分享

Bab 82

作者: Ummu Amay
last update publish date: 2026-06-21 22:20:42

'Apa maksud kalimatnya?'

Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku bahkan setelah aku masuk ke dalam rumah.

Aku menutup pagar perlahan. Mengunci pintu. Melepas sepatu. Melakukan semua rutinitas yang biasa kulakukan setiap malam.

Namun pikiranku sama sekali tidak berada di sana. Karena untuk kesekian kalinya, Tian berhasil meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

"Itu mungkin karena aku sudah kehabisan cara."

Cara apa? Cara untuk mencariku? Cara untuk mendekatiku? Atau cara untuk m
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 87

    Waktu terasa berjalan jauh lebih lambat dari biasanya. Jarum jam seolah sengaja bergerak pelan hanya untuk menyiksaku.Pukul delapan lewat lima belas. Delapan lewat tiga puluh. Delapan lewat empat puluh lima.Dan setiap kali aku melirik ke arah meja dekat jendela, Silvi dan Tian masih ada di sana.Mereka makan. Sesekali berbicara. Sesekali Silvi tertawa.Dari kejauhan, mereka terlihat seperti pasangan yang sangat serasi. Dan mungkin memang begitu.Mereka berasal dari dunia yang sama. Lingkungan yang sama. Pergaulan yang sama.Sedangkan aku?Aku hanya seorang pelayan restoran yang kebetulan mengenal keduanya.Setidaknya itulah yang terus kuingatkan pada diriku sendiri."Bia."Aku tersentak. Reina tampak berdiri di sampingku sambil membawa nampan kosong."Kamu ngelamun.""Enggak.""Bohong."Aku langsung memutar mata.Kenapa semua orang hari ini suka sekali menuduhku berbohong?Pukul sembilan datang lebih cepat daripada yang kuharapkan. Atau mungkin karena sejak tadi aku terlalu sibuk me

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 86

    Aku refleks menoleh ke arah lain. Tapi, terlambat.Karena detik berikutnya, senyum Silvi sudah mengembang. Dan dia langsung melambaikan tangan. Ke arahku."Bia!"Suaranya bahkan terdengar jelas di tengah ramainya restoran.Aku memejamkan mata.Selesai. Benar-benar selesai.Kalau siang tadi gosip kampus baru mulai tumbuh, malam ini gosip restoran akan langsung panen raya."Dia manggil kamu?" bisik Reina di sampingku."Sayangnya iya." Aku menyunggingkan senyum terpaksa. "Kenal?"Aku menoleh datar. "Menurutmu?"Reina langsung mengangguk cepat."Oke, aku enggak mau tahu kok!"Pembohong. Wajahnya jelas menunjukkan kalau dia sangat ingin tahu.Sementara itu, Silvi sudah berjalan mendekat. Di sampingnya, Tian ikut melangkah santai seolah tidak ada masalah apa pun di dunia ini. Padahal masalah terbesar dalam hidupku saat ini justru sedang berjalan di sebelahnya."Hai!" sapa Silvi begitu sampai di depan meja pelayanan.Aku memaksakan senyum profesional."Malam, Silvi.""Kamu kerja hari ini?"

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 85

    Aku masih berdiri di tempat bahkan setelah Tian menghilang dari balik pintu perpustakaan.Beberapa detik. Lima detik. Sepuluh detik. Sampai akhirnya suara berdeham pelan terdengar dari meja sirkulasi.Aku menoleh.Dua mahasiswi yang sejak tadi berpura-pura membaca buku langsung buru-buru menunduk.Aku memejamkan mata. Selesai sudah. Benar-benar selesai.Hari ini gosip kampus akan berkembang lebih cepat daripada penyebaran virus."Bia."Aku menoleh ke arah Bu Rina, salah satu petugas perpustakaan senior."Iya, Bu?""Buku yang bagian katalog digital sudah selesai?"Aku langsung mengangguk."Sudah, Bu.""Kalau begitu lanjutkan.""Iya."Aku bersyukur beliau tidak bertanya apa pun.Karena jujur saja, aku sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa.Ponselku bergetar tepat tiga menit kemudian. Aku bahkan tidak perlu melihat layar untuk tahu siapa pelakunya.Hani.Aku mengabaikannya. Namun, bergetar lagi. Dan aku tetap diam.Bergetar untuk ketiga kalinya. Akhirnya aku menyerah."Apa?"Suara Han

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 84

    Hani berkedip.Sekali. Dua kali.bLalu menatapku."Oh."Aku langsung mengangguk cepat."Nah. Benar. Itu."Untuk pertama kalinya sejak lima menit terakhir, aku merasa bisa bernapas lagi.Tian memang menyebalkan. Namun setidaknya kali ini dia tidak memperburuk keadaan."Jadi..." Hani menatap Tian lagi. "...Bia cuma waiters di restoran langganan Anda?""Ya.""Dan Anda tahu dia kerja di perpustakaan?""Dari Silvi.""Dan tahu dia kuliah di sini?""Tidak sengaja.""Dan tahu dia enggak balas pesan?"Aku langsung memejamkan mata. Ternyata aku terlalu cepat lega.Tian tampak berpikir sebentar. Lalu menjawab santai."Kalau yang itu sepertinya kamu salah dengar."Hani mengernyit, merasa jika pendengarnya masih baik-baik saja. Ia lalu enoleh ke arahku."Bia.""Apa?""Itu tidak membantu."Aku menghembuskan napas panjang, lalu..."Saya mau kerja.""Sekarang aku malah makin penasaran.""Tahan.""Enggak bisa." Hani tampak kesal. Aku benar-benar ingin menghilang ke rak ensiklopedia dan tidak pernah ke

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 83

    Mahasiswa itu langsung membeku. Aku juga.Sedangkan Tian?Pria itu terlihat sangat tenang. Terlalu tenang. Seolah baru saja mengucapkan sesuatu yang sepenuhnya normal.Padahal tidak. Sama sekali tidak."A-apa?" Mahasiswa itu berkedip bingung.Tian menatapnya datar."Kau bertanya apakah dia sudah punya pacar."Mahasiswa itu mengangguk gugup. "I-iya.""Jawabannya sudah." Tian menyahut cepat. Aku langsung memejamkan mata.'Ya Tuhan. Tolong! Siapa saja. Selamatkan aku.' Aku membatin penuh harap. "Mbak Bia..." Mahasiswa itu menoleh kepadaku dengan wajah panik.Aku langsung tersenyum kaku."Jangan dengarkan dia.""Hah?""Dia sedang kurang tidur." Aku menambahi. "Mbak...""Aku baik-baik saja," kataku mencoba menenangkan. "Justru itu masalahnya," gumamku, berharap siapa pun tak dengar.Mahasiswa itu kini menatap kami bergantian seperti sedang menyaksikan pertandingan tenis.Lalu dengan insting bertahan hidup yang sangat baik, ia buru-buru mengangguk."Oke! Saya cari bukunya dulu!"Dan tan

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 82

    'Apa maksud kalimatnya?'Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku bahkan setelah aku masuk ke dalam rumah.Aku menutup pagar perlahan. Mengunci pintu. Melepas sepatu. Melakukan semua rutinitas yang biasa kulakukan setiap malam.Namun pikiranku sama sekali tidak berada di sana. Karena untuk kesekian kalinya, Tian berhasil meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban."Itu mungkin karena aku sudah kehabisan cara."Cara apa? Cara untuk mencariku? Cara untuk mendekatiku? Atau cara untuk mempertahankan sesuatu yang bahkan tidak seharusnya ada sejak awal?Aku mengembuskan napas panjang. Lalu menggeleng keras.Cukup. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Tidak lagi. Tidak lagi mencoba menerjemahkan setiap kalimat Tian. Tidak lagi mencari makna tersembunyi dari setiap tatapannya. Tidak lagi berharap. Karena setiap kali aku melakukannya, yang terluka selalu aku.Begitu masuk ke ruang tamu, aku melihat ayah masih duduk di sofa.Televisi menyala pelan. Namun aku cukup yakin beliau t

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 33

    Rumah tampak kosong ketika aku sampai. Tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam atau pun di luar. 'Apa ayah shift malam?' batinku bertanya pada diri sendiri. Jujur saja semenjak aku tidur di rumah sakit menjaga ibu, aku tak pernah lagi tahu jadwal kerja ayah. Hampir seminggu aku tidak pulang dan me

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 32

    Air dingin itu mengalir dari telapak tanganku ke wajah. Menuruni pipi. Leher. Menyapu sisa gerah dan lengket yang sejak tadi menempel di kulitku.Aku memejamkan mata. Untuk beberapa detik, semuanya terasa tenang.Tidak ada Tian.Tidak ada kontrak.Tidak ada pertunangan.Tidak ada rasa bersalah yang

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 31

    Jalanan malam bergerak mundur di balik kaca jendela taksi. Lampu-lampu kota memanjang seperti garis kabur. Orang-orang berlalu lalang di trotoar. Semua terlihat biasa.Hanya aku yang tidak.Aku menyandarkan kepala ke kursi. Menutup mata sebentar.Tubuhku lelah. Bukan hanya karena malam yang baru sa

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 29

    Langkahnya tenang. Terukur. Tapi setiap langkah itu seperti mengetuk sesuatu di dalam dadaku.Aku tidak mundur kali ini. Tidak juga bergerak. Aku hanya berdiri. Menunggu. Sampai akhirnya dia berhenti tepat di depanku. Dekat. Sangat dekat. Tapi berbeda dari sebelumnya. Tidak ada tarikan kasar. Tida

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status