MasukDeru mesin yacht yang menjauh dari pulau terpencil itu menandai berakhirnya masa tenang yang singkat. Begitu kaki Julian dan Kiara menginjak dermaga pribadi di Oakhaven, aura di sekitar mereka berubah seketika.Julian tidak lagi tampak seperti pria yang bimbang atau terhantui oleh bayang-bayang Kevin.Ia berjalan dengan punggung tegak, tatapan matanya tajam dan fokus, seperti predator yang telah selesai mengasah kuku dan taringnya di hutan sunyi, siap untuk menerkam mangsa di tengah kota.Kiara berjalan di sampingnya, mengenakan kacamata hitam dan setelan formal yang disiapkan Max.Ia bukan lagi gadis yang gemetar ketakutan; ada ketenangan baru di wajahnya, sebuah kepercayaan diri yang lahir dari penyatuan mereka di pulau itu.“Max, berikan laporannya,” perintah Julian begitu mereka masuk ke dalam SUV antipeluru yang sudah menunggu.Max menyerahkan sebuah tablet dengan grafik yang menunjukkan pergerakan pasar. “Saham Vanderbuilt Group terus merosot, Tuan. Natasha mencoba melakukan buy
“Julian ... di sini? Benar-benar di sini?” bisik Kiara dengan napas yang mulai tersengal.“Tidak ada siapa pun di sini, Kiara. Hanya laut, langit, dan aku yang menginginkanmu sampai gila,” geram Julian dengan suara parau penuh dengan otoritas yang tak terbantahkan.Julian berlutut di hadapan Kiara, tangannya yang besar dan kasar merayap naik dari paha hingga pinggul wanita itu.Dia menarik sisa pakaian dalam Kiara ke bawah, menanggalkan segala pertahanan yang tersisa. Kini, di tengah kemurnian alam, mereka berdiri telanjang bulat, kulit mereka yang berkilau terkena air laut tampak kontras dengan pasir yang putih bersih.Julian menarik Kiara jatuh bersamanya ke atas hamparan pasir yang hangat. Kiara mengerang saat merasakan sensasi butiran pasir di punggungnya dan tubuh berat Julian yang menindihnya.Julian tidak memberikan waktu bagi Kiara untuk bernapas; ia langsung melumat bibir wanita itu dengan ciuman yang haus, lidahnya mengeksplorasi rongga mulut Kiara dengan liar.“Ahhh... Juli
Semburat fajar keemasan mulai membasuh dek yacht saat kapal itu perlahan mendekati sebuah laguna tenang di kepulauan pribadi milik keluarga Romanov.Pulau itu tidak ada dalam peta komersial; sebuah permata tersembunyi dengan pasir seputih susu dan air kristal yang menampakkan terumbu karang di dasarnya. Julian mematikan mesin, membiarkan kapal itu berlabuh dengan tenang beberapa meter dari bibir pantai.Pintu kabin terbuka, dan Kiara melangkah keluar dengan mengenakan gaun pantai tipis yang longgar di atas bikini hitamnya.Wajahnya tampak segar meski hanya tidur beberapa jam. Begitu tangga kapal diturunkan, ia tidak menunggu Julian. Kiara melepas alas kakinya dan melompat ke air setinggi lutut, lalu berlari menuju daratan.“Julian! Lihat ini! Pasirnya terasa seperti bedak!” teriak Kiara sambil tertawa lepas.Ia berlari di sepanjang garis pantai, membiarkan buih ombak menyapu kakinya. Untuk pertama kalinya sejak drama penculikan, ancaman Natasha, hingga rahasia kelam Kevin terungkap, K
Pintu kabin utama yacht tertutup dengan debuman halus, namun suara itu segera terkalahkan oleh napas yang memburu dan gesekan kain yang dilepas dengan terburu-buru.Julian tidak memberikan jeda sedikit pun; ia menyudutkan Kiara ke dinding kabin yang dilapisi kayu mahoni mahal, melumat bibir wanita itu dengan ciuman yang membara dan penuh tuntutan.Kiara membalasnya dengan intensitas yang sama, tangannya merayap masuk ke balik kaus Julian, merasakan otot punggung pria itu yang mengeras di bawah sentuhannya.“Julian ... pelan-pelan,” desah Kiara di sela ciuman mereka yang basah.“Aku sudah menahan ini terlalu lama, Kiara,” geram Julian rendah lalu menarik kausnya melewati kepala dan melemparkannya ke lantai, menampakkan tubuh atletisnya yang terpahat sempurna di bawah cahaya lampu redup.Dengan satu gerakan dominan, Julian mengangkat tubuh Kiara, memaksanya melingkarkan kaki di pinggangnya sementara ia terus menciumi leher dan tulang selangka wanita itu.Kiara mengerang, kepalanya terdo
Matahari telah tenggelam sepenuhnya di balik garis cakrawala, meninggalkan semburat ungu dan jingga yang perlahan memudar menjadi biru pekat. Di dek atas yacht, meja kecil telah tertata rapi dengan lilin-lilin aromaterapi yang menari ditiup angin laut yang sejuk.Julian tidak lagi mengenakan kemeja formalnya yang kaku; ia hanya memakai kaus rajut tipis berwarna gelap yang memperlihatkan lekuk bahunya yang lebar.Di hadapannya, Kiara menyesap segelas anggur putih, matanya menatap Julian dengan binar yang berbeda dari malam-malam sebelumnya.“Terima kasih, Julian,” ucap Kiara lirih, memecah kesunyian yang diiringi suara deburan ombak di lambung kapal.Julian mengangkat alisnya, menatap gelas wiskinya yang hanya tersisa setengah. “Untuk apa? Aku hanya membawamu ke tengah laut agar kau tidak kabur ke rumah sakit lagi.”Kiara tersenyum tipis, dia tahu itu hanya cara Julian menyembunyikan sisi lembutnya.“Bukan itu. Terima kasih karena kau akhirnya mau percaya. Percaya sepenuhnya pada cerit
Dua hari setelah penggerebekan di Pulau Tua, suasana Oakhaven masih terasa seperti bara yang siap meledak.Namun, di atas dek yacht mewah yang membelah ombak Samudra Atlantik, dunia seolah melambat. Julian menyewa kapal ini bukan untuk berpesta, melainkan untuk mencari ruang yang tidak bisa diberikan oleh daratan mana pun.Kevin telah dievakuasi ke fasilitas medis rahasia di Swiss di bawah perlindungan tim medis independen, dan Monna kini terjebak dalam pusaran audit internal yang dikirim Julian sebagai pengalih perhatian.Julian berdiri di ujung dek belakang, menatap hamparan air biru tua yang luas. Angin laut yang kencang menyisir rambut gelapnya yang mulai sedikit berantakan.Di tangannya, ia menggenggam sekeranjang bunga lili putih, bunga kesukaan Kevin yang dulu sering dipesan sang kakak untuk menghiasi apartemen rahasianya bersama Kiara.Kiara melangkah pelan mendekat, ia mengenakan gaun putih tipis yang melambai ditiup angin. Ia berdiri di samping Julian, merasakan ketegangan y







