Share

bab 41

Author: Mariahlia
last update publish date: 2026-04-04 18:32:58
Dua hari setelah janji itu terucap, Langga menepati kata-katanya dengan mengajak Febi ke pantai di Bali.

Sebelum pergi, Febi sudah berpamitan pada ibu dan adiknya. Sang ibu, meski berusaha tersenyum, matanya menyiratkan kecemasan yang tak terucap. “Hati-hati ya nak,” ucapnya dengan suara serak, tangan yang kurus itu menggenggam tangan Febi erat, seolah ingin melekatkan doa agar anaknya aman. Febi membalas dengan sebuah kecupan lembut di punggung tangan ibunya, mencoba menahan perasaan berat ya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 102

    Sore itu hujan turun pelan membasahi halaman rumah Samuel. Dan lagi-lagi, Febi berada di sana. Samuel yang sejak siang terus menghubunginya akhirnya berhasil membujuk perempuan itu datang dengan alasan kondisinya kembali drop. “Aku cuma pengen lihat kamu…” ucapnya tadi di telepon dengan suara lemah. “Sebentar aja.” Dan Febi, lagi-lagi tidak tega menolaknua. Rasa bersalah membelenggu dirinya, sehingga ia tidak bisa berkutik sama sekali saat pemuda itu mengancam. Kini perempuan itu duduk di ruang keluarga bersama Samuel yang tampak jauh lebih sehat dibanding beberapa hari lalu. Namun lelaki itu justru terus menempel padanya sejak tadi. “Sam…” Febi berusaha menarik tangannya pelan. “Duduk yang bener.” “Nggak mau.” Samuel malah menyandarkan kepalanya ke bahu perempuan itu dengan mata terpejam. Seolah tempat paling nyaman di dunia memang hanya ada di dekat Febi. “Aku kangen…” bisiknya lirih. Tubuh Febi langsung menegang. Ia bisa merasakan beberapa pasang mata pelayan rumah

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 101

    “Bisa ikut saya sebentar?” Deg. Kalimat itu langsung membuat suasana koridor terasa semakin canggung. Beberapa mahasiswa yang sejak tadi diam-diam memperhatikan mereka langsung saling melirik kecil. Febi menegang. Sedangkan Nisa tampak salah tingkah di sampingnya. “Iya, Pak…” jawab Febi pelan. Langga mengangguk singkat lalu berjalan lebih dulu menyusuri koridor kampus. Langkah pria itu tenang seperti biasa, terlihat sangat berwibawa. Namun entah kenapa, punggung itu justru membuat jantung Febi semakin tidak tenang.Ia mengikuti dari belakang sambil menundukkan wajah. Dan semakin jauh mereka berjalan, bisik-bisik mahasiswa mulai terdengar samar. “Itu Febi kan?” “Seriusan dipanggil ke ruangan Pak Langga?” “Fix ada sesuatu deh…” Tangan Febi langsung mengepal kecil di sisi tubuhnya. Ia ingin pergi. Ingin berhenti. Namun semuanya terasa terlambat. Ia tidak bisa juga menolak permintaan Langga, sebab pria itu dosennya. Sedangkan Langga, ia tampak acuh, ia sama sekali t

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 100

    Sejak pagi itu, pikiran Samuel tidak pernah benar-benar tenang. Kalimat yang ia lontarkan saat sarapan beberapa hari lalu terus terngiang di kepalanya. 'Papa jangan sampai suka sama pacar aku ya.' Awalnya ia memang hanya bercanda. Namun semakin dipikirkan, semuanya justru terasa semakin aneh. Ayahnya terlalu emosional saat ia bersama dengan Febi. Terlalu memperhatikan. Dan yang paling membuat Samuel tidak nyaman, Febi juga terlihat berbeda setiap ada Langga di dekatnya. Seolah mereka menyimpan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Malam itu Samuel duduk sendirian di kamarnya sambil memainkan ponsel pelan. Tatapannya kosong. Sudah hampir lima menit ia membuka chat Febi tanpa benar-benar mengetik apa pun. Sampai akhirnya, Ting Sebuah notifikasi masuk. Samuel langsung menegakkan tubuhnya sedikit. Namun senyum kecil di wajahnya perlahan hilang saat membaca pesan itu. Dari salah satu temannya di kampus. Fadel. |Bro, cewek lo tadi ngobrol lama sama bokap lo di koridor kampus 😭| |

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 99

    Dua hari setelah menginap di rumah Samuel, Febi akhirnya kembali ke kampus. Pagi itu udara terasa mendung. Langit abu-abu menggantung rendah seolah ikut membawa berat yang sejak beberapa hari terakhir terus menekan dadanya.Febi turun dari ojek online di depan gerbang kampus sambil menggenggam tasnya erat. Sudah cukup lama ia tidak datang ke tempat itu. Dan anehnya, langkahnya terasa jauh lebih berat dibanding biasanya. Banyak hal berubah terlalu cepat dalam hidupnya. Ibunya pergi. Samuel kembali hadir. Dan Langga… Febi langsung menghela napas pelan. Nama itu saja sudah cukup membuat pikirannya kembali kacau. “Febi!” Suara seseorang membuat perempuan itu tersentak kecil. Nisa langsung berlari kecil menghampirinya dengan wajah kaget sekaligus lega. “Ya Allah, akhirnya kamu muncul juga!” sahut sahabatnya itu sambil memeluk Febi cepat. “Aku khawatir banget tau!” Febi tersenyum kecil lemah. “Maaf…” Nisa langsung melepas pelukan lalu memperhatikan wajah Febi lama. Dan seket

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 98

    Sunyi. Kalimat itu langsung membuat udara di dapur terasa membeku. Febi menegang di tempatnya. Jantungnya berdetak sangat keras sampai telinganya sendiri terasa berdengung. Sedangkan Langga langsung menatap Samuel tajam. “Ngaco.” Jawab Langga kesal. Dan justru itu membuat Samuel makin curiga. “Loh?” lelaki itu tertawa kecil. “Aku cuma becanda. Papa kenapa sensi banget sih?” Namun tatapannya tidak benar-benar bercanda. Ia memperhatikan ayahnya dengan lekat. Memperhatikan bagaimana perubahan ekspresi pria itu. Rahang Langga mengeras, dan tatapannya seperti tidak biasa. Bagaimana pria itu terus terlihat emosional setiap kali dirinya dekat dengan Febi. Dan itu mulai terasa aneh dan ada kejanggalan. “Sam…” suara Febi langsung terdengar gugup. “Udah makan dulu aja ya.” Namun Samuel justru berjalan mendekat ke meja makan sambil tetap menatap ayahnya. “Papa nggak suka aku dekat sama Febi?” “Nggak ada hubungannya.” “Terus kenapa dari tadi papa marah terus?” Langga mengembus

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 97

    Pagi datang terlalu cepat. Dan bagi Langga, itu buruk. Karena semalaman ia sama sekali tidak tidur. Pria itu duduk sendirian di ruang kerja sejak dini hari dengan kemeja yang masih kusut dan kopi yang bahkan sudah dingin di meja. Pikirannya kacau. Tentang dapur semalam. Tentang mata Febi yang penuh air mata. Dan tentang dirinya sendiri yang nyaris kehilangan kendali. Langga mengusap wajahnya kasar lalu menghembuskan napas berat. Ia seharusnya menjaga jarak. Seharusnya menghentikan semuanya sebelum semakin menghancurkan Samuel. Namun semakin ia mencoba, semakin perempuan itu memenuhi pikirannya. Tok tok tok Suara ketukan pintu membuat Langga langsung menegakkan tubuhnya. “Mas?” suara Sintia terdengar dari luar. “Udah bangun?” “Ya.” Jawab Langga datar. Sintia membuka pintu sedikit lalu tersenyum kecil. “Febi lagi bikin sarapan sama Samuel di dapur.” Deg. Kalimat itu langsung membuat rahang Langga mengeras samar. Entah kenapa dadanya kembali terasa sesak. “Samue

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status