Share

bab 39

Author: Mariahlia
last update publish date: 2026-04-02 23:13:02

Langga berdiri di depan etalase kaca yang mengkilap, menatap gaun pantai yang tergantung rapi di dalam butik ternama di pusat kota Jakarta. Gaun itu terbuat dari kain sifon tipis berwarna krem dengan pola bunga tropis yang lembut, tampak ringan dan hampir transparan di bawah sorotan lampu putih yang hangat. Detail bordir halus menghiasi bagian hem dan kerah, memperlihatkan keahlian tangan desainer yang cermat. Di sekitar gaun, manekin berpose anggun mengenakan aksesori minimalis, sementara lata
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 95

    Malam semakin larut. Rumah besar itu akhirnya mulai sunyi setelah Sintia memaksa Samuel masuk ke kamar untuk beristirahat. Meski awalnya lelaki itu terus mengeluh karena ingin tetap mengobrol bersama Febi. “Aku cuma mau duduk bentar lagi…” rengeknya pelan. “Nggak ada bantahan.” Sintia menunjuk kamar Samuel tegas. “Dokter nyuruh kamu istirahat.” Samuel mendesah pasrah sebelum akhirnya menoleh pada Febi. “Kamu jangan pulang diam-diam ya.” Deg. Febi tersenyum kecil. “Iya.” “Janji?” “Iya, Sam.” Baru setelah itu Samuel terlihat sedikit tenang lalu berjalan menuju kamarnya perlahan. Dan sejak Samuel pergi,suasana rumah terasa berubah jauh lebih sunyi. dan lebih canggung. Terutama bagi Febi. Karena kini ia sadar… ia benar-benar akan menginap di rumah ini. Di rumah yang dipenuhi kenangan rumit bersama Samuel. Dan juga— Langga. Sintia mengantar Febi ke kamar tamu yang berada tidak jauh dari taman belakang. “Kamu tidur sini ya, Nak.” ucap perempuan itu lembut sambil merapik

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 94

    Samuel terdiam sesaat mendengar jawaban ayahnya. Lalu lelaki itu tertawa kecil samar. “Iya juga sih.” Namun entah kenapa, tatapannya masih belum benar-benar lepas dari Langga. Seolah ada sesuatu yang terus mengganjal di dalam pikirannya. Sementara Febi justru semakin sulit bernapas. Karena jawaban Langga tadi terdengar begitu normal di permukaan… tetapi hanya mereka berdua yang tahu ada banyak hal tersembunyi di balik kalimat itu. “Udah jangan bahas yang aneh-aneh.” Sintia mencoba mencairkan suasana sambil duduk di samping suaminya. “Samuel harus istirahat.” Namun Samuel justru kembali bersandar di sofa sambil menatap Febi lekat. “Aku serius loh.” Suaranya pelan. “Aku kira papa marah karena aku deket sama kamu lagi.” Febi buru-buru menggeleng kecil. “Nggak mungkin…” “Kenapa nggak mungkin?” Samuel tersenyum kecil menggoda. “Siapa tau papa posesif.” “Samuel.” Langga memotong cepat. Nada suaranya terlalu tajam. Dan itu membuat ruangan kembali hening beberapa detik. Samu

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 93

    Suasana ruang keluarga itu semula hangat. Suara sendok kecil yang beradu pelan dengan mangkuk sup terdengar samar di tengah obrolan ringan Sintia dan Samuel. Febi masih duduk di samping Samuel, menyuapi lelaki itu perlahan sambil sesekali mengingatkan agar makan pelan-pelan. Dan Samuel, lelaki itu terlihat begitu bahagia hanya karena hal sederhana seperti itu. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Febi. Seolah rasa sakitnya benar-benar berkurang hanya karena perempuan itu ada di dekatnya. “Awas tumpah…” bisik Febi pelan saat Samuel malah terus menatapnya. Samuel tersenyum kecil. “Biarin.” “Sam…” “Aku serius.” Suaranya melembut. “Aku suka lihat kamu dekat gini.” Deg. Pipi Febi langsung memanas. Sedangkan Sintia hanya tertawa kecil sambil menggeleng gemas. “Ya ampun, baru sembuh udah mulai gombal lagi.” Namun berbeda dengan suasana hangat di antara mereka, Langga justru semakin diam sejak tadi. Pria itu berdiri di dekat meja bar sambil menggenggam gelas di ta

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 92

    Keesokan malamnya, Langga menjemput Febi lagi, jelas tentu karena Samuel ingin bertemu dengan Febi. Ia berdiri di depan rumah Febi, ia menatap ke sekeliling yang tampak sederhana. Langga menghela nafasnya kasar. "Pak Langga, saya sudah siap." Seru Febi dari depan pintu, ia sudah mengenakan outfit seadanya. Tadi, ia tidak mau ke rumah pria itu, namun Langga terus memaksa, katanya Samuel tidak mau makan. Febi yang masih di liputi rasa bersalah akhirnya mau. Pun Miko malam ini pergi keluar bersama dengan teman-temannya. Febi membiarkan, karena ia ingin melihat adiknya seperti dulu lagi. "Ayo" Febi menganggukkan kepalanya, ia berjalan di belakang pria itu. Udara malam langsung menyambutnya, angin berhembus pelan, meniup daun-daun di sana. Tidak lama... Mobil Langga berhenti perlahan di halaman rumah besar milik keluarga. Malam sudah sangat larut. Udara terasa dingin setelah hujan turun sejak tadi, sementara lampu-lampu rumah masih menyala hangat dari dalam. Febi turun pelan da

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 91

    Deg. Febi langsung menoleh cepat ke arah Langga. Matanya membesar penuh keterkejutan. “Bapak mau bilang semuanya ke Samuel?” suaranya hampir pecah. Langga masih menatap lurus ke depan. Lampu jalan yang redup memantulkan bayangan lelah di wajahnya. “Saya nggak bilang sekarang.” Jawabnya pelan. “Tapi kalau suatu hari semuanya kebuka…” ia menarik napas berat, “saya nggak akan biarin kamu nanggung sendiri.” Kalimat itu justru membuat hati Febi semakin sesak. Karena selama ini, ia selalu merasa dirinya sendirian memikul rasa bersalah itu. Febi menggigit bibirnya kuat-kuat. “Samuel bakal hancur…” “Ya.” Jawaban Langga terdengar lirih. “Dan dia berhak marah.” Sunyi. Hujan di luar mulai mereda perlahan. Sementara di dalam mobil, udara terasa semakin berat. Febi menundukkan wajahnya. Tangannya gemetar di atas pangkuan. “Aku takut dia jijik sama aku…” Langga langsung menoleh. Tatapannya melemah saat melihat perempuan itu hampir runtuh lagi. “Jangan ngomong gitu.” “Tapi itu

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 90

    Mobil melaju perlahan meninggalkan area rumah sakit. Malam semakin larut. Lampu-lampu kota berpendar samar di balik kaca mobil yang sedikit berembun karena dinginnya udara malam. Namun di dalam mobil itu, suasananya jauh lebih dingin. Febi duduk diam di kursi penumpang sambil memeluk tas kecilnya erat. Tatapannya lurus ke depan, tetapi pikirannya kacau ke mana-mana. Tentang kehidupannya yang sepertinya ingin mempermainkannya lagi. Dan tentang Langga yang sekarang duduk tepat di sampingnya memegang kemudi dengan wajah tenang yang sulit dibaca. Tidak ada suara. Hanya denting pelan suara alunan lagu dari radio mobil yang diputar sangat kecil. Dan justru kesunyian itu terasa lebih menyesakkan. Febi menggigit bibirnya pelan. Ia sungguh tidak nyaman berada berdua seperti ini bersama Langga. Terlalu banyak hal yang pernah terjadi di antara mereka. Terlalu banyak luka yang tidak pernah benar-benar selesai. “Samuel keliatan lebih tenang waktu ada kamu.” Suara Langga akhirnya memecah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status