INICIAR SESIÓNFebi yakin wajahnya semakin memerah. Ia menggeleng cepat.
“Bukan begitu maksud saya!” sanggah Febi. “Kalau begitu,” Langga membentangkan tangannya ke arah pintu. “Kamu boleh pulang.” ulangnya lagi. Febi menahan napasnya sesaat. Kemudian tanpa banyak basa-basi yang mungkin bisa merugikan dirinya lagi, Febi segera bergegas untuk pulang. Ia melesat ke luar unit apartemen itu dengan cepat dan masuk ke dalam lift. Di dalam lift, detak jantung Febi betul-betul tidak beraturan. Baru sampai di lantai dasar, ponsel Febi bergetar tiba-tiba. Ah, itu notifikasi pengingat bahwa Febi harus ke rumah sakit untuk menengok ibunya. Sebelum pergi ke rumah sakit, Febi menoleh ke belakang. Melihat lagi gedung apartemen mewah itu. Kemudian Febi menggeleng dan bergidik ngeri. Apa lagi yang menunggunya nanti? *** Begitu melangkah masuk ke rumah sakit, Febi seolah langsung lupa sesaat dengan kejadian di apartemen tadi. Isi kepala Febi langsung dipenuhi dengan kondisi ibunya. Setelah menyusuri lorong yang hening, Febi tiba di kamar rawat sang ibu. Febi memerhatikan ibunya yang tengah terbaring lemah seusai perawatan kemoterapi. Meski diberi sofa untuk tidur, mustahil bagi Febi untuk bisa tertidur lelap. Terlebih isi pikirannya yang bercampur malam ini membuat Febi terjaga dengan gelisah sampai pagi. Pagi harinya saat Febi mengerjap karena sinar matahari, Febi mendapatkan bahwa ibunya sudah bangun. Wajah itu tampak lebih pucat dari biasanya, kulitnya nyaris transparan di bawah cahaya pagi. Rambut yang dulu tebal kini hanya tersisa tipis, tertutup kerudung lembut yang sengaja dikenakan untuk menghangatkan kepala. Kemoterapi tentu saja membuat tubuh ibunya semakin lemah. Namun Febi bersyukur karena pagi ini napas ibunya terdengar lebih teratur. “Febi…” panggil ibunya pelan. Febi segera mendekat, menyunggingkan senyum yang ia paksa agar terlihat ringan. “Ibu sudah bangun…” Ibunya mengangguk kecil. “Kamu nggak pulang semalaman?” Febi menggeleng pelan. “Di sini aja.” Febi membantu ibunya sedikit duduk dengan menaikkan sandaran ranjang. Gerakannya sangat hati-hati. Tubuh itu terasa begitu ringan. Febi merasakan sesuatu mencubit di dalam dadanya. Ia tahu penyakit itu membuat berat badan ibunya semakin menurun. Di meja kecil samping ranjang, ada semangkuk bubur hangat yang baru saja diantar oleh seorang perawat. Uap tipis masih mengepul pelan, mengaburkan udara di atasnya. Febi duduk di kursi kecil yang ada di dekat ranjang. Ia mengambil sendok, meniup bubur itu perlahan agar tidak terlalu panas. Gerakannya pelan dan dilakukan beberapa kali. Febi menyuapkan sendok pertama dengan hati-hati. Ruangan itu sunyi. Hanya suara lembut sendok yang beradu dengan mangkuk. “Capek ya, Bu?” bisik Febi tiba-tiba setelah memerhatikan raut ibunya yang terlihat begitu lelah. Ibunya menatapnya lama. “Lebih capek mikirin kamu begadang semalaman. Apalagi kamu harus bekerja sambil kuliah.” Febi tersenyum kecil. “Febi nggak capek, Bu...” Ibunya tersenyum dan menggeleng pelan, seolah tahu kebohongan kecil itu. “Kamu kelihatan kurus sekarang, Nak.” Febi hanya tersenyum dan kembali meniup bubur sebelum menyuapkannya lagi. Beberapa suapan berlalu dengan lambat. Febi memandang tangan ibunya yang terpasang infus. Pembuluh darahnya terlihat jelas di bawah kulit yang pucat. Ia teringat pertama kali dokter mengatakan kata itu. ‘Leukemia’. Saat itu Febi betul-betul merasa takut dan dunianya langsung runtuh. Semua rencana hidupnya mendadak kabur. Kuliah, cita-cita menjadi pengacara, masa depan—semuanya seolah bergeser fokus menjadi satu hal saja. Menyelamatkan ibunya. “Febi…” suara ibunya memotong lamunannya. “Iya, Bu?” “Biayanya… pasti mahal banget, ya?” Tangan Febi terhenti sesaat. Tentu saja, biaya perawatan pasti mahal. Siapapun juga tahu itu. Namun, Febi berusaha menenangkan ibunya. “Febi ada uangnya kok, Bu.” Ibunya menatapnya penuh arti. “Nak, kalau kamu kesulitan…” Febi menggeleng. “Febi bisa atur semuanya,” potongnya cepat. Ibunya terdiam. Beberapa detik berlalu tanpa suara. “Kalau memang berat, kita berhenti saja,” ucap ibunya. “Jangan bilang begitu,” suaranya pelan, berusaha agar tidak terdengar getaran di sana. “Ibu harus sembuh.” “Tapi-” Febi menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Febi akan kerja keras, Bu. Asal Ibu sembuh,” Febi mengelus pipi ibunya. Kata-kata itu seperti penyemangat bagi dirinya sendiri. “Febi mau ke kampus dulu. Nanti sebentar lagi, Miko datang.” Miko adalah adik laki-laki Febi yang juga setia merawat sang ibu. Sementara itu, Febi dapat melihat tatapan ibunya yang lembut saat ia berkemas untuk ke kampus. *** Begitu tiba di kampus, Febi langsung menghela napas panjang saat mendekati gedung utama. Ia tahu jadwal berikutnya adalah hukum pidana. Kelas Pak Langga. Pria yang ‘tidak sengaja’ ditemuinya semalam. Febi menelan ludahnya tanpa ia sadari. Langkahnya jadi melambat tanpa sadar. Ia sedikit berharap kelas dibatalkan. Atau pria itu berhalangan hadir. Atau terjadi sesuatu yang membuat pertemuan hari ini tidak perlu terjadi. Namun hidup jarang memberikan jalan semudah itu. Ruang kelas sudah hampir penuh ketika Febi melangkah masuk. Beberapa temannya melambaikan tangan. “Feb, sini!” panggil Nisa dari barisan tengah. Nisa adalah sahabat Febi. Febi tersenyum tipis dan duduk di kursi kosong di sampingnya. “Kamu kelihatan capek banget!” bisik Nisa. “Kurang tidur,” jawab Febi singkat. Nisa mengangguk, tidak bertanya lebih jauh. Febi langsung membuka buku catatannya. Tidak ada yang dicatat, namun ia hanya menggaris-garis asal, mencoba menghilangkan gugup yang semakin menjadi ketika duduk di dalam kelas. Saat jam menunjukkan pukul 8 tepat, pintu kelas pun terbuka. Para mahasiswa langsung menunduk lesu, terlihat malas untuk memulai kelas. Biasanya Febi juga begitu. Namun hari ini Febi menunduk untuk alasan yang berbeda. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya ketika ia mendengar langkah sepatu pantofel yang menghentak di lantai. Febi mengangkat kepalanya sedikit, melirik situasi. Ia lihat Langga masuk dengan kemeja putih bersih dan celana bahannya. Rambutnya tersisir rapi seperti biasa. Wajahnya tetap datar, seperti hari-hari biasa. Langga berdiri di depan kelas, meletakkan map tipis di meja, lalu menatap seluruh mahasiswanya. “Baik, kita mulai hari ini,” ucap Langga. “Kita akan bahas penyalahgunaan wewenang dalam jabatan publik…” “Baik, Pak,” jawab mahasiswa kompak. Namun, tidak dengan Febi. Ia kembali menunduk. Langga menjelaskan materi dengan singkat di depan. Sejujurnya, Febi hampir tidak bisa mendengar apa-apa karena ia terlalu gugup. Tiba-tiba… “Febi?”Tak lama kemudian, Febi keluar dari dalam rumah. Perempuan itu mengenakan tunik sederhana berwarna krem dengan kerudung cokelat muda. Wajahnya terlihat segar, meskipun masih ada sedikit kelelahan di matanya. Begitu melihat Langga, langkahnya terhenti. "Kamu sudah datang?" Langga tersenyum lebar. "Iya." Febi melirik kantong belanjaan di tangannya. "Itu apa?" "Makanan." "Aku bisa membeli makanan sendiri." "Aku tahu." "Lalu kenapa kamu membawanya?" Langga terdiam sejenak. Kemudian ia menjawab dengan suara lembut, "Karena aku ingin." Febi mengerjap. Lagi-lagi, jawaban sederhana itu membuatnya tidak tahu harus berkata apa. Langga kemudian mengulurkan salah satu kantong belanjaan. "Ini untukmu. Ada buah-buahan dan makanan yang mudah kamu makan. Aku juga membeli beberapa camilan yang kamu sukai." Febi menatap kantong itu dengan heran. "Kamu masih ingat?" Langga mengangguk. "Tentu." Ia tersenyum tipis. "Ada banyak hal tentangmu yang masih kuingat, Febi. Bahkan hal-ha
Beberapa Minggu Kemudian...Kondisi Langga akhirnya berangsur-angsur membaik.Luka di sisi perutnya mulai mengering. Setelah menjalani perawatan intensif dan serangkaian pemeriksaan, dokter mengizinkannya pulang dengan beberapa pantangan. Ia belum boleh melakukan aktivitas berat, harus rutin mengonsumsi obat, dan wajib kembali ke rumah sakit untuk kontrol.Namun, ada satu hal yang membuat Langga jauh lebih bersemangat daripada kabar kepulangannya sendiri.Febi.Ya, perempuan itu sekarang tidak lagi menghilang setiap kali Langga ingin berbicara dengannya.Meskipun belum sepenuhnya memaafkan masa lalu, Febi mulai bersedia menerima kehadirannya. Sesekali, perempuan itu bahkan mengirim pesan untuk menanyakan kondisinya.Bagi orang lain, perhatian sekecil itu mungkin tidak berarti apa-apa.Namun, bagi Langga, satu pesan dari Febi sudah cukup membuatnya tersenyum sepanjang hari.Pagi itu, Langga berdiri di depan cermin apartemennya. Ia mengenakan kemeja biru muda dengan celana panjang hitam
Rumah Sakit, Pagi Hari... Langga masih menatap Febi yang duduk di samping ranjangnya. Ada banyak hal yang ingin ia katakan kepada perempuan itu, tetapi untuk pertama kalinya, ia memilih menahan diri. Ia tidak ingin membuat Febi merasa tertekan. Perempuan itu sudah cukup banyak terluka karena dirinya. "Febi..." "Hm?" "Kamu sudah sarapan?" Febi mengerutkan kening. "Apa?" Langga tersenyum tipis. "Aku cuma bertanya. Kamu pasti belum makan sejak semalam, kan?" Febi terdiam. Sebenarnya, Langga benar. Sejak kejadian semalam, ia bahkan tidak memikirkan makanan. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan keadaan Langga, sampai-sampai ia lupa bahwa dirinya sendiri sedang mengandung. "Sudah," jawab Febi asal. Langga mengangkat sebelah alis. "Bohong." "Memangnya kamu tahu?" "Kelihatan dari wajahmu." Febi mendengus pelan. "Sudahlah, jangan sok tahu. Urus saja dirimu sendiri. Kamu itu pasien." Langga terkekeh, tetapi segera meringis karena luka di perutnya kembali terasa nyeri.
Rumah Sakit, Pagi Hari... Cahaya matahari mulai menembus jendela ruang perawatan. Suasana ruangan itu begitu tenang. Hanya terdengar bunyi alat medis yang sesekali berbunyi pelan, mengiringi seorang laki-laki yang masih terbaring dengan selang infus terpasang di tangannya. Langga. Lelaki itu perlahan menggerakkan jari-jarinya. Keningnya berkerut samar. Rasa nyeri di sisi perutnya membuatnya kesulitan bergerak. Ia mencoba membuka mata, tetapi pandangannya masih terasa kabur. Beberapa detik kemudian, matanya akhirnya terbuka sepenuhnya. Langga menatap langit-langit putih di atasnya. Di mana dia? Kenapa tubuhnya terasa begitu sakit? Lalu, ingatan tentang kejadian semalam perlahan kembali memenuhi pikirannya. Langga langsung berusaha bangkit. "Akh!" Teriak Langga. Rasa sakit membuatnya meringis. Tangannya refleks memegang sisi perutnya yang terluka. "Pak! Anda sudah sadar?" Seorang perawat yang sedang memeriksa pasien di sebelahnya segera menghampiri. "Jangan bergerak dulu, Pak.
"Kak, tenang. Kita berdoa saja, dia... selamat." Miko memeluk Febi erat. Meskipun ia belum mengenal Langga, Miko bisa melihat betapa ketakutan kakaknya saat ini. Laki-laki itu jelas bukan orang biasa bagi Febi. Bahkan, melihat cara Febi menangis, Miko mulai menduga ada sesuatu yang jauh lebih rumit di antara mereka. Namun, ia memilih diam. Ia tidak ingin bertanya sekarang. Bukan saat kakaknya sedang begitu ketakutan. Febi mengangguk kecil di dalam pelukan Miko. "Dia harus selamat, Mik..." Suaranya bergetar. "Aku belum sempat mengatakan sesuatu kepadanya." Miko mengusap punggung kakaknya. "Kalau begitu, nanti Kakak bilang sendiri. Makanya, sekarang kita berdoa supaya dia cepat sembuh." Febi memejamkan mata. Kedua tangannya bertaut di depan dada. "Ya Allah, aku mohon..." Air matanya kembali mengalir. "Kalau memang masih ada kesempatan untukku memperbaiki semuanya dengan dia, tolong jangan ambil dia sekarang." Febi menarik napas yang terasa begitu berat. "Aku masih marah kepa
"Aku takut kehilangan dia." Kalimat itu menggantung di udara. Miko yang berdiri di samping Febi terdiam. Ia menatap kakaknya cukup lama. Miko memilih tidak bertanya. Ia tidak ingin mencampuri privasi Febi. Ia melihat sendiri bagaimana seorang laki-laki datang dan mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi kakaknya. Dan sekarang... kakaknya menangis karena takut kehilangan laki-laki itu. Miko akhirnya menghela napas."Kak..." Febi tidak menjawab. "Dia bakal selamat." Febi mengusap air matanya. "Kamu nggak tahu." "Iya." Miko menatap jalan yang sudah kembali gelap. "Aku memang nggak tahu." Kemudian ia menatap Febi. "Tapi aku rasa dia nggak akan menyerah hanya karena luka seperti itu." Febi terdiam. "Kenapa?" "Karena..." Miko tersenyum kecil. "Dia baru saja datang sejauh ini cuma buat memastikan Kakak aman." Febi menunduk. Air matanya kembali jatuh. Ia menggigit bibir untuk menahan tangis. "Dia bodoh." Miko mengangguk. "Banget." Febi menatapnya. Miko mengangkat bahu. "Kalau ad







