LOGIN
Suara erangan itu terdengar panjang. Memenuhi setiap sudut ruangan.
Aku bisa mendengarnya tepat ketika sesuatu yang hangat memasuki area yang selama ini terlarang untuk disentuh. Pria di atasku tak lama ambruk. Menindih tubuhku dengan peluh yang juga membanjiri tubuhnya. Hangat. Basah. Lengket. Deru napas masih terdengar berat —tepat di sisi telingaku. Tak ada kata selama beberapa detik lamanya, hingga .... "Kau ternyata pandai juga," katanya diiringi senyum sinis di ujung kalimatnya. Aku tidak mengerti apa yang dimaksud pandai olehnya. Otakku terlalu penuh untuk mencerna satu kata yang diucapkan oleh lelaki yang baru aku kenal beberapa jam yang lalu itu. "Apakah itu artinya puas?" tanyaku berani meski sebetulnya hatiku was was. Perlahan lelaki itu bergerak. Mengangkat tubuhnya, lalu memandangku dengan tatapan dingin yang aku tahu tatapan sebal. "Pertanyaanmu seperti mengisyaratkan kalau ada harga yang harus aku bayar." Aku sontak tersenyum, meledek. "Aku tidak tahu siapa Anda. Tapi, tempat di mana kita bertemu bukanlah tempat sembarangan. Lalu, hotel yang Anda pilih, ini juga bukan hotel murahan. Itu semua menunjukkan kelas Anda sebenarnya." Aku bergerak ketika lelaki itu tak bereaksi. Dia hanya tersenyum, lalu beranjak bangun dan kembali memakai celananya yang tadi tergeletak di atas karpet. "Berapa yang kau mau atas pelayanan yang baru diberikan?" "Lima ratus juta." Sejenak ada respon kaget yang bisa ku lihat darinya. Sedetik kemudian ia menoleh, lalu tersenyum sinis. "Bahkan aku tidak memberikan uang sebesar itu pada model atau artis sekali pun. Kecuali kau masih perawan." Ia memberi jeda. Lalu, "Sedangkan kau—" katanya tak lagi melanjutkan. Ku bungkam ucapannya dengan sebuah noda merah di atas sprei —ketika aku sengaja bangun untuk ke kamar mandi. Tak berapa lama. "Dua ratus juta, kecuali pekan depan kau ada di sini lagi." Aku mendengarnya dari dalam toilet sambil memandangi wajahku di depan cermin. Gurat lelah yang begitu tampak setelah 'melayani' seorang lelaki asing, membuatku membasuh muka kemudian. Beberapa warna kemerahan tampak di sekitar leher dan area dada saat aku mengangkat kepala, kembali menatap cermin. 'Satu-satunya mahkota yang aku miliki, malah aku berikan pada laki-laki yang tidak aku kenal.' Aku berkata lirih dengan senyum pilu. Menyedihkan, sungguh menyedihkan. Tapi, mungkin menyesal pun tak berguna. Aku yang sudah memutuskan hal itu, jadi untuk apa ada kata sesal setelahnya. Tak terdengar suara saat aku membersihkan diri. Ketika keluar, lelaki itu sudah terlihat tak berdaya di atas kasur. Suara dengkuran halus terdengar di telingaku. Aku menengok ke meja kecil di pinggir kasur. Tampak selembar cek dengan angka dua ratus juta yang tertera, beserta tanda tangan di bawahnya. Aku mengambil cek tersebut. Menggenggamnya di dada sembari tersenyum. Bukan senyum bahagia, justru rasa sakit sebab harus mendapatkan uang tersebut dengan cara yang tidak halal. Beberapa saat aku baru menyadari jika ada selembar kertas —yang berasal dari note book milik hotel, di bawah lembar cek tadi. 'Pekan depan, di jam dan tempat yang sama. Sisa tiga ratus juta akan aku bayarkan.' Aku tersenyum sinis. 'Dia mau aku melakukannya lagi. Jangan harap!' kataku sembari menatap ke arahnya. Uang dua ratus juta itu memang sudah cukup, sesuai dengan yang aku butuhkan. Aku sengaja meminta lebih, karena sempat memperhatikan penampilannya, termasuk merk jam serta segala yang dikenakannya, yang aku yakini statusnya bukan dari kalangan orang biasa. "Tidak akan ada pekan depan. Malam ini sudah cukup," kataku, lalu pergi meninggalkan kamar hotel sembari menahan rasa sakit juga perih di area bawah tubuhku. Meninggalkan sosok si pria asing yang mungkin akan terkejut ketika bangun tidur nanti. ** Sudah seharusnya aku istirahat bukan? —selayaknya pengantin baru setelah 'dihabisi' oleh suaminya. Tapi, sayangnya aku bukanlah si pengantin baru itu —yang baru menghabiskan malam pertama dengan penuh kebahagiaan meski rasa sakit menyerang seluruh raga. Aku cuma seorang ... ah entahlah, apa namanya. Bukan p*lacur. Tidak! Karena aku memang tidak berprofesi seperti perempuan-perempuan di dalam diskotek yang semalam aku datangi. Aku cuma datang —itu pun pertama kalinya— ke tempat tersebut, sengaja mencari laki-laki yang mau membayarku tinggi demi keperawanan yang selama ini aku jaga. Tempat yang informasinya aku dapatkan dari teman sesama mahasiswa yang memiliki profesi sampingan sebagai ayam kampus. Namun, sialnya aku tidak melakukan negosiasi di awal saat berjumpa dengan lelaki itu semalam. Aku keburu mabuk sebab minuman yang aku tenggak. 'Padahal hanya dua gelas.' Karena bukan seorang peminum, cairan itu seketika membuatku terjatuh ke pelukannya, yang kebetulan tidak sengaja lewat ketika aku hendak ke toilet. Aku masih ingat aroma parfumnya saat ia mengangkatku. Wangi amber yang sangat elegan, membuatku terhanyut hingga dengan sangat berani mengalungkan tangan ke lehernya. Mungkin itu sebuah ajakan tanpa suara, yang membuatnya kemudian menggendongku meninggalkan tempat hiburan malam tersebut. Tak ada suara atau percakapan apa pun saat aku berada di pangkuannya, hingga ia membaringkan tubuhku di atas kasur yang sangat empuk. Satu-satunya yang sempat telingaku tangkap, adalah sebuah perintah dengan suara pelan, tapi tegas, yang ia ucapkan entah kepada siapa. "Tunggu perintahku selanjutnya!" Setelah itu kamar pun hening. Hanya terdengar suara langkah kaki menuju ke arahku. Perlahan aku mampu membuka mata. Sedikit, tapi cukup untuk melihat wajahnya yang tampan. Tinggi badannya yang sangat proporsional dengan bentuknya yang tidak kurus, tapi juga tidak gemuk. Bahkan, terlihat sangat indah ketika ia membuka jas, dan kemeja putihnya. 'Indah sekali,' batinku saat melihat tubuhnya yang menawan. Aku terdiam. Entah mengapa, seketika kesadaranku pun pulih. Kalimat selanjutnya meluncur pelan ketika akhirnya aku menyadari bahwa tubuhku tak lagi berpakaian. "Kita lihat seberapa pandainya kamu hingga berani menggoda seorang Tian Mahendra." Setelah itu aku tak lagi ingat dengan masalah dan beban hidup yang tengah aku alami. Aku terlalu menikmati setiap sentuhan yang diberikan. ***Aku tidak tahu berapa lama tertidur. Yang jelas ketika mataku perlahan terbuka, cahaya matahari sudah berubah lebih terang di balik tirai jendela ruang rawat kamar ibu.Leherku pegal karena posisi tidur yang buruk. Tanganku masih menggenggam tangan ibu yang hangat di atas ranjang.Aku berkedip pelan, mencoba mengumpulkan kesadaran. Suara televisi kecil terdengar pelan dari sudut ruangan. Aroma bubur rumah sakit samar tercium di udara.“Ibu?”Suaraku serak. Aku melihatnya memandangku dalam diam. Ibu sudah bangun. Dan beliau menatapku sambil tersenyum kecil meski wajahnya masih terlihat lemah.“Kamu tidur di situ?”Aku buru-buru duduk tegak dan mengusap wajah. “Ketiduran sedikit.”“Sedikit?” Ibu tertawa kecil pelan. “Leher kamu sampai miring begitu.”Aku ikut tertawa tipis, meski rasa bersalah langsung muncul lagi.“Maaf. Harusnya aku datang lebih pagi.”“Kamu habis kerja malam lagi?”Pertanyaan itu membuatku diam sepersekian detik terlalu lama.“Iya.”Ibu menghela napas kecil.“Kamu k
Aku buru-buru masuk ke dalam lobi tanpa menoleh lagi.Namun sebelum pintu kaca otomatis menutup sepenuhnya, pantulan mobil hitam itu masih terlihat samar di kaca. Tian belum pergi.'Memangnya dia tidak kerja?' gerutuku dalam hati masih berjalan dengan leher memutar ke belakang. Pendingin ruangan rumah sakit langsung menyambut kulitku yang masih terkena udara pagi. Aroma antiseptik dan suara langkah kaki perawat membuat kepalaku sedikit lebih tenang.Sedikit.Aku berjalan cepat menuju lift sambil menunduk memeriksa ponsel. Tidak ada pesan baru. Tidak ada kabar dari Bu Yana juga.Syukurlah.Lift terbuka di lantai rawat inap VIP. Begitu keluar, langkahku otomatis melambat.Dua pria berpakaian hitam berdiri tidak jauh dari ruang rawat ibu. Dengan tas selempang dan ransel, aku berjalan mendekat. Setelah dekat pintu, aku langsung berhenti.Mereka melihat ke arahku hampir bersamaan, lalu salah satunya sedikit menundukkan kepala.“Pagi, Mbak.”Aku mengenali wajah itu samar. Salah satu penga
Mobil Tian melaju tenang di jalanan pagi yang masih lengang.Aku duduk diam sambil menatap keluar jendela. Kepalaku masih berat kurang tidur, dan suasana di dalam mobil terlalu sunyi untuk ukuran kami.Tian menyetir dengan satu tangan. Sesekali ia melirik ke arahku sebentar sebelum kembali fokus ke jalan.“Kau tidur cuma dua jam.”“Kenapa masih membicarakan jam tidur saya?”“Karena aku tidak mau kau sakit. Aku membayarmu tidak untuk itu.”Aku menoleh pelan. Nada suaranya datar. Sangat Tian.Dan anehnya, itu justru terasa lebih aman daripada saat ia bicara terlalu lembut tadi pagi.“Saya masih bisa kerja.”“Kau kerja di dua tempat, kuliah, lalu bolak-balik rumah sakit.” Ia mengetuk pelan setir. “Kalau tumbang, itu merepotkan.”Aku mendengus kecil. “Ternyata saya cuma investasi.”“Kau memang investasi mahal.” Jawaban itu keluar cepat tanpa rasa bersalah sedikit pun.Aku memalingkan wajah lagi ke jendela.'Ya. Benar. Ini memang hubungan transaksional sejak awal.'Baru saja aku terbuai de
Ponsel itu terus bergetar di atas meja.Silvi Calling.Aku langsung memalingkan wajah, seolah dengan begitu nama itu tidak terlalu tajam terdengar.“Tolong angkat,” kataku cepat. “Dia tunangan Anda.”Tian tidak langsung bergerak. Tatapannya justru masih tertahan padaku beberapa detik lamanya sebelum akhirnya ia meraih ponsel itu.Dan entah kenapa, aku membenci caranya tetap menatapku bahkan saat ia menerima panggilan dari perempuan lain di depanku.Ia menerima panggilan.“Halo.”Suara Silvi langsung terdengar ceria dari speaker kecil ponsel.“Kamu udah bangun? Aku dari tadi nyari kamu.”Aku buru-buru berjalan menjauh beberapa langkah, pura-pura sibuk memeriksa isi tas. Memberi ruang. Atau mungkin menyelamatkan diriku sendiri.“Sudah,” jawab Tian singkat, masih menatapku. “Oh ya, kamu tidak lupa hari ini kita fitting terakhir? Mama ingetin aku barusan.”Fitting.Kata itu menghantam aneh di dadaku.Tentu saja mereka harus fitting sebab besok hari istimewa keduanya terjadi. Aku menundu
Keesokan paginya aku terbangun lebih dulu.Langit di balik tirai hotel masih gelap. Kota belum benar-benar hidup, hanya suara samar kendaraan dari bawah yang terdengar sesekali.Aku memejamkan mata lagi beberapa detik, mencoba mengumpulkan kesadaran yang masih berantakan.Tubuhku terasa lelah. Hangat. Dan terlihat sadar pada keberadaan seseorang di sampingku.Tian masih tertidur.Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat lelaki itu dalam keadaan benar-benar tenang. Tidak dingin. Tidak penuh kuasa. Garis wajahnya terlihat lebih lembut saat tidur, membuatnya tampak lebih muda dari biasanya.Dan entah kenapa itu membuat dadaku aneh.Aku buru-buru mengalihkan pandangan. Semalam sudah cukup membuat pikiranku kacau.Aku bergerak perlahan, berniat turun dari ranjang tanpa membangunkannya. Namun baru saja kakiku menyentuh lantai, sebuah tangan melingkar di pinggangku.“Jam berapa?” suaranya serak khas orang baru bangun tidur.Aku menahan napas.“Masih sangat pagi.”“Hmm.”Pelukanny
Tenggorokanku tercekat.Tak pernah Tian melakukan ini.Dengan pakaiannya yang masih lengkap, air akhirnya membuat semua yang melekat di tubuhnya basah.Aku membeku. Tak mampu bereaksi ketika tangan besar itu mulai meraba dan menjelajah.“Aku bantu.” Lagi, ia bicara. Suaranya rendah. Tepat di dekat telingaku.Aku refleks menahan pergelangan tangannya.“P-Pak Tian…”Dia diam sebentar. Lalu perlahan membalik tubuhku menghadap dirinya."Tian."Aku mendongak. Dan saat itu tatapan kami bertemu. Air terus jatuh membasahi wajah kami. Kemeja putihnya kini menempel di tubuh, memperlihatkan garis tegas di balik kain yang basah. Rambutnya ikut lembap, beberapa helai jatuh ke dahinya.Dan tatapan itu, tidak dingin. Justru terlalu lembut hingga membuatku gugup.“Kau takut?” tanyanya pelan.Aku menggeleng cepat. “Tidak.”“Kau gemetar.”“Itu karena dingin.”Dan malu. Aku menambahkan.“Kau bohong lagi.”Aku mendelik pelan, tapi napasku sudah berantakan lebih dulu.Tangannya naik menyentuh pipiku. Ha







