INICIAR SESIÓNDaniel membawa Tiara pergi, kembali ke apartemennya. Tiara tidak banyak bertanya, tetapi dalam hati ia menyukai ide Daniel yang membawanya pergi."Tidak usah berterimakasih padaku."Tiara melirik sebal tapi tersenyum samar. Ia kagum pada kemampuan Daniel dalam menebak suasana hatinya.Mobil Daniel melesat meninggalkan kediaman Michael White tanpa suara. Ia baru menghubungi Michael setelah dirinya dan Tiara tiba di apartemennya."Pa. Maafkan, aku. Aku dan Tiara tidak bisa hadir malam ini. Tiara sedang tidak enak badan. Lain kali bisa kita adakan lagi makan malam bersama keluarga besar." Daniel memberi tekanan saat mengucap kata keluarga besar.Michael di ujung sana merasakan itu dan ia langsung mengedarkan pandangannya ke ruang keluarga. Ia baru menyadari kehadiran seseorang yang menjadi penyebab utama Daniel dan Tiara batal hadir dalam makan malam hari ini. "Kalian bertemu dengannya?" Michael yakin jika putra dan menantunya sudah tiba di rumahnya namun kemudian pergi setelah melihat
Keesokan harinya, Tiara kembali sibuk di meja kerjanya. Ia menolak cuti yang diberikan cuma-cuma oleh Daniel, karena masih ingin merahasiakan status barunya sebagai istri Daniel White. Tidak ada yang tahu tentang pernikahan rahasia Tiara dan Daniel kecuali kedua orang tuanya, David dan Budi, supir pribadi Daniel.Daniel meminta Tiara datang ke ruangannya. "Hari ini, kamu harus pulang lebih awal." Begitu ucap Daniel begitu Tiara tiba di ruangannya.Tiara langsung menolak. "Jam kerja saya tidak berubah. Masih sama dengan karyawan lain.""Tapi statusmu yang baru mengijinkanmu untuk itu.""Tidak ada yang berubah dan akan tetap seperti itu, kecuali saya dipecat atau mengundurkan diri.""Pintar.""Maksudnya?" "Kamu sangat paham dengan maksudku." Daniel langsung menekan angka satu di telpon kantornya. " Hubungkan dengan personalia!""Pak...!'"Aku bukan bapakmu, tapi atasan sekaligus suamimu."Tiara berdecih. 'Seharusnya aku tahu akan seperti ini.'"Baiklah-baiklah. Saya akan pulang jam tig
Lukman kaget bukan kepalang melihat Tiara datang tidak hanya bersama Daniel tetapi juga dengan kedua orang tua Daniel dan David. "Tiara! Bisa kamu jelaskan pada Ayah maksud semua ini?" Tatapan Lukman begitu tajam. Ia sangat ingin menjewer putri sulungnya itu.Michael berjalan maju mendekat ke arah Lukman. Ia tersenyum mencoba mencairkan suasana yang terasa kaku dan tegang. Monika yang ikut dalam rombongan pun ikut tegang."Selamat Malam. Maaf jika kedatangan kami yang tiba-tiba ini sudah mengganggu istirahat keluarga Pak Lukman. Ada hal penting yang ingin kami diskusikan dengan Pak Lukman dan Ibu, tapi tentu saja jika kami diberi waktu untuk menjelaskan hal tersebut."Yanti yang menangkap sinyal yang dikirim Michael segera menyikut lengan Lukman, lalu berbisik di telinga pria paruh baya itu. "Masa iya tamunya nggak disuruh masuk, Yah?"Lukman tersadar. Ia cepat-cepat mempersilakan tamunya untuk masuk ke dalam dan duduk di sofa di ruang tamu sedangkan Yanti segera masuk menuju dapur u
Michael White masih berbincang dengan Lukman. Entah membicarakan apa. Minarti sampai harus mengingatkan berulang kali untuk menyudahi percakapan mereka, mengingat hidangan yang sudah disiapkan sudah mulai dingin."Baiklah, calon besan. Kami akan menghubungi lagi untuk membicarakan hal ini. Baik-Baik. Terima kasih."Michael mengangsurkan kembali ponsel itu kepada Tiara. "Bicara apa sih, Pa? Keliatan seru sekali." Michael White tertawa. "Pak Lukman mengajak Papa memancing bila kita mengunjungi mereka.""Lah, mengapa justru jadi acara memancing? Bukannya kita akan membahas soal pernikahan Daniel dan Tiara?""Masa membicarakan pernikahan nggak ada habisnya, Ma? Memancingnya jelas setelah kita selesai berdiskusi soal pernikahan. Papa dan Pak Lukman yang mancing, Mama dan Bu Lukman yang akan memasak hasil pancingannya.""Ya-ya-ya. Papa atur aja gimana baiknya. Sekarang kita makan. Daniel dan Tiara sudah mulai mengantuk itu."Makan malam itu berlangsung lancar. Sambutan hangat Minarti dan M
Tiga hari yang lalu"Ma," panggil Michael begitu ia duduk di kursi makan, menunggu Minarti selesai menyiapkan makan malam mereka."Hmm?""Apakah Mama tidak menyayangi putra semata wayang kita?""Papa jangan aneh-aneh, deh. Mana ada ibu yang tidak sayang anaknya sendiri. Kucing saja rela mencuri makanan demi anaknya agar tidak kelaparan."Michael menarik napas panjang. "Kalau Mama memang menyayangi Daniel, mengapa Mama tidak setuju dengan keputusan Daniel yang ingin menikahi Tiara?"Gerakan Minarti seketika terhenti. Ia teringat bagaimana sikap Tiara dulu hingga sekarang. Gadis itu masih gadis yang sama empat tahun lalu, saat Daniel memperkenalkannya sebagai asisten pribadinya. Masih saja ramah dan sopan. "Jika memang dia menjadi perusak rumah tangga Daniel dan Puspita, mengapa baru sekarang Daniel ingin meminangnya? Bukankah kesempatan itu terbuka sejak awal dirinya menjadi asisten pribadi Daniel?"Minarti menghela napasnya. Perkataan Michael ada benarnya. Tiara, jika memang dia wani
"Siapa yang mengijinkanmu masuk ke ruangan ini?""Mama." Sosok wanita paruh baya maju ke depan melewati Puspita yang tersenyum penuh kemenangan. Minarti melangkah mendekati meja dimana Daniel sedang berdiskusi dengan David dan Tiara."Mama?!" Daniel langsung bangkit dari duduknya, berjalan menuju Minarti yang berjalan dengan wajah angkuh melirik sinis ke arah Tiara."Tante?!" David pun menyusul Daniel. Pria itu tidak kalah heran. Angin apa yang membawa Minarti tiba-tiba datang ke kantor Daniel."Sedang membicarakan apa?" Minarti mengambil tempat di sofa yang berhadapan langsung dengan Tiara. Wanita itu tidak melepas tatapannya dari Tiara. "Hmm, urusan pekerjaan." Daniel mengepalkan kedua tangannya. Mengapa Puspita bisa datang bersama mamanya?"Mama sendiri, ada urusan apa sampai datang kemari?""Mama hanya mampir sebentar. Kebetulan tadi bertemu Puspita di kafe seberang kantormu, jadi Mama ajak sekalian dia kemari. Katanya dia merindukanmu."Puspita tersenyum malu. "Aah, Tante. Jangan
Mobil Daniel melesat jauh meninggalkan mobil Puspita yang baru keluar dari parkir basement gedung kantornya. Tiara duduk di samping sopir, tidak seperti biasanya.“Aku tahu mengapa kamu melakukan itu, tapi sekarang, aku memerintahmu untuk pindah ke belakang!” Perintah Daniel sangat jelas di dengar s
Tiara diam membeku di tempatnya berdiri. Ia tidak berani membalas tatapan Daniel yang begitu dingin. Suasana ruangan yang sebelumnya tidak pernah secanggung ini, membuat Tiara ingin segera meninggalkan ruangan itu.“Apakah aku membayarmu hanya untuk duduk diam menatap buket-buket itu?”sindir Daniel.
Tiara menatap nanar buket bunga yang ia terima ketiga kalinya hari ini. Buket bunga mawar berwarna merah ikut memenuhi meja kerjanya, setelah sebelumnya datang buket bunga anggrek bulan dan bunga lily. Bukan rasa bahagia yang ia rasakan, melainkan rasa geram dan kesal.Kata-kata yang tertulis di ka
“Mengingat apa?” Daniel mengulang pertanyaannya.“Ya mengingat saya adalah satu-satunya wanita yang selalu berada di dekat Pak Daniel, yang menghabiskan waktu lebih lama dari siapapun. Bahkan mungkin, saya lebih lama menghabiskan waktu bersama Bapak dibandingkan Bu Puspita sendiri.”Daniel menjenti







