Share

3. Sepasang Kekasih

last update Last Updated: 2025-06-27 16:39:26

Mobil Daniel melesat jauh meninggalkan mobil Puspita yang baru keluar dari parkir basement gedung kantornya. Tiara duduk di samping sopir, tidak seperti biasanya.

“Aku tahu mengapa kamu melakukan itu, tapi sekarang, aku memerintahmu untuk pindah ke belakang!” Perintah Daniel sangat jelas di dengar supir pribadinya. Pria berusia empat puluh tahun itu segera menepikan mobil itu, menunggu Tiara pindah ke belakang. Namun, Tiara bergeming.

“Mbak…”Dengan setengah berbisik, Budi mengingatkan Tiara akan perintah Daniel.

Tiara menghembuskan napasnya dengan berat. Dengan berat hati, ia pindah ke belakang, duduk di samping Daniel.

“Seharusnya dari awal kamu duduk di situ.”

Tiara menghiraukan ucapan Daniel. Ia justru menatap ke luar lewat jendela di sebelah kirinya. Daniel berdeham, dan seketika turun sekat yang membatasi antara supir dan penumpang. Budi sangat paham dengan arti di balik dehaman Daniel.

“Jika pembicaraan nanti berjalan begitu alot, maka kamu tahu yang harus kamu lakukan, bukan?”

Tiara mengangguk lalu kembali menatap jalan di sampingnya, sedangkan Daniel memilih memeriksa email. Ada beberapa pesan baru yang masuk. Dilihatnya waktu pengiriman email. Sembilan puluh menit yang lalu. Itu artinya, Tiara masih berada di mejanya. Hal yang seharusnya ia kerjakan, melaporkan email penting itu kepadanya, tapi asistennya itu justru sibuk melamun di mejanya.

“Apa yang kamu lakukan hingga tidak melaporkan jika ada email sepenting ini?”

“Eh?” Tiara terkejut mendengar teguran itu. Ia cepat-cepat mengeluarkan tabletnya, memeriksa email perusahaan. Pupil Tiara melebar. Meeting dibatalkan. Diganti minggu depan di jam dan tempat yang sama. Rutukan kesal ia tujukan pada dirinya. Mengapa ia begitu lalai hari ini, sampai ada email penting yang tidak ia periksa.

“Maafkan saya, Pak. Saya-" Tiara menjadi gugup. 

“Tidak ada gunanya kita kembali ke kantor. Kita sudah jalan sejauh ini. Lagipula, aku lapar.”

Tiara terpaksa menelan salivanya. Kesalahan yang berakibat fatal, bahwa ia harus duduk berhadapan dengan sang atasan. Hal yang seharusnya bisa ia hindari jika saja dirinya tidak sibuk memikirkan buket-buket bunga itu.

‘Semua gara-gara …’

“Jangan pernah menyalahkan sesuatu atas apa yang telah terjadi! Semua ada dalam kendali diri kamu sendiri. Salah kamu sendiri, mengapa tidak bisa memilah hal penting mana yang harus mendapat perhatian lebih saat bekerja!”

“Iya, Pak.” Tidak ada kata lain yang bisa Tiara ucapkan untuk membuat Daniel tidak memperpanjang masalah ini. “Saya akan segera membalasnya.”

Daniel tidak menjawab. Mobil hitam itu mulai memasuki area parkir restoran tempat pertemuan yang semula akan diadakan. Akibat kelalaian Tiara yang tidak membaca email dadakan yang menyatakan jika pertemuan itu diundur, acara siang itu berubah menjadi acara makan siang bersama dengan sang bos.

Setelah diam cukup lama, senyum Daniel tiba-tiba mengembang. “Setelah aku pikir-pikir, kamu tidak salah sepenuhnya.”

“Hah?” Tiara menatap Daniel dengan tatapan tidak mengerti.

“Memang Tuhan sudah mengatur semua ini. Dengan begini, kita bisa makan siang bersama sebagai sepasang kekasih.”

Tiara langsung terbatuk. Betapa percaya dirinya atasannya itu. Ia sudah terang-terangan menolak lamaran aneh pria itu, tapi mengapa masih saja keras kepala begini?

“Pak! Tolong!” pinta Tiara penuh harap.

“Apa? Aku tidak melakukan apa-apa,” jawab Daniel santai. Ia justru keluar dari mobil sambal bersiul penuh bahagia. Entah mengapa rasanya hari ini begitu indah, meski wajah Tiara sepanjang hari ini selalu cemberut ketika bertemu dan saat bersamanya.

‘Bodo amat!” batin Daniel. Dalam benaknya saat ini adalah bagaimana caranya ia dapat segera membawa asisten pribadinya itu ke istananya secara sah, meski ia harus menghadapi begitu banyak sikap masam yang Tiara tunjukkan padanya.

Tiara  menyusul di belakang dengan menghentak-hentakkan kakinya. Mengapa dirinya harus terjebak dalam urusan asmara yang salah sasaran seperti ini? Ia sama sekali tidak pernah membayangkan jika atasannya akan jatuh cinta padanya. Hal yang mustahil bagi seorang karyawan kecil seperti dirinya.

Begitu banyak perbedaan membentang di antara mereka. Secara fisik saja, sudah sangat jelas. Daniel, pria cerdas yang begitu tampan, tinggi dengan proporsi tubuh yang sangat ideal. Soo sexy. Begitu ungkapan yang sering ia dengar setiap kali karyawan wanita di kantornya berpapasan secara tidak sengaja dengan bosnya itu.

Belum lagi latar belakang keluarganya yang cukup terkenal dan terpandang di kota A. Berbanding terbalik dengan keluarga Tiara yang hanya seorang peternak di kampong halamannya di kota D. Bagai bumi dan langit, yang tidak akan mungkin bersatu. Kecuali jika memang takdir berjalan di atas mereka berdua.

Tiara melihat Daniel memilih tempat di sudut restoran bergaya kolonial dengan cat serba putih yang memberi kesan luas dan lega. Daniel setia menanti Tiara. Pria itu lantas menarik kursi, mempersilakan Tiara untuk duduk, lalu kembali ke kursinya.

Seperti biasa, Tiara memanggil pelayan dan memilihkan makanan untuk Daniel dengan persetujuan Daniel tentunya. 

“Mengapa tidak ajak Ibu sekalian, Pak?” Tanya Tiara setelah pelayan membawa pergi catatan pesanan mereka.

“Untuk apa? Kami sudah pisah ranjang sejak satu tahun yang lalu.”

Tenggorokan Tiara terasa kering.  ‘Benarkah?’ gumamnya dalam hati. Tiara berdeham mengusir rasa kagetnya. “Bapak pasti sedang bercanda.” Tiara tertawa kecil.

“Kamu tidak percaya?”

Tiara menggeleng. Jelas saja ia tidak percaya. Selama ini ia melihat tidak ada yang aneh dengan hubungan atasan dan istrinya. Semua tampak baik-baik saja. Ia selalu melihat Puspita melangkah riang keluar dari ruangan Daniel, setiap kali wanita cantik itu datang mengunjungi atasannya. Tidak terdengar juga adu mulut yang biasanya terjadi antara orang yang sudah tidak ada lagi kecocokan dalam pernikahannya.

“Aku sudah menjatuhkan talak padanya dua bulan yang lalu. Sudah tidak ada lagi alasan kami untuk bertemu. Semua sudah selesai.”

Tiara tercenung mendengar semua pengakuan Daniel. Sebuah kabar yang begitu mengejutkan baginya.

Ponsel Daniel berkedip. Sebuah pesan singkat dari pengacaranya.

“Tuan Daniel. Besok adalah  keputusan pengadilan atas pengajuan perceraian Anda dan Nyonya Puspita. Harap datang besok pagi pukul sembilan pagi.”

Daniel mengangsurkan ponselnya kepada Tiara. “Kamu baca. Biar kamu  tahu, aku mengatakan yang sebenarnya atau sekedar isapan jempol.”

Tiara mengambil ponsel Daniel lalu membaca pesan singkat itu, lalu mengembalikan lagi kepada Daniel.

“Sekarang kamu percaya?” Daniel menatap Tiara yang kini menatap ke arah jalanan di depannya.

Tiara memilih untuk tidak menjawab. Perasaannya berkecamuk tidak karuan. Yang ia takutkan, jika Puspita mengira dirinya telah  menggoda suaminya selama ini.

“Saya-…”

“Aku tahu. Kamu takut jika dia menuduhmu menjadi penyebab perceraian kami.” Daniel menggelengkan kepalanya.

“Bukan hanya itu, Pak. Hubungan saya dengan Bu Puspita selama ini baik-baik saja. Saya takut, semua akan berubah, mengingat …” Tiara ragu untuk meneruskan kalimatnya.

“Mengingat apa?” Daniel tertarik dengan pertanyaan menggantung Tiara.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suddenly Marry With The CEO   37. Katakan Padaku

    Mendengar hal itu, Tiara langsung setuju dengan usul Daniel, mengikuti kursus privat renang, dengan catatan instrukturnya seorang perempuan.Daniel sudah bisa menebak. Tiara sangat lemah dengan gertakan seperti itu. Gadis itu pasti akan menyerah daripada harus berdekatan dengan seorang Daniel."Tiara.""Ya, Pak?""Mengapa kamu sangat takut berdekatan denganku? Apakah aku sangat menakutkan?""Eng?" Tiara mengangkat wajahnya, menatap punggung kokoh Daniel yang berdiri di depannya."Kamu seperti menjaga jarak denganku." Daniel memutar badannya ke belakang hingga ia dan Tiara berdiri saling berhadapan.Tiara tidak tahu harus menjawab apa. Daniel mengambil satu kerikil lalu melemparnya ke depan. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana meyakinkan Tiara jika dia bukanlah penyebab perceraiannya dengan Puspita. "Bu-Bukan begitu, Pak. Saya hanya berusaha untuk bersikap profesional. Saya bekerja sebagai asisten pribadi pemimpin Andromeda Group, dan saya akan menjaga status itu sampai anda member

  • Suddenly Marry With The CEO   36. Instruktur Renang

    Heg...Cegukan Tiara semakin menjadi. Ia menjadi panik dan menjadi semakin panik karena tidak menemukan air mineral di dekatnya. Dengan terpaksa, Tiara meninggalkan keempat wanita yang kini berbicara dengan berbisik. Tiara kembali ke restoran tempat ia sarapan tadi, mencari satu botol air mineral untuk meredakan cegukannya. "Ada apa? Kenapa kamu sampai cegukan seperti ini? Sesuatu mengejutkanmu?" Daniel menyodorkan botol air mineral yang sudah ia buka tutupnya.Tiara tidak menjawab. Ia langsung meneguk air mineral itu dengan perlahan. Hingga botol itu habis, cegukan Tiara tidak kunjung berhenti, membuat Daniel membuka satu botol air mineral lagi."Tidak usah panik. Kita bicarakan baik-baik. Tidak mungkin tidak ada solusinya. Aku akan membantumu." Daniel berusaha menenangkan Tiara yang masih berjuang meredakan cegukannya. Tiara duduk, dan menarik napas lega. Cegukannya berangsur berhenti. Ia menatap Daniel dengan tatapan dalam, sarat kalimat yang ingin ia sampaikan pada pria itu."Ad

  • Suddenly Marry With The CEO   35. Tersebar

    Daniel terpaksa menanti turunnya lift untuk menyusul Tiara. Sikap Tiara sungguh membuatnya bingung. Apa yang telah ia lakukan hingga membuat Tiara marah seperti itu? Seingatnya, ia tidak melakukan apa-apa. Tidur saja mereka tidak satu kamar, bagaimana mungkin dirinya melakukan sesuatu pada Tiara.Daniel berhenti di depan pintu kamar yang ditempati Tiara. Ia gamang antara mengetuk pintu Tiara lalu mengajak gadis itu berbicara empat mata jika Tiara membukakan pintu untuknya. Namun jika tidak, Daniel harus gigit jari karena dia tidak suka itu. Daniel tidak suka dengan situasi ini. Ia tidak suka didiamkan oleh Tiara. Ia suka mendengar protes dan omelan-oemlan Tiara. Baginya, omelan Tiara adalah lantunan melodi yang sangat indah."Tia! Keluarlah. Ada yang harus kita bicarakan." Daniel mengetuk pintu kamar Tiara. "Tiara. Ayolah! Jangan bertingkah seperti anak kecil." Daniel mengetuk kembali kamar Tiara. Hati Daniel menjadi tidak tenang.Setelah sekian lama menunggu, akhirnya pintu kamar 427

  • Suddenly Marry With The CEO   34. Khawatir

    "Ya. Mungkin aku harus mendatangi orang tuanya agar lebih mudah meminangnya." Daniel manggut-manggut sendiri.Pria itu kemudian masuk ke kamar yang berada tepat di depan kamar Tiara. Malam itu berlalu dengan damai. Baik Tiara maupun Daniel dapat tidur pulas dengan mimpi masing-masing. Tiara tentang Puspita dan Daniel tentang pernikahannya dengan Tiara yang berlangsung sangat meriah.Empat jam kemudian alarm di jam tangan Tiara berdering. Gadis itu terlonjak kaget. Dahinya basah oleh keringat. Mimpinya berseteru dengan Puspita sedang seru-serunya. Tiara turun dari ranjang, berjalan ke arah dispenser. Ia haus, butuh cairan untuk membasahi tenggorokannya. Segelas air hangat berpindah dari gelas ke perut melalui bibir melewati rongga mulut, membasahi tenggorokan dan akhirnya berlabuh di lambung Tiara. Tiara membuka tirai di kamarnya memandang ke langit yang masih gelap dan dipenuhi oleh bintang-bintang.Mengingat semalam dirinya sudah terlalu lelah untuk membersihkan diri, Tiara bergega

  • Suddenly Marry With The CEO   33. Ujian Kesabaran Daniel

    "Mengapa beliau terus saja datang kemari mengganggu saya? Apa hebatnya saya coba?" Tiara menatap Daniel dengan tatapan tidak mengerti."Andai ku tahu. Sayangnya aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Jika dia datang lagi, panggil petugas keamanan, suruh dia pergi. Jangan ijinkan dia memasuki area gedung ini. Kamu mengerti?"Tiara mengangguk paham. Ia segera membawa keluar satu koper yg dibawanya dari kantor Daniel. Saat hendak melangkah keluar dari apartemen, tangan Daniel mengambil koper dari tangan Tiara. "Biarkan saya yang membawa kopernya, Pak." Tiara kembali merebut koper dari tangan Daniel. "Tidak! Biarkan kali ini aku yang membawanya," tegas Daniel."Tentu saja tidak. Ini adalah salah satu tugas seorang asisten pribadi CEO." Tiara kembali mengambil koper dari tangan Daniel."Jangan mempermalukan aku, Tiara. Dengan membiarkanmu membawa koper ini, sama saja mempermalukan diriku sendiri.""Kalau begitu, mengapa Bapak merekrut asisten pribadi jika Bapak bisa melakukan semuanya sendir

  • Suddenly Marry With The CEO   32. Maafkan, Aku

    Puspita berjalan cepat keluar dari kantor Daniel. Memang benar, mobil Bernard sudah terparkir di depan pintu masuk gedung perkantoran milik Daniel. Hati Puspita berdegup tidak karuan. Apakah Bernard tahu jika dirinya masih sering mengunjungi mantan suaminya?Supir pribadi Bernard langsung memacu mesin menuju apartemen Bernard. Tidak ada sapaan yang biasanya didapat Puspita dari sang supir. Puspita merasa cemas. Bagaimana jika Bernard tahu semua ini?Langkah kaki Puspita tidak se-ringan biasanya. Kekhawatirannya akan Bernard yang mengetahui apa yang akhir-akhir ini ia lakukan membuatnya merasa sedikit tertekan. Karakter Bernard yang sedikit lebih keras dan kaku daripada Daniel, membuat Puspita tidak seharusnya terus menemui Daniel.“Ada apa denganmu, Cantik? Kamu terlihat sedikit pucat.” Bernard menghampiri Puspita yang berdiri kaku setelah melangkah masuk ke dalam apartemen Bernard.“A-Aku ti-dak apa-apa.” Puspita memaksa untuk tertawa, tapi tawanya justru mengundang kecurigaan Bernar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status