ANMELDENMalam itu, rumah besar keluarga Langga tidak benar-benar tidur. Lampu ruang tengah masih menyala terang meski waktu sudah lewat tengah malam. Namun suasana rumah itu terasa dingin. Kosong. Dan penuh kemarahan yang belum selesai. Sintia duduk diam di sofa sambil menatap layar ponselnya tanpa ekspresi. Rambutnya berantakan. Matanya sembab. Tetapi kali ini… tidak ada lagi tangisan. Yang tersisa hanya sakit hati. Dan kebencian. Tatapannya perlahan bergerak membaca ulang berita tentang Febi yang masih ramai di media sosial. Komentar-komentar menghina perempuan itu terus bertambah. Pelakor. Murahan. Penghancur rumah tangga orang. Sudut bibir Sintia perlahan terangkat tipis. Namun rasa puas itu ternyata belum cukup. Karena perempuan itu sadar satu hal— Febi menghilang. Dan selama Febi masih bebas di luar sana… Langga tidak akan pernah berhenti mencarinya. Dada Sintia langsung kembali terasa panas saat mengingat bagaimana Langga pergi dua hari terakhir hanya untuk
Dalung langsung menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya kasar. Tatapannya jatuh pada tangan Febi yang terus memegangi perutnya sendiri dengan gemetar. Dan untuk beberapa detik, lelaki itu terlihat benar-benar berpikir keras. “Dia udah mulai curiga tentang semuanya…” gumamnya pelan. Febi langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aku nggak siap…” isaknya pecah lirih. “Aku nggak siap kalau dia tau…” Dalung berjongkok pelan di depan perempuan itu. “Lihat aku.” Namun Febi terus menangis sambil menggeleng. “Feb…” Perlahan Dalung menggenggam kedua tangan perempuan itu agar turun dari wajahnya. Dan saat mata mereka bertemu, dada Dalung langsung terasa nyeri. Karena perempuan di depannya benar-benar ketakutan sekarang. “Aku janji…” suara Dalung rendah. “Gue nggak bakal biarin siapa pun nyakitin lo lagi.” Air mata Febi jatuh semakin deras. “Tapi ini anak dia, Lung…” napasnya bergetar hebat. “Mana mungkin bisa terus disembunyiin…” Dalung terdiam. Karena itu me
Dalung langsung menangkap arah tatapan Langga. Dan dalam satu detik, lelaki itu tahu bahaya besar baru saja datang. Suara muntah Febi masih terdengar samar dari dalam kamar mandi. Membuat wajah Langga perlahan berubah kaku. Tatapannya kembali mengarah ke pintu kamar mandi dengan napas mulai tidak teratur. “Dia sakit apa?” Pertanyaan itu terdengar pelan. Namun justru itulah yang membuat suasana semakin menegangkan. Dalung langsung menyahut cepat sebelum siapa pun sempat berpikir lebih jauh. “Maag.” Langga menoleh tajam. “Dia emang gampang kambuh kalau stres.” lanjut Dalung santai sambil menyandarkan tubuh ke dinding. “Lo sendiri bikin hidup dia kayak neraka.” Namun Langga tidak langsung percaya. Karena tadi… wajah Febi terlalu pucat. Dan cara perempuan itu buru-buru menutup mulutnya terasa familiar di kepalanya, seperti Sintia yang dulu saat hamil Samuel. “Udah berapa lama dia muntah-muntah?” Dalung langsung menatap Langga dingin. “Lo interogasi gue?” “Jawab.” “Gu
Pagi itu berjalan jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Untuk setelah sekian lama, Febi bisa duduk tanpa merasa sedang dihakimi siapa pun. Miko bahkan terus mengoceh sejak tadi sambil memakan mie goreng buatan Dalung. “Bang Dalung bisa masak, bisa nyetir, bisa berantem…” Miko menghitung dengan jari. “Kurang apa coba?” Dalung langsung mendelik kecil. “Kurang kaya.” Miko tertawa keras. Sedangkan Febi hanya tersenyum tipis kecil. Dan senyum itu… Entah kenapa membuat Dalung diam beberapa detik. Karena sudah lama sekali ia tidak melihat Febi tersenyum walaupun hanya sedikit. “Kalau Kak Febi nikah sama Bang Dalung kayaknya cocok deh.” Deg. Sendok di tangan Febi langsung berhenti bergerak. “MIKO!” perempuan itu langsung memerah panik. Sedangkan Dalung malah tertawa kecil sambil menyandarkan tubuh ke kursi. “Boleh juga idenya.” “Lung!” Miko makin semangat. “Nah kan! Aku bilang juga apa!” Febi buru-buru berdiri sambil membawa piring kotor ke dapur. “Kalian aneh.” Namun
Mobil tua milik Dalung melaju pelan meninggalkan kota yang selama ini terasa seperti neraka bagi Febi. Hujan rintik masih turun membasahi kaca mobil. Lampu jalan memantul samar di aspal basah. Dan di kursi penumpang depan, Febi duduk diam memeluk dirinya sendiri. Matanya kosong. Terlalu banyak yang terjadi dalam waktu singkat sampai perasaannya seperti mati rasa. Sedangkan di kursi belakang, Miko justru terlihat jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Remaja itu sesekali melirik Dalung dengan mata berbinar kecil. “Bang Dalung keren ya…” bisiknya pelan pada Febi. Febi menoleh lemah. Miko tersenyum kecil. “Dateng pas banget kayak pahlawan.” Kalimat itu membuat Dalung tertawa kecil hambar di balik kemudi. “Pahlawan apaan.” gumamnya pelan. "Kak Febi lagi sedih karena ibu. bang Dalung datang jadi pahlawan dong, buat hibur kakak!!" Namun diam-diam, lelaki itu menggenggam setir lebih erat saat matanya melirik Febi sekilas. Karena sejak tadi, perempuan itu terlalu di
Hujan rintik kembali turun saat Febi keluar dari area kampus. Tubuhnya masih basah oleh air got. Bau kotor itu masih melekat di bajunya. Rambutnya lengket berantakan. Dan orang-orang yang dilewatinya masih terus menatap dengan jijik atau kasihan. Namun Febi sudah terlalu mati rasa untuk peduli. Langkahnya limbung menyusuri trotoar pinggir jalan. Air matanya terus jatuh tanpa henti. Dadanya sesak sampai terasa sakit untuk bernapas. Dan akhirnya, perempuan itu berhenti di dekat halte kecil yang sepi. Tangannya gemetar memeluk tubuh sendiri. Lalu perlahan… Febi terduduk lemah di bangku halte. Tangisnya pecah lagi. “Hiks…”Tubuhnya sampai membungkuk karena terlalu sakit menahan semuanya sendirian. Ia dihina. Dipermalukan. Dibully seperti sampah di depan satu kampus. Dan yang paling menghancurkannya, ia bahkan tidak bisa membela diri. Karena semua memang berawal dari kesalahannya. “Febi…” Suara itu tiba-tiba terdengar pelan dari depan. Febi langsung mengangkat wajahnya perlahan. D







