Share

bab 18

Author: Mariahlia
last update publish date: 2026-03-12 06:56:44
Cahaya pagi masuk perlahan melalui tirai tipis kamar itu.

Awalnya hanya garis pucat yang merayap di lantai kayu yang mengilap. Garis cahaya itu tipis, hampir tidak terlihat jika seseorang tidak benar-benar memperhatikannya. Ia bergerak perlahan, seolah meraba permukaan lantai sebelum akhirnya memanjang menuju kaki tempat tidur besar yang berdiri di tengah ruangan.

Sedikit demi sedikit, cahaya itu berubah.

Dari pucat menjadi lebih hangat.

Dari samar menjadi lebih jelas.

Sinar matahari p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 106

    Pintu rumah tertutup keras setelah Febi pergi. Dan suara itu, terasa seperti akhir dari semuanya. Hening hanya terdengar suara detak jarum jam di dinding, dan tangis pilu Sintia. Perempuan itu memang sedari tadi terus menangis, tanpa berhenti. Hatinya benar-benar hancur mendapatkan fakta sebesar ini. Hujan masih mengguyur deras di luar rumah. Seolah tau apa yang terjadi pada keluarga ini. Rintik hebatnya membasahi bumi. Sedangkan di dalam, keluarga itu perlahan benar-benar runtuh. Kakek Langga berdiri dengan napas memburu. Wajah lelaki tua itu merah padam menahan murka. Tatapannya lurus mengarah pada Langga. Dan saat ini amarahnya benar-benar meledak. “Kurang ajar kamu!” Bentakan itu menggema keras memenuhi ruang keluarga. Sintia langsung tersentak. Samuel memejamkan matanya lelah. Sedangkan Langga, hanya berdiri diam dengan wajah dingin. Ia sama sekali tidak mengelak, karena ini memang salahnya. Namun justru sikap diam itu membuat kakeknya semakin murka. “Kamu bikin m

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 105

    Rumah itu terasa seperti medan perang yang baru saja menghancurkan seluruh isinya. Tidak ada lagi kehangatan.b Tidak ada lagi tempat aman. Yang tersisa hanya tatapan penuh kecewa… dan hati yang remuk di mana-mana. Febi masih berdiri dengan tubuh gemetar. Air matanya tidak berhenti jatuh sejak tadi. Pipinya masih terasa panas akibat tamparan Sintia. Namun rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibanding melihat Samuel menangis seperti tadi. Dan lebih menyakitkannya lagi, saat Langga akhirnya kembali membuka suara. “Pergi.” Deg. Semua mata langsung tertuju padanya.Langga berdiri tegak dengan wajah dingin. Padahal beberapa menit lalu pria itu terlihat sama hancurnya. Namun sekarang, ia seperti memaksa dirinya menjadi orang lain. “Pergi dari hidup saya, Febi.” Deg!! Jantung Febi seperti berhenti berdetak. Matanya langsung membesar. “Pak…” Namun Langga memalingkan wajahnya. Rahangnya mengeras kuat. “Semuanya udah cukup.” suaranya rendah dan dingin. “Saya nggak mau lihat kamu lagi.

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 104

    Ruangan itu berubah kacau dalam sekejap. Samuel masih berdiri membeku di tengah pecahan kaca. Dadanya naik turun tidak beraturan. Matanya merah. Namun bukan hanya karena menangis saja. Melainkan karena rasa hancur yang perlahan berubah menjadi kemarahan. “Kamu juga?” Pertanyaan itu kembali terdengar lirih dari bibirnya. Namun kali ini terdengar lebih menusuk. Lebih menyakitkan dari sebelumnya. Febi menangis sambil menggeleng cepat. “Sam… dengerin aku dulu…” “Dengerin apa?!” Bentakan Samuel langsung menggema memenuhi rumah. Deg!! Tubuh Febi langsung tersentak ketakutan. Bahkan Sintia ikut membeku karena tidak pernah melihat anaknya semarah ini. Samuel tertawa kecil. Namun tawanya terdengar hancur. “Aku hampir mati karena mikirin kamu…” suaranya mulai pecah. “Aku nangis tiap malam nyariin kamu…” Air matanya jatuh semakin deras. "Aku sampai bingung kenapa kamu tiba-tiba mutusin aku. Apa karena aku yang pergi ke Swiss. Padahal aku selalu setia sama kamu walaupun aku di sa

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 103

    Ruangan langsung sunyi. Samuel perlahan mengangkat wajahnya dari bahu Febi. Tatapannya lurus ke arah Langga. Dan ia melihat ada sesuatu yang berubah di mata lelaki itu.yaitu rasa terusik. “Kenapa?” tanyanya pelan. Langga berdiri tegak dengan rahang mengeras. Tatapannya masih tertuju pada tangan Samuel yang menggenggam Febi terlalu erat. “Nggak semua hal harus diumbar.” jawabnya dingin. Samuel tertawa kecil samar. “Ummbar?” ulangnya pelan. “Dia pacar aku, Pa.” Febi langsung menunduk cepat. Sedangkan Langga terlihat semakin kehilangan ketenangan. "Aku cuma meluk pacar sendiri.” lanjut Samuel sambil mengusap pelan jemari Febi. “Apa itu salah?” Sunyi. Namun ketegangan di ruangan itu semakin terasa jelas. Febi bahkan mulai sulit bernapas. Karena sekarang, mereka tidak lagi terdengar seperti ayah dan anak yang sedang bicara biasa. Mereka seperti dua orang yang sedang saling menahan sesuatu. Dan dirinya berada tepat di tengah-tengahnya. “Sam…” suara Febi mulai gemetar. “Udah

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 102

    Sore itu hujan turun pelan membasahi halaman rumah Samuel. Dan lagi-lagi, Febi berada di sana. Samuel yang sejak siang terus menghubunginya akhirnya berhasil membujuk perempuan itu datang dengan alasan kondisinya kembali drop. “Aku cuma pengen lihat kamu…” ucapnya tadi di telepon dengan suara lemah. “Sebentar aja.” Dan Febi, lagi-lagi tidak tega menolaknua. Rasa bersalah membelenggu dirinya, sehingga ia tidak bisa berkutik sama sekali saat pemuda itu mengancam. Kini perempuan itu duduk di ruang keluarga bersama Samuel yang tampak jauh lebih sehat dibanding beberapa hari lalu. Namun lelaki itu justru terus menempel padanya sejak tadi. “Sam…” Febi berusaha menarik tangannya pelan. “Duduk yang bener.” “Nggak mau.” Samuel malah menyandarkan kepalanya ke bahu perempuan itu dengan mata terpejam. Seolah tempat paling nyaman di dunia memang hanya ada di dekat Febi. “Aku kangen…” bisiknya lirih. Tubuh Febi langsung menegang. Ia bisa merasakan beberapa pasang mata pelayan rumah

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 101

    “Bisa ikut saya sebentar?” Deg. Kalimat itu langsung membuat suasana koridor terasa semakin canggung. Beberapa mahasiswa yang sejak tadi diam-diam memperhatikan mereka langsung saling melirik kecil. Febi menegang. Sedangkan Nisa tampak salah tingkah di sampingnya. “Iya, Pak…” jawab Febi pelan. Langga mengangguk singkat lalu berjalan lebih dulu menyusuri koridor kampus. Langkah pria itu tenang seperti biasa, terlihat sangat berwibawa. Namun entah kenapa, punggung itu justru membuat jantung Febi semakin tidak tenang.Ia mengikuti dari belakang sambil menundukkan wajah. Dan semakin jauh mereka berjalan, bisik-bisik mahasiswa mulai terdengar samar. “Itu Febi kan?” “Seriusan dipanggil ke ruangan Pak Langga?” “Fix ada sesuatu deh…” Tangan Febi langsung mengepal kecil di sisi tubuhnya. Ia ingin pergi. Ingin berhenti. Namun semuanya terasa terlambat. Ia tidak bisa juga menolak permintaan Langga, sebab pria itu dosennya. Sedangkan Langga, ia tampak acuh, ia sama sekali t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status