Share

bab 4

Penulis: Mariahlia
last update Tanggal publikasi: 2025-11-17 21:35:05

Febi yakin wajahnya semakin memerah. Ia menggeleng cepat.

“Bukan begitu maksud saya!” sanggah Febi.

“Kalau begitu,” Langga membentangkan tangannya ke arah pintu. “Kamu boleh pulang.” ulangnya lagi.

Febi menahan napasnya sesaat. Kemudian tanpa banyak basa-basi yang mungkin bisa merugikan dirinya lagi, Febi segera bergegas untuk pulang.

Ia melesat ke luar unit apartemen itu dengan cepat dan masuk ke dalam lift. Di dalam lift, detak jantung Febi betul-betul tidak beraturan.

Baru sampai di lantai dasar, ponsel Febi bergetar tiba-tiba.

Ah, itu notifikasi pengingat bahwa Febi harus ke rumah sakit untuk menengok ibunya.

Sebelum pergi ke rumah sakit, Febi menoleh ke belakang. Melihat lagi gedung apartemen mewah itu. Kemudian Febi menggeleng dan bergidik ngeri.

Apa lagi yang menunggunya nanti?

***

Begitu melangkah masuk ke rumah sakit, Febi seolah langsung lupa sesaat dengan kejadian di apartemen tadi.

Isi kepala Febi langsung dipenuhi dengan kondisi ibunya. Setelah menyusuri lorong yang hening, Febi tiba di kamar rawat sang ibu.

Febi memerhatikan ibunya yang tengah terbaring lemah seusai perawatan kemoterapi.

Meski diberi sofa untuk tidur, mustahil bagi Febi untuk bisa tertidur lelap. Terlebih isi pikirannya yang bercampur malam ini membuat Febi terjaga dengan gelisah sampai pagi.

Pagi harinya saat Febi mengerjap karena sinar matahari, Febi mendapatkan bahwa ibunya sudah bangun.

Wajah itu tampak lebih pucat dari biasanya, kulitnya nyaris transparan di bawah cahaya pagi. Rambut yang dulu tebal kini hanya tersisa tipis, tertutup kerudung lembut yang sengaja dikenakan untuk menghangatkan kepala.

Kemoterapi tentu saja membuat tubuh ibunya semakin lemah.

Namun Febi bersyukur karena pagi ini napas ibunya terdengar lebih teratur.

“Febi…” panggil ibunya pelan.

Febi segera mendekat, menyunggingkan senyum yang ia paksa agar terlihat ringan.

“Ibu sudah bangun…”

Ibunya mengangguk kecil. “Kamu nggak pulang semalaman?”

Febi menggeleng pelan. “Di sini aja.”

Febi membantu ibunya sedikit duduk dengan menaikkan sandaran ranjang. Gerakannya sangat hati-hati. Tubuh itu terasa begitu ringan.

Febi merasakan sesuatu mencubit di dalam dadanya. Ia tahu penyakit itu membuat berat badan ibunya semakin menurun.

Di meja kecil samping ranjang, ada semangkuk bubur hangat yang baru saja diantar oleh seorang perawat. Uap tipis masih mengepul pelan, mengaburkan udara di atasnya.

Febi duduk di kursi kecil yang ada di dekat ranjang. Ia mengambil sendok, meniup bubur itu perlahan agar tidak terlalu panas. Gerakannya pelan dan dilakukan beberapa kali.

Febi menyuapkan sendok pertama dengan hati-hati.

Ruangan itu sunyi. Hanya suara lembut sendok yang beradu dengan mangkuk.

“Capek ya, Bu?” bisik Febi tiba-tiba setelah memerhatikan raut ibunya yang terlihat begitu lelah.

Ibunya menatapnya lama. “Lebih capek mikirin kamu begadang semalaman. Apalagi kamu harus bekerja sambil kuliah.”

Febi tersenyum kecil. “Febi nggak capek, Bu...”

Ibunya tersenyum dan menggeleng pelan, seolah tahu kebohongan kecil itu. “Kamu kelihatan kurus sekarang, Nak.”

Febi hanya tersenyum dan kembali meniup bubur sebelum menyuapkannya lagi.

Beberapa suapan berlalu dengan lambat.

Febi memandang tangan ibunya yang terpasang infus. Pembuluh darahnya terlihat jelas di bawah kulit yang pucat. Ia teringat pertama kali dokter mengatakan kata itu.

‘Leukemia’.

Saat itu Febi betul-betul merasa takut dan dunianya langsung runtuh. Semua rencana hidupnya mendadak kabur. Kuliah, cita-cita menjadi pengacara, masa depan—semuanya seolah bergeser fokus menjadi satu hal saja.

Menyelamatkan ibunya.

“Febi…” suara ibunya memotong lamunannya.

“Iya, Bu?”

“Biayanya… pasti mahal banget, ya?”

Tangan Febi terhenti sesaat. Tentu saja, biaya perawatan pasti mahal. Siapapun juga tahu itu. Namun, Febi berusaha menenangkan ibunya. “Febi ada uangnya kok, Bu.”

Ibunya menatapnya penuh arti. “Nak, kalau kamu kesulitan…”

Febi menggeleng. “Febi bisa atur semuanya,” potongnya cepat.

Ibunya terdiam.

Beberapa detik berlalu tanpa suara. “Kalau memang berat, kita berhenti saja,” ucap ibunya.

“Jangan bilang begitu,” suaranya pelan, berusaha agar tidak terdengar getaran di sana. “Ibu harus sembuh.”

“Tapi-”

Febi menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Febi akan kerja keras, Bu. Asal Ibu sembuh,” Febi mengelus pipi ibunya. Kata-kata itu seperti penyemangat bagi dirinya sendiri. “Febi mau ke kampus dulu. Nanti sebentar lagi, Miko datang.”

Miko adalah adik laki-laki Febi yang juga setia merawat sang ibu.

Sementara itu, Febi dapat melihat tatapan ibunya yang lembut saat ia berkemas untuk ke kampus.

***

Begitu tiba di kampus, Febi langsung menghela napas panjang saat mendekati gedung utama. Ia tahu jadwal berikutnya adalah hukum pidana.

Kelas Pak Langga. Pria yang ‘tidak sengaja’ ditemuinya semalam.

Febi menelan ludahnya tanpa ia sadari. Langkahnya jadi melambat tanpa sadar.

Ia sedikit berharap kelas dibatalkan. Atau pria itu berhalangan hadir. Atau terjadi sesuatu yang membuat pertemuan hari ini tidak perlu terjadi.

Namun hidup jarang memberikan jalan semudah itu.

Ruang kelas sudah hampir penuh ketika Febi melangkah masuk. Beberapa temannya melambaikan tangan.

“Feb, sini!” panggil Nisa dari barisan tengah. Nisa adalah sahabat Febi.

Febi tersenyum tipis dan duduk di kursi kosong di sampingnya.

“Kamu kelihatan capek banget!” bisik Nisa.

“Kurang tidur,” jawab Febi singkat.

Nisa mengangguk, tidak bertanya lebih jauh.

Febi langsung membuka buku catatannya. Tidak ada yang dicatat, namun ia hanya menggaris-garis asal, mencoba menghilangkan gugup yang semakin menjadi ketika duduk di dalam kelas.

Saat jam menunjukkan pukul 8 tepat, pintu kelas pun terbuka.

Para mahasiswa langsung menunduk lesu, terlihat malas untuk memulai kelas. Biasanya Febi juga begitu. Namun hari ini Febi menunduk untuk alasan yang berbeda.

Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya ketika ia mendengar langkah sepatu pantofel yang menghentak di lantai.

Febi mengangkat kepalanya sedikit, melirik situasi. Ia lihat Langga masuk dengan kemeja putih bersih dan celana bahannya. Rambutnya tersisir rapi seperti biasa. Wajahnya tetap datar, seperti hari-hari biasa.

Langga berdiri di depan kelas, meletakkan map tipis di meja, lalu menatap seluruh mahasiswanya.

“Baik, kita mulai hari ini,” ucap Langga. “Kita akan bahas penyalahgunaan wewenang dalam jabatan publik…”

“Baik, Pak,” jawab mahasiswa kompak.

Namun, tidak dengan Febi. Ia kembali menunduk. Langga menjelaskan materi dengan singkat di depan. Sejujurnya, Febi hampir tidak bisa mendengar apa-apa karena ia terlalu gugup.

Tiba-tiba…

“Febi?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 82

    "Kakak mau ke minimarket dulu, kamu istirahat dulu." Febi mengelus kepala adiknya dengan sayang.Miko menganggukkan kepalanya, walaupun tengah berkabung dengan kepergian ibunya, ia tetap berpikir waras untuk selalu menyayangi kakaknya, hanya kakaknya lah satu-satunya keluarganya sekarang.“Kak… jangan lama-lama, ya.” Suara Miko lirih, serak oleh tangis yang belum benar-benar reda. Bocah itu duduk di tepi kasur dengan mata sembab, memeluk lututnya sendiri seperti sedang menahan dunia agar tidak runtuh lagi.Febi tersenyum tipis. Senyum yang rapuh. Senyum yang dipaksakan tetap hidup meski hatinya sendiri sedang berduka.“Iya, Kakak cuma sebentar.”Ia membungkuk pelan, merapikan poni Miko yang berantakan lalu mengusap kepalanya dengan lembut. “Kalau capek, tidur dulu.”Miko menunduk sesaat sebelum akhirnya berbisik pelan, “Kakak jangan sedih sendirian di luar.”Kalimat itu membuat dada Febi terasa sesak.Rumah kecil itu masih dipenuhi aroma kehilangan. Masih ada jejak tangisan di setiap

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 81

    “Mas...” Suara itu pecah pelan di tengah koridor rumah sakit yang mulai dipenuhi aroma obat dan langkah kaki tergesa. Sintia berlari kecil menghampiri Langga yang baru tiba di depan ruangan UGD. Wajah perempuan itu tampak kacau, matanya sembab, rambutnya bahkan sedikit berantakan seolah ia sudah terlalu lama menangis sendirian. Dan tanpa menunggu apa pun lagi, Sintia langsung memeluk tubuh pria itu erat. Seakan Langga adalah satu-satunya tempat yang masih mampu membuatnya berdiri. Langga membeku. Tubuhnya menegang sesaat. Tangannya menggantung di udara, tidak membalas, namun juga tidak benar-benar menolak. Pria itu sebenarnya ingin melepaskan pelukan tersebut. Ingin menghempaskan tubuh wanita itu. Ingin menjaga jarak yang sejak lama mulai retak di antara mereka. Namun langkahnya tertahan. Matanya menangkap sosok mertuanya, yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Di ujung sana. Pria paruh baya itu menatap mereka dengan mata yang penuh selidik, seolah memastika

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 80

    "Lepas bangsat!" "Beraninya kalian sama orang kayak gue!!" Dalung duduk di atas kursi. Punggungnya bersandar pada dinding dingin, tubuhnya sedikit merosot, seolah lelah menahan sesuatu yang terlalu lama ia pendam. Lampu di atas berkedip samar, menciptakan bayangan yang bergerak pelan di wajahnya. Tangannya terikat kencang, bahkan ia kesulitan membukanya. Wajahnya… tidak lagi utuh seperti biasanya. Lebam di sana-sini. Sudut bibirnya pecah. Ada garis darah yang sudah mengering, menempel seperti jejak cerita yang belum selesai. Ia meringis pelan. Seolah rasa sakit itu datang bergelombang, tidak pernah benar-benar pergi, hanya berganti cara untuk menyiksa. Namun anehnya di balik semua itu, senyumnya masih ada, sebuah senyuman miring tercetak jelas di bibir pria itu. Seolah dunia boleh saja menghancurkannya, tapi tidak akan pernah benar-benar memiliki dirinya. Ia mengangkat sedikit wajahnya, pelan… sangat pelan… seakan bahkan gerakan sekecil itu pun terasa seperti menga

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 79

    Langkah kaki itu datang tergesa, beberapa dokter memasuki ruangan dengan wajah yang mencoba tetap tenang, meski terselip sesuatu yang tak bisa mereka sembunyikan sepenuhnya. Febi masih di sana, ia masih setia menggenggam tangan ibunya. Masih berharap… keajaiban itu datang kembali. Satu dokter memeriksa, yang lain ikut membantu. Gerakan mereka cepat, terlatih, seperti waktu masih bisa dikejar jika cukup sigap. Alat-alat berbunyi lebih nyaring sesaat, seolah ikut berusaha mempertahankan sesuatu yang perlahan sudah pergi. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tidak bisa dibohongi. Tatapan mereka. Saling bertemu sekejap. Dan kembali lagi—dengan diam yang terlalu panjang. Seorang dokter menarik napas pelan. Dan hingga detik-detik itu terasa seperti menggantung di udara, menunggu untuk jatuh dan menghancurkan segalanya. Febi tidak bergerak. Ia hanya menatap, bergantian, dari wajah para dokter, ke wajah ibunya, lalu kembali lagi. Hingga akhirnya… dokter itu menoleh

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 78

    Febi hampir tak sempat menutup pintu taksi itu dengan benar—ia sudah berlari lebih dulu, seolah waktu sedang mengejarnya dari belakang. Aspal masih menyimpan sisa panas, namun tubuhnya terasa dingin, dingin yang merambat dari dada hingga ke ujung jemari. Nafasnya tersengal, pecah di antara langkah-langkah yang tak lagi beraturan. Ia tidak peduli pada tatapan orang-orang, tidak peduli pada suara-suara yang berseliweran. Yang ia dengar hanya satu—detak jantungnya sendiri, yang berdentam terlalu keras, terlalu cepat, seperti ingin keluar dari tubuhnya. Lorong rumah sakit itu terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Lampu-lampu putih menggantung dingin di atas kepalanya, memantulkan bayangan yang tampak asing. Setiap langkahnya menggema, seakan menegaskan bahwa ia sedang berlari menuju sesuatu yang belum siap ia hadapi. “Ibu...” Nama itu hanya berani ia ucapkan dalam hati, lirih, hampir tak terdengar, seolah jika diucapkan terlalu keras, kenyataan akan menjadi lebih nyata. K

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 77

    "Kebetulan sekali, kamu mengajak saya bertemu sekarang Dalung. Ada hal yang sangat penting yang ingin saya tanyakan. Terlebih kamu juga susah sekali di hubungi." Ucap Langga saat keduanya kini berada di sebuah cafe tempat Dalung dulu bekerja. Dalung tersenyum tipis, ia berusaha keras untuk menahan gumpalan emosi yang memuncak saat melihat pria yang ada di hadapannya ini. Rasanya ia ingin menerjang pria itu, meluapkan semua emosi yang membara di dalam dadanya sana. Bagaimana Febi menceritakan apa yang di alami oleh gadis itu, bagaimana air matanya mengalir itu sungguh masih terngiang sangat jelas di kepala Dalung. Persetan jika pria itu yang memberikannya uang kemarin, ia sama sekali tidak peduli. Mau pria itu kaya raya dan punya power besar, ia tidak takut. "Tolong saya, Lung. Kamu pasti tau dimana tempat tinggal Febi. Tolong kamu beritahu saya dimana dia tinggal. Saya ingin bertemu dengannya." Ucap Langga lagi. Ia mengutarakan semua apa yang ingin ia katakan pada Dalung. Dalu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status