeh pelan, sebuah tawa pendek yang terdengar sangat tulus di telinga Nayra. "Iya, Nay. Hari ini aku mau mulai masuk kerja lagi ke kantor," jawab Arga sambil merapikan
"Ini... ini tadi pas pulang kerja aku sempat mampir beli makanan hangat, sama... sama ini ada sedikit buah-buahan, jeruk sama apel segar. Sengaja aku belikan buat Mas Arga, biar ada tenaga buat minum obat," Nayra meletakkan kembali kantong-kantong itu dengan posisi yang lebih rapi di dekat jajaran botol obat dan salep milik Arga.Arga menatap kantong makanan dan buah-buahan itu bergantian, lalu kembali menatap Nayra. Rasa hangat yang menjalar di dadanya kini semakin pekat. Di tengah kondisinya yang remuk redam dan dikhianati oleh masa lalu, perhatian tulus dari seorang gadis yang baru sebulan menjadi tetangga kamarnya terasa seperti oase di padang pasir."Terima kasih banyak sekali lagi, Nay. Kamu repot-repot sekali, padahal baru pulang kerja pasti capek," ucap Arga lembut, suaranya merendah penuh magnet."N-nggak repot kok, Mas. Kebetulan searah jalan pulang juga tadi," bohong Nayra, padahal ia harus berjalan memutar dua blok demi mendapatkan buah-buahan







